Laman

  • Home

Rumah UMKM adalah sebuah gerakan moral pemerhati UMKM di Indonesia untuk memberikan wadah kepada UMKM agar mendapatkan informasi, edukasi, fasilitasi dan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Semangat untuk mandiri dan berdaya saing global akan terus kami gelorakan kepada UMKM Indonesia.

Donasi kepada Rumah UMKM melalui transfer ke Bank Mandiri No Rek 136-00-0401108-3 (Marjoko, ST, MM)

Sabtu, 21 Juli 2018

StartUp, Ketika Ide Bisnis Masih Murah Nilai Investasinya.

Apa yang ditawarkan oleh STARTUP adalah ide, rencana dan prospek, dan apa yang dilihat oleh investor adalah efisiensi investasi dan keuntungan di masa mendaatang.
Untuk menggerakkan ekonomi di Indonesia maka harus banyak lahir entrepreneur-entrepreneur baru dengan ide-ide yang kreatif atau bisa dikatakan brillian. Ide yang biasa-biasa saja tidak cukup untuk masa-masa sekarang yang sangat kompetitif dan sarat teknologi.

Jangan ragukan lagi generasi sekarang dalam hal kreativitas, apalagi teknologi, mereka terlahir akrab dengan perkembangan teknologi digital saat ini. Bisa dikatakan inilah jamannya mereka, ini dunianya.

StartUp bisnis berbasis teknologi mendapat porsi yang luar biasa untuk berkembang disamping industri kreatif yang juga terus dipacu oleh kementrian-kementrian yang menaunginya. Triliyunan rupiah digelontorkan untuk memacu munculnya entrepreneur-entrepreneur baru (StartU) di bidang-bidang tersebut di atas dan lainnya. Kuncinya adalah inovasi baru dan kreativitas, yang harus menjadi landasan berpikir bagi para startup.

Para muda ini dibiasakan untuk lebih peka terhadap permasalahan di pasar, dan dengan kemampuan mereka dalam menguasai teknologi maka mereka akan memecahkannya dengan solusi yang komprehensif dan aplikatif. Dan hal ini yang berkembang saat ini, hampir di seluruh Indonesia terutama di kota-kota besar.

Investasi Pada Bisnis StartUp.

Saat ini ribuan ide bisnis hadir setiap harinya, beberapa di antaranya memang memiliki prospek untuk dikembangkan lebih lanjut dan sangat aplikatif. Ide yang seperti ini adalah bibit bisnis yang sangat prospektif di masa mendatang. Banyak juga yang hanya berhenti sampai di ide, namun hal ini pun telah memberikan referensi berpikir yang lebih baik dan berkembang. 

Bibit-bibit bisnis ini merupakan asset yang luar biasa, terutama bagi yang benar-benar memahami kondisi bisnis di masa mendatang dan peluang pasarnya. Banyak investor yang sudah melirik berinvestasi pada bisnis startup karena mereka mampu melihat seperti apa bisnis tersebut di masa mendatang.

TIdak harus yang full teknologi, yang penting bisnis tersebut masih aplikatif dengan kondisi masa mendatang dan memberikan banyak solusi atas permasalahan-permasalahan pasar. Semakin luas dan efektif solusinya maka bisnis tersebut semakin prospektif.

Pihak investor melihat bisnis startup sebagai lahan persemaian bisnis yang baik untuk masa-masa mendatang, terutama investor-investor konvensional yang saat ini sudah merasakan penurunan hasil dari investasi di bidang-bidang yang telah masuk kategori tradisional. Peluang investasi yang jauh lebih murah menjadi pertimbangan para investor untuk hadir sejak dini dalam tahap startup, dan memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk berkembang di masa mendatang. Inilah saatnya dunia investasi juga mulai bertransformasi dalam bisnis-bisnis mendatang yang lebih beraroma teknologi.

Tentunya untuk mengatasi resiko, para investor pun telah menyiapkan formula pengamanan investasi mereka. Mereka akan berhitung peluang dan resiko untuk setiap bisnis startup yang mereka bidik. 

Jika memahami tulisan saya sebelumnya: Jika Bisnis Anda Rapi, Terstruktur, Tercatat dan Progess Maka Semua Akan Tergantikan. maka peluang bagi para pemula usaha (starter) untuk mulai belajar menyajikan bisnis mereka dengan lebih profesional dan bisa tervaluasi. Mereka harus memperjuangkan bahwa ide, prospek dan progress mereka adalah asset intangible yang harus diperhitungkan dalam investasi sehingga mereka tidak dirugikan oleh investor di masa mendatang. 

Sementara itu ide mereka haruslah berupa solusi yang inovatif. Berikut ini adalah 5 tip untuk membangun solusi yang inovatif:
  1. Pecahkan SATU masalah yang jelas: fokus pada satu masalah dan tidak banyak.
  2. Pahami masalah: mengamati lingkungan, infrastruktur, budaya, dan kehidupan orang-orang dengan berada di sana.
  3. Berpikir kreatif: mulailah besar, gunakan batasan sebagai filter dan temukan solusi paling sederhana.
  4. Identifikasi kesenjangan layanan: apakah ada layanan yang tidak disediakan atau tidak disediakan dengan cara yang memuaskan.
  5. Berikan nilai: apa manfaatnya bagi orang yang menggunakan produk akhir, apakah itu meningkatkan kehidupan seseorang?
Yang harus dipahami oleh pemula usaha adalah bahwa investor hanya akan fokus bagaimana uang mereka berkembang di lahan bisnis yang sedang dibangun. Apakah dalam artian sahamnya bernilai lebih tinggi atau mereka mendapatkan profit share yang semakin baik setelah dana break event.

Jika disikapi secara posisit, maka sebenarnya kedua belah adalah pihak yang saling membutuhkan dan akan saling terikat dan semoga sedikit tulisan saya ini bisa mengingatkan para pemula usaha untuk tampil lebih profesional dan siap menghadapi investornya di masa mendatang. Sukses!





Jika Bisnis Anda Rapi, Terstruktur, Tercatat dan Progess Maka Semua Akan Tergantikan.

Jika Bisnis Anda Rapi, Terstruktur, Tercatat dan Progess Maka Semua Akan Tergantikan.
Pelajaran bisnis tidak akan pernah selesai, baik bagi pelaku UMKM maupun bagi konsultan pendamping. Akan selalu ada hal-hal baru dari kombinasi berbagai komponen masalah yang ada, dan harus selalu kita pecahkan permasalahannya. Inilah serba-serbi belajar bisnis yang akan terus memperkaya wawasan, pengetahuan dan pengalaman para pelaku bisnis dalam menghadapi persaingan dan kondisi bisnis yang sangat dinamis.

Tidak akan sederhana, tidak akan terjadi tiba-tiba dan instan melainkan melalui proses yang direncanakan dan dilaksanakan dengan segala perhitungannya. Rencana dan progress seolah akan menjadi persahabatan yang abadi dalam proses bisnis.

Dan ketika kami renungkan apa yang sebenarnya kami lakukan dalam pembinaan UMKM selama ini, maka kami akan melihat ada 2 komponen penting, yaitu:
  1. Menata konsep dan rencana.
  2. Memacu progress.
Tidak banyak memang yang kami lakukan, cuma 2 komponen di atas saja. Namun ketika didetailkan lebih lanjut ternyata kompleks sekali permasalahan yang ada di dalamnya. Sebuah bisnis perlu diwujudkan dalam wujud "terbukukan" mulai dari konsep dan rencana bisnisnya sampai dengan cara bagaimana melaksanakannya (rencana sistem manajemen dan SOP), termasuk juga rencana bagaimana cash in didatangkan dan bagaimana mengatur cash out-nya.
Tidak akan mudah, namun jika dicermati inti dari manajemen adalah mewujudkan hal tersebut di atas pada mulanya, dan melakukan eksekusi rencana dan sistem tersebut menjadi sebuah progress yang secara bertahap menuju ke arah tujuan bisnis tersebut.
Dalam konsep mordernnya, setiap bisnis harus terwakili dalam sebuah buku bisnis yang lengkap yang bisa dikatakan sebagai master plan  atau biz plan dan progress report. Dan inllah sebenarnya yang menjadi permasalahan kami sesungguhnya untuk mengarahkan UMKM bisa melakukan hal demikian, bukan sekedar lagi telah memiliki company profile, catalog dan price list melainkan sesuatu yang lebih lengkap lagi. Ada yang menyebutnya sebagai blue print dari bisnis tersebut, atau apalah sebutannya.

Bisakah RumahUMKM.Net mewujudkannya? Bisa, namun butuh waktu dan usaha yang tidak mudah. Lantas ketika hal tersebut sudah bisa dilakukan, apa rencana selanjutnya?
Semua adalah bertujuan untuk membuat bisnis kita, walaupun masih startup, bisa divaluasi dengan uang. Agar bisnis kita ada nilainya, dan bisa diperhitungkan dengan jelas ketika ada investor ingin masuk ke dalam bisnis tersebut selain juga untuk meningkatkan intangible asset bisnis kita. Ide, sistem dan progress adalah intangible asset yang perlu dikembangkan oleh para pelaku UMKM, selain hak paten, hak merk dagang dan semua legalitas yang melekat pada usaha tersebut.

Semua Harus Mengarap ke Pola Industrialisasi dan Investasi.
Meskipun tidak dengan tujuan untuk dijual, setiap bisnis yang kita rintis harus bisa tervaluasi nilainya. Visi industrialisasi pun harus mulai ditanamkan sejak awal kepada UMKM, meskipun konsep industrialisasi yang akan kita anut adalah industrialisasi kerakyatan berupa sentra produksi atau semacamnya. Pelaku UMKM harus diyakinkan bahwa usaha mereka nantinya bisa besar dan pada akhirnya akan divaluasi nilainya baik oleh perbankan maupun oleh investor. 

Perkembangan ke arah sana pastinya tidak akan menjauhkan kita dari ketergantungan kepada pembiayaan dari luar perusahaan, baik berupa pinjaman maupun investasi dan untuk memberikan nilai valuasi dan kredibilitas yang tinggi maka pelaku UMKM harus mulai membukukan bisnisnya dengan rapi, terstruktur, tercatat dan mampu melakukan progress.

Betapa kami melihat bahwa beberapa peusahaan baru yang meningkat pesat adalah perusahaan yang terencana dengan baik, memiliki sistem yang rapi, terstruktur dan mampu menyajikan progress yang signifikan terhadap bisnisnya. Dan di sisi lain, sisi yang selalu kami hadapi setiap hari adalah sisi ketikan para binaan kami belum bisa mewujudkan hal-hal tersebut di atas secara optimal. 

Beberapa dari UMKM binaan telah mulai tertata, dan progress bisnisnya pun mulai mengikutinya namun harus kami akui masih jauh lebih banyak yang belum mencapainya. Selama ini karena keterbatasan pembinaan, kebanyakan progress pembinaan UMKM masih dilihat dari progress hasil akhir produknya. 

Ketika hasil produknya belum maksimal, maka yang bisa kami lakukan adalah memberikan saran perbaikan proses tanpa mengajak mereka mulai membuat sebuah sistem yang tertata dan tercatat. Latar belakan pendidikan dari para pelaku usaha yang majemuk memang sering menjadi kendala, ada yang bisa dengan sangat mudah menyerap apa yang kami maksudkan namun banyak yang sama sekali tidak menangkapnya.

Bahkan pelaku usaha dengan latar belakang sarjana pun sebenarnya tidak akan mudah mewujudkan sistem yang tertata dan tercatat, namun upaya ke arah tersebut harus segera dimulai agar sistem bisnis di Indonesia yang mulai masuk kepada trasformasi digital bisa lebih mapan dan solid.

Tujuan lain daripada valuasi bisnis tersebut adalah bahwa apa pun yang telah kita lakukan mulai dari ide, waktu, energi, pikiran dan biaya yang selama ini kita keluarkan untuk bisnis tersebut memiliki peluang untuk kembali, terlebih jika pada saatnya nanti perusahaan yang dirintis tersebut akan menyerap investasi maupun menjadi perusahaan tersebut. Semua akan tergantikan pada akhirnya.

Semoga sharing kami hari ini bisa bermanfaat, sukses!





Jumat, 20 Juli 2018

Masih Efektifkah Promosi di Koran?

Untuk pasar produktif usia 40 th, promosi di koran masih cukup efektif.
Sudah pasti bisnis media konvensional seperti koran, radio dan televisi mulai tergerus oleh arus digitalisasi, namun bukan berarti media ini sudah mati karena terbukti bahwa banyak media konvensional masih bertahan dan sebagian lagi sudah mulai bertransformasi menjadi digital. Bagaimanapun juga koran konvensional masih memiliki pasar dan mereka terbukti sangat loyal dengan produk konvensional tersebut.

Siapa sih pasar dari koran konvensional tersebut? Mereka adalah generasi X yaitu genarasi usia 40 tahun sampai dengan 58 tahun dan generasi baby boomer yaitu usia di atas 58 tahun ke atas. Meskipun begitu pasar koran konvensional di generasi millenial juga masih ada yang yang mau menyentuh koran konvensional.

Pasar dominan usia 40 tahun sampai dengan 58 tahun pun ternyata tidak sedikit, banyak masih bisa dikatakan dalam hitungan puluhan ribu yang masih berlangganan koran konvensional. Dan perlu diingat, usia-usia tersebut masih produktif dan rata-rata menempati posisi yang cukup diperhitungkan dalam karirnya, baik sebagai pegawai negeri maupun pegawai swasta.  Bukti lain, mereka adalah pelanggan setia koran konvesional selama puluhan tahun dan hal ini sudah menunjukkan seleksi taraf ekonomi untuk dijadikan pasar bagi brand-brand yang tertarik dengan pasar mapan tersebut.

Kebutuhan Promosi Bagi UMKM Berkembang.

Pada saatnya nanti, UMKM yang telah kita bina akan mencapai titik dimana produk dan pasarnya telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Setelah tahap ini maka kebutuhan dari UMKM adalah ingin mengembangkan kapasitas produksi dan tentunya mengembangankan pasarnya.

Beberapa UMKM yang telah berkembang bertanya kepada kami, apakah media konvensional masih efektif untuk berpromosi? Mereka mempertanyakan hal ini karena promosi melalui media online pun kadang kurang memuaskan ketika kita tidak ketemu dengan audience yang tepat meskipun biayanya jauh lebih murah dari promosi melalui media konvensional. 

Terlebih ternyata untuk fokus dengan digital marketing, mereka perlu memperkerjakan seorang yang ahli di bidang tersebut dan hal ini menjadi beban biaya bagi para pelaku UMKM. Kemampuan pelaku UMKM sendiri dalam digital marketing tentu saja sangat terbatas meskipun sudah ikut pelatihan kesana-kemari, bukan karena sebab apa melainkan karena mereka banyak fokus yang dihadapi dan tidak ada waktu untuk melakukannya.

Jadi sebenarnya biaya promosi online pun tidak murah-murah amat jika kita memperkerjakan karyawan untuk menanganinya, belum lagi perangkat pendukung yang dibutuhkannya.

Nah kembali ke media konvensional, beriklan melalui media konvensional masih dimungkinkan untuk mendapatkan customer yang potensial sebagaimana ulasan di atas bahwa pelanggannya rata-rata di usia mapan dan berekonomi mapan. Tinggal desain iklan dan pesan yang buat harus menarik untuk mereka. Saat ini ada beberapa paket iklan yang relatif lebih murah kepada para UMKM, mengingat persaingan di media juga ketat.

Bahkan ada alternatif lain yang masih juga sangat pontensial yaitu penyebaran brosur dan leaflet kepada para pelanggan koran melalui jaringan sirkulasi dari perusahaan koran tersebut. Cara ini lebih murah dan bisa disesuaikan dengan budget dari pemilik brand.

Pemanfaatan value chair jaringan sirkulasi koran untuk promosi.
Semua adalah peluang bagi pelaku usaha untuk mendapatkan customer yang pontensial dengan cara yang tepat dan cepat. Semua tergantung dari pasar yang akan dibidik dan cara apa yang sesuai dengan perilaku dan kebutuhan pasar tersebut. Jika kita mampu menyikapi dengan baik maka upaya promosi dan pemasaran kita akan lebih efektif dan efisiensi.

Semoga informasi ini bisa membantu teman-teman UMKM dalam menentukan media yang efektif untuk berpromosi. Sukses!






Kamis, 19 Juli 2018

Kreativitas Mengelola Kegagalan.

Kreativitas Mengelola Kegagalan.
Kata gagal seolah memiliki seolah terasa berat disandang, seolah citra negatifnya tidak termaafkan. Sementara saudaranya, "sukses", mendominasi citra yang sebaliknya. Padahal kedua bersaudara ini seringkali hadir bergantian, seperti siang dan malam. Hanya masalah pola pikir dan bagaimana kita menyikapinya saja yang membuatnya demikian.
Sebagai sumber edukasi, gagal dan sukses sebenarnya memiliki bobot yang sama namun ketika pola pikir kita sudah menempatkan sukses adalah lebih baik maka yang sering hadir dalam setiap edukasi adalah cerita sukses,  karena lebih menjual daripada cerita gagal. 

Best practise (kiat) menjadi sukses pun tidak pernah terlepas dari rangkaian kegagalan, yang dibungkus cerita manis sebuah kesuksesan. Toh apa yang akan dilihat oleh audience adalah kulitnya saja, tanpa mereka bisa merasakan perjalanan panjang dan berat yang dialami oleh pemilik cerita.
Ketika ada beberapa pemula bisnis yang datang kepada kami dan bercerita mengenai perjalanan usahanya yang silih berganti bidang, dan bertanya mengapa mereka selalu gagal dalam memulai usaha yang sering saya dapati faktasnya adalah:
  1. Mereka tidak tahu benar apa yang sebenarnya mereka inginkan dan apa yang telah mereka miliki (potensi dan asset) saat ini.
  2. Mereka tidak paham benar (secara detail) bisnis yang mereka jalankan sekarang, bahkan seringkali mereka berbisnis karena melihat orang lain sukses berbisnis hal yang serupa.
  3. Mereka tidak sabar untuk menunggu pelajaran sampai selesai, atau dengan kata lain mereka mengakhiri perjalanan saat semua rangkaian bisnis baru mereka jalankan setengah atau bahkan kurang dari setengahnya.
  4. Mereka hanya melihat pada hasil akhir berupa "nominal" yang akan mereka dapatkan, dan mereka lupa bahwa pengetahuan dan pengalaman yang mereka dapatkan adalah konversi dari uang yang telah mereka keluarkan selama ini.
  5. Mereka berjalan sendiri, seolah bisnsinya hanya miliknya sendiri bukan untuk orang lain.
Kenyataan di atas adalah kenyataan yang palin sering kami temui, dan menjadi terasa benar karena hampir semua mengalami semua hal di atas.

Kegagalan bagi kami adalah pin yang menandai bahwa kita harus menghindari atau melakukan sesuatu lebih dari semula dan memperbaiki keputusan-keputusan yang keliru sebelumnya. Berarti kegagalan adalah sumber informasi perbaikan kita ke depan, dan dengan sistem "ganjal" (step by step) maka dengan ketekunan dan kesabaran kita akan mampu mencapai etape-etape perjalanan yang kita rencanakan.

Adalah perlu kita menulis cetita kegagalan kita dalam buku pribadi kita, karena pada suatu saat nanti buku ini akan berisi cerita yang lengkap tentang sebuah cerita sukses di masa mendatang yang mungkin nilai buku ini bisa membayar apa yang menjadi konsekwensi kegagalan anda di masa lalu. Pengalaman ini adalah asset intangible yang bernilai tinggi yang perlu dipikirkan oleh orang-orang yang memiliki cita-cita besa di masa depan. Sukses!