Laman

  • Home

Rumah UMKM adalah sebuah gerakan moral pemerhati UMKM di Indonesia untuk memberikan wadah kepada UMKM agar mendapatkan informasi, edukasi, fasilitasi dan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Semangat untuk mandiri dan berdaya saing global akan terus kami gelorakan kepada UMKM Indonesia.

Donasi kepada Rumah UMKM melalui transfer ke Bank Mandiri No Rek 136-00-0401108-3 (Marjoko, ST, MM)

Senin, 02 September 2019

Saat Mereka Memuji Rasa & Racikan Kopi, Saya Justru Membicarakan Teman Si Kopi.

Saat Mereka Memuji Rasa & Racikan Kopi, Saya Justru Membicarakan Teman Si Kopi.
Perkembangan bisnis kopi luar biasa cepat saat ini, baik di kota besar maupun di kota kecil sekalipun, budaya ngopi seolah telah melanda nusantara. Namun jangan salah, kondisi ini juga terjadi di luar negeri juga, jadi sebuah pertanda yang baik untuk pemasaran produk kopi baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Perkembangan budaya ngopi untuk networking dan membangun bisnis selaras dengan budaya millenial yang ke arah officeless. Orang tidak perlu memiliki kantor karena mereka bisa bicara bisnis di cafe, dan ini sudah menjadi trend budaya saat ini.

Jika saya harus terlihat mondar-mandir cafe satu ke cafe lainnya, sebenarnya bukan karena saya seperti yang lain yaitu membicarakan kopi terkait rasa, kualitas dan racikannya atau berbicara bisnis dengan sesama pengunjung cafe, melainkan justru memiliki urusan dengan pemilik atau pengelola cafe. Bisnis, pasti yaitu supply cafe dengan produk yang bisa menjadi sahabat karib si Kopi yaitu gula tebu cair dan gula aren cair yang otentik rasanya, sehingga cocok bersanding dengan kopi.

Ya, saat orang-orang menikmati kopi saya satu per satu membangun data base customer untuk GULANAS serta berkomunikasi dengan pemilik dan pemilik cafe terkait produk gula cari kami. Cara pendekatan konvensional ini memang lebih cocok jika dilakukan secara offline, karena ada banyak informasi penting yang hanya bisa saya peroleh dengan cara tatap muka, sambil ngopi tentunya.

Data base bagi seorang marketing adalah pijakan utama untuk melakukan langkah-langkah selanjutnya. Ketika target pasar kami sudah terfokus pada cafe dan resto maka penyusunan data base customer menjadi jauh lebih mudah, dan permasalahan customer yang harus saya jawab pun semakin ke arah spesialisasi kami, tidak menyebar kemana-mana seperti ketika kita masih melayani pasar retail. Pasar bisnis dan industri adalah pilihan kami, setelah dari perjalanan pengalaman bertahun-tahun menuntun produk gula cair GULANAS ke kancah pasar konsumsi dan bisnis.

Semakin banyak data yang bisa kita himpun maka semakin besar peluang yang bisa kita ciptakan, meskipun masih harus tetap melakuan edukasi pasar yang secukupnya. Dengan sempitnya pasar yang kita layani, edukasi pasar juga semakin mudah. Toh kita juga bukan superman yang bisa melayani semua pasar, meskipun secara umum terlihat kita bisa layani semua pasar.

Pelan tapi pasti, cafe dan resto di setiap kota telah kita himpun data basenya dan komunikasi pun mulai kita kembangkan untuk menyerap informasi yang dibutuhkan untuk membangun strategi pemasaran kami. Dari yang awalnya rasio keberhasilannya kecil, lama kelamaan kami telah mampu membuat rasio keberhasilan prospecting yang semakin besar karena kami mulai paham siapa pasar kami dan kami akan konsisten dengan target tersebut.

Biarlah kita menjadi penonton perkembangan cafe dan resto di Indonesia saat ini, yang penting pada akhirnya mereka akan menggunakan produk GULANAS sebagai teman si Kopi dan Si Teh. Salam sukses dari GULANAS!






Jumat, 30 Agustus 2019

Promosi? Mulailah dari Target Pasar Anda.

Promosi? Mulailah dari Target Pasar Anda.
Bahkan sebuah perusahaan besar pun melakukan efisiensi dalam promosi. Mereka melakukan semua efisiensi di semua aspek promos; mulai dari media promosi, metode promosi, format promosi dan juga target audience promosi. Semua aspek sangat dipengaruhi oleh aspek yang terakhir, yaitu target audience promosi atau target pasar yang akan dibidik.

Sebuah perusahaan harus paham benar siapa sesungguhnya pasar mereka, siapa target market mereka. Untuk kebutuhan ini kadang survey yang berbiaya tinggi pun ditempuh, mengingat informasi ini sangat penting dalam penyusunan strategi pemasaran yang efektif dan produktif. Secara berkala setiap pergeseran kebutuhan pasar termasuk perkembangan persaingan usaha akan dipantau dalam menyusun strategi pemasaran secara keseluruhan, termasuk strategi promosi.

Pesan promosi yang jelas dan tepat pada target audience (pasar) adalah promosi yang paling efektif dan produktif selain sangat efisien dalam biaya. Dengan memahami target pasar kita maka media, metode dan format promosi bisa sangat terukur sehingga perusahaan tidak perlu menghamburkan biaya promosi pada hal-hal yang tidak perlu.

Untuk perusahaan besar, jelas apa yang tertulis diatas telah tersistemasi dengan baik. Lantas bagaimana dengan UMKM? Yang mereka jelas belum ada kemampuan untuk melakukan hal-hal tersebut di atas, bahkan promosi pun dilakukan hanya dengan pertimbangan biaya yang murah, sehingga media online pun langsung mendapatkan banyak pilihan, termasuk metode dan format promosinya yang semuanya untuk media online.

Latah, seolah-olah semua bisa dilakukan dengan eCommerce atau market place yang sebenarnya lebih cocok untuk penjualan yang cenderung retail. Seorang produsen pun tidak perduli lagi bahwa mereka sebenarnya harus fokus pada agen, reseller atau distributor, mereka juga menjual produknya melalui eCommerce sehingga harus "bersaing" dengan agen dan resellernya.

Pesan-pesan promosi yang ada di sosial media pun seolah tidak tertata dengan baik, seolah mereka tidak tahu siapa sebenarnya target pasar mereka. Apa memang benar bahwa sebenarnya mereka tidak tahu siapa sesungguhnya pasar mereka? 

Apakah kita benar-benar tahu siapa pasar kita?
Para pelaku UMKM kebanyakan memilih pasar yang umum atau pasar yang luas, semua jangkauan umur mereka gapai, semua level ekonomi mereka bidik dan seolah mereka bisa melayani semua segmen pasar. Mereka tidak melakukan pilihan segmen atau segmentasi, sehingga mereka sebenarnya tidak punya "target" pasar. 

Para pelaku UMKM sering mengalami kesulitan melakukan komunikasi dengan pasar karena jangkauan pasar yang terlalu luas. Mereka berpikir bahwa dengan jangkaun pasar yang luas mereka akan mendapatkan pangsa pasar yang luas. Padahal tidak! Pasar masih sangat luas sementara kapasitas produksi mereka sebenarnya sangat terbatas sehingga seharusnya mereka tidak perlu takut kehilangan pasar.

Pasar yang sempit memberikan keutungan yang jauh lebih besar, produsen semakin mendapatkan informasi kebutuhan pasar yang lebih spesifik sehingga strategi produknya bisa lebih tepat dan mendapatkan loyalitas dari customer. Pemilihan kanal atau media promosi pun semakin jelas, apakah benar-benar harus online atau justru adalah media atau media kombinasi yang lebih tepat lagi. Metode promosi dan format promosi pun semakin terarah untuk mendapatkan umpan balik dari customer sehingga tujuan akhir dari pemasaran, yaitu memuaskan kebutuhan pelanggan, semakin dekat untuk bisa dipenuhi. 

Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi bahan pertimbangan UMKM dalam merencanakan promosi usahanya. Suskes!








Rabu, 28 Agustus 2019

Prestasi UMKM Adalah Saat Customer Repeat Order dan Tambah Customer.

Prestasi UMKM Adalah Saat Customer Repeat Order dan Tambah Customer.
Kegagalah pembinaan UMKM bisa berawal dari sebuah persepsi yang salah. Persepsi keberhasilan usaha UMKM masih diukur dengan penghargaan atau trophy dari pemerintah atau asosiasi usaha, dan hal ini sering menyesatkan para pelaku UMKM dalam perjalanan bisnisnya ke depan. Sudah sangat sering terjadi tujuan pelaku UMKM bergeser dari bisnis menjadi pemburu penghargaan. 

Sebuah penghargaan hanyalah sebuah "anak tangga" atau indikasi bahwa pengelolaan usahanya telah meningkat ke level selanjutnya. Kompetisi, kontes maupun festival merupakan alat ukur untuk membandingkan kinerja bisnisnya dengan para pelaku UMKM yang lain, tetapi bukan tujuan utama. Tujuan utama mereka membangun bisnis tetaplah mencari profit dan fokus kepada kepuasan pelanggan. 

Penghargaan dari customer merupakan penghargaan tertinggi bagi sebuah pengelolaan usaha, dan hal ini yang sering saya ingatkan kepada para pelaku UMKM binaan kami. Meskipun kami bisa memberikan kisi-kisi agar mereka bisa memenangkan sebuah ajang penghargaan, dari pengalaman sebagai juri di berbagai ajang kompetisi, namun kini kami lebih fokus kepada kepuasan pelanggan karena hal inilah yang akan menjamin keberlangsungan usaha dari para pelaku UMKM.

Standard kompetisi tetap akan kami gunakan untuk menilai apakah produk dari UMKM sudah layak masuk pasar, mulai dari kualitas produk maupun kualitas kemasannya sampai dengan kemampuan mereka membuat sebuah sistem baku mutu proses produksi yang memberikan jaminan konsistensi mutu. Indikasi kami untuk mengukur perkembangan bisnis UMKM adalah repeat order, bertambahnya customer dan meningkatnya omzet penjualan. Yang paling mendasar, tujuan dari perusahaan adalah profit dan indikasi-indikasi tersebut di atas merupakan dasar-dasar untuk mencapai tujuan utama perusahaan.

Tidak dipungkiri bahwa prestasi berupa penghargaan atas kompetisi, kontes maupun festival bisa juga mendongkrak kepercayaan customer terhadap bisnis UMKM, namun banyak terjadi juga para pelaku UMKM sudah merasa bahwa mereka telah sampai pada tujuan akhir. Puas dan fokus mulai terpecah dengan kegiatan sharing success strory kepada para pemula usaha.

Untuk UMKM yang memahami benar tujuan melakukan usaha, mereka tetap mampu menjaga fokus dan menjadi setiap ajang kompetisi sebagai sarana untuk melakukan pengukuran dan koreksi atas kinerja usaha mereka dan selanjutnya melakukan perbaikan-perbaikan yang dibutuhkan. Berbagai fasilitas atas pencapaian prestasi mereka gunakan untuk mengembangkan jangkauan bisnis dan promosi, sebagai upaya percepatan perkembangan usahannya.

Tugas dari para pembina UMKM adalah terus mengingatkan kepada para pelaku UMKM untuk tetap fokus kepada kepuasan pelanggan dan terus mengembangkan pasarnya untuk mencapai profit. Tulisan ini pun kami tujukan untuk terus mengingatkan mereka kepada tujuan usaha dan fokus usaha mereka. Tujuannya adalah profit dan fokusnya adalah pelanggan. Sukses!







Senin, 26 Agustus 2019

Standarisasi Kreativitas? Apa bisa?

Master Solichin Totok dengan karya-karya lukisannya.
Beberapa kali saya mendapatkan pertanyaan seputar sertifikasi kompetensi UMKM dan juga sertifikasi pekerja seni dari beberapa UMKM binaan Rumah UMKM. Sebuah pertanyaan yang akan menjadi diskusi menarik, karena saya sendiri pun melihat bahwa trend saat itu marak sekali sertifikasi kompetensi untuk UMKM. 

Pertanyaan mereka pun saya balas dengan pertanyaan pula, yaitu: "Untuk apa?" dan "Untuk siapa". Pertanyaan saya ini mungkin terbawa dari kotak saya sebagai seorang marketing yang harus selalu tahu tujuan dan pasar kita. Ketika pertanyaan ini terjawab maka setidaknya saya akan memperoleh gambaran lebih lengkap atas program sertifikasi tersebut agar jawaban saya nantinya bisa lebih memenuhi harapan berbagai pihak.

Pelaku UMKM adalah seorang entrepreneur, seorang pengusaha adalah seseorang yang dituntut untuk berpola pikir "di luar kebiasaan" atau istilah kerennya "out of the box". Hal serupa juga berlaku bagi seorang pekerja seni atau pelaku industri kreatif. Bagi mereka pengembangan kemampuan dasar adalah hal yang paling penting. Kemampuan-kemampuan mereka dalam mengembangkan potensi dan spesialisasi untuk keluar dari "kotak kemampuan dasar" adalah kompetensi yang sulit distandarisasi karena banyaknya variable yang terlibat.

Dalam dunia seni, sesuatu yang standard tidak menimbulkan daya tarik yang luar biasa. Out of the box bisa diartikan sebagai sesuatu yang di luar "kotak", hal-hal yang masih dalam kotak bisa distandarisasi sedangkan hal-hal yang ada di luar kotak tidak perlu standarisasi karena sudah melebihi dari standard tersebut. Hal ini yang sering saya juga kepada para binaan saya, sehingga saya pun selalu mempertanyakan: untuk apa? dan untuk siapa?

Tetapi untuk lebih bijaksananya, terutama untuk pertanyaan tentang perlukah sertifikasi kompetensi UMKM maka saya  sebenarnya memiliki  pola pembinaan UMKM sendiri meskipun tidak menerbitkan sertifikat. Pola pembinaan saya adalah sebagai berikut:
  1. Uji visi (SDM); Pada tahap awal pembinaan saya selalu meminta para pelaku UMKM binaan untuk memaparkan visi dan rencana bisnis mereka. Saya selalu meminta mereka menggelar konsep bisnis yang akan mereka lakukan ke depan. Di sinilah tahap uji visi saya lakukan untuk melihat apakah pelaku UMKM ini benar-benar memiliki tujuan yang jelas dan memiliki cara-cara yang detail untuk mencapai tujuan tesebut.
  2. Uji realisasi (Bisnis & Produk); Sangat perlu untuk melihat wujud akhir dari produk yang mereka presentasikan, bagaimana kualitasnya dan bagaimana pula kemasannya sebelum melihat dari dekat bagaimana mereka melakukan bisnis yang sebenarnya dengan cara visiting ke fasilitas produksinya.
  3. Uji kompetensi (SDM) kemampuan dasar. Sekali waktu saya pun menguji mereka dengan kasus-kasus yang mereka hadapi dan contoh kasus yang telah terbukti mampu dipecahkan dari pelaku UMKM yang lain. Memberikan bekal materi tentang pengelolaan bisnis (manajemen) dan mengujinya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar materi tersebut. Sangat penting untuk memberikan materi kemampuan dasar kepada para pelaku UMKM, sebelum mengujinya. Mereka butuh pelatihan dan pembekalan dasar, dan hal tersebut menjadi kewajiban moral bagi para penggiat UMKM.
Saya berpikir dengan cara-cara tersebut di atas UMKM saya cukup terbantu, tanpa harus memegan sertifikasi kompetensi yang kita sendiri tidak tahu mau ditunjukkan kepada siapa. Apakah perbankan juga akan menerima sertifikasi tersebut sebagai jaminan? Apakah buyer pun akan menerima sertifikasi tersebut sebagai jaminan? Tidak, jaminannya adalah profesionalisme dan kemampuan membangun profit usaha. Sukses!








Kamis, 15 Agustus 2019

Diaspora Indonesia, Kekuatan Besar Membangun UKM Go Ekspor.

Diaspora Indonesia di USA, siap support UKM Go Ekspor.

Ketika banyak penggiat UMKM meneriakkan slogan UKM Go Ekspor, mereka terlalu sibuk di sisi pembinaan UMKM-nya, mereka lupa tidak mempersiapkan jaringan pasar ekspornya. Terlebih lagi pelatihan ekspor yang mereka berikan kepada UMKM adalah pelatihan ekspor untuk konsumsi perusahaan menengah besar, dianggap para pelaku UMKM bisa dengan mudah memahami materi prosedur ekspor, dokumen ekspor, pembayaran ekspor dan sebagainya.

Sebagaimana diketahui latar belakang pelaku UMKM sangat majemuk, tidak bisa disamaratakan satu dengan yang lain. Ada yang latar pendidikannya rendah ada pula yang memiliki latar pendidikan cukup bagus. Yang jelas materi ekspor yang diberikan selama ini terlalu berat untuk mereka, ketika yang diberikan adalah materi yang sebenarnya untuk konsumsi para pengusaha logistik, bukan UMKM. 

Seolah anggaran pelatihan 3-4 ekspor yang dikucurkan untuk untuk UKM Go Ekspor menguap begitu saja ketika pelatihan ditutup dan selanjutnya tidak adalah realisasi ekspor yang dihadapi oleh UMKM.

Seruan UKM Go Ekspor akan terus saya laksanakan, meskipun slogan ini bukan dari saya. Sebagai relawan saya akan terus mendukung program ini, terlebih saat bertemu dengan Mbak Ira Damayanti, seorang diaspora Indonesia di USA yang telah menjalin jaringan pasar produk UKM di USA. Pertemuan dengan beliau di Semarang merupakan moment mempersatukan visi dan konsep pemasaran ekspor produk UKM saya sebelumnya, yaitu one city one market dengan melibatkan rekan-rekan diaspora di berbagai negara di dunia. Meskipun masih jauh, tetapi pertemuan ini memberian motivasi bagi seorang relawan seperti saya ketika mendapatkan dukungan penuh dari teman-teman diaspora.

Ada beberapa rekan seperti Mbak Ira Damayanti di belahan dunia yang lain yang juga siap membantu pemasaran produk UKM Indonesia. Untuk pasar yang benar-benar baru, saya mendobrak pemasarannya dengan support dari perusahaan-perusahaan besar untuk membangun kepercayaan pasar atas produk Indonesia terlebih dahulu. Ketika pasar telah terbuka maka produk UKM baru menyusul masuk dengan pasar yang tepat.

Dengan adanya jaringan diaspora di seluruh dunia, saya yakin produk UKM Indonesia mendapatkan kesempatannya untuk memasuki pasar ekspor. Konsep cara bodoh UKM memulai ekspor bisa terlaksana dengan baik. Konsep ekspor saya adalah: "Tidak harus full container load, tetapi bisa less than container load. TIdak harus buyer asing, tetapi bisa rekan diaspora atau TKI pembelinya. Tidak harus repot melakukan ekspor sendiri, tetapi bisa dengan kerjasama dengan perusahaan logistik."

Salah satu perusahaan logistik yang mendukung program UKM Go Ekspor adalah PT Pos Indonesia dengan Pos Ekspor-nya. UKM cuma mengisi selembar formulir dan selanjutnya prosedur ekspor ditangani oleh PT Pos Indonesia. Jika ingin bantu UKM ekspor, jangan buat ribet prosedurnya, cari cara yang termudahnya. Sukses!



Senin, 12 Agustus 2019

Mau Buat Loncatan? Perkuat Hal-Hal Fundamental Dulu.

Mau Buat Loncatan? Perkuat Hal-Hal Fundamental Dulu.
Mungkin istilah UMKM Naik Kelas bagi saya tidak begitu saya pikirkan, saya tidak ingin terbebani beban slogan yang terlalu berat terlebih ketika pada kurun waktu tertentu sloga yang kita janjikan tidak mampu kita penuhi. Misalnya sudah berapa banyak UMKM yang telah naik kelas? Yang seperti apa yang sudah naik kelas? Apakah posisi mereka menjadi lebih aman dengan naik kelas? Dan puluhan pertanyaan yang nantinya justru mengaburkan tujuan sosial saya untuk membantu UMKM lebih berdaya saing dan melakukan progress dari satu masa ke masa berikutnya.

Bagi saya, seorang pengusaha mikro tetapi dengan visi yang terukur untuk masa depan bisnisnya sudah merupakan suatu hal yang perlu diappresiasi. Mereka punya tujuan atau punya fokus untuk berkembang. Keberadaan saya selaku relawan pembinaan UMKM cukup membantu mereka memahami benar tahapan-tahapan yang harus mereka lalui dan bagaimana melaluinya. 

Meskipun masih berskala mikro, menggambarkan bisnis mereka secara jelas, urut dan detail di atas kertas dengan sebutan biz plan adalah sebuah "adat" yang sedang saya bangun untuk binaan-binaan saya. Semua yang akan mereka sampaikan kepada pasar harus bisa tertuang di atas kertas atau sebuah file, mulai dari company profile, biz plan, katalog produk dan price list.

Tentunya sebelum melangkah pada hal-hal di atas, para pengusaha mikro harus paham dengan legalitas usaha dan legalitas produk. Produk yang akan menjadi obyek bisnis di masa mendatang harus sudah tidak dipertentangkan lagi dalam hal legalitas, ijin edar, sertifikasi halalnya dan sebagainya. Kualitas pun sudah menjadi hal mendasar yang tidak perlu lagi mendapatkan kritisi dari pasar, apalagi komplain. Tugas seorang produsen memberikan jaminan kepada konsumen bahwa mereka akan mendapatkan yang terbaik dari produsen. Kapasitas dan kontinuitas menjadi jaminan lain setelah legalitas dan kualitas dipenuhi. 

Ketika produk sudah mendapatkan tempat yang sebenarnya, maka bisnis akan menjadi fokus dalam pembinaan saya selanjutnya. Untuk menjadi pengusaha kecil, saya tidak serta merta mengatakan mereka membutuhkan tambahan modal dan alat, namun saya akan menyarankan mereka untuk membangun sistem bisnis yang jelas, urut, efisien dan produktif. 

Sistem pengelolaan bisnis dimulai dari penataan dan pengelolaan SDM dalam organisasi. penempatan orang yang cakap di setiap fungsi yang dibutuhkan dalam organisasi bisnis adalah kunci sukses bisnis ini akan berjalan sebagaimana yang diharapkan. Benarkan SDM kita memahami benar bisnis organisasi usaha ini? Apakah mereka  paham mereka berkerja untuk apa? Apa yang menjadi input mereka, dan apa yang akan menjadi output mereka? Apakah mereka mengerti tanggung jawab, tugas dan kewenangan mereka? Manajemen SMD menjadi hal yang paling fundamental dalam membangun sebuah organisasi bisnis, sehingga hal ini perlu menjadi fokus bagi seorang pengusaha.

Sistem menajemen selanjutnya adalah sistem pengelolaan keuangan. Tujuan utama dari manajemen keuangan adalah melakukan pengawasan dan kontrol cash in dan cash out organisasi usaha agar selalu dalam keadaan profit. SDM yang mengelola keuangan harus benar-benar mampu mengidentifikasi semua biaya dan mengalokasikan semua biaya tersebut secara detail dan benar ke dalam pos-pos pengeluaran yang tepat. Di sisi lain dia juga harus mampu mengidentifikasi semua pemasukan serta mengaturnya agar semua biaya mampu tercukupi dan masih membukukan profit untuk organisasi usaha tersebut.

Hal fundamental lain adalah manajemen operasional (produksi) dimana SDM yang mengelola fungsi ini harus paham arti efisiensi dan produktivitas agar setiap biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan mampu menghadirkan profit yang semakin membaik. Strategi-strategi operasional menjadi sangat penting ketika organisasi usaha dihadapkan pada persaingan usaha yang semakin ketat dan menuntut efisiensi dan produktivitas yang tinggi.

Stategi pemasaran menjadi ujung pemenuhan tujuan perusahaan, yaitu profit baik dalam tinjauan jangka pendek maupun tinjauan jangka panjang. Pemahaman SDM pemasaran terhadap pasar dan dinamika perubahannya, serta kemampuan komunikasi atas kebutuhan pasar akan menjadi kunci sukses dalam membaca setiap pergerakan pasar dan rencana strategi apa yang secara tepat akan diterapkan oleh perusahaan dalam mengantisipasi pergerakan pasar tersebut.

SDM dan teknologi saat ini menjadi hal yang paling dominan untuk dicermati oleh para pengusaha, bahkan yang berskal mikro sekalipun. Untuk pengusaha skala mikro, kemampuan yang paling mendasar adalah di tingat STANDAR PRODUK, sementara pengusaha skala kecil maka penguasahaan pengelolaan kinerja bisnis harus sudah dikuasainya sebelum melangkah ke skala menengah. Sukses!












Rabu, 07 Agustus 2019

Marketing adalah Mengenai Giving & Networking.

Marketing adalah Mengenai Giving & Networking.
Mungkin jika belum pernah menjalani karir sebagai seorang marketing selama puluhan tahun, saya tidak akan berani mengatakan bahwa sebenarnya ilmu marketing yang paling esensial adalah berbagi (giving) dan silaturahmi (networking). Pengalamanlah yang menuntun saya untuk membuktikan sendiri betapa dahsyatnya kedua ilmu tersebut. 

Secara teknis dan kuantitatif memang masih sulit menjelaskan kedua hal tersebut, namun secara kualitatif memang kedua kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sangat fundamental bagi seorang marketing. 

Kunci utama untuk membuka pasar adalah keberanian, dan keberanian ini diperoleh ketika kondisi psikologis kita berada "level atas". Merangkai dan meyimpulkan berbagai sari pengalaman para senior bahwa "yang tesisa dari (tindakan) memberi adalah keberanian", maka mencapai level atas kita harus berani memberikan atau berbagi sesuatu yang menjadi benefit target pasar kita. 

Hal inilah yang mendasari bahwa seorang marketing harus mempertimbangkan promosi yang benar-benar memberikan benefit (keuntungan) kepada konsumen atau sesuatu yang dibutuhkan oleh konsumen, terlebih jika bisa disajikan secara kuantitatif dengan hitungan nominal. Edukasi juga merupakan kegiatan berbagi kepada target pasar, selama materi edukasinya adalah untuk benefit target pasar.

Kebiasaan berbagi ini akan memicu bertumbuh-kembangnya jaringan atau networking bisnis yang nantinya akan banyak memberikan kemudahan dalam pemasaran dan penjualan perusahaan. Networking adalah sebuah kegiatan untuk keluar dari keterbatasan yang dimiliki perusahaan saat ini, dari hal-hal yang awalnya tidak mungkin, networking bisa mengubahnya menjadi mungkin. Dalam era digital ini, kunci sukses usaha banyak ditentukan oleh kekuatan networking bisnisnya, dalam dalam bisnis sejenis maupun bisnis yang terkait. 

Demikian sedikit yang bisa saya share hari ini. Sukses!






Senin, 05 Agustus 2019

Customer Anda Ingin Apa yang Dilihat.

Customer Anda Ingin Apa yang Dilihat.
Kemudahan promosi dan pemasaran melalui media digital justru harus semakin membuat para pelaku UMKM menjadi lebih berhati-hati dalam membuat pesan dan promosi produknya. Kekecewaan customer hanya sebatas perbedaan antara apa yang dilihat dan apa yang diterima.

Visual yang menarik bukan berarti harus lepas dari apa yang sebenarnya kita miliki atau kita produksi. Kejujuran harus tetap menjadi norma yang harus disepakati dalam melakukan bisnis. Menarik bukan berarti harus membohongi customer dari keadaan yang sesungguhnya. Yang dmaksudkan menarik adalah bahwa foto tersebut mampu menerangkan keadaan sesungguhnya dengan jelas dan mampu menerangkan produk dengan sebaik-baiknya. 

Setiap customer selalu memiliki ekspektasi minimal terhadap produk yang dilihatnya di internet, dan ekspektasi minimal itu adalah apa yang mereka lihat yang anda tawarkan di internet. Yang dimaksudkan kesempurnaan dalam pemasaran adalah apabila ekspektasi cusotmer tersebut bisa anda penuhi dengan sebaik-baiknya, terlebih apabila produk anda di atas ekspektasi customer.

Best Product, Best Deliver.

Dalam berbagai kesempatan saya mencoba untuk selalu mengingatkan kepada para pelaku UMKM untuk tetap menjadi kepercayaan customer terhadap produk dan bisnisnya. Mereka sedang membangun sebuah "nama" (brand) yang selama ini tidak pernah ada. Satu kesalahan kecil mampu menghapus nama itu selamanya.

Seolah hal ini hanya masalah kecil, ketika sebuah produk yang di-deliver (diserahkan) kepada customer terhadap customer tidak sesuai dengan apa yang menjadi ekspektasinya. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah kontra marketing yang akan sangat merugikan di masa mendatang, terutama jika tersebut menyangkut kemudahan penyebaran informasi melalui sosial media.

Pernah suatu ketika ada keluhan dari seorang pembeli terhadap "kemasan" produk UMKM yang tidak seperti apa yang mereka promosikan, dan ketika saya telusur ternyata saat terjadi transaksi pelaku UMKM menjelaskan bahwa saat itu kemasan sedang habis dan pembeli memaksa harus mendapatkan produknya. Akhirnya pelaku UMKM tersebut memberikan produk dengan kemasan yang seadanya.

Atas kejadian ini ternyata pembeli melakukan kontra promosi di sosial media, tetapi untungnya saya dan UMKM binaan tersebut bisa "menenangkan" pembeli tersebut dengan baik melalui penggantian produk.

Belajar dari pengalaman itu saya meminta kepada UMKM binaan saya untuk disiplin dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada customer, jika kemasan produk habis maka berarti produknya pun habis karena apa yang ditawarkan dalam promosi adalah produk dengan kemasan tersebut.

Sikap yang hati-hati dalam promosi meliputi persiapan pesan dan konten promosi, maupun persiapan produk itu sendiri. Jangan sampai ketika melakukan promosi, produk belum siap atau berbeda dengan apa yang dipromosikan.

Produk yang terbaik dari anda adalah produk yang sama antara apa yang anda tawarkan dengan produk yang anda serahkan. Sukses!

Jumat, 02 Agustus 2019

Check List UMKM Naik Kelas.

Check List UKM Naik Kelas.
Kadang memahami slogan tidak selalu mudah bagi para pelaku UMKM, seperti contohnya slogan UMKM Naik Kelas. Bagi yang mendapatkan kesempatan untuk hadir dalam pelatihan dan pembekalan materi mungkin mereka bisa memahaminya, namun lebih banyak pelaku UMKM yang tidak memiliki kesempatan tersebut.

Beberapa di antara mereka bertanya kepada saya, apa yang dimaksud dengan UMKM Naik Kelas tersebut. Dengan hati-hati saya memberikan jawaban kepada mereka bahwa kami memiliki sendiri kriteria UMKM Naik Kelas dan mungkin tidak sama dengan pencetus slogan UMKM Naik Kelas sebelumnya.

Adapun kriterria kami untuk UMKM Naik Kelas adalah sebagai berikut:

1. Level START UP

Untuk level pemula usaha ini, maka mereka harus memiliki hal-hal sebagai berikut:
  1. Company Profile yang menarik
  2. Biz Plan, rencana bisnis yang rapi.
  3. Produk dan kemasan produk yang menarik.
  4. Legalitas produk yang dibutuhkan.
  5. Katalog produk yang menarik.
  6. Price List yang sudah mempertimbangkan harga untuk agen dan distributor.


Pada level ini kami masih fokus kepada PRODUK dan persiapan pemasarannya.

2. Level UMKM

Untuk level UMKM, maka beberapa hal di bawah ini akan menjadi tolok ukur saya dalam melihat apakah UMKM  ini sudah naik kelas atau belum.
  1. Kinerja pengelolaan SDM, mulai dari pembagian fungsi dan tugas serta peningkatan kompetensi SDM dari karyawan. Kunci dari pengelolaan SDM ini adalah menugaskan orang yang tepat pada fungsi yang tepat.
  2. Kinerja pengelolaan keuangan. Tujuan dari pengelolaan keuangan ini adalah cash flow yang baik, dimana cash in lebih besar daripada cash out atau profit.
  3. Kinerja pengelolaan operasional (produksi). Dimana perusahaan mampu melakukan peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya. 
  4. Kinerja pengelolaan pemasaran. Tujuannya adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konsumen serta melakukan peningkatan penjualan. 

Manajemen atau pengelolaan bisnis yang baik adalah pengelolaan yang tercatat dan terukur. Jika semua pengelolaan-pengelolaan tersebut tercatat dengan baik dan terukur maka bisa dikatakan bahwa bisnis UMKM tersebut terkelola dengan baik. Yang dimaksud dengan terukur adalah data-data laporan tersebut bisa disajikan dengan angka-angka yang bisa diperbandingkan dengan pencapaian periode sebelumnya. 

Meskipun sebenarnya kriteria-kriteria tersebut masih bisa didetailkan lagi, namun setidaknya dengan gambaran ini para pelaku UMKM bisa memahami arah bisnis dan pengelolaan bisnisnya di masa mendatang.

Semoga tulisan singkat ini bisa membantu para pelaku UMKM untuk selalu rapi dalam persiapan dan memiliki rencana bisnis yang baik. Sukses!











Kamis, 01 Agustus 2019

Tips UKM Go Export.

Tips UKM Go Eksport.
Materi pelatihan saya "Cara Bodoh UKM Ekspor" cukup diminati sekitar 3-4 tahun yang lalu apalagi materi ini sangat relevan dengan salah satu proganda UKM Go Export dari pemerintah. 

Antara gampang dan sulit semua tergantung dari pola pikir kita. Jika yang diinginkan adalah UKM memahami prosedur dan peraturan eskpor tentunya benar jika UKM Go Export adalah sulit, dan hal ini yang masih dipahami oleh banyak instansi saat ini. Namun jika yang diinginkan adalah produk UMKM masuk pasar ekspor maka banyak jalan kreatif dan alternatif yang bisa ditempuh.

Di era digital sudah saatnya semua hal yang sulit dibuat menjadi mudah, semua yang rumit dibuat menjadi sederhana. Dimulai dari bagaimana kita memahami UKM itu sendiri dan apa itu EKSPOR dengan sangat esensial.

Memahami EKPSOR Secara Sederhana.

Definisi ekspor cuma sederhana yaitu mengeluarkan (pengiriman) barang dari wilayah kepabeanan Indonesia ke wilayah kepabeanan negara lain. Dalam pengertian ini tidak ditetapkan secara detail SIAPA yang bisa ekspor, dengan MODA TRANSPORT apa untuk melakukan ekspor, BERAPA banyak barang yang diekspor, dan SIAPA yang membeli barang ekspor.

Dengan luasnya definisi ini cobalah kita fokus kepada mengeluarkan atau mengirimkan baran dari wilayah Indonesia ke luar wilayah Indonesia saja. Tentang siapa yang ekspor dan siapa yang impor kita pun bisa sikapi dengan siapa saja bisa melakukan ekspor dan siapa saja bisa menjadi pembeli. 

Terkait dengan moda transport, kita bisa lakukan dengan moda transport darat, laut dan udara. Sementara terkait dengan berapa banyak barang yang diekspor, kita tidak perlu melihat harus berkapasitas full container load (FCL), melainkan fokus kepada less than kontainer load (LCL) atau paket.

Siapa yang Bisa Melakukan Ekspor?

Dengan jumlah barang yang tidak berkapasitas besar, siapa saja bisa ekspor, bahkan perorangan pun bisa atau dengan kata lain, UKM sangat bisa melakukan ekspor. Yang penting barang yang diperdagangkan memenuhi keinginan dan kebutuhan dari pembeli yang berada di luar negeri, baik dalam hal kualtias, kapasitas maupun legalitasnya. 

Legalitas yang dimaksudkan adalah legalitas standar yang harus dipenuhi sebagai barang ekpor oleh pemerintah Indonesia, misalnya untuk produk makanan kering cukup dengan PIRT maupun halal. Syukur bisa dilengkapi dengan CoA (Certificate of Analysis) dari lembaga yang kompeten dan diakui, atau bahkan SNI dan HACCP atau GMP. 

Yang dimaksud dengan kualitas adalah kualitas produk itu sendiri maupun kualitas kemasan produk sehingga menjamin produk aman sampai di negara tujuan. Sementara yang dimaksud dengan kapasitas adalah kemampuan eksportir dalam memproduksi barang dalam jumlah tertentu dalam waktu yang dipersyaratkan.

Jika UKM mampu memenuhi hal-hal tersebut di atas, maka bisa dikatakan UKM tersebut layak untuk melakukan ekspor dengan konsep tersebut di atas,.

Siapa yang Akan Handle Pengiriman Ekspor?

Banyak pelatihan ekspor yang ditujukan kepada UKM, namun pada akhirnya justru banyak dari mereka yang menjadi takut untuk ekspor karena rumit dan sulitnya prosedur ekspor. Waktu dan biaya banyak terbuang untuk hal ini, dan saya berharap cara-cara seperti ini perlu dikaji ulang, meskipun secara umum para pelaku UKM butuh ilmu ekspor. 

Untuk konsep UKM Go Export kita harus mulai memilah-milah siapa mengerjakan apa. UKM jangan dibebani lagi belajar prosedur dan dokumen ekspor, biarlah mereka fokus dengan kewajibannya untuk membuat produk yang kualitasnya sesuai dengan yang diminta oleh pembeli (importir luar negeri), kapasitas produksi dan delivery time. 

Sudah sangat umum diketahui bahwa prosedur dan dokumen ekspor adalah keahlian dari perusahaan logistik ekspor (forwarding), biarlah mereka ambil peranan lebih besar dalam program UKM Go Export. UKM butuh pelayanan all in dalam program ini, atau bisa dikatakan tahu beres dan berapa beban biaya yang ditawarkan kepada para pelaku UKM.

Jadi siapa yang handle pengiriman ekspor adalah perusahaan forwarding yang akan menjadi mitra kerja dari para pelaku UKM. Mulai dari trucking, EMKL, Fiat Muat dan semua dokumen yang terkait ekspor termasuk export license adalah menjadi bagian kemitraan yang menjadi tugas dari perusahaan forwarding. 

Siapa yang Dulu yang Akan Disasar sebagai Pembeli?

Bagaimana mau ekspor jika tidak ada pembelinya? Inilah bagian tersulit dalam program UKM Go Export, namun masih banyak trik yang belum kita keluarkan. Misalnya: bagaimana memanfaatkan TKI dan Diaspora yang ada di luar negeri sebagai sasaran pemasaran kita. Mengapa? Karena kita sudah tidak ada kendala bahasa lagi sehingga komunikasi bisa berlangsung lebih baik.

Sebagaimana diketahui, permasalahan dalam pemasaran muncul akibat komunikasi yang kurang efektif sehingga informasi yang diperoleh tidak lengkap. Dengan kemudahan sama bahasa maka komunikasi akan berlangsung lebih baik. TKI dan diaspora adalah pasar yang saya sarankan untuk latihan pemasaran ekspor bagi para UKM sebelum mereka menyasar pembeli asing.

Pemanfaatan Teknologi.

Teknologi informasi (internet, website dan social media) harus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para pelaku UKM jika ingin melakukan ekspor. Profile dalam bahasa inggris di website akan memungkinkan informasi mengenai perusahaan sampai kepada banyak prospek. Sosial media pun harus dikemas dalam bahasa internasional jika ingin menyasar pasar luar negeri.

Pesan-pesan promosi yang terstruktur dan jelas akan membantu pemasaran produk kepada prospek di luar negeri. Bahasa visual diwakili dengan foto-foto produk yang berkualtias dan mampu berbicara, termasuk konten video yang akan banyak membantu dalam pemasaran.

Demikian beberapa tips dari RumahUMKM.Net untuk para pelaku UKM yang sudah ngebet untuk ekspor, semoga tips ini memberikan motivasi dan inspirasi kepada para pelaku UKM di seluruh negeri ini. Sukses!


Rabu, 31 Juli 2019

Selalu Dimulai Dari Segmentasi, Targeting & Positioning.

Selalu Dimulai Dari Segmentasi, Targeting & Positioning.
Bagi seseorang yang berkecimpung dalam dunia pemasaran, istilah segmentation, targeting dan positioning sudah sangat biasa meskipun terkadang dalam implementasinya masih sering meleset dari rencana. 

Memahamkan istilah STP kepada UMKM sangat penting, karena hal ini yang mendasari dalam pembuatan bisnis pan dan strategi pemasaran selanjutnya. Bahkan di awal pemasaran, yaitu dalam desain kemasan, seorang pelaku UMKM juga harus paham segmen pasar dan target pasar mana yang akan dibidik, serta bagaimana mereka membuat positioning yang tepat untuk target pasar tersebut.

Tanpa memahami STP maka bisnis plan dan strategi pemasaran yang dibuat bisa dipastikan tidak akan tepat sasaran, dan hal ini bisa berarti tindakan inefisiensi biaya yang tidak kecil jumlahnya. Memahami pasar dan memahami apa yang menjadi kebutuhan pasar selalu menempati tahapan awal dalam melakukan perencanaan strategi perusahaan.

Segmentasi Pasar

Adalah sebuah keputusan bisnis dalam memilih segmen pasar apa yang mau digarap. Atau bisa diibaratkan dengan : Dari beberapa kolam ikan yang ada, maka tentukan kolam ikan mana yang akan kita pancing

Kita tidak bisa melayani semua segmen pasar, oleh sebab itu kita harus melakukan pilihan atas segmen mana yang paling sesuai bisnis atau produk ktia.

Targeting

Dari kolam ikan yang akan kita pancing, maka kita akan pilih ikan apa yang akan kita pancing. 

Kita harus fokus pada target pasar yang menjadi sasaran tembak kita. Dengan penentuan target pasar ini kita bisa melakukan kegiatan komunikasi pasar yang efektif untuk menggali apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan pasar tersebut.

Positioning

Positioning diartikan dengan umpan apa yang paling cocok untuk ikan yang akan kita pancing tersebut.

Positioining sering dimunculkan dalam wujud tag line produk, yang pesannya telah didesain untuk menjadi umpan untuk target pasar kita.

Dengan memahami STP tersebut di atas maka kita dimungkinkan untuk menarik benang merah dalam penyusunan bisnis plan dan strategi pemasaran. Dengan fundamental yang benar, serta pemahaman atas potensi (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) maka penyusunan bisnis plan dan strategi pemasaran menjadi lebih terarah dan terintegrasi. Strategi produk, harga, pemasaran serta promosi pun akan terbentuk dari penjabaran hal-hal tesebut di atas.

Dengan tulisan singkat ini saya berharap untuk bisa kembali mengingatkan para pelaku UMKM untuk memahami STP dengan benar. Sukses!

Senin, 29 Juli 2019

Apakah Anda Telah Melakukan Efisiensi dalam Bisnis Anda?

Apakah Anda Telah Melakukan Efisiensi dalam Bisnis Anda?
Setelah banyak UMKM mulai berkembang, maka materi pendampingan yang perlu diberikan kepada mereka tentunya akan menjadi berbeda karena kebutuhan mereka saat ini berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Ketatnya persaingan memaksa mereka harus memikirkan bagaimana cara untuk melakukan efiesiensi pada bisnis mereka. 

Melihat kebutuhan ini, salah satu tulsian dari mentor bisnis terkemuka di dunia (Tom MC Ifle) menulis tentang "3 Efisiensi Bisnis Menambah Profit" yang bisa menjadi acuan pemahaman atas efisiensi bagi para pelaku UMKM. Berikut adalah tulisan dari Tom MC Ifle tentang efisiensi:

3 EFISIENSI BISNIS MENAMBAH PROFIT.

Selama ini Bisnis Owner masih beranggapan bahwa melakukan efisiensi harus memangkas biaya. Semua pengeluaran perusahaan harus dipotong: biaya pegawai dipotong, gaji dipotong atau bahkan mesin dijual. Namun, pada kenyataannya ketika Bisnis Owner melakukan hal tersebut, justru membuat program efisiensi tidak berjalan dengan baik bahkan gagal.

Nah, karena itu dalam artikel ini kita akan membahas bagaimana melakukan Efisiensi Bisnis yang tepat guna, sehingga perusahaan dapat berhemat sekaligus bertumbuh. Metode ini sudah menjadi best practice di dunia management, terutama di korporasi internasional, namun masih belum banyak dipraktikkan di segmen small medium enterprise (SME).

Situasi Bisnis Saat Ini.

Dari dulu hingga sekarang, sudah menjadi kepastian bahwa kompetisi semakin lama pasti semakin ketat, sekarang jamannya VUCA, customer semakin lama semakin cerewet,

dulu perusahaan bisa menaikkan harga dengan mudah untuk meningkatkan profit, sekarang tidak segampang itu.
  • Jika sebuah perusahaan memiliki produk atau layanan yang awalnya merupakan produk dan layanan inovatif, dengan semakin banyaknya kompetisi berangsur berubah menjadi komoditi. Intinya adalah semua perusahaan DIPAKSA oleh situasi untuk:
  • Memberikan produk atau layanan yang semakin tinggi kualitasnya alias reliabel,
  • Dituntut untuk memberikan produk atau layanan yang diminta tersebut dengan cepat, dan
  • Pada saat bersamaan, agar tetap survive, perusahaan harus menekan biaya serendah mungkin dan seefisien mungkin.
Karena itu, dengan efisiensi yang tepat, perusahaan tidak akan melakukan asal potong biaya begitu saja, tapi perlu mempertimbangkan aspek-aspek penting yang dibutuhkan untuk pertumbuhan perusahaan.

Paradigma Lama VS Baru dalam Efisiensi.

Hingga sekarang masih banyak pemilik perusahaan yang masih memiliki paradigma lama bahwa: Kalau kualitas mau dinaikkan, maka akan berimbas ke biaya yang naik, kalau kecepatan produk atau layanan ditingkatkan maka akan berimbas ke kualitas yang menurun, dan kalau kecepatan produk atau layanan ditingkatkan, bisa berimbas juga terhadap biaya yang naik.

Intinya adalah selalu ada pertentangan atau lingkaran setan yang membingungkan yang selama ini selalu bertentangan satu sama lain antara kualitas, kecepatan, dan biaya. Gawatnya, customer semakin ke sini semakin menuntut harga yang murah, maunya cepat, tapi juga kualitas bagus. Bagaimana perusahaan bisa menyikapi ini?

Cara satu-satunya adalah dengan memiliki paradigma baru dalam efisiensi, bahwa: “Efisiensi yang tepat adalah efisiensi yang TIDAK MENGORBANKAN KUALITAS, KECEPATAN, dan BIAYA.” Dengan kata lain, efisiensi yang tepat adalah efisiensi yang dapat mendeliver value pelanggan dengan sempurna dengan resource yang tersedikit.

Caranya bagaimana? Dengan melakukan identifikasi yang benar ke luar dan ke dalam, yakni: ke customer, dan ke bisnis. So, jika Anda ingin melakukan efisiensi yang tepat guna, maka harus dilakukan identifikasi apa yang penting bagi perusahaan di dua aspek:
  • Di ekonomi yang sedang lesu, apa yang penting bagi pelanggan dan perusahaan
  • Pada saat ekonomi sudah bergairah lagi, apa saja yang penting bagi perusahaan untuk ikut mengikuti momentum itu.

Saat sudah memahami apa yang penting bagi pelanggan yang disebut value add dan perusahaan yang disebut value enabler, maka kita akan dapat mengidentifikasi sumber pemborosan di perusahaan, baik di proses inti maupun proses pendukung DENGAN TEPAT. Apapun yang tidak sejalan dengan apa yang penting bagi pelanggan maupun perusahaan berarti pemborosan.

Mengenal Jenis Pemborosan.

Jika tidak mau susah susah melakukan analisa nilai (value analysis) ada cara singkat untuk mengidentifikasi pemborosan di perusahaan yakni DOWNTIME. Kesemua pemborosan tersebut dapat kita pilah lagi menjadi beberapa kategori, yakni:
  • Pemborosan di Process. Misal: rework, waiting, not utilized people, motion, excessive process.
  • Pemborosan di Place (infrastruktur). Misal: Transportation: layout yang tidak sesuai alur proses, gedung yang terpisah-pisah, asset yang tidak terutilisasi ke return (banyak ruang kosong, dll)
  • Pemborosan di Policy (kebijakan). Misal: inventory, overproduksi.
  • Pemborosan di Product. Misal: Defect, atau ada elemen atau part produk yang tidak bermanfaat bagi pelanggan maupun branding perusahaan. Misal: plastic belanja di retail yang super warna-warni.
  • Pemborosan di Struktur organisasi: ada bagian-bagian yang tidak mendukung proses bisnis. Misal jabatan yang diada-adakan, atau struktur yang malah menghambat alur proses, atau struktur pekerjaan yang overlap satu bagian dengan bagian lain (redundan).
  • Pemborosan di Promotion. Misal: aktivitas sales marketing yang tidak menambah edukasi yang konsisten pada calon prospek, atau conversion rate yang rendah
Nah, dari jenis pemborosan tersebut, saya akan jelaskan beberapa hal penting yang harus dihindari oleh Bisnis Owner dalam melakukan program efisiensi. Yakni;

1# Menghitung Kapasitas

Sebetulnya kalau saya punya bisnis, misalnya perbankan, manufacturing atau saya punya bisnis distribusi. Berapa saya butuh pegawai? Tentu berdasarkan kapasitas yang saya miliki, atau berdasarkan target yang saya miliki. Ada workload analisisnya.

Perusahaan yang tidak menghitung kapasitas dengan baik, biasanya menggunakan sumberdaya manusia atau menggunakan peralatan melebihi kapasitasnya (burden atau over load). Seperti, karyawan bekerja melebihi jam. Padahal, hal tersebut dapat berakibat pada risiko kesehatan, keselamatan kerja dan resiko hukum. Jadi jangan bangga kalau karyawan kita biasa kerja 12 jam setiap hari. Lama lama bisa gawat. Dan itu artinya, ada yang salah dengan aktivitas bisnis kita kalau seperti itu.

Contoh lain misalnya: kita bangga kalau kita sudah berhasil memodifikasi angkutan barang produksi kita yang kapasitas awalnya 10 ton jadi 20 ton… Bisa kecelakaan di jalan lho! Dan akibatnya jadi ke mana mana.

Nah, terjadinya inefisiensi bisnis mungkin pada awalnya kita sudah menganggap hal itu biasa, padahal itu adalah pemborosan. Karena tidak menyadari maka kita melakukannya terus-menerus dan karena kita melakukan terus-menerus bahkan bertahun-tahun, maka pada saat financial report, “loh, kok profit saya kecil?” Ternyata kita sudah melakukan pemborosan-pemborosan yang tidak sadar sejak lama.

2# Inventory

Inventory, alias stok. Ia merupakan penumpukan barang yang tidak dibutuhkan atau mungkin berlebihan. Penumpukan barang misalnya, saya menumpuk finished good, menumpuk romety reals atau bisa jadi karyawan numpuk pekerjaan yang ditunda, menumpuk pekerjaan karena tidak bisa diputuskan: customernya kurang informasi, kurang data, kurang berkas, numpuk semua dan itu adalah inventory.

Terjadinya inventory ini salah satunya diakibatkan oleh sistemasi bisnis yang tidak berjalan. Akibatnya banyak pegawai atau bahkan Bisnis Owner lalai dalam membuat pekerjaan lebih efektif.

Coba lihat gudang Anda, berapa banyak material yang numpuk banyak yang slow moving, bahkan deadstock. Itu mematikan cashflow kita. Dalam prinsip efisiensi, stok harus pas, tidak boleh kurang juga tidak boleh lebih. Lebih mengganggu cashflow, kurang mengganggu operasional.

So, saran saya adalah jangan melakukan inventory dalam bisnis. Selesaikan pekerjaan dan manfaatkan barang seefektif dan seefisien mungkin.

3# Motion

Motion merupakan gerakan-gerakan yang tidak perlu. Jika transport membawa barang-barang (bisa material atau dokumen) dari satu tempat ke tempat lain, maka motion ini adalah gerakan manusianya (tanpa material atau dokumen).

Coba seberapa sering kita dalam melakukan pekerjaan mencari dokumen, mencari file, nyariin barang, nyariin spidol, nyariin atasan, nyariin bawahan. Itu semua sifatnya motion dan membutuhkan gerakan.

Nah, yang namanya mencari-cari jelas apapun gerakannya adalah TIDAK PENTING. Menghabiskan waktu…menghabiskan tenaga….ujung-ujungnya karyawan tidak produktif karena kerjanya lambat, karena sering nyari hal-hal yang dibutuhkan untuk menjalankan operasional. Masuk akal?

So, dengan melakukan efisiensi tepat guna maka rata-rata perusahaan dapat menurunkan biaya produksi 20-30%, output produksi juga meningkat 2-4 kali lipat dengan sumber daya yang sama, menghilangkan waktu lembur, utilisasi asset lebih optimal dan moral karyawan semakin tinggi karena justru mereka dibantu untuk menghasilkan produk atau layanan secara lebih mudah, cepat, dengan kualitas tinggi.

Inilah Efisiensi Bisnis yang harus dilakukan secara tepat agar nantinya tidak menghambat kinerja dan mempengaruhi produktifitas bisnis. Melakukan Efisiensi Bisnis, justru bisa mempercepat roda bisnis, membuat bisnis bisa lari lebih kencang.

Bayangkan ada dua binatang: ada gajah dan ada citah. Kalau gajah lambat karena gendut. Tapi kalau Citah itu ramping, dia bisa lari sangat kencang, bahkan binatang darat yang larinya paling cepat ya Citah. Kenapa? Karena dia “ramping”. Nah, bisnis Anda pun harus ramping. Kalau bisnisnya gendut, mau lari dan mau gerak susah, maka kita akan selalu ketinggalan oleh kompetitor kita.

Teknik efisiensi dengan paradigma baru tersebut sangat applicable diterapkan berbagai jenis industri baik tingkat korporasi maupun SME: manufaktur, pertambangan dan energy, lembaga keuangan, rumah sakit, bahkan Hotel sekalipun.
  • Metodologi Efficiency Mastery secara garis besar dibagi menjadi beberapa langkah besar yakni:
  • Mengidentifikasi apa yang penting untuk hemat dan pertumbuhan dipandang dare kacamata pelanggan
  • Mengidentifikasi pemborosan saat ini
  • Melakukan streamlining (eliminasi, reduksi, kombinasi, divisi)
  • Memonitor hasil streamline ke laporan keuangan (thd P/L, terhadap Balance Sheet, dan Cashflow)