Laman

  • Home

Sabtu, 15 April 2017

Delematis, Pajak Digenjot Saat Kondisi Bisnis Merosot.

Image result for trying suicide
Ironis, Saat Banyak Perusahaan Bertumbangan Pemerintah Gencar Meneriakkan Pajak
Terlepas dari berita yang mengatakan bahwa perekonomian Indonesia bertumbuh, kami di TTIC (Trade, Training & Investment Center dulu Trade, Training & Information Center) Unit Kamar Dagang dan Industri Propinsi Jawa Tengah harus menghadapi kenyataan bahwa banyak perusahaan skala menengah dan besar di wilayah kami terancam perampingan, tutup operasi dan dijual. Beberapa laporan yang masuk kepada kami dari beberapa konsultan manajemen perusahaan-perusahaan tersebut beserta proposal penawaran penjualan asset dan saham membuktikan bahwa terjadi "sesuatu yang luar biasa" dalam ekonomi Indonesia. 
Meskipun begitu kami tidak akan "memperdebatkan" kondisi "ekonomi bertumbuh" dan kenyataan di lapangan yang seperti tersebut di atas. Karena (mungkin) indikator perhitungan pertumbuhan ekonomi tidak termasuk banyaknya perusahaan tutup dan dijual. Biarlah para ahli-ahli di negara ini yang mempertimbangkan apakah laporan pertumbuhan ekonomi itu terkait dengan kondisi memburuknya bisnis di wilayah kami.

Dengan tulisan ini kami hanya ingin menyuarakan bahwa kondisi ini benar terjadi dan butuh perhatian yang serius dari pemerintah agar mengambil sikap yang pro kepada para pengusaha, baik UMKM maupun perusahaan besar karena keduanya sudah merupakan satu keterkaitan yang tak terpisahkan. Kondisi buruk pada perusahaan menengah besar sudah pasti mengakibatkan banyak akibat pada pertumbuhan UMKM setelahnya. Misalnya, menurunnya daya beli dan tidak terserapnya produk UMKM oleh perusahaan besar.

Nah, justru yang paling menarik saat ini adalah "bukti" bahwa pemerintah kurang peka terhadap kondisi ini. Kami mendapati tekanan kenaikan pajak dan kebijakan-kebijakan yang diambil dalam bidang ini benar-benar tidak "peduli" dengan keadaan bahwa perusahaan-perusahaan sedang berusaha sekedar survive dalam kondisi ekonomi yang seperti ini. Coba sedikit cermati dengan iklan-iklan sosialisasi pajak di beberapa media, betapa pemerintah seolah benar-benar kehabisan akal untuk mencukupi anggarannya dari pajak. Padahal wajib pajak sendiri benar-benar "meriang" untuk sekedar mempertahankan bisnisnya.

Sebagaimana pemahaman kami, bahwa pajak terbesar seharusnya adalah pajak dari "pergerakan ekonomi" seperti PPN dan PPH. Pajak ini akan berkorelasi dengan pertumbuhan bisnis dari perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia, jika mereka tidak tumbuh maka pajak dari sisi ini tidak akan bertumbuh juga. Jika perusahaan-perusahan ini ditekan terus dan akhirnya tutup operasi lantas apa yang akan terjadi dari pendapatan pajak PPN dan PPH ?

Belum lagi bahwa tekanan pajak juga muncul dari kepemilikan properti dan asset yang memperlakukan pajak progresif. Apakah benar-benar memihak kepada ekonomi rakyat ? Mohon mulai dipertimbangankan dengan jernih agar iklim bisnis di Indonesia bisa normal kembali dan pemerintah bisa menganggap bahwa pelaku usaha adalah mitra mereka bukan objek pajak yang paling mudah dikerjai.

Perbaikan ekonomi di Indonesia adalah tanggung jawab bersama, satu pihak dengan pihak yang lain harus saling memberikan dukungan dan pemahaman yang baik agar kinerja ekonomi di Indonesia bisa ditata bersama. Regulasi yang dihadirkan pemerintah harus benar-benar memberikan ruang dan keleluasaan bagi pelaku usaha untuk berkembang dan tetap survive, bukan seperti saat ini.

Baca juga: