Laman

  • Home

Rumah UMKM adalah sebuah gerakan moral pemerhati UMKM di Indonesia untuk memberikan wadah kepada UMKM agar mendapatkan informasi, edukasi, fasilitasi dan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Semangat untuk mandiri dan berdaya saing global akan terus kami gelorakan kepada UMKM Indonesia.

Donasi kepada Rumah UMKM melalui transfer ke Bank Mandiri No Rek 136-00-0401108-3 (Marjoko, ST, MM)

Rabu, 07 Agustus 2019

Marketing adalah Mengenai Giving & Networking.

Marketing adalah Mengenai Giving & Networking.
Mungkin jika belum pernah menjalani karir sebagai seorang marketing selama puluhan tahun, saya tidak akan berani mengatakan bahwa sebenarnya ilmu marketing yang paling esensial adalah berbagi (giving) dan silaturahmi (networking). Pengalamanlah yang menuntun saya untuk membuktikan sendiri betapa dahsyatnya kedua ilmu tersebut. 

Secara teknis dan kuantitatif memang masih sulit menjelaskan kedua hal tersebut, namun secara kualitatif memang kedua kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sangat fundamental bagi seorang marketing. 

Kunci utama untuk membuka pasar adalah keberanian, dan keberanian ini diperoleh ketika kondisi psikologis kita berada "level atas". Merangkai dan meyimpulkan berbagai sari pengalaman para senior bahwa "yang tesisa dari (tindakan) memberi adalah keberanian", maka mencapai level atas kita harus berani memberikan atau berbagi sesuatu yang menjadi benefit target pasar kita. 

Hal inilah yang mendasari bahwa seorang marketing harus mempertimbangkan promosi yang benar-benar memberikan benefit (keuntungan) kepada konsumen atau sesuatu yang dibutuhkan oleh konsumen, terlebih jika bisa disajikan secara kuantitatif dengan hitungan nominal. Edukasi juga merupakan kegiatan berbagi kepada target pasar, selama materi edukasinya adalah untuk benefit target pasar.

Kebiasaan berbagi ini akan memicu bertumbuh-kembangnya jaringan atau networking bisnis yang nantinya akan banyak memberikan kemudahan dalam pemasaran dan penjualan perusahaan. Networking adalah sebuah kegiatan untuk keluar dari keterbatasan yang dimiliki perusahaan saat ini, dari hal-hal yang awalnya tidak mungkin, networking bisa mengubahnya menjadi mungkin. Dalam era digital ini, kunci sukses usaha banyak ditentukan oleh kekuatan networking bisnisnya, dalam dalam bisnis sejenis maupun bisnis yang terkait. 

Demikian sedikit yang bisa saya share hari ini. Sukses!






Senin, 05 Agustus 2019

Customer Anda Ingin Apa yang Dilihat.

Customer Anda Ingin Apa yang Dilihat.
Kemudahan promosi dan pemasaran melalui media digital justru harus semakin membuat para pelaku UMKM menjadi lebih berhati-hati dalam membuat pesan dan promosi produknya. Kekecewaan customer hanya sebatas perbedaan antara apa yang dilihat dan apa yang diterima.

Visual yang menarik bukan berarti harus lepas dari apa yang sebenarnya kita miliki atau kita produksi. Kejujuran harus tetap menjadi norma yang harus disepakati dalam melakukan bisnis. Menarik bukan berarti harus membohongi customer dari keadaan yang sesungguhnya. Yang dmaksudkan menarik adalah bahwa foto tersebut mampu menerangkan keadaan sesungguhnya dengan jelas dan mampu menerangkan produk dengan sebaik-baiknya. 

Setiap customer selalu memiliki ekspektasi minimal terhadap produk yang dilihatnya di internet, dan ekspektasi minimal itu adalah apa yang mereka lihat yang anda tawarkan di internet. Yang dimaksudkan kesempurnaan dalam pemasaran adalah apabila ekspektasi cusotmer tersebut bisa anda penuhi dengan sebaik-baiknya, terlebih apabila produk anda di atas ekspektasi customer.

Best Product, Best Deliver.

Dalam berbagai kesempatan saya mencoba untuk selalu mengingatkan kepada para pelaku UMKM untuk tetap menjadi kepercayaan customer terhadap produk dan bisnisnya. Mereka sedang membangun sebuah "nama" (brand) yang selama ini tidak pernah ada. Satu kesalahan kecil mampu menghapus nama itu selamanya.

Seolah hal ini hanya masalah kecil, ketika sebuah produk yang di-deliver (diserahkan) kepada customer terhadap customer tidak sesuai dengan apa yang menjadi ekspektasinya. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah kontra marketing yang akan sangat merugikan di masa mendatang, terutama jika tersebut menyangkut kemudahan penyebaran informasi melalui sosial media.

Pernah suatu ketika ada keluhan dari seorang pembeli terhadap "kemasan" produk UMKM yang tidak seperti apa yang mereka promosikan, dan ketika saya telusur ternyata saat terjadi transaksi pelaku UMKM menjelaskan bahwa saat itu kemasan sedang habis dan pembeli memaksa harus mendapatkan produknya. Akhirnya pelaku UMKM tersebut memberikan produk dengan kemasan yang seadanya.

Atas kejadian ini ternyata pembeli melakukan kontra promosi di sosial media, tetapi untungnya saya dan UMKM binaan tersebut bisa "menenangkan" pembeli tersebut dengan baik melalui penggantian produk.

Belajar dari pengalaman itu saya meminta kepada UMKM binaan saya untuk disiplin dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada customer, jika kemasan produk habis maka berarti produknya pun habis karena apa yang ditawarkan dalam promosi adalah produk dengan kemasan tersebut.

Sikap yang hati-hati dalam promosi meliputi persiapan pesan dan konten promosi, maupun persiapan produk itu sendiri. Jangan sampai ketika melakukan promosi, produk belum siap atau berbeda dengan apa yang dipromosikan.

Produk yang terbaik dari anda adalah produk yang sama antara apa yang anda tawarkan dengan produk yang anda serahkan. Sukses!

Jumat, 02 Agustus 2019

Check List UMKM Naik Kelas.

Check List UKM Naik Kelas.
Kadang memahami slogan tidak selalu mudah bagi para pelaku UMKM, seperti contohnya slogan UMKM Naik Kelas. Bagi yang mendapatkan kesempatan untuk hadir dalam pelatihan dan pembekalan materi mungkin mereka bisa memahaminya, namun lebih banyak pelaku UMKM yang tidak memiliki kesempatan tersebut.

Beberapa di antara mereka bertanya kepada saya, apa yang dimaksud dengan UMKM Naik Kelas tersebut. Dengan hati-hati saya memberikan jawaban kepada mereka bahwa kami memiliki sendiri kriteria UMKM Naik Kelas dan mungkin tidak sama dengan pencetus slogan UMKM Naik Kelas sebelumnya.

Adapun kriterria kami untuk UMKM Naik Kelas adalah sebagai berikut:

1. Level START UP

Untuk level pemula usaha ini, maka mereka harus memiliki hal-hal sebagai berikut:
  1. Company Profile yang menarik
  2. Biz Plan, rencana bisnis yang rapi.
  3. Produk dan kemasan produk yang menarik.
  4. Legalitas produk yang dibutuhkan.
  5. Katalog produk yang menarik.
  6. Price List yang sudah mempertimbangkan harga untuk agen dan distributor.


Pada level ini kami masih fokus kepada PRODUK dan persiapan pemasarannya.

2. Level UMKM

Untuk level UMKM, maka beberapa hal di bawah ini akan menjadi tolok ukur saya dalam melihat apakah UMKM  ini sudah naik kelas atau belum.
  1. Kinerja pengelolaan SDM, mulai dari pembagian fungsi dan tugas serta peningkatan kompetensi SDM dari karyawan. Kunci dari pengelolaan SDM ini adalah menugaskan orang yang tepat pada fungsi yang tepat.
  2. Kinerja pengelolaan keuangan. Tujuan dari pengelolaan keuangan ini adalah cash flow yang baik, dimana cash in lebih besar daripada cash out atau profit.
  3. Kinerja pengelolaan operasional (produksi). Dimana perusahaan mampu melakukan peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya. 
  4. Kinerja pengelolaan pemasaran. Tujuannya adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konsumen serta melakukan peningkatan penjualan. 

Manajemen atau pengelolaan bisnis yang baik adalah pengelolaan yang tercatat dan terukur. Jika semua pengelolaan-pengelolaan tersebut tercatat dengan baik dan terukur maka bisa dikatakan bahwa bisnis UMKM tersebut terkelola dengan baik. Yang dimaksud dengan terukur adalah data-data laporan tersebut bisa disajikan dengan angka-angka yang bisa diperbandingkan dengan pencapaian periode sebelumnya. 

Meskipun sebenarnya kriteria-kriteria tersebut masih bisa didetailkan lagi, namun setidaknya dengan gambaran ini para pelaku UMKM bisa memahami arah bisnis dan pengelolaan bisnisnya di masa mendatang.

Semoga tulisan singkat ini bisa membantu para pelaku UMKM untuk selalu rapi dalam persiapan dan memiliki rencana bisnis yang baik. Sukses!











Kamis, 01 Agustus 2019

Tips UKM Go Export.

Tips UKM Go Eksport.
Materi pelatihan saya "Cara Bodoh UKM Ekspor" cukup diminati sekitar 3-4 tahun yang lalu apalagi materi ini sangat relevan dengan salah satu proganda UKM Go Export dari pemerintah. 

Antara gampang dan sulit semua tergantung dari pola pikir kita. Jika yang diinginkan adalah UKM memahami prosedur dan peraturan eskpor tentunya benar jika UKM Go Export adalah sulit, dan hal ini yang masih dipahami oleh banyak instansi saat ini. Namun jika yang diinginkan adalah produk UMKM masuk pasar ekspor maka banyak jalan kreatif dan alternatif yang bisa ditempuh.

Di era digital sudah saatnya semua hal yang sulit dibuat menjadi mudah, semua yang rumit dibuat menjadi sederhana. Dimulai dari bagaimana kita memahami UKM itu sendiri dan apa itu EKSPOR dengan sangat esensial.

Memahami EKPSOR Secara Sederhana.

Definisi ekspor cuma sederhana yaitu mengeluarkan (pengiriman) barang dari wilayah kepabeanan Indonesia ke wilayah kepabeanan negara lain. Dalam pengertian ini tidak ditetapkan secara detail SIAPA yang bisa ekspor, dengan MODA TRANSPORT apa untuk melakukan ekspor, BERAPA banyak barang yang diekspor, dan SIAPA yang membeli barang ekspor.

Dengan luasnya definisi ini cobalah kita fokus kepada mengeluarkan atau mengirimkan baran dari wilayah Indonesia ke luar wilayah Indonesia saja. Tentang siapa yang ekspor dan siapa yang impor kita pun bisa sikapi dengan siapa saja bisa melakukan ekspor dan siapa saja bisa menjadi pembeli. 

Terkait dengan moda transport, kita bisa lakukan dengan moda transport darat, laut dan udara. Sementara terkait dengan berapa banyak barang yang diekspor, kita tidak perlu melihat harus berkapasitas full container load (FCL), melainkan fokus kepada less than kontainer load (LCL) atau paket.

Siapa yang Bisa Melakukan Ekspor?

Dengan jumlah barang yang tidak berkapasitas besar, siapa saja bisa ekspor, bahkan perorangan pun bisa atau dengan kata lain, UKM sangat bisa melakukan ekspor. Yang penting barang yang diperdagangkan memenuhi keinginan dan kebutuhan dari pembeli yang berada di luar negeri, baik dalam hal kualtias, kapasitas maupun legalitasnya. 

Legalitas yang dimaksudkan adalah legalitas standar yang harus dipenuhi sebagai barang ekpor oleh pemerintah Indonesia, misalnya untuk produk makanan kering cukup dengan PIRT maupun halal. Syukur bisa dilengkapi dengan CoA (Certificate of Analysis) dari lembaga yang kompeten dan diakui, atau bahkan SNI dan HACCP atau GMP. 

Yang dimaksud dengan kualitas adalah kualitas produk itu sendiri maupun kualitas kemasan produk sehingga menjamin produk aman sampai di negara tujuan. Sementara yang dimaksud dengan kapasitas adalah kemampuan eksportir dalam memproduksi barang dalam jumlah tertentu dalam waktu yang dipersyaratkan.

Jika UKM mampu memenuhi hal-hal tersebut di atas, maka bisa dikatakan UKM tersebut layak untuk melakukan ekspor dengan konsep tersebut di atas,.

Siapa yang Akan Handle Pengiriman Ekspor?

Banyak pelatihan ekspor yang ditujukan kepada UKM, namun pada akhirnya justru banyak dari mereka yang menjadi takut untuk ekspor karena rumit dan sulitnya prosedur ekspor. Waktu dan biaya banyak terbuang untuk hal ini, dan saya berharap cara-cara seperti ini perlu dikaji ulang, meskipun secara umum para pelaku UKM butuh ilmu ekspor. 

Untuk konsep UKM Go Export kita harus mulai memilah-milah siapa mengerjakan apa. UKM jangan dibebani lagi belajar prosedur dan dokumen ekspor, biarlah mereka fokus dengan kewajibannya untuk membuat produk yang kualitasnya sesuai dengan yang diminta oleh pembeli (importir luar negeri), kapasitas produksi dan delivery time. 

Sudah sangat umum diketahui bahwa prosedur dan dokumen ekspor adalah keahlian dari perusahaan logistik ekspor (forwarding), biarlah mereka ambil peranan lebih besar dalam program UKM Go Export. UKM butuh pelayanan all in dalam program ini, atau bisa dikatakan tahu beres dan berapa beban biaya yang ditawarkan kepada para pelaku UKM.

Jadi siapa yang handle pengiriman ekspor adalah perusahaan forwarding yang akan menjadi mitra kerja dari para pelaku UKM. Mulai dari trucking, EMKL, Fiat Muat dan semua dokumen yang terkait ekspor termasuk export license adalah menjadi bagian kemitraan yang menjadi tugas dari perusahaan forwarding. 

Siapa yang Dulu yang Akan Disasar sebagai Pembeli?

Bagaimana mau ekspor jika tidak ada pembelinya? Inilah bagian tersulit dalam program UKM Go Export, namun masih banyak trik yang belum kita keluarkan. Misalnya: bagaimana memanfaatkan TKI dan Diaspora yang ada di luar negeri sebagai sasaran pemasaran kita. Mengapa? Karena kita sudah tidak ada kendala bahasa lagi sehingga komunikasi bisa berlangsung lebih baik.

Sebagaimana diketahui, permasalahan dalam pemasaran muncul akibat komunikasi yang kurang efektif sehingga informasi yang diperoleh tidak lengkap. Dengan kemudahan sama bahasa maka komunikasi akan berlangsung lebih baik. TKI dan diaspora adalah pasar yang saya sarankan untuk latihan pemasaran ekspor bagi para UKM sebelum mereka menyasar pembeli asing.

Pemanfaatan Teknologi.

Teknologi informasi (internet, website dan social media) harus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para pelaku UKM jika ingin melakukan ekspor. Profile dalam bahasa inggris di website akan memungkinkan informasi mengenai perusahaan sampai kepada banyak prospek. Sosial media pun harus dikemas dalam bahasa internasional jika ingin menyasar pasar luar negeri.

Pesan-pesan promosi yang terstruktur dan jelas akan membantu pemasaran produk kepada prospek di luar negeri. Bahasa visual diwakili dengan foto-foto produk yang berkualtias dan mampu berbicara, termasuk konten video yang akan banyak membantu dalam pemasaran.

Demikian beberapa tips dari RumahUMKM.Net untuk para pelaku UKM yang sudah ngebet untuk ekspor, semoga tips ini memberikan motivasi dan inspirasi kepada para pelaku UKM di seluruh negeri ini. Sukses!


Rabu, 31 Juli 2019

Selalu Dimulai Dari Segmentasi, Targeting & Positioning.

Selalu Dimulai Dari Segmentasi, Targeting & Positioning.
Bagi seseorang yang berkecimpung dalam dunia pemasaran, istilah segmentation, targeting dan positioning sudah sangat biasa meskipun terkadang dalam implementasinya masih sering meleset dari rencana. 

Memahamkan istilah STP kepada UMKM sangat penting, karena hal ini yang mendasari dalam pembuatan bisnis pan dan strategi pemasaran selanjutnya. Bahkan di awal pemasaran, yaitu dalam desain kemasan, seorang pelaku UMKM juga harus paham segmen pasar dan target pasar mana yang akan dibidik, serta bagaimana mereka membuat positioning yang tepat untuk target pasar tersebut.

Tanpa memahami STP maka bisnis plan dan strategi pemasaran yang dibuat bisa dipastikan tidak akan tepat sasaran, dan hal ini bisa berarti tindakan inefisiensi biaya yang tidak kecil jumlahnya. Memahami pasar dan memahami apa yang menjadi kebutuhan pasar selalu menempati tahapan awal dalam melakukan perencanaan strategi perusahaan.

Segmentasi Pasar

Adalah sebuah keputusan bisnis dalam memilih segmen pasar apa yang mau digarap. Atau bisa diibaratkan dengan : Dari beberapa kolam ikan yang ada, maka tentukan kolam ikan mana yang akan kita pancing

Kita tidak bisa melayani semua segmen pasar, oleh sebab itu kita harus melakukan pilihan atas segmen mana yang paling sesuai bisnis atau produk ktia.

Targeting

Dari kolam ikan yang akan kita pancing, maka kita akan pilih ikan apa yang akan kita pancing. 

Kita harus fokus pada target pasar yang menjadi sasaran tembak kita. Dengan penentuan target pasar ini kita bisa melakukan kegiatan komunikasi pasar yang efektif untuk menggali apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan pasar tersebut.

Positioning

Positioning diartikan dengan umpan apa yang paling cocok untuk ikan yang akan kita pancing tersebut.

Positioining sering dimunculkan dalam wujud tag line produk, yang pesannya telah didesain untuk menjadi umpan untuk target pasar kita.

Dengan memahami STP tersebut di atas maka kita dimungkinkan untuk menarik benang merah dalam penyusunan bisnis plan dan strategi pemasaran. Dengan fundamental yang benar, serta pemahaman atas potensi (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) maka penyusunan bisnis plan dan strategi pemasaran menjadi lebih terarah dan terintegrasi. Strategi produk, harga, pemasaran serta promosi pun akan terbentuk dari penjabaran hal-hal tesebut di atas.

Dengan tulisan singkat ini saya berharap untuk bisa kembali mengingatkan para pelaku UMKM untuk memahami STP dengan benar. Sukses!

Senin, 29 Juli 2019

Apakah Anda Telah Melakukan Efisiensi dalam Bisnis Anda?

Apakah Anda Telah Melakukan Efisiensi dalam Bisnis Anda?
Setelah banyak UMKM mulai berkembang, maka materi pendampingan yang perlu diberikan kepada mereka tentunya akan menjadi berbeda karena kebutuhan mereka saat ini berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Ketatnya persaingan memaksa mereka harus memikirkan bagaimana cara untuk melakukan efiesiensi pada bisnis mereka. 

Melihat kebutuhan ini, salah satu tulsian dari mentor bisnis terkemuka di dunia (Tom MC Ifle) menulis tentang "3 Efisiensi Bisnis Menambah Profit" yang bisa menjadi acuan pemahaman atas efisiensi bagi para pelaku UMKM. Berikut adalah tulisan dari Tom MC Ifle tentang efisiensi:

3 EFISIENSI BISNIS MENAMBAH PROFIT.

Selama ini Bisnis Owner masih beranggapan bahwa melakukan efisiensi harus memangkas biaya. Semua pengeluaran perusahaan harus dipotong: biaya pegawai dipotong, gaji dipotong atau bahkan mesin dijual. Namun, pada kenyataannya ketika Bisnis Owner melakukan hal tersebut, justru membuat program efisiensi tidak berjalan dengan baik bahkan gagal.

Nah, karena itu dalam artikel ini kita akan membahas bagaimana melakukan Efisiensi Bisnis yang tepat guna, sehingga perusahaan dapat berhemat sekaligus bertumbuh. Metode ini sudah menjadi best practice di dunia management, terutama di korporasi internasional, namun masih belum banyak dipraktikkan di segmen small medium enterprise (SME).

Situasi Bisnis Saat Ini.

Dari dulu hingga sekarang, sudah menjadi kepastian bahwa kompetisi semakin lama pasti semakin ketat, sekarang jamannya VUCA, customer semakin lama semakin cerewet,

dulu perusahaan bisa menaikkan harga dengan mudah untuk meningkatkan profit, sekarang tidak segampang itu.
  • Jika sebuah perusahaan memiliki produk atau layanan yang awalnya merupakan produk dan layanan inovatif, dengan semakin banyaknya kompetisi berangsur berubah menjadi komoditi. Intinya adalah semua perusahaan DIPAKSA oleh situasi untuk:
  • Memberikan produk atau layanan yang semakin tinggi kualitasnya alias reliabel,
  • Dituntut untuk memberikan produk atau layanan yang diminta tersebut dengan cepat, dan
  • Pada saat bersamaan, agar tetap survive, perusahaan harus menekan biaya serendah mungkin dan seefisien mungkin.
Karena itu, dengan efisiensi yang tepat, perusahaan tidak akan melakukan asal potong biaya begitu saja, tapi perlu mempertimbangkan aspek-aspek penting yang dibutuhkan untuk pertumbuhan perusahaan.

Paradigma Lama VS Baru dalam Efisiensi.

Hingga sekarang masih banyak pemilik perusahaan yang masih memiliki paradigma lama bahwa: Kalau kualitas mau dinaikkan, maka akan berimbas ke biaya yang naik, kalau kecepatan produk atau layanan ditingkatkan maka akan berimbas ke kualitas yang menurun, dan kalau kecepatan produk atau layanan ditingkatkan, bisa berimbas juga terhadap biaya yang naik.

Intinya adalah selalu ada pertentangan atau lingkaran setan yang membingungkan yang selama ini selalu bertentangan satu sama lain antara kualitas, kecepatan, dan biaya. Gawatnya, customer semakin ke sini semakin menuntut harga yang murah, maunya cepat, tapi juga kualitas bagus. Bagaimana perusahaan bisa menyikapi ini?

Cara satu-satunya adalah dengan memiliki paradigma baru dalam efisiensi, bahwa: “Efisiensi yang tepat adalah efisiensi yang TIDAK MENGORBANKAN KUALITAS, KECEPATAN, dan BIAYA.” Dengan kata lain, efisiensi yang tepat adalah efisiensi yang dapat mendeliver value pelanggan dengan sempurna dengan resource yang tersedikit.

Caranya bagaimana? Dengan melakukan identifikasi yang benar ke luar dan ke dalam, yakni: ke customer, dan ke bisnis. So, jika Anda ingin melakukan efisiensi yang tepat guna, maka harus dilakukan identifikasi apa yang penting bagi perusahaan di dua aspek:
  • Di ekonomi yang sedang lesu, apa yang penting bagi pelanggan dan perusahaan
  • Pada saat ekonomi sudah bergairah lagi, apa saja yang penting bagi perusahaan untuk ikut mengikuti momentum itu.

Saat sudah memahami apa yang penting bagi pelanggan yang disebut value add dan perusahaan yang disebut value enabler, maka kita akan dapat mengidentifikasi sumber pemborosan di perusahaan, baik di proses inti maupun proses pendukung DENGAN TEPAT. Apapun yang tidak sejalan dengan apa yang penting bagi pelanggan maupun perusahaan berarti pemborosan.

Mengenal Jenis Pemborosan.

Jika tidak mau susah susah melakukan analisa nilai (value analysis) ada cara singkat untuk mengidentifikasi pemborosan di perusahaan yakni DOWNTIME. Kesemua pemborosan tersebut dapat kita pilah lagi menjadi beberapa kategori, yakni:
  • Pemborosan di Process. Misal: rework, waiting, not utilized people, motion, excessive process.
  • Pemborosan di Place (infrastruktur). Misal: Transportation: layout yang tidak sesuai alur proses, gedung yang terpisah-pisah, asset yang tidak terutilisasi ke return (banyak ruang kosong, dll)
  • Pemborosan di Policy (kebijakan). Misal: inventory, overproduksi.
  • Pemborosan di Product. Misal: Defect, atau ada elemen atau part produk yang tidak bermanfaat bagi pelanggan maupun branding perusahaan. Misal: plastic belanja di retail yang super warna-warni.
  • Pemborosan di Struktur organisasi: ada bagian-bagian yang tidak mendukung proses bisnis. Misal jabatan yang diada-adakan, atau struktur yang malah menghambat alur proses, atau struktur pekerjaan yang overlap satu bagian dengan bagian lain (redundan).
  • Pemborosan di Promotion. Misal: aktivitas sales marketing yang tidak menambah edukasi yang konsisten pada calon prospek, atau conversion rate yang rendah
Nah, dari jenis pemborosan tersebut, saya akan jelaskan beberapa hal penting yang harus dihindari oleh Bisnis Owner dalam melakukan program efisiensi. Yakni;

1# Menghitung Kapasitas

Sebetulnya kalau saya punya bisnis, misalnya perbankan, manufacturing atau saya punya bisnis distribusi. Berapa saya butuh pegawai? Tentu berdasarkan kapasitas yang saya miliki, atau berdasarkan target yang saya miliki. Ada workload analisisnya.

Perusahaan yang tidak menghitung kapasitas dengan baik, biasanya menggunakan sumberdaya manusia atau menggunakan peralatan melebihi kapasitasnya (burden atau over load). Seperti, karyawan bekerja melebihi jam. Padahal, hal tersebut dapat berakibat pada risiko kesehatan, keselamatan kerja dan resiko hukum. Jadi jangan bangga kalau karyawan kita biasa kerja 12 jam setiap hari. Lama lama bisa gawat. Dan itu artinya, ada yang salah dengan aktivitas bisnis kita kalau seperti itu.

Contoh lain misalnya: kita bangga kalau kita sudah berhasil memodifikasi angkutan barang produksi kita yang kapasitas awalnya 10 ton jadi 20 ton… Bisa kecelakaan di jalan lho! Dan akibatnya jadi ke mana mana.

Nah, terjadinya inefisiensi bisnis mungkin pada awalnya kita sudah menganggap hal itu biasa, padahal itu adalah pemborosan. Karena tidak menyadari maka kita melakukannya terus-menerus dan karena kita melakukan terus-menerus bahkan bertahun-tahun, maka pada saat financial report, “loh, kok profit saya kecil?” Ternyata kita sudah melakukan pemborosan-pemborosan yang tidak sadar sejak lama.

2# Inventory

Inventory, alias stok. Ia merupakan penumpukan barang yang tidak dibutuhkan atau mungkin berlebihan. Penumpukan barang misalnya, saya menumpuk finished good, menumpuk romety reals atau bisa jadi karyawan numpuk pekerjaan yang ditunda, menumpuk pekerjaan karena tidak bisa diputuskan: customernya kurang informasi, kurang data, kurang berkas, numpuk semua dan itu adalah inventory.

Terjadinya inventory ini salah satunya diakibatkan oleh sistemasi bisnis yang tidak berjalan. Akibatnya banyak pegawai atau bahkan Bisnis Owner lalai dalam membuat pekerjaan lebih efektif.

Coba lihat gudang Anda, berapa banyak material yang numpuk banyak yang slow moving, bahkan deadstock. Itu mematikan cashflow kita. Dalam prinsip efisiensi, stok harus pas, tidak boleh kurang juga tidak boleh lebih. Lebih mengganggu cashflow, kurang mengganggu operasional.

So, saran saya adalah jangan melakukan inventory dalam bisnis. Selesaikan pekerjaan dan manfaatkan barang seefektif dan seefisien mungkin.

3# Motion

Motion merupakan gerakan-gerakan yang tidak perlu. Jika transport membawa barang-barang (bisa material atau dokumen) dari satu tempat ke tempat lain, maka motion ini adalah gerakan manusianya (tanpa material atau dokumen).

Coba seberapa sering kita dalam melakukan pekerjaan mencari dokumen, mencari file, nyariin barang, nyariin spidol, nyariin atasan, nyariin bawahan. Itu semua sifatnya motion dan membutuhkan gerakan.

Nah, yang namanya mencari-cari jelas apapun gerakannya adalah TIDAK PENTING. Menghabiskan waktu…menghabiskan tenaga….ujung-ujungnya karyawan tidak produktif karena kerjanya lambat, karena sering nyari hal-hal yang dibutuhkan untuk menjalankan operasional. Masuk akal?

So, dengan melakukan efisiensi tepat guna maka rata-rata perusahaan dapat menurunkan biaya produksi 20-30%, output produksi juga meningkat 2-4 kali lipat dengan sumber daya yang sama, menghilangkan waktu lembur, utilisasi asset lebih optimal dan moral karyawan semakin tinggi karena justru mereka dibantu untuk menghasilkan produk atau layanan secara lebih mudah, cepat, dengan kualitas tinggi.

Inilah Efisiensi Bisnis yang harus dilakukan secara tepat agar nantinya tidak menghambat kinerja dan mempengaruhi produktifitas bisnis. Melakukan Efisiensi Bisnis, justru bisa mempercepat roda bisnis, membuat bisnis bisa lari lebih kencang.

Bayangkan ada dua binatang: ada gajah dan ada citah. Kalau gajah lambat karena gendut. Tapi kalau Citah itu ramping, dia bisa lari sangat kencang, bahkan binatang darat yang larinya paling cepat ya Citah. Kenapa? Karena dia “ramping”. Nah, bisnis Anda pun harus ramping. Kalau bisnisnya gendut, mau lari dan mau gerak susah, maka kita akan selalu ketinggalan oleh kompetitor kita.

Teknik efisiensi dengan paradigma baru tersebut sangat applicable diterapkan berbagai jenis industri baik tingkat korporasi maupun SME: manufaktur, pertambangan dan energy, lembaga keuangan, rumah sakit, bahkan Hotel sekalipun.
  • Metodologi Efficiency Mastery secara garis besar dibagi menjadi beberapa langkah besar yakni:
  • Mengidentifikasi apa yang penting untuk hemat dan pertumbuhan dipandang dare kacamata pelanggan
  • Mengidentifikasi pemborosan saat ini
  • Melakukan streamlining (eliminasi, reduksi, kombinasi, divisi)
  • Memonitor hasil streamline ke laporan keuangan (thd P/L, terhadap Balance Sheet, dan Cashflow)




Jumat, 26 Juli 2019

Masih Ada Pasar di Radio.

Berkomunikasi dengan follower via Radio.
Seringkali menerima pertanyaan dari UMKM, apakah berpromosi melalui media konvensional masih efektif atau tidak perlu sama sekali. Tentunya saya tidak bisa menjawab serta-merta tanpa mengujinya sendiri, karena banyak faktor yang harus saya pahami terlebih dahalu mulai dari media apa yang dipilih untuk berpromosi (radio apa), siapa audience-nya, jam berapa tayangnya, seberapa jauh jangkauannya dan berbagai pertimbangan lainnya. Cukup banyak variable yang harus diuji untuk hanya bisa menjawab pertanyaan di atas.

Saat Diah Didi diwawancara di Gajahmada FM hari Jumat ini, ini adalah kesempatan untuk melakukan pembuktian apakah media radio masih cukup efektif untuk menjangkau audience yang potensial menjadi pasar. Meskipun saya tidak berani mengatakan bahwa cara ini adalah cara yang tepat untuk melakukan pengukuran tersebut namun setidaknya hal ini adalah salah satu fakta atas respon dari audience.





Berdasarkan fakta atas tanggapan yang masuk, masih cukup banyak audience yang ternyata bukan follower sosial media atau website DiahDidi.Com sehingga bisa kami switch langsung menjadi follower. Sebagian lagi adalah follower yang ternyata memang masih setia jadi pendengar radio, atau media konvensional.

Dari sampling sederhana ini, termasuk wawancara dengan crew radio serta tanggapan di sosial media setelah acara wawancara ini maka kami mendapatkan ifnormasi yang cukup berharga bahwa di media radio masih ada pasar untuk kita, yang belum tergarap atau bahkan belum tersentuh!

Dengan obeservasi yang sangat sederhana ini barulah saya akan mulai menjawab pertanyaan beberapa UMKM di atas apakah media konvensional, khususnya radio, masih cukup efektif untuk berpromosi maka saya akan menjawab masih cukup potensial. Sehingga para pelaku UMKM bisa mulai menggali informasi lebih banyak lagi tentang audience dari stasiun radio tersebut atau secara khusus audience atas program radio tersebut.

UMKM juga harus memahamai jam tayang radio yang paling efektif untuk promosi, serta topik apa yang akan diangkat yang sesuai dengan pontensi audience tersebut. Dan sebelum acara promosi di radio, saya sarankan untuk melakukan promosi di sosial media untuk mengundang audience sosial media anda ikut terlibat dalam acara radio tersebut. Sukses!






Rabu, 24 Juli 2019

Branding Up - Koran Sebagai Alat Bayar & Voucher Discount.

Branding Up - Koran Sebagai Alat Bayar & Voucher Discount.
Sebagaimana diketahui bahwa bisnis koran mengalami tantangan yang cukup berat ketika harus bertahan saat pembacanya mulai memilih media online. Namun bukan berarti seorang marketing harus pasrah dengan keadaan, mereka harus tetap bisa bertahan dengan kreativitasnya dalam masa transisi (yang sebenarnya ktia sendiri tidak tahu kapan dan berapa lama lagi transisi ini berakhir).

Kreativitas menjadi salah satu kunci untuk tetap bisa bertahan, dan ketika diminta ide kreatif untuk bertahan dari situasi yang kritis ini maka justru saya ingat dengan ide kreatif salah seorang sahabat yang mampu mengangkat Dusun Ngadiprono dengan Pasar Papringannya. Beliau adalah Mas Singgih Soesilo Kartono, dan yang paling saya ingat adalah menjadikan "pring" (bambu) sebagai alat bayar di Pasar Papringan tersebut. Hebat, saya tertarik bagian yang, alat bayar dan saya tambahkan voucher discount.

Terlintas dalam benak saya koran bisa dijadikan "alat bayar" dan "voucher discount" untuk memicu orang berburu koran lagi. Mungkin ini yang akan saya sebut sebagai branding up, dari sebelumnya koran yang sudah mulai ditinggalkan orang.

Lantas perusahaan koran harus menggandeng siapa agar koran ini "laku" sebagai alat bayar atau voucher discount? Tentunya mitranya adalah outlet-outlet retail yang sedang membutuhkan promosi untuk "walk in" (mengunjungi toko). Dari yang biasanya mereka menggelar obral maka ada satu alternatif promosi lagi yaitu menerima korang sebagai alat bayar atau voucher discount.

Akan sangat berbeda perlakuannya antara alat bayar dan voucher discount. Jika koran digunakan sebagai alat bayar maka "nilai" koran tersebut akan digandakan, misalnya harga eceran adalah Rp 4.000,0 maka untuk transaksi di tempat para mitra retail korang ini bisa dihargai Rp 10.000,- (misalnya). Sebenarnya mekanismenya bisa seperti obral 50% sd 70%, namun mitra retail akan mendapatkan benefit promosi dan publikasi serta pengunjung yang merupakan pelanggan atau pembeli setia koran tersebut.

Sementara itu untuk voucher discount, maka koran pada hari tertentu atau periode tertentu akan diposisikan sebagai voucher discount di mitra retail. Voucher ini bisa disepakati bernilai discount 10% atau lebih, dan berlaku di setiap mitra retail yang ada sticker dari penerbit koran tersebut.

Kadang-kadang kreativitas sering muncul dari sudut pandang yang lain, dan ide tersebut di atas bisa menjadi gambaran bagaimana kita untuk memicu kreativitas kita dalam bertahan dalam persaingan dan tantangan bisnis saat ini. Sukses!

Selasa, 23 Juli 2019

Budi Bongkar, Dikenal Sebagai Iwan Fals KW.

Budi Bongkar, Dikenal Sebagai Iwan Fals KW.
Saya mengenal Mas Budi Bongkar saat beliau manggung di UMKM Center lebih dari 4 tahun yang lalu, sekaligus menyaksikan beliau manggung. Suara dan gayanya memang benar-benar mirip dengan idola saya Iwan Fals, dan tidak salah jika beliau lebih dikenal sebagai Iwan Fals KW.

Tidak masalah, bagi saya sosok Mas Budi Bongkar dan teamnya adalah sosok seniman atau pekerja mandiri yang masih memungkinkan bergabung dengan RumahUMKM.Net. Group yang mengusung brand "Iwan Fals KW" ini berhak untuk berkembang, dengan pasar yang segmentasinya lebih di bawah dari sang idola Iwan Fals (asli).

Terlepas lagi apakah Iwan Fals menerima adanya tiruan atas dirinya atau tidak, sebenarnya kehadiran Mas Budi Bongkar bisa memenuhi harapan segmen bawah yang ingin menikmati lagu-lagu Iwan Fals secara live, meskipun tidak dengan artis yang aslinya.

Pasar menengah ke bawah dan komunitas fans Iwan Fals adalah segmen pasar yang dibidik oleh Budi Bongkar, termasuk yang paling sering menampilkannya adalah instansi pemerintah dan kegiatan reuni sekolah. Sangat menghibur, karena dengan suara dan gayanya kita seolah dibawa ke nuansa bersama dengan Iwan Fals yang sesungguhnya. Inilah janji profesional dari group ini.

Aksi Budi Bongkar saat manggung.
Kesempatan ngobrol dengan Mas Sugeng, manajer group ini, saya mendapatkan kesadaran bahwa RumahUMKM.Net juga harus ikut membina para pekerja mandiri (seniman) sebagaimana dengan pelaku UMKM yang lain. Mereka juga punya hak untuk didampingi menjadi profesional dan diberikan ruang pasar untuk kelangsungan hidupnya. 

Dengan jaringan yang dimiliki oleh RumahUMKM.Net serta kegiatan online-nya saya berharap bisa membantu promosi dari group musik ini untuk bisa naik kelas, sehinga bisa memotivasi group-group musik yang lain. 

Sugeng, Manager Budi Bongkar.
Sebagaimana kita ketahui banyak sekali para pekerja mandiri di bidang musik kurang beruntung dalam pemasarannya. Pengelolaan bisnis yang masih sangat konvensional serta belum menguasai teknologi digital seperti YouTube dan Instagram merupakan penghambat laju kemajuan mereka sendiri.

Memberikan edukasi kepada mereka tentang transformasi digital merupakan target kegiatan saya beberapa bulan mendatang. Semoga mereka bisa beradaptasi dengan perubahan jaman ini dan bisa mengarungi digital era ini dengan baik. Hari ini saya mulai dengan menulisnya di blog ini agar banyak pihak yang bisa tahu keberadaan group ini, sehingga bisa membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Suskses!



Kamis, 18 Juli 2019

Perencanaan Produksi Perusahaan Manufaktur

Perencanaan Produksi Perusahaan Manufaktur.
Perusahaan manufaktur dapat kita jumpai disekitar kita. Gambaran akan perusahaan manufaktur tidak berarti melihat sebuah pabrik yang besar dan luas. Namun cukup melihat proses produksi yang dilakukannya, yaitu perusahaan yang bergerak dalam hal pengelolaan bahan baku/mentah menjadi bahan jadi yang siap digunakan oleh konsumen.

Perusahaan manufaktur memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan kita. Karena dengan adanya perusahaan manufaktur ini, kita bisa memanfaatkan bahan mentah yang semula tidak digunakan menjadi barang jadi yang bisa dimanfaatkan.

Dalam proses produksi tersebut dibutuhkan perencanaan produksi yang matang agar apa yang menjadi fungsi dari produksi tersebut dapat dipenuhi. Fungsi dari produksi adalah membuat barang atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan waktu, jumlah, dan harga yang sesuai. Hal ini akan menghindarkan ada dari molornya waktu produksi, harga yang tidak sesuai, dan jumlah yang tidak tepat.

Misalnya, anda memiliki usaha konveksi baju anak. Anda tidak tahu bagaimana merencanakan produksi usaha konveksi sehingga fungsi produksi usaha anda tidak berjalan dengan baik. Anda memproduksi baju anak saat sebuah perusahaan baju anak ternama mengenalkan produk barunya dengan harga di bawah harga produk usaha kecil. Produk anda tidak akan dilirik oleh konsumen, yang tentunya akan lebih memilih brand yang sudah mapan. Belum lagi anda memproduksinya dengan jumlah yang sangat besar karena anda yakin produk anda akan laku keras. Memang, baju yang anda hasilkan sangat bagus, baik dari segi kualitas bahan dan desain. Namun karena anda tidak tahu timing yang tepat untuk memproduksinya, maka stok baju anak yang anda buat menumpuk di gudang. Produk anda kalah bersaing. Inilah yang bisa menjadi penyebab ambruknya usaha anda,

Untuk menghindari hal buruk diatas, anda membutuhkan perencanaan produksi. Metode perencanaan produksi perusahaan manufaktur berhubungan erat dengan:
  1. Jenis barang barang yang diproduksi. 
  2. Jumlah barang.
  3. Cara pengolahan/pembuatan.
Keputusan mengenai jenis dan jumlah produk yang anda produksi berdasarkan data kebutuhan pasar yang didapatkan dari bagian marketing.

Setelah anda mendapatkan data dari bagian marketing, maka anda dapat menginformasikan bagian produksi untuk membuat produk.
Tahapan Perencanaan Produksi Perusahaan Manufaktur

Perencanaan produksi perusahaan manufaktur ini bukanlah metode yang rumit yang hanya diterapkan pada perusahaan berskala besar. Namun dapat disederhanakan melalui tahapan berikut:
  1. Desain Awal: desain spesifikasi dan persayaratan yang harus dipenuhi. Misalnya menggunakan 5 buah mesin jahit listrik Treasure BS 101, 2 mesin press kaos dan sebagainya.
  2. Desain produk : menentukan desain barang yang akan diproduksi dengan tepat. Anda dapat membuat desain baju berdasarkan bahan (kain atau kaos), usia anak, ukuran dan warna dengan detil. Dalam membuat desain ini anda bisa meminta bantuan orang yang ahli dalam bidang desain baju anak dan penjahit. Desain baju tersebut awalnya dibuat dalam bentuk gambar yang dilengkapi dengan informasi bahan, ukuran, detil jahitan atau aksesoris. 
  3. Cara pembuatan: pada tahap ini anda menentukan urutan proses produksi, tempat kerja, dan peralatan yang digunakan. Misalnya, membuat pola, memotong kain, menjahit dan melakukan pengecekan akhir. Sedangkan alat-alat yang digunakan untuk masing-masing proses adalah gunting, benang, dsb yang sudah disiapkan. 
  4. Pembuatan :Pada tahap ini anda dapat melakukan modifikasi dari langkah diatas (3) tetapi harus disesuaikan dengan desain serta tuntutan kualitas. Terkadang hasil yang anda peroleh pada tahap ini sedikit berbeda dengan rencana awal. Ini adalah hal yang wajar selama tidak menyimpang jauh dari ketentuan yang sudah ditetapkan mulai dari langkah 1-3.
Yang perlu anda ingat adalah dalam menentukan jumlah barang yang diproduksi sangat dipengaruhi oleh pola permintaan atau forecast. Jangan meremehkan metode perencanaan produksi usaha manufaktur, karena hal yang kelihatannya sepele akan menjadi sangat menentukan bagi keberlangsungan UKM anda. Sukses!

Sumber: zahiraccounting.com

Rabu, 17 Juli 2019

Rencana Keuangan Bisnis.

Rencana Keuangan Bisnis.
Mendasar dan sangat penting - Banyak usaha kecil gagal karena perencanaan keuangan yang tidak memadai dan pendanaan yang kurang tepat. Jadi, memiliki rencana keuangan yang komprehensif untuk sebuah bisnis adalah suatu keharusan bagi setiap pebisnis UMKM. 

Ada beberapa langkah untuk merencakan keuangan bisnis UMKM sebagaimana tersebut di bawah ini:


Langkah 1: Hitung Biaya Set Up Bisnis

Pembuatan rencana keuangan bisnis dimulai dengan membandingkan jumlah biaya set-up dengan jumlah modal investasi untuk start-up Anda. Tentukan berapa banyak uang yang dialokasikan sebagai modal bisnis, jika ada. Atau, Anda akan perlu meminjam untuk memulai bisnis Anda. Biaya set-up awal akan mencakup: Biaya administrasi dan pemasaran awal. Biaya pendaftaran, lisensi, dan legal lainnya. Biaya peralatan dan kebutuhan aset. Modal kerja awal (working capital).

Langkah 2: Proyeksi Laba-Rugi Bisnis

Membuat proyeksi atau jumlah ramalan penjualan dan beban operasi penting untuk dilakukan. Saya sarankan Anda membuat proyeksi untuk 12 bulan ke depan sejak pertama usaha beroperasi. Cara membuat proyeksi adalah dengan membandingkan potensi pendapatan penjualan (omzet) dengan harga pokok penjualan (cost of goods sold) plus biaya tetap operasi (fixed cost). Tetapkan perkiraan harga penjualan agar Anda dapat menghitung potensi laba alias keuntungan.

Langkah 3: Perkiraan Arus Kas (Cash-flow)

Anda harus menyadari bahwa istilah Cash Is King adalah hal nyata dalam bisnis UMKM. Sebuah bisnis baru sering membutuhkan uang tunai untuk membangun kapasitas yang diperlukan untuk melayani pelanggan. Pahami bahwa pelanggan Anda mungkin lambat untuk membayar tagihan. Sehingga, kekurangan kas dapat mengancam operasi bisnis Anda.

Langkah 4: Perkiraan Saldo Neraca

Berdasarkan perkiraan penjualan serta perkiraan biaya operasi, maka Anda harus membuat berapa neraca bisnis setelah 12 bulan beroperasi. Neraca terdiri dari aset, saldo pinjaman, serta, saldo modal.

Langkah 5: Analisa Titik Impas (Break-Even Point)

Berani punya bisnis, harus berani untuk menetapkan berapa lama modal awal investasi akan kembali setelah mulai beroperasi. Setelah memperkirakan biaya tetap bisnis, maka Anda dapat menghitung berapa banyak pendapatan yang Anda butuhkan untuk mencapai titik impas.

Secara umum asumsi yang digunakan untuk memprediksi titik impas dibedakan berdasarkan jenis bisnis:
  1. Bisnis jasa menetapkan patokan berdasarkan jumlah rata-rata jam kerja per minggu. Asumsi yang digunakan adalah biaya operasi memakan 60%-70% dari keseluruhan pendapatan. 
  2. Bisnis lain tentukan ruang lingkup ukuran pasar Anda, kemudian gunakan perkiraan konservatif sesuai benchmark di pasaran.
  3. Siapkan beberapa perkiraan, berdasarkan kasus terbaik, terburuk dan skenario rata.
Semua nilai atas rencana tersebut akan selalu dipantau dan dikendalikan, untuk mengetahui pergerakan keuangan bisnis Anda dan juga untuk memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan ketika ada pergeseran antara nilai rencana dan kenyataan dalam bisnis. Semoga informasi singkat ini bisa bermanfaat bagi rekan-rekan UMKM semua. Sukses!

Sumber:  Prita Ghozie from ZAP Finance - Permata Bank

Senin, 15 Juli 2019

PENSIUN ... Siapa Takut ???

PENSIUN ... Siapa Takut???

Artikel PENSIUN ... Siapa Takut ??? ini adalah sumbangan dari PT AJ Central Asia Raya, yang mungkin bisa bermanfaat bagi para pelaku UMKM untuk mempersiapkan dana pensiun bagi karyawannya.

Bagi seorang karyawan, PENSIUN adalah masa yang pasti akan dilewati oleh semua orang baik sebagai karyawan ataupun bagi pengusaha. Dalam artikel ini kami akan mencoba mengupas dari sudut pandang karyawan atau pekerja, karena masa Pensiun untuk karyawan sudah ditetapkan dalam aturan perusahaan sedangkan untuk pengusaha kemungkinan besar masa pensiun ditetapkan oleh diri sendiri sehingga pengusaha cenderung lebih siap menghadapi masa pensiun ini.

Manusia memiliki batas usia produktif dimana tubuhnya sudah tidak mampu untuk bekerja lagi. Masa Pensiun bagi sebagian karyawan adalah sebuah masa dimana penghasilan/Take Home Pay cenderung sangat berkurang drastis, Hal ini bisa jadi masalah apabila ternyata beban hidup masih sama atau makin berat seiring dengan inflasi setiap tahunnya, tidak jarang juga di usia pensiun masih ada yg dibebani dengan biaya pendidikan anak, cicilan angsuran Rumah dll. Padahal dimasa itu kita tentu ingin hanya tinggal menikmati hidup dengan kualitas hidup yang lebih baik. Tidak tergantung pada anak dan menantu. Tidak pula menyusahkan keluarga atau bahkan orang lain. Bisa lebih focus beribadah, jalan-jalan, berbelanja, dan impian-impian lainnya di hari tua yang anda harapkan. Maka dari itu selain mempersiapkan mental kita juga butuh persiapan secara material dalam hal ini berupa tabungan dan tambahan dana pensiun.


PT. AJ CENTRAL ASIA RAYA yang merupakan member dari SALIM GROUP menjawab semua permasalahan ini dengan menghadirkan program 3i Network( Insurance, Investment,Income ).Sebelum lebih jauh membahas tentang program yang dimaksud, mari kita telusuri dahulu tentang PT. AJ CAR. PT. AJ CAR adalah member dari SALIM GROUP yang menaungi banyak perusahaan-perusahaan ternama seperti Indofood, Superindo, Indomart, KFC, Bogasari dan masih banyak yg lainnya. PT. AJ CAR sendiri didirikan tahun 1975, memiliki kantor cabang layanan di lebih dari 53 kota, memiliki asset di atas 4 Triliun Rupiah, sudah terdaftar di OJK dengan No. izin : KEP-013/KM/1987 dan sudah berhasil mendapatkan platinum award 10 tahun berturut-turut sebagai perusahaan dengan kinerja sangat baik dan Golden Award selama 5 tahun.


Softlaunching program 3i ini dilaksanakan pada 16 Januari 2014, sebenarnya program yang sangat bagus ini pada intinya adalah menabung Investasi ( system kerjasama bagi hasil dengan perusahaan SALIM GROUP ) inti dari investasi sendiri adalah sebagian dana yang digunakan dari simpanan nasabah untuk menghasilkan profit dalam jangka masa tertentu. Di Program ini pada intinya nasabah diwajibkan menabung selama 5 th saja untuk nantinya tabungan tersebut akan diolah dan dikembangkan oleh Perusahaan CAR dengan asumsi pertumbuhan investasi 6% s.d 20% per tahun (berdasarkan average selama 10 tahun terakhir di angka 17,99% per tahun). 

Pilihan menabungnya ada 3 yaitu 350rb/bulan, 700rb/bulan dan 1jt/bulan.

Menabung bagi sebagian besar masyarakat memang menjadi momok tersendiri apalagi menabung rutin per bulan yang sudah ditetapkan nilai nya, tapi pertanyaan selanjutnya adalah sampai kapan kita akan terus bekerja? Sedangkan bagi pekerja setelan melewati usia produktif kita pasti akan dipensiunkan oleh perusahaan. Mungkin sebagian karyawan merasa sudah aman dengan adanya pesangon , uang pensiun yang akan diterima tiap bulan setelah pensiun, atau mungkin sudah cukup puasa dengan tabungan konvensional. Mari kita bandingkan antara menabung di tabungan konvensional dan tabungan investasi CAR.



Ilustrasi Menabung Rp. 350.000 per bulan.





Selain mendapatkan Insurance dan Tabungan Investasi, kita juga bisa mendapatkan Income yang menarik perbulannya untuk nantinya bisa menambah dana pensiun kita. Bagaimana cara untuk menjalankan bisnis ini dan apa saja keuntungan dan kemudahan berbisnis investasi CAR?











Gambaran singkat di atas bisa memotivasi para pelaku UMKM untuk mempersiapkan dana pensiun bagi karyawannya. Mungkin dari beberapa ilustrasi salah satunya sesuai dengan anggaran usaha kecil. Sukses!