Laman

  • Home

Kamis, 27 Agustus 2015

Terbukti sudah, Indonesia Mulai Merasakan Krisis Ekonomi

UMKM kuat karena potensi lokal.

Pada awal-awal kami telah mengingatkan UMKM untuk bersiap-siap memasuki masa krisis dan sekarang beberapa UMKM sudah mulai menyadarinya ketika beberapa perusahaan besar sudah mulai melakukan PHK kepada karyawan-karyawannya. Di Semarang pun beberapa perusahaan besar masuk kategori produsen building material dan kategori lain yang bahan bakunya impor sudah mulai mengurangi karyawannya. Bahkan beberapa di antaranya sudah tutup operasi.

Perlambatan ekonomi akibat dampak krisis global dengan diperkuat oleh kebijakan-kebijakan dan kinerja pemerintah yang sering tidak tepat sasaran dan bahkan malah tidak mengarah pada pemecahan masalah yang menjadi penyebab kondisi ini semakin parah.

Nilai USD yang telah menembus angka Rp 14.000,- benar-benar memberatkan industri yang bahan bakunya berasal dari impor dan pertumbuhan yang hanya 5.4% tidak akan mempu menyerap permodalan perbankan. Proyek-proyek pemerintah yang selama ini sebagai penggerak roda pembangunan pun juga mandeg karena kinerja pemerintah yang tidak mampu menggulirkan programnya, sehingga sempurnalah kondisi krisis ini di Indonesia.

UMKM pasti akan bertahan, selama memproduksi barang dari komponen lokal.

Lantas bagaimana dengan nasib UMKM dalam krisis ? Seperti krisis-krisis yang pernah terjadi dahulu, justru bisnis usaha kecil lah yang paling mampu bertahan karena komponen bahan bakunya adalah dari potensi lokal dan sumber daya manusianya yang tidak terlalu besar sehingga ketahanannya sangat tinggi.

Untuk bertahan dalam situasi krisis dengan nilai tukar rupiah yang merosot, komponen impor memang harus dikurangi karena menyebabkan harga pokok produksi yang melonjak tajam. Idealnya memang semua bahan baku adalah dari sumber daya alam Indonesia sehingga tidak terpengaruh nilai tukar. Budaya praktis dan ketergantungan impor bahan baku dari negara lain misalnya China, Jepang dan Korea menyebabkan produsen tidak belajar mengeksplorasi bahan baku lokal dan dalam kurun waktu tertentu mereka termanjakan dengan kepraktisan tanpa mengembangkan R&D dalam bahan baku.

Indonesia adalah negara kaya dengan sumber daya alam, hampir semua bisa dibuat di Indonesia, bahkan mungkin hanya sedikit saja yang perlu diimpor. Jika masalah teknologi dijadikan alasan mereka harus impor mesin, sungguh sangat disayangkan ketika banyak ahli teknologi Indonesia justru bekerja pada perusahaan yang mengekspor mesin-mesin berteknologi tinggi itu ke Indonesia.

Masih ingat Texmaco Perkasa Engineering ? Mereka mampu membuat mesin-mesin tekstil, mobil dan sebagainya. Mesin CNC bagi mereka adalah sebuah keseharian, mereka mampu memproduksi sendiri.

UMKM akan bertahan, itu pasti, karena merekalah yang bekerja dengan pola yang seharusnya yaitu mengeksplorasi sumber daya lokal baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Bahkan mesin-mesin juga mereka lebih banyak menggunakan mesin berteknologi tepat guna dan buatan lokal. Inilah sumber kekuatan ekonomi yang sangat kuat, ekonomi mandiri.

Pertahankan harga BBM, untuk eksistensi denyut nadi ekonomi Indonesia.

Dalam kondisi gelombang PHK yang sudah dimulai saat ini, pemerintah harus segera bertindak cepat untuk membangkitkan kewirausahaan dan mempertahankan ekonomi dari usaha kecil. Apa yang dibutuhkan usaha kecil saat ini untuk bertahan adalah "kuncian" yang kuat dalam masalah harga BBM dan aspek produk mendasar lainnya. Selama BBM bisa dikendalikan dengan sangat kuat, maka nadi perekonomian usaha kecil akan terus berdenyut. 

Keahlian eks karyawan industri harus tetap dipertahankan, mereka yang telah ter-PHK akan dibina untuk terus berwirausaha di bidang yang selama ini mereka tekuni, bukan sebagai karyawan tetapi sebagai unit usaha kecil mandiri yang akan mencoba mempertahankan eksistensi usaha yang sebelumnya telah ada. Hanya saja sekarang bukan skala industri, tetapi skala usaha kecil.

Jangan dulu para eks karyawan ini diajarkan keahlian usaha yang lain, sehingga menjauhkan diri mereka dari "asset" keahlian yang telah mereka miliki sebelumnya.

Memang ini bukan pekerjaan pemerintah sendiri melainkan tugas seluruh komponen bangsa, tetapi pemerintahlah yang memiliki kekuatan anggaran dalam melaksanakannya. Banyak asosiasi dan lembaga masyarakat yang telah bekerja "non profit" tetapi justru tidak pernah mendapat dukungan dari pemerintah yang telah mencanangkan program sendiri yang kebanyakan justru tidak berjalan.

Mari dukung produk lokal Indonesia untuk selamatkan ekonomi negara ini.
 
Sebaliknya dari sisi konsumsi, harus ada semangat cinta produk Indonesia dari masyarakat itu sendiri untuk bertahan dari krisis ini. Gerakan "Beli Indonesia" yang digelorakan oleh Mas Heppy Trenggono harus digelorakan di seluruh Indonesia.

Jika memang masih ada kekurangan dalam kualitas dan packaging, semua adalah wajar karena teman-teman UMKM masih butuh diedukasi dan masih berproses. Proses tercepat adalah kontrol dari masyarakat itu sendiri. Bukankah eksistensi produksi dikendalikan oleh pasar ? Jika memang produsen tidak bisa diedukasi, maka resiko ditinggalkan pasar adalah resiko dari produsen itu sendiri.

Gelombang usahawan baru saat ini sangat luar biasa di Indonesia, persaingan yang ketat akan membawa pelaku UKMM untuk selalu belajar dan berkembang, tapi berkembang dan bertumbuh mereka akan jatuh sendiri. Hal ini sesungguhnya berita baik bagi para konsumen untuk selalu punya pilihan produk dari dalam negeri sendiri.

Belanjakan uang kalian untuk produk bangsa sendiri !