Laman

  • Home

Rumah UMKM adalah sebuah gerakan moral pemerhati UMKM di Indonesia untuk memberikan wadah kepada UMKM agar mendapatkan informasi, edukasi, fasilitasi dan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Semangat untuk mandiri dan berdaya saing global akan terus kami gelorakan kepada UMKM Indonesia.

Donasi kepada Rumah UMKM melalui transfer ke Bank Mandiri No Rek 136-00-0401108-3 (Marjoko, ST, MM)

Senin, 25 Juni 2018

Pentingnya Merasakan Setiap Proses.

Ikut merasakan proses sangat penting dalam memahami bisnis anda.
Pengalaman saya ketika menjadi sekitar lebih dari 20 tahun yang lalu bekerja di perusahaan Italia yang saat itu membuka lowongan untuk menjadi factory manager mungkin bisa menjadi materi sharing yang menarik hari ini. 

Bekerja dengan orang asing masa itu sudah menjadi rutinitas kami saat furniture mengalami masa kejayaan di masa-masa tersebut, namun bekerja sebagai karyawan perusahaan asing adalah pengalaman saya yang pertama apalagi dulunya saya hanya seorang marketing sementara tantangan yang saya hadapi adalah sebagai factory manager yang bertanggung jawab juga pada produksi. Hal-hal manajemen dan pengetahun teknis mungkin tidak jauh berbeda, namun adalah hal-hal yang jelas berbeda yaitu bagaimana "menjiwai" bisnis yang kita jalani. Pelajaran ini yang saya dapatkan saat saya bekerja dengan perusahaan Italia tersebut.

Saya masih ingat benar apa yang dikatakan oleh pemilik perusahaan di saat hari pertama kali saya bekerja: "Kami tidak butuh orang yang pintar, karena mereka akan cenderung banyak berbohong kepada kami tetapi kami butuh orang yang bisa menjiwai bisnis kami dan tahu apa yang kami inginkan". Pastinya, saya pun belum bisa mencerna maksud pesan ini secara utuh, namun saya berusaha memahaminya karena saya yakin pemilik tidak akan asal bicara di saat awal memberikan briefing ini.

Hari pertama bekerja, saya menuju ruang kerja saya yang baru dan oleh pemilik perusahaan saya diingatkan bahwa tempat pertama saya bukan di ruang itu melainkan dimana awal proses bisnis dimulai. Dimana? 

Bisnis furniture di awali dari bagaimana mendapatkan bahan baku, disanalah saya harus berada. Apakah harus di hutan jati atau kebun mahoni atau di gudang kayu milik supplier. Di tempat itu saya dharus belajar semua detail yang ada dilapangan, dan pemilik perusahaan mengatakan bahwa saya akan bisa belajar cepat jika saya melibatkan semua indera yang saya miliki. Inilah pelajaran pertama saya bekerja dengan orang asing, dan orang Italia yang dikenal sangat detail dan berselera tinggi di furniture.

Setelahnya, saya harus berada dimana? Di setiap proses proses produksi, mulai dari memotong kayu, membelahnya, membuat pembahanan, assembling dan finishing. Semua harus saya ikut, rasakan dan harus terlibat. Tidak hanya hadir dan melihat tetapi harus menjadi orang yang paling expert di setiap proses! Hal inilah yang paling berat tuntutannya. Dan pemilik perusahaan menjelaskan, bahwa jika saya tidak lebih baik dari mereka maka mereka (pekerja) tidak akan benar-benar mendengarkan saya. Luar biasa! Inilah manajemen berdasarkan contoh, dari seorang leader.

Tanpa terasa saya sudah 3 - 4 bulan di lapangan, dan setelah melalui test maka saya boleh duduk di ruang kerja saya untuk memulai manajerial pabrik. Dan benar, pengalaman saya di lapangan banyak sekali membantu saya dalam membuat perencanaan produksi, perhitungan harga dan standard kualitas produk. Inilah penggabungan antara pengetahuan lapangan (praktek) dan manajerial. Sebuah pelajaran besar yang saya peroleh di awal karir sebagai factory manager, dan tidak akan pernah saya lupakan.

Menjiwai Sebuah Bisnis.

Dari sekilas cerita di atas, saya mulai memahami apa yang disebut dengan menjiwai sebuah bisnis. Diawali dengan memahami sedetail-detailnya proses dengan cara terlibat langsung dalam setiap proses, harus menjadi yang paling expert di setiap proses. Kompetisi keahlian adalah sebuah keasyikan yang akan membangun kecintaan kita terhadap apa yang kita kerjakan saat itu. Setelah memahami setiap proses dengan detail dan memiliki pengetahuan serta pengalaman, maka kita akan masuk kepada tingkat menikmati proses tersebut.

Ternyata menikmati setiap tahapan proses justru terletak kepada kepuasan terhadap hasil kerja kita, bukan kepada materi yang kita dapatkan atas kinerja tersebut. Ketika kita sudah mulai menikmati bisnis kita bisa dikatakan bahwa kita sudah mulai menjiwai bisnis kita apabila kita juga telah memahami tujuan bisnis ini secara keseluruhan dan jangka panjang.

Memahami tujuan atas apa yang sedang kita perjuangkan merupakan sebuah motivasi yang penting untuk peningkatan kinerja kita dari hari ke hari. 

Demikain secara singkat sharing pengalaman saya kepada teman-teman UMKM, semoga bermanfaat. Bisa jadi ilmu ini bisa lebih besar manfaatnya di tangan teman-teman UMKM dibandingkan saya. Sukses!





 

Sabtu, 23 Juni 2018

Tugas Marketing Adalah Membuat Sebanyak Mungkin Peluang.

Bangun peluang sebanyak mungkin, dan persiapkan kesiapan anda menangkap peluang tersebut.
"Life is about turns and opportunities. Your turn will come. If you are ready for the opportunity when your turn comes - product, money, knowledge etc, then you can seize the opportunity. An optimist works to create as many turns as possible (by preparing him/herself). A pessimist does nothing as he/she does not believe his/her turn will come anytime soon." - James Koh Ling Meng.

Arti: "Hidup adalah tentang giliran dan peluang. Giliran anda akan datang, dan ketika anda siap dengan peluang ketika giliran tersebut datang - produk, uang, pengetahuan dan sebagianya, maka anda dapat merebut peluang tersebut. Seorang yang optimis bekerja untuk menciptakan sebanyak mungkin peluang (dengan mempersiapkan dirinya), sedangkan orang yang pesimis tidak melakukan apa-apa karena mereka tidak percaya bahwa gilirannya akan datang suatu saat."

Petuah di atas masih selalu sangat ingat, meskipun sudah sangat lama, yaitu sekitar sebelum tahun 2000 yang saya dapat dari atasan saya yang seorang warga negara Singapore, Mr James Koh Ling Meng, yang sudah saya anggap sebagai guru marketing saya. Saya banyak belajar dari beliau, apalagi saya sendiri tidak memiliki back ground markeing pada saat itu karena saya lulusan teknik elektro yang tentunya jauh dari pengetahuan marketing sama sekali.

Pasti banyak sekali pemahaman marketing yang akan sampai kepada kita, tergantung bagaimana sudut kita memandang dan memposisikan diri kita. Untuk saat ini kita mencoba melihat hidup dengan konsep giliran dan peluang tersebut di atas.

Saat ini apa yang kita lakukan adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan produk yang telah kita miliki, meningkatkan pengetahuan kita atas produk dan bisnis kita serta mempersiapkan finansial yang sekiranya dibutuhkan untuk membiayai segala hal dalam upaya menangkap setiap peluang yang akan datang kepada kita. UMKM kita adalah dalam posisi ini, dan tugas ini harus terus dilakukan sampai pada suatu level kesiapan yang prima.

Ketika masuk dalam tahapan marketing, maka cara berpikir kita adalah bagaimana kita membuat peluang sebanyak mungkin, yaitu dengan cara mencari prospek pelanggan, memperluas jaringan usaha, mencari banyak referensi dan sebagainya. Semakin banyak peluang yang kita upayakan maka giliran kita akan semakin cepat datang.

Peluang yang terlalu cepat datang juga tidak akan menguntungkan kita ketika kita belum siap dengan segala hal yang harus kita persiapkan. Peluang dan kesiapan harus sepadan, sehingga ketika peluang datang maka bisa kita konversikan peluang tersebut menjadi sebuah bisnis dan transaksi.

Kesimpulannya, teman-teman UMKM harus semakin optimis dalam mempersiapkan produknya dan segala hal yang mendukungnya karena peluang untuk mereka pasti akan datang. Cepat atau lambatnya adalah tergantung dari mereka membuat banyak peluang. Salam sukses!









Jumat, 22 Juni 2018

Membangun Brand di Social Media

Bukan Who You Are Tapi What You Do.
Kalau diajak ngobrolin membangun brand, antusiasme dari dari teman-teman sungguh luar biasa tetapi ketika para ahli brand (brand specialist) mulai menyodorkan budget-nya maka banyak yang mundur teratur dan tidak nongol-nongol lagi. Ya, ini adalah sekilas obrolan santai kami dengan para ahli brand ketika mereka menyasar pasar UMKM.

Mungkin tidak semua UMKM, karena pastinya yang sudah di level perusahaan skala kecil dan menengah mereka sudah menyadari betapa pentingnya mereka membangun brand dan menyadari pula konsekwensinya baik biaya, upaya dan waktu. Bagi UMKM yang masih skala mikro dan menjelang skala kecil, sangat wajar jika konsekwensi biaya itu tidak terpikirkan sama sekali. Bagi mereka memiliki sebuah logo dan label seolah telah memiliki brand, padahal yang dimaksudkan dengan brand adalah jauh lebih luas daripada hanya sekedar logo dan label.

Social Media adalah Media Termurah dan Efektif untuk Membangun Brand UMKM.

Tidak bisa dipungkiri, era kekuasaan media konvensional mulai padam dan muncul media baru yang sangat dominan dalam penyebaran informasi saat ini. Teknologi informasi membuat social media menjadi sarana setiap individu untuk saling terkait dan terkoneksi menjadi jejaring sosial yang luas. Dengan kata lain, saat ini pemanfaatkan media publikasi lebih didominasi oleh social media bukan media konvensional lagi seperti koran, radio dan televisi.

Peran media dalam membangun brand sangat penting sebagai penyebaran informasi dan publikasi, semakin besar jaringan social media-nya maka seolah para individu ini memiliki media sendiri. Backup media online seperti website juga memberikan penguatan "legalitas" dan kredibilitas dalam dunia digital. 

Ketika konsekwensi biaya membangun brand melalui media tidak terjangkau oleh UMKM skala mikro dan kecil, maka social media harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam membangun brand usaha atau brand produknya atau bahkan personal brand-nya. Meskipun gratis atau murah, tidak mudah membangun brand secara konsisten melalui social media. Kemudahan, kepraktisan serta gratis dari social media ini justru membuat pemilik social media mengelolanya dengan cara yang semaunya, tidak terstruktur dan terencana.

Tanpa disadari oleh pemilik social media, bahwa mereka sebenarnya memiliki asset yang besar dengan memiliki media yang bisa mereka kontrol dan kelola sendiri. Mereka tidak mulai dengan bagaimana mengelola audience yang tepat untuk publikasi pesan mereka, mereka tidak memperhatikan konten atau pesan yang akan mereka sampaikan dan bahkan mereka tidak secara jelas memahami tujuan mereka membuat akun social media tersebut.

Pesan yang tepat, sesuai dengan tujuan dan dengan audience yang benar akan memberikan nilai efektivitas promosi yang tinggi sehingga memberikan banyak peluang bagi usahanya.

Tonjolkan Apa Yang Anda Lakukan, Bukan Siapa Anda.

Memahamkan siapa diri anda, bisnis anda dan produk anda adalah sangat penting, tetapi menyakinkan audience anda terhadap apa yang benar-benar anda lakukan jauh lebih penting. Hal ini akan menjadi aturan anda sendiri dalam mengembangkan social media anda sebagai media publikasi anda yang efektif dan produktif.

Audience akan lebih peduli jika apa yang anda lakukan adalah untuk kepentingan mereka, untuk pemenuhan kebutuhan mereka atau untuk memberikan solusi atas masalah mereka. Sebenarnya mereka tidak peduli siapa diri anda, usaha anda maupun produk anda selama hal-hal tersebut tidak ada kaitannya dengan kebutuhan mereka. Egois? Ya memang begitulan alamiahnya karakater customer.

Kekuatan SEO yang fundamental pun sebenarkan ada pada kekuatan konten, dan beberapa hal tersebut di bawah ini adalah pengalaman-pengalaman kami dalam membuat SEO yang organik tanpa beriklan yaitu dengan kekuatan konten:
  1. Konten atau pesan yang kita sampaikan harus sesuai dengan "kebutuhan" audience atau pembaca/follower/friend di social media kita. Nah, dengan aturan ini mau tidak mau anda harus tahu siapa sebenarnya audience anda atau siapa pembaca anda. Anda bisa membukan profile-nya atau mencari referensi atasnya.
  2. Konten dalam bentuk visual atau audio visual lebih menarik dari konten text atau narasi. 
  3. Interaksi menjadi sangat penting untuk melihat "konektivitas" yang riil antara anda dan audience anda. Pernahkan anda menjadi komentar dari audience anda? 
  4. Konsistensi, baik dalam posting maupun konten. Inlah hal yang tersulit dilakukan dalam mengelola social media.
  5. Bukti atau testimoni. Kadang audience yang menjadi prospek customer baru akan percaya dengan informasi dan pesan anda ketika ada pihak ketiga yang memberikan testimoni atas kinerja usaha dan produk anda.
Kesimpulannya, audience ingin melihat aktivitas anda dan bukti dari apa yang lakukan bukan untuk selalu dicekoki dengan informasi mengenai anda atau informasi statis lainnya. Aktivitas memberikan banyak cerita dan bukti, serta memberikan dinamisasi pada konten-konten yang akan anda sebarkan kepada audience anda. Sukses!
 

Kamis, 21 Juni 2018

Arahkan UMKM Kepada Saluran Distribusi Yang Lebih Panjang.

GULANAS memilih saluran distribusi yang lebih panjang.

Saluran distribusi merupakan serangkaian partisipan organisasional yang melakukan semua fungsi yang dibutuhkan untuk menyampaikan produk dari penjual ke pembeli akhir (Chandra, 2005:221). 
 
Menurut Swastha (1984:192), yang dimaksud dengan saluran distribusi untuk suatu barang adalah saluran yang digunakan oleh produsen dalam menyalurkan barang tersebut dari produsen sampai ke konsumen atau pemakai industri. Dalam distribusinya, produsen sering menggunakan perantara sebagai penyalurnya. Perantara disini merupakan suatu usaha yang berdiri sendiri, berada diantara produsen dan konsumen akhir atau pemakai industri. Mereka memberi pelayanan dalam hubungannya dengan pembelian, penjualan, dan jasa dari produsen ke konsumen. Penghasilan yang mereka terima juga secara langsung berasal dari transaksi tersebut.

Sedangkan menurut Corey dikutip oleh Kotler (2001: 682) mengemukakan saluran distribusi sebagai berikut :

Sistem distribusi adalah sumber daya eksternal yang utama. Biasanya perlu bertahun-tahun untuk membangunnya, dan tidak dapat dirubah dengan mudah. Sistem ini sama pentingnya dengan sumber daya internal utama lainnya seperti produksi, riset, rekayasa, dan personil penjualan serta fasilitas lapangan. Sistem ini menggambarkan komitmen signifikan perusahaan terhadap sejumlah besar perusahaan independent yang bisnisnya adalah distribusi dan tehadap pasar tertentu yang mereka layani. Sistem distribusi juga menggambarkan komitmen terhadap seperangkat kebijakan dan praktek yang merupakan bahan dasar untuk disusun menjadi suatu hubungan jangka panjang yang luas.

Fungsi Saluran Distribusi

Supaya arus pergerakan barang dari produsen sampai ke tangan konsumen sesuai dengan tujuannya maka suatu perusahaan dalam memasarkan produknya harus berpedoman pada prinsip-prinsip yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi-fungsi saluran distribusi.

Saluran distribusi mengatasi kesenjangan waktu, tempat dan kepemilikan yang memisahkan barang dan jasa dari calon pemakainya.

Menurut Kotler yang diterjemahkan oleh Djaslim Saladin (2004:154) mengemukakan bahwa anggota saluran distribusi melaksanakan sejumlah fungsi utama dan berpartisipasi dalam arus pemasaran sebagai berikut :
  • Informasi. Pengumpulan dan penyebaran informasi riset pemasaran mengenai pelanggan, pesaing, dan pelaku lain serta kekuatan dalam lingkungan pemasaran yang potensial dan yang ada saat ini.
  • Promosi. Pengembangan dan penyaluran komunikasi persuasif mengenai penawaran yang dirancang untuk menarik pelanggan.
  • Negosiasi. Usaha untuk mencapai persetujuan akhir mengenai harga dan syarat lain sehingga transfer kepemilikan dapat dilakukan.
  • Pemesanan. Komunikasi terbalik dari anggota saluran pemasaran dengan produsen mengenai minat untuk membeli.
  • Pembiayaan. Perolehan dan alokasi dana yang dibutuhkan untuk membiayai persediaan pada tingkat saluran pemasaran yang berbeda.
  • Pengambilan resiko. Asumsi resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan fungsi saluran pemasaran tersebut.
  • Kepemilikan fisik. Kesinambungan penyimpanan dan pergerakan produk fisik dari bahan mentah sampai ke pelanggan akhir.
  • Pembayaran. Pembeli yang membayar melalui bank dan lembaga keuangan lainnya kepada penjual.
  • Hak milik. Transfer kepemilikan sebenarnya dari suatu organisasi atau orang ke organisasi atau orang yang lain.
Selama produsen melaksanakan fungsi itu, maka biaya produsen akan meningkat dan harga pasti lebih tinggi. Bila beberapa fungsi dialihkan ke perantara, maka biaya dan harga produsen lebih rendah, namun perantara harus menambah ongkos untuk menutup pekerjaan mereka. Jika perantara lebih efisien daripada produsen, harga untuk konsumen harusnya lebih rendah. Konsumen dapat memutuskan untuk melakukan sebagian fungsi itu sendiri, dalam hal ini pelanggan seharusnya menikmati harga yang lebih rendah.

Oleh karena itu, fungsi pemasaran bersifat lebih mendasar daripada institusi yang melaksanakannya untuk waktu tertentu. Perubahan dalam institusi saluran distribusi banyak mencerminkan penemuan cara yang lebih efisien untuk menggabungkan atau memisahkan fungsi ekonomi yang harus dijalankan agar menyediakan berbagai barang yang berarti bagi konsumen sasaran.

Bentuk-Bentuk Saluran Distribusi

Saluran distribusi dapat dibedakan menurut jumlah tingkatannya. Tiap perantara yang melakukan tugas membawa produk dan kepemilikannya lebih dekat ke pembeli akhir merupakan satu tingkatan. Karena produsen dan konsumen akhir keduanya aktif, maka mereka merupakan bagian dari tiap saluran.

Dalam hal ini akan digunakan jumlah tingkat dari perantara untuk menentukan panjang sebuah saluran dan melukiskan beberapa saluran distribusi barang konsumsi dengan panjang yang berbeda.

Menurut Kotler yang diterjemahkan oleh Benjamin Mohan (2002:561) bentuk-bentuk saluran distribusi yang digunakan untuk menyalurkan barang konsumsi yaitu :

Saluran nol tingkat (saluran pemasaran langsung)

Saluran pemasaran ini terdiri dari seorang produsen yang langsung menjual ke konsumen akhir. Cara utama pemasaran langsung adalah penjualan door to door, pesanan lewat surat, pemasaran melalui telepon, penjualan lewat TV, dan melalui toko-toko yang dimiliki produsen sendiri.

Saluran satu tingkat

Saluran ini berisi satu perantara penjualan, seperti pedagang eceran dalam barang-barang konsumsi dan agen dalam barang-barang industri.

Saluran dua tingkat

Saluran ini berisi dua perantara. Dalam pasar barang-barang konsumsi biasanya adalah pedagang besar dan pedagang eceran. Sedangkan dalam pasar barang industri merupakan perwakilan produsen serta distributor industri.

Saluran tiga tingkat
Saluran ini berisi tiga perantara. Dalam pasar barang-barang konsumsi mereka adalah pedagang besar, pemborong, dan pedagang eceran.

Saluran pemasaran dengan tingkat yang lebih tinggi juga dapat ditemukan tetapi saluran ini jarang terjadi.

Begitu pula dengan saluran distribusi yang biasa digunakan dalam pemasaran barang industri. Produsen barang industri dapat menggunakan tenaga penjualnya untuk menjual langsung ke konsumen industri. Atau ia dapat menjual ke distributor yang menjual ke konsumen industri. Atau dapat juga menjual lewat perwakilan perusahaan manufaktur atau cabangnya sendiri langsung ke pelanggan industri, atau menggunakannya untuk menjual lewat distributor industri. Maka saluran pemasaran nol tingkat, satu tingkat, dan dua tingkat tidak cukup aman dalam saluran pemasaran industri.

Gambar: Saluran Pemasaran Barang Konsumsi
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Saluran Distribusi

Menurut Lamb, dkk (2001:21) Faktor-faktor distribusi ini dikelompokkan sebagai faktor pasar, faktor produk, dan faktor produsen.

Faktor Pasar.

Di antara faktor pasar yang paling penting dalam mempengaruhi pilihan saluran distribusi adalah pertimbangan sasaran pelanggan. Sebagai tambahan, pilihan saluran tersebut tergantung pada apakah produsen sedang menjual kepada konsumen atau kepada pelanggan industri. Kebiasaan pembelian pelanggan industri sangat berbeda dengan konsumen. Pelanggan industri cenderung membeli dalam jumlah yang lebih besar dan memerlukan jasa pelayanan yang lebih. Para konsumen biasanya membeli dalam jumlah yang sangat kecil dan kadangkala tidak berkeberatan jika mereka sama sekali tidak mendapatkan pelayanan, seperti dalam sebuah toko diskon.

Faktor Produk.

Produk yang lebih kompleks, dibuat khusus (customized), dan mahal cenderung mendapatkan manfaat dari saluran pemasaran yang lebih pendek dan langsung.

Faktor Produsen.

Beberapa faktor yang berkenaan dengan produsen adalah penting untuk pemilihan suatu saluran pemasaran. Secara umum, para produsen dengan sumberdaya keuangan, manajerial dan pemasaran yang besar, adalah dapat lebih baik untuk menggunakan saluran langsung lebih banyak. Produsen ini memiliki kemampuan untuk memperkerjakan dan melatih para tenaga penjualnya, menyimpan barang, dan memberikan kredit untuk pelanggan mereka. Perusahaan yang lebih kecil dan lebih lemah, sebaliknya, harus mengandalkan para perantara dalam melayani jasa ini. Dibandingkan dengan sejumlah produsen dengan satu atau dua lini produk, produsen yang menjual beberapa produk dalam suatu wilayah yang berkaitan mampu memilih saluran yang lebih langsung. Biaya penjualan kemudian dapat dibagi-bagi ke dalam beberapa produk.

Sedangkan menurut Swastha (1981:210) faktor-faktor yang mempengaruhi saluran distribusi antara lain menyangkut: Pertimbangan pasar, Pertimbangan barang, Pertimbangan perusahaan, dan pertimbangan perantara.

Pertimbangan Pasar.

Karena saluran distribusi sangat dipengaruhi oleh pola pembelian konsumen, maka keadaan pasar ini merupakan faktor penentu dalam pemilihan saluran. Beberapa faktor pasar yang harus diperhatikan adalah:

Konsumen atau Pasar industri.

Apabila pasarnya berupa pasar industri, maka pengecer jarang atau bahkan tidak pernah digunakan dalam saluran ini. Jika pasarnya berupa konsumen dan pasar industri, perusahaan akan menggunakan lebih dari satu saluran.

Jumlah pembeli potensial.

Jika jumlah konsumen relatif kecil dalam pasarnya, maka perusahaan dapat mengadakan penjualan secara langsung kepada pemakai.

Konsentrasi pasar secara geografis

Secara geografis pasar dapat dibagi ke dalam beberapa kosentrasi seperti industri tekstil, industri kertas, dan sebagainya. Untuk daerah konsentrasi yang mempunyai tingkat kepadatan yang tinggi maka perusahaan dapat menggunakan distributor industri.

Jumlah Pesanan.

Volume penjualan dari sebuah perusahaan akan sangat berpengaruh terhadap saluran yang dipakainya. Jika volume yang dibeli oleh pemakai industri tidak begitu besar atau relatif kecil, maka perusahaan dapat menggunakan distributor industri (untuk barang-barang jenis perlengkapan operasi).

Kebiasaan dalam pembelian.

Kebiasaan membeli dari konsumen akhir dan pemakai industri sanagta berpengaruh pula terhadap kebijaksanaan dalam penyaluran. Termasuk dalam kebiasan membeli ini antara lain:
  • Kemauaan untuk membelanjakan uangnya.
  • Tertariknya pada pembelian dengan kredit.
  • Lebih senang melakukan pembelian yang tidak berkali-kali.
  • Tertariknya pada pelayanan penjual.

Pertimbangan Barang.

Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dari segi barang antara lain:

Nilai Unit.

Jika nilai unit dari barang yang dijual relatif rendah maka produsen cenderung untuk menggunakan saluran distribusi yang panjang. Tetapi sebaliknya, jika nilai unitnya relatif tinggi maka saluran distribusinya pendek atau langsung.

Besar dan berat barang.

Manajemen harus mempertimbangkan ongkos angkut dalam hubungannya dengan nilai barang secara keseluruhan dimana besar dan berat barang sangat menentukan. Jika ongkos angkut terlalu besar dibandingkan dengan nilai barangnya sehingga terdapat beban yang berat bagi perusahaan, maka sebagian beban tersebut dapat dialihkan kepada perantara. Jadi, perantara ikut menanggung sebagian dari ongkos angkut.

Mudah rusaknya barang.

Jika barang yang dijual mudah rusak maka perusahaan tidak perlu menggunakan perantara. Jika ingin menggunakannya, maka harus dipilih perantara yang memiliki fasilitas penyimpanan cukup baik.

Sifat teknis.

Beberapa jenis barang industri seperti instalasi biasanya disalurkan secara langsung kepada pemakai industri. Dalam hal ini produsen harus mempunyai penjual yang dapat menerangkan berbagai masalah teknis penggunaan dan pemeliharaannya. Mereka juga harus dapat memberikan pelayanan baik sebelum maupun sesudah penjualan. Pekerjaan seperti ini jarang sekali atau bahakan tidak pernah dilakukan oleh pedagang besar atau grosir.

Barang standar dan pesanan.

Jika barang yang dijual berupa barang standar maka dipelihara sejumlah persediaan pada penyalur. Demikian pula sebaliknya, kalau barang yang dijual berdasarkan pesanan maka penyalur tidak perlu memelihara persediaan.

Luasnya produk line.

Jika perusahaan hanya membuat satu macam barang saja, maka penggunaan pedagang besar sebagai penyalur adalah baik. Tetapi, jika macam barangnya banyak maka perusahaan dapat menjual langsung kepada para pengecer.

Pertimbangan Perusahaan.

Pada segi perusahaan, beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah:

Sumber pembelanjaan.

Penggunaan saluran distribusi langsung atau pendek biasanya memerlukan jumlah dana yang lebih besar. Oleh karena itu, saluran distribusi pendek ini kebanyakan hanya dilakukan oleh perusahaan yang kuat dibidang keuangannya. Perusahaan yang tidak kuat kondisi keuangannya akan cenderung menggunakan saluran distribusi lebih panjang.

Pengalaman dan kemampuan manajemen.

Biasanya, perusahaan yang menjual barang baru, atau ingin memasuki pasaran baru, lebih suka menggunakan perantara. Hal ini disebabkan karena umumnya para perantara sudah mempunyai pengalaman, sehingga manajemen dapat mengambil pelajaran dari mereka.

Pengawasan saluran.

Faktor pengawasan saluran kadang-kadang menjadi pusat perhatian produsen dalam kebijaksanaan saluran distribusinya. Pengawasan akan lebih mudah dilakukan bila mana saluran distribusinya pendek. Jadi, perusahaan yang ingin mengawasi penyaluran barangnya cenderung memilih saluran yang pendek walaupun ongkosnya tinggi.

Pelayanan yang diberikan oleh penjual.

Jika produsen mau memberikan pelayanan yang lebih baik, mencarikan pembeli untuk perantara, maka akan banyak perantara yang bersedia menjadi penyalurnya.

Distribusi Fisik

Menurut Tjiptono (1997:204) distribusi fisik adalah segala kegiatan untuk memindahkan barang dalam kuantitas tertentu, ke suatu tempat tertentu, dan dalam jangka waktu tertentu. Perpindahan fisik ini dapat berupa perpindahan barang jadi dari jalur produksi ke konsumen akhir dan perpindahan bahan mentah dari sumber ke jalur produksi.

Fungsi-fungsi dalam distribusi fisik meliputi:
  • Transportation, yaitu memilih cara yang tepat untuk memindahkan barang ke tempat yang jauh jaraknya. Ini merupakan fungsi utama dari distribusi fisik. Alternatif-alternatif modal angkutan bisa meliputi rel (kereta api), air (kapal), truk, udara (pesawat), maupun menggunakan jaringan pipa khusus.
  • Storage dan warehousing, yaitu menyimpan barang untuk sementara, menunggu untuk dijual atau dikirim lebih lanjut.
  • Inventory central, yaitu pemilihan alternatif apakah penyimpanan harus dilakukan terpusat atau tersebar.
  • Material handling, yaitu pemilihan alat yang tepat untuk memindahkan barang ke tempat yang dekat, seperti ke gudang, ke kendaraan, ke retail store, dan sebagainya.
  • Border processing, yaitu kegiatan-kegiatan seperti penentuan syarat-syarat pengiriman, mempersiapkan dokumen dan lain-lain.
  • Protective packaging, yaitu penentuan wadah barang agar terhindar dari berbagai kerugian yang timbul selama pengiriman.
  • Perusahaan-perusahaan yang membantu dalam proses distribusi fisik disebut facilitator atau facilitating agencies. Facilitator ini dapat meliputi perusahaan transportasi, perusahaan asuransi, perusahaan yang menyewakan gudang (public and private warehouse), perusahaan pembiayaan (bank, perusahaan anjak piutang/factor, floor planning), dan sebagainya. Perlu diperhatikan bahwa facilitator bukanlah anggota di dalam suatu saluran distribusi.
Strategi Distribusi

Menurut Tjiptono (1997:205) secara garis besar terdapat enam macam strategi distribusi yang dapat digunakan, yaitu:

Strategi struktur saluran distribusi

Strategi ini berkaitan dengan penentuan jumlah perantara yang digunakan untuk mendistribusikan barang dari produsen ke konsumen. Alternatif yang dipilih dapat berupa distribusi langsung (direct channel) atau distribusi tidak langsung (indirect channel). Tujuan dari strategi ini adalah untuk mencapai jumlah pelanggan yang optimal pada waktu yang tepat dan dengan biaya yang rendah namun dapat meraih dan menjaga tingkat pengendalian distribusi tertentu.

Strategi cakupan distribusi

Strategi ini berkaitan dengan penentuan jumlah perantara di suatu wilayah atau market exposure.

Tujuan dari strategi ini adalah melayani pasar dengan biaya yang minimal namun bisa menciptakan citra produk yang diinginkan. Strategi ini ada tiga macam, yaitu:
  • Ditribusi eksklusif, yaitu produsen hanya menunjuk satu orang perantara khusus untuk menyalurkan barangnya di daerah atau wilayah tertentu, dengan syarat perantara itu tidak boleh menjual produk produsen lain.
  • Distribusi intensif, yaitu produsen berusaha menyediakan produknya di semua retail outlet yang mungkin memasarkannya.
  • Distribusi, strategi menempatkan produk perusahaan di beberapa retail outlet saja dalam suatu daerah tertentu.
Strategi saluran distribusi berganda

Tujuan dari saluran distribusi berganda adalah untuk memperoleh akses yang optimal pada setiap segmen. Dengan menerapkan strategi ini, perusahaan dapat memperluas cakupan pasar, menurunkan biaya, dan lebih menyeragamkan penjualannya. Penggunaan saluran distribusi ganda ini ada dua jenis, yaitu:
  • Saluran komplementer, yaitu jika masing-masing saluran menjual produk yang tidak saling berhubungan atau melayani segmen pasar yang tidak saling berhubungan.
  • Saluran kompetitif, yaitu jika produk yang sama dijual melalui dua saluran yang berbeda tapi bersaing satu sama lain. Tujuan strategi ini adalah untuk meningkatkan penjualan.
Strategi modifikasi saluran distribusi

Stategi modifikasi saluran distribusi (channel modification strategy) adalah strategi mengubah susunan saluran distribusi yang ada berdasarkan evaluasi dan peninjauan ulang. Dengan mengubah susunan saluran distribusi diharapkan perusahaan dapat menjaga sistem distribusi yang optimal pada perubahan-perubahan tertentu.

Strategi pegendalian saluran distribusi

Menguasai semua anggota dalam saluran distribusi agar dapat mengendalikan kegiatan mereka secara terpusat ke arah pencapaian tujuan bersama. Tujuan dari strategi ini adalah untuk meningkatkan pengendalian, memperbaiki ketidakefisienan, mengetahui efektivitas biaya melalui kurva pengalaman dan mancapai skala ekonomis.
  • Agar dapat menjadi pengendali saluran diperlukan komitmen dan sumber daya yang kuat sehingga dapat melaksanakan kewajiban sebagai pemimpin. Jenis- jenis strategi pengendalian saluran yang bisa digunakan antara lain:
  • Vertical marketing system (VMS), yaitu jaringan yang dikelola secara terpusat dan profesional, yang sejak awal didesain untuk mencapai penghematan dalam operasi dan hasil pemasaran yang maksimal. Ada tiga jenis VMS, yaitu:
  • Corporate VMS, yaitu jaringan yang terbentuk jika para anggota saluran di tingkat distribusi yang berbeda dimiliki dan dioperasikan oleh suatu perusahaan.
  • Administered VMS, yaitu suatu jaringan yang kegiatan-kegiatan pemasarannya terkoordinasi dalam suatu program yang disusun oleh satu atau beberapa perusahaan, di mana perusahaan yang bersangkutan tidak berstatus sebagai pemilik keseluruhan jaringan.
  • Contractual VMS, yaitu suatu jaringan yang terdiri dari anggota- anggota saluran independen yang mengintegrasikan program-program pemasarannya dalam perjanjian (kontrak) untuk mencapai penghematan atau hasil pemasaran yang lebih baik.
  • Horizontal marketing system (HMS), merupakan jaringan yang terbentuk apabila beberapa perusahaan perantara yang tidak berkaitan menggabungkan sumber daya dan program pemasarannya guna memanfaatkan peluang pasar yang ada, yang dalam hali ini mereka berada di bawah satu manajemen.
Strategi manajemen konflik dalam saluran distribusi

Untuk mengelola dan menangani konflik dalam saluran distribusi, suatu perusahaan dapat menerapkan salah satu atau beberapa strategi berikut:
  • Bargaining strategy, yaitu salah satu anggota saluran berinisiatif sendiri dalam proses tawar-menawar di mana ia bersedia mengalah, dengan harapan pihak lain juga berbuat serupa.
  • Boundary strategy, yaitu menangani konflik dengan diplomasi, di mana kedua belah pihak mengirim wakil-wakilnya untuk berunding memecahkan konflik yang terjadi.
  • Interpenetration strategy, yaitu pemecahan konflik dengan interaksi informal yang sering dengan melibatkan dengan pihak lain untuk membangun apresiasi terhadap pandangan masing-masing.
  • Superorganizational strategy, yaitu menggunakan pihak ketiga yang netral untuk menangani konflik.
  • Superordinate goal strategy, yaitu para anggota saluran yang berkonflik menetapkan tujuan bersama.
  • Exchange of person strategy, yaitu masing-masing pihak yang berkonflik saling bertukar personil. Tujuannya agar masing-masing pihak dapat memahami sudut pandang dan situasi yang dihadapi pihak lainnya.
  • Cooptation, yaitu menggunakan pemimpin organisasi lain yang ditempatkan di dewan penasihat atau dewan direktur untuk didengarkan pendapatnya dalam mengatasi konflik.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi teman-teman UMKM semua. Sukses!


















UMKM Center Bukan Pusat Oleh-Oleh.

UMKM Center Seharusnya Bukan Sekedar Pusat Oleh-Oleh.
Apakah UMKM Center harus selalu dikemas sebagai pusat oleh-oleh? Adakah yang berhasil?

Konsep UMKM Center yang kita temui seringkali "diarahkan" menjadi sebuah pusat oleh-oleh, padahal jika mau sendikit mendalami arti dari UMKM Center tentunya UMKM Center memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada hanya sekedar pusat oleh-oleh.

Permasalahan utama dari para pelaku UMKM tidak hanya pada pemasaran produknya, melainkan hal-hal lainnya sebelum masuk ke tahap pemasaran. Misalnya masalah perbaikan manajemen usaha, kualitas produk, teknologi produksi, legalitas usaha dan produk, kemasan produk dan sebagainya. Permalahahan pemasaran merupakan akumulasi akhir dari permasalahan-permasalah tersebut di atas.

Jadi UMKM Center bukanlah sekedar pusat oleh-oleh, melainkan pusat solusi dari permasalahan-permalahan UMKM tersebut.  Pusat oleh-oleh hanyalah bagian dari UMKM Center, sebagai bukti bahwa hasil pembinaan UMKM telah menghasilkan produk-produk yang berkualitas dan berdaya jual tinggi.

Komponen-komponen penting yang harus ada di dalam UMKM Center antara lain:
  1. Pelatihan.
  2. Konsultasi Bisnis.
  3. Outlet pendukung, adalah outlet-outlet yang akan diisi oleh perusahaan-perusahaan yang memberikan layanan jasa kepada UMKM seperti: desain grafis (kemasan, logo), percetakan, toko bahan kemasan, konsultan manajemen, konsultan pajak, konsultan pembiayaan, eCommerce, agen perdagangan, dsb.
  4. Display produk yang telah terseleksi.
  5. Temu bisnis.
  6. Outlet fasiltias: Cafe, Resto, dsb.
Dengan outlet-outlet tersebut di atas terlihat bahwa target pasar dari UMKM Center adalah para pelaku UMKM, bukan pengunjung non UMKM. UMKM Center merupakan solusi dari permasalahan UMKM yang ada sehingga akan menjadi tujuan utama dari para pelaku UMKM ketika mereka mengalami permasalahan dalam perjalanan usahanya.
 
Pada prakteknya, banyak UMKM Center yang ingin hasil instan dengan menjadikannya sebagai pusat oleh-oleh sehingga UMKM Center ini justru melayani pengunjung UMKM Center non UMKM daripada para pelaku UMKM itu sendiri. Dan dari hasil pengamatan kami, banyak sekali UMKM Center yang tidak berhasil menjalankan fungsinya sebagai pusat solusi permasalahan UMKM. Kalaupun ada yang masih bertahan, maka program UMKM Center tersebut didukung dengan anggaran yang luar biasa dari instansi terkait.

Selain itu, UMKM Center perlu dikelola dengan pola profit oriented sehingga mampu membiayai operasionalnya sendiri tanpa subsidi anggaran dari instansi terkait. Semoga masukan dan saran kami ini bisa memberikan wacana bagi daerah-daerah yang ingin membangun UMKM Center di masa mendatang. Sukses!

 




 



Rabu, 20 Juni 2018

Eksplorasi Sumber Pangan Lokal, Pahami Pasar Global.

Singkong merupakan sumber pangan lokal yang potensial.
Di satu sisi kami banyak mendapatkan informasi bahwa kripik singkong sangat diminati di Eropa dan Timur Tengah, sementara di sisi lain para pengrajin tapioka berteriak karena harga tepung tapioka anjlog. Di sisi lain lagi permintaan gula singkong (glukosa) dari negara India cukup besar.

Pasti beda antara singkong yang dibuat untuk keripik atau opak singkong dengan untuk dibuat tapioka, namun tetap saja bahwa bahan bakunya adalah singkong yang memiliki karakter yang tidak jauh berbeda. Terlebih setelah tahu bahwa permintaan gula singkong dari India juga cukup besar.

Dari permasalahan-permasalahan ini memang kita dituntut untuk berwawasan luas dalam memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi dalam negeri. Jika yang dipahami oleh pengrajin tapioka adalah pasar lokal dan konvensional maka mereka akan terus terbelenggu oleh permasalahan pasar dan anjlognya harga tapioka, namun jika mereka mau sedikit mencoba pasar baru seperti industri gula singkong mungkin akan banyak membantu pemasaran produk mereka.

Selain itu jika lahan yang selama ini mereka tanami dengan singkong untuk produksi tapioka dicoba untuk ditanami dengan singkong yang bisa untuk produksi keripik singkong maka mereka pun akan memiliki peluang pasar yang lain karena permintaan keripik singkong dari Eropa, China dan Timur Tengah saat ini cukup besar.

Eksplorasi Sumber Pangan Lokal, Pahami Pasar Global.

Dengan iklim dan letak geografisnya, Indonesia seharusnya tidak akan kekurangan pangan asalkan bidang pertanian dan perkebunan dikelola dengan benar dan berkesinambungan. Banyak sumber pangan lokal yang tidak terlalu diminati di Indonesia justru diminati di luar negeri. Sebagaimana kami singgung di atas, singkong adalah kekayaan produk Indonesia yang perlu mendapatkan sentuhan teknologi pertaniannya dan teknologi pengolahannya.

Tepung gaplek sendiri sendiri merupakan sumber pangan yang unik dan otentik yang bisa dikembangkan sebagai komoditas ekspor selain untuk pemenuhan dalam negeri. Daripada MOCAF yang justru mahal harganya, tepung gaplek justru lebih otentik dan merupakan bahan baku pangan lokal yang sudah lama dikenal.

Lebih kaget lagi kami ketika mendapati kabar bahwa buah nangka muda juga merupakan sumber pangan lokal yang diminati oleh importer dari Eropa dan Australia, karena kandungan proteinnya cukup tinggi dan bisa dimanfaatkan oleh para vegetarian. Buah sirsak, mengkudu serta manggis yang merupakan produk asli dari Indonesia juga merupakan komoditas ekspor yang sangat potensial.

Para petani dan produsen pangan lokal seharusnya melihat peluang-peluang ini sebagai sebuah motivasi untuk terus membudidayakan sumber pangan tersebut menjadi lebih baik dan lebih produktif dengan sentuhan teknologi pertanian dan teknologi pangan. Banyak produk pangan lokal yang potensial tidak tergarap hanya karena masalah pemahaman pasar yang sangat sempit.

Indonesia sangat kaya dengan tanaman-tanaman pangan yang sangat dibutuhkan oleh pasar ekspor. Jika di Indonesia kurang laku, belum tentu produk tersebut tidak laku karena masih ada pasar ekspor yang bisa menjadi tujuan pemasaran produk tersebut. Jangan pernah ragukan kemampuan ibu pertiwi kita, kita kaya tapi belum tahu bahwa  kita kaya! Sukses!


Selasa, 19 Juni 2018

Back to Work, Kembali Beraktivitas Setelah Lebaran.

Saatnya kembali bekerja setelah liburan panjang.
Liburan lebaran tahun 2018 ini cukup panjang dan tentunya akan berdampak kebutuhan konsumtif. Bagi karyawan dan pegawai hal ini memang yang mereka tunggu setelah bekerja selama setahun, namun bagi para pelaku UMKM apakah bisa berlama-lama menunggu untuk beraktivitas kembali setelah pengeluaran cash flow yang besar menjelang lebaran?

UMKM memang tidak mengenal kata libur, kecuali memang dipaksa libur karena merekalah denyut ekonomi nasional. Perekonomian harus tetap hidup terutama ketika menyangkut pemenuhan kebutuhan pokok untuk hidup, dan di sinilah terlihat peran UMKM sangat luar biasa dalam "hybernasi ekonomi" sejenak ini.

Tulian ini adalah untuk mengingatkan kepada teman-teman UMKM untuk kembali beraktivitas dan menjalankan roda ekonomi agar tidak terlarut dengan suasana liburan panjang yang bisa mengganggu denyut ekonomi nasional. Masalah finansial usaha yang biasanya terjadi saat menjelang lebaran akan berlanjut lesu setelah sebulah pasca lebaran dan hal ini harus menjadi perhatian bagi para pelaku UMKM (terutama yang mikro dan kecil). Harus cari mencari "cash in" lagi, yaitu kembali beraktivitas usaha.

Dalam kondisi ekonomi yang semakin berat seperti ini, denyut ekonomi dari urat-urat kecil perekonomian rakyat (UMKM) sangat dibutuhkan ketika perusahaan-perusahaan besar saat ini sedang mengalami "demam" akibat krisis dan beban ekonomi yang berat. Banyak sudah perusahaan besar yang terpaksa merampingkan diri karena tidak sanggup bertahan dengan beban usaha yang berat dan tidak sedikit juga yang mulai menutup usahanya. Harapan untuk bertahan adalah terus menggalang perekonomian rakyat melalui UMKM.

Ketika produk-produk UMKM yang tumbuh sudah mulai setara kualitas dengan perusahaan besar maka sebenarnya kekuatan mereka sudah bisa menggantikan kekuatan perusahaan besar. Penambahan kapasitas produksi dalam skala UMKM adalah dengan cara penambahan pelaku usaha, atau dengan cara sentra produksi dan inilah yang disebut dengan konsep industrialisasi kerakyatan.

Semoga UMKM semakin tumbuh dan berkembang sehingga ekonomi Indonesia semakin kokok dan tidak mudah mudah terkena krisis, terutama krisis global. Eksplorasi kekuatan lokal merupakan kekuatan yang luar biasa dari perekonomian Indonesia, apalagi dari yang lokal bisa menjadi global. Sukses!


Rabu, 13 Juni 2018

Cerita Di Balik Setiap Lebaran.

Keluh kesah UMKM menjelang lebaran.
Sementara para pekerja dan buruh menghadapi lebaran dengan suka cita karena hampir bisa dipastikan akan mendapatkan THR, namun berbeda di sisi para pengusaha skala UMKM yang menghadapi lebaran dengan perasaan campur aduk, antara senang dan kelabakan. Bagi perusahaan menengah besar tentunya telah memiliki manajemen keuangan yang baik, lebaran ada sebuah momen finansial yang telah direncanakan dengan baik.

Namun bagi sebagian UMKM binaan kami, yang masih skala mikro dan kecil atau bahkan yang masih dalam taraf startup, momen lebaran seolah sebuah kejutan aliran listrik dalam keuangan mereka. Banyak terjadi, saat momen pembayaran THR tiba, para pelaku UMKM dalam kondisi keuangan yang "tidak" memungkinkan membayar THR. 

Mengapa "tidak" memungkinkan membayar THR? Karena memang kondisi bisnis mereka belum mempertimbangkan momentum ini dan omzet penjualan pun belum sesuai apa yang mereka harapkan. Mereka tidak memiliki cash yang cukup untuk membayar "kewajiban" tersebut. Dalam business plan sebenarnya mereka sudah memperhitungkan beban biaya tersebut tetapi pada prakteknya kondisi cash mereka tidak sesempurna seperti dalam business plan.

Tetapi inlah kenyataan bisnis yang terjadi dan selalu menjadi warna cerita saat menjelang lebaran seperti sekarang ini. 

Sebuah Cerita Pelaku UMKM Menjelang Lebaran

Kita bekerja untuk siapa? Adalah sebuah guyonan situasi saat kami berkumpul dengan beberapa pelaku UMKM skala mikro kecil ketika mereka telah membayarkan kewajiban uang THR kepada karyawannya. Ternyata uang yang tersisa dari hasil usahanya justru tidak memungkinkan untuk mereka liburan atau semacamnya, atau bahkan mereka sudah tidak pegang uang sama sekali.

Ini nyata, karena memang kondisi usaha mereka terutama kondisi keuangannya belum sampai pada tahap yang mapan atau sesuai dengan rencana pendapatan. Apalagi jika dipahami bahwa memulai usaha itu biayanya besar, karena kurang pengetahuan dan kurang pengalaman menyebabkan banyak sekali inefisiensi dalam operasional usaha yang terjadi. Jadi sangat wajar jika pada momentum menjelang lebaran seperti ini banyak pelaku UMKM (pemula) menjadi kelabakan kehabisan uang modal mereka.

Tetapi dengan berkumpul dan berdiskusi setidaknya mereka bisa terus menggali pengalaman dan pemahaman dari sesama pelaku usaha, apalagi jika dalam diskusi ini juga ada pelaku UMKM yang telah melewati masa-masa berat tersebut. Pelaku usaha yang sudah berpengalaman bisa memberikan sharing pengalamannya agar para pelaku usaha skala mikro dan kecil bisa mendapatkan kiat dan motivasi untuk tahun depannya.

Bahwa pelaku usaha bekerja untuk membangun kesejahteraannya dan juga kesejahteraan karyawan dan lingkungnannya adalah sebuah hukum bisnis yang harus ditaati oleh semua pelaku usaha. Jika dalam momen seperti sekarang ini seolah mereka bekerja untuk karyawannya, maka tunggu beberapa tahun lagi pasti mereka akan berubah pola pikirnya.

Tetap semangat menghadapi lebaran, dan kami dari RumahUMKM.Net mengucapkan: Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin. Sukses !
 

Selasa, 12 Juni 2018

Mudik, Kesempatan Sourcing Produk Dari Kampung.

Usaha konveksi yang padat SDM paling cocok dikerjakan di desa.
Akan sangat sulit untuk membendung urbanisasi generasi muda ke kota besar. Pola pikir bahwa kota besar lebih menjanjikan kesejahteraan masih sangat sulit untuk digeser atau dirubah di kalangan generasi muda, apalagi dengan dalih bahwa mereka butuh pengalaman di kota.

Jika boleh jujur kami selama perjalanan pembinaan UMKM di Jawa Tengah, justru kami melihat potensi yang luar biasa di daerah pedesaan. Sumber bahan baku murah dan lokal, SDM murah dan juga harga lahan yang tidak mahal juga. Dengan kondisi ini nilai investasi usaha bisa ditekan cukup besar, apalagi saat ini tidak ada perbedaan akses informasi antara kota dan desa karena keterbukaan informasi di internet. Orang desa memiliki peluang yang sama dengan orang kota oleh sebab itu kami sudah banyak melihat banyak orang desa yang saat ini justru lebih sejahtera dan nyaman hidupnya dibandingkan dengan orang kota.

Konsep produksi di desa dan pemasaran di kota adalah konsep yang paling tepat untuk kondisi saat ini, bahkan mungkin untuk kondisi ke depan. Dari hasil keliling kami ke seluruh kota dan kabupaten di Jawa Tengah kami melihat bahwa setiap daerah memiliki pontensi khas yang berbeda dan hal ini bisa dikembangkan pemasarannya oleh orang-orang yang tinggal di kota besar.

Meskipun sederhana, keamanan pangan perlu diterapkan dalam setiap produksi pangan.
Mudik, Kesempatan Untuk Sourcing Produk Dari Kampung.

Dari uraian di atas, kami ingin mengingatkan kepada rekan-rekan yang selama ini tinggal di kota untuk lebih jeli dan termotivasi untuk mengangkat produk dari kampung halamannya. Sungguh suatu momentum yang besar ketika masyarakat kota yang sudah teredukasi masalah kualitas dan pengalaman bisa berbagi pengalaman kepada masyarakat di desa untuk peningkatan produk lokal. Informasi pasar yang dibawa oleh saudara-saudara di kota juga akan banyak membantu perluasan pemasaran produk lokal.

Kesempatan mudik kali ini benar-benar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kota untuk melakukan sourcing produk dari kampung dengan harga yang lebih murah untuk mereka pasarkan di deerah perkotaan dimana mereka tinggal. Masyarakat kota pun lebih akrab internet dibandingkan masyarakat desa, dan tentunya lebih memiliki jaringan pergaulan yang luas.

Harmonisasi pembangungan harus terbentuk, desa sebagai sentra produksi sedangkan kota sebagai sentra perdagangannya. Dengan cara ini, generasi muda di desa akan memiliki peluang usaha dan kerja yang lebih besar dari sebelumnya. 

Akankah anda peduli dengan pembangunan di desamu? Mulailah saat ini juga. Sukses!

 

Senin, 11 Juni 2018

Pusat Grosir, Memberikan Kesempatan Kepada Orang Lain Untuk Berbisnis.

Pusat Grosir Makanan & Minuman.
Di bisnis skala UMKM, produsen sangat ingin ketemu dengan pembeli akhirnya sehingga transaksi yang terjadi adalah langsung antara produsen dan pengguna produk tersebut. Dengan kata lain, jalur distrubusinya pendek. Dengan jalur distribusi yang pendek, peluang bagi pebisnis lain untuk masuk sangatlah sempit sehingga pengembangan usaha relatif lebih lama dan berat.

Memberikan peluang seluas-luasnya kepada pebisnis lain ke dalam bisnis kita adalah upaya memperluas jaringan dan penyebaran informasi produk. Semakin luas jaringan distribusi yang terbangun maka semakin cepat produk kita dikenal oleh pasar, sehingga peluang peningkatan omzet menjadi lebih baik. Hal mana kami sering mengingatkan kepada para pelaku UMKM untuk mencari "pasar bisnis" bukan pasar konsumsi, karena posisi mereka adalah produsen.

Setiap produsen harus memiliki visi ke arah industrialisasi jika ingin berkembang, dimana mereka harus memiliki sistem yang mampu menjaga konsistensi kualitas produk dan juga sistem yang mampu menjamin ketersediaan supply dan pengembangan kapasitas. Peluang industrialisasi inilah yang nantinya akan membuka peluang investasi dalam bisnisnya ke depan, sehinga bisa lebih besar dan berkembang.

Pusat Grosir Produk UMKM

Memang lebih sulit mencari pasar bisnis dibandingkan dengan pasar konsumsi, bahkan beberapa pameran yang coba digelar oleh pemerintah seringkali hanya mampu menghadirkan pasar konsumsi bagi UMKM sehingga setelah pameran berakhir, maka pesanan ulang tidak pernah kunjung tiba. Meskipun sulit, tetapi hal ini merupakan kewajiban dari produsen sehingga segala macam ke arah sana harus ditempuh.

Kami masih teringat saat ngobrol dengan Bapak Munjirin, Bupati Semarang beberapa tahun yang lalu saat kami memberikan materi pemasaran kepada para pelaku UMKM di Kabupaten Semarang di tempat pelatihan UMKM di depan Rawa Pening (maaf kami lupa nama lokasinya). Lokasi yang dulunya diperuntukkan untuk UMKM Center tersebut terasa kurang sukses dengan konsep sebelumnya, dan Bapak Bupati ingin lokasi ini dijadikan Pusat Grosir Oleh-Oleh Kabupaten Semarang.

Ide ini menurut kami sangat luar biasa, karena bisa banyak membantu UMKM produsen dalam pemasaran produknya. Dengan cara ini, UMKM produsen memiliki peluang besar untuk bertemu dengan pasar bisnis, yang berbelanja ke pusat grosir tersebut untuk tujuan dijual kembali dan dengan kuantitas yang cukup besar.

Di sisi lain, pusat grosir ini bisa menjadi magnet wisata bisnis bagi para pedagang yang ingin melakukan kulakan produk di pusat grosir tersebut. Dan kami salut dengan ide Bapak Bupati tersebut, namun sayang sampai dengan hari ini ide tersebut belum terealisasikan.

Ya, pusat grosir merupakan salah satu solusi dalam membantu pemasaran para pelaku UMKM produsen, dengan cara mempertemukan mereka dengan pasar bisnis. Dengan kapasitas penjualan yang lebih besar, maka produsen memiliki jaminan untuk bisa terus fokus dalam produksi tanpa harus pecah fokus ke arah pemasaran.

Masih belum terlambat untuk merealisasikan ide cemerlang dari Bapak Bupati Semarang tersebut, bahkan tidak harus di Kabupaten Semarang namun bisa juga untuk kota dan kabupaten lain. Semoga sukses!







 

Sabtu, 09 Juni 2018

UKM Naik Kelas, Sebuah Upaya Pembinaan UKM Meniti Bisnis Tahap Demi Tahap.

UKM Naik Kelas, Sebuah Upaya Pembinaan Mengantarkan UKM Meniti Bisnis Tahap Demi Tahap.
Slogan UKM naik kelas cukup berhasil, terbukti banyak sekali UKM yang termotivasi dengan slogan tersebut untuk membenahi sikap kewirausahaan dan usahanya. Intinya mereka ingin berkembang dengan melalui tahapan-tahapan yang aman untuk bisnis mereka. 

Lantas tahapan yang aman itu yang seperti apa, maka dari berbagai pengalaman kami ketika membantu beberapa UKM di Jawa Tengah adalah sebagai berikut:
  1. Naik kelas dalam kualitas produk, baik kualitas produk itu sendiri maupun kemasannya. Sebagian UMKM, terutama UMKM pangan masih dalam tahapan ini. Berbagai pembinaan dalam teknologi produksi dan perbaikan proses produksi perlu dibekalkan kepada para pelaku UMKM. Kemasan yang menarik juga masih selalu menjadi kendala bagi para pelaku UMKM.
  2. Ketika tahapan pertama telah terselesaikan, maka tahapan kedua adalah bagaimana membantu para pelaku UMKM memahami pasar mereka dan mengenalkan potensi-potensi pasar agar omzet penjualan dan profit mereka meningkat, sehingga memungkinkan untuk melakukan pembenahan-pembenahan berikutnya.
  3. Naik kelas dari sisi legalitas usaha dan sertifikasi usaha dan produk.
  4. Naik kelas dalam bidang manajemen pengelolaan usaha, baik manajemen SDM dimana para pelaku UMKM telah memiliki sistem untuk mengatur pembagian tugas dan kerja serta tanggung jawabnya, manajemen keuangan yang memungkinkan mereka memonitor dan mencatat semua uang masuk dan uang keluar serta mampu membuat laporan-laporan keuangan yang baku, manajemen operasi (produksi) yang memungkinkan mereka menerapkan efisiensi dan produktivitas kerja dan manajemen pemasaran yang memungkinkan mereka meningkatkan omzet dan profit perusahaan.
  5. Naik kelas dalam kemampuan perusahaan dalam memiliki sistem manajemen yang baku dan SOP yang baik.
Bagi kami kelima tahapan di atas sudah memungkinkan kami untuk mendampingi UMKM tersebut dalam memperluas pemasaran produknya, karena kami pun membutuhkan jaminan keseriusan dari UMKM untuk berkembang menjadi perusahaan yang lebih besar. Pasti tahapan tersebut tidak semudah teorinya, namun tahapan tersebut adalah tahapan yang wajib dilalui oleh pelaku UMKM untuk bisa dikatakan naik kelas.



Jumat, 08 Juni 2018

UKM Pangan Award 2018 : Penentuan Nominasi Juara

UKM Pangan Award 2018 : Penentuan Nominasi Juara
Jumat ini adalah penentuan nominasi juara pangan award 2018 setelah tahapan kurasi dan kunjungan beberapa UMKM. Cukup banyak yang unik, terutama pada produk minuman khas tradisional, namun masih perlu ditingkatkan lagi kemasannya jika untuk maju ke tingkat nasional.

Beberapa peserta produk minuman seperti Cang Cahe Plethok dari Banjarnegara, Wedang Menir dari Purbalingga, SIrup Daker dari Kendal dan Sirup Buah Bit dari Kabupaten Semarang memberikan kebanggaan atas kemampuan para pelaku UMKM dalam mengeksplorasi potensi lokal. Produk-produk seperti inilah yang diminati oleh pasar saat ini, tinggal perbaikan kemasan dan promosi yang lebih gencar saja untuk memperluas jangkauan pasarnya.

Untuk produk makanan olahan siap saji, kami juga mulai melihat kemampuan para pelaku UMKM dalam membidik pasar-pasar niche seperti Abon Kluwih dari Kota Solo, Abon Kelapa dari Purbalingga yang membidik pasar vegetarian sehingga abon yang biasanya terbuat dari daging sapi disubstitusi dengan nangka (kluwih) dan kelapa. Dari Banjarnegara, Garang Asem Kalengan juga merupakan inovasi yang patut diperhitungkan.

Produk kerupuk kulit ikan lele dari Boyolali juga sangat menarik bagi kami, karena memiliki potensi ekspor yang snack. Egg roll berbahan baku mocaf juga merupakan inovasi yang perlu mendapatkan perhatian.

Team juri pada hari ini telah menentukan beberapa nominasi juara dari berbagai kategori yang nantinya akan secara final ditentukan produk juaranya untuk tingkat Jawa Tengah, untuk tingkat nasional masih ada waktu untuk melakukan berbagai perbaikan kemasasan kelengkapan legalitas yang mendukung.

Kami berharap banyak bahwa tahun ini, Propinsi Jawa Tengah masih bisa memberikan kontribusi pangan juara secara nasional sebagai tolok ukur pembinaan dan pengembangan UMKM di Jawa Tengah.