Laman

  • Home

Minggu, 01 November 2015

Strategi UMKM Bertahan Dalam Situasi Krisis


Sebagian pakar mengatakan bahwa Indonesia belum masuk dalam "kategori" krisis dan sebagian lain mengatakan bahwa Indonesia memasuki dampak krisis global, tapi apapun "perbedaan" itu yang jelas bahwa "ancaman" itu telah tiba dan kita semua harus bersiap untuk bertahan dengan berbagai cara. Bahkan jangan terlena dengan "sanjungan" bahwa sektor UMKM akan bisa bertahan dalam krisis sebagaimana pengalaman masa lalu, hal ini bisa menyesatkan karena kita belum tahu persis seperti apa krisis yang akan dihadapi Indonesia ini ke depannya. 

Krisis yang terjadi saat ini berbeda dengan krisis yang lalu, saat ini yang mengalami krisis bukan hanya Indonesia saja, yang lain bahkan sudah mengalaminya terlebih dahulu. Tidak mudah menghadapi situasi seperti ini, tetapi seperti apa yang pernah kami sampaikan sebelumnya bahwa UMKM sudah biasa menghadapi "krisis" jadi apa bedanya. Yang penting mari mempersiapkan strategi sederhana untuk menghadapi krisis mendatang.

15 Strategi UMKM Menghadapi Krisis Ekonomi

Ada beberapa strategi yang perlu dipertimbangkan oleh pelaku UMKM untuk tetap bertahan dalam situasi krisis, yaitu:

  1. Membangun keyakinan bahwa krisis ini bersifat sementara, tidak permanen, sehingga UMKM harus yakin bisa bertahan dan tidak menyerah dengan kondisi ekonomi yang tersulit. Bukankah untuk skala UMKM, memulai usaha dan mempertahankannya pun sudah setara dengan menghadapi krisis ? Sama-sama sulit !
  2. Sektor yang akan menjadi ganjal akhir adalah sektor primer (pangan pokok), sehingga pelaku UMKM di bidang ini harus bertahan sekuat tenaga untuk terus berproduksi karena peluang hidupnya lebih baik daripada sektor yang lain. Eksplorasi semua potensi pangan yang ada di dalam negeri dan manfaatkan untuk bertahan dalam krisis.
  3. Secara bertahap kurangi konsumsi impor dan mulai mencari bahan substitusi lokal yang lain.
  4. Siapkan ketrampilan dan teknologi yang lebih baik agar efisiensi dan produktivitas bisa ditingkatkan. Hal ini perlu dilakukan karena pada saat krisis nanti pasti daya beli masyarakat akan merosot dan dibutuhkan produk yang murah, meskipun itu adalah produk bahan pokok.
  5. Pertahankan pasar tradisional dan pasar dalam negeri dengan produk-produk lokal agar roda ekonomi masih tetap berputar. Jika perlu pemerintah harus melakukan proteksi terhadap produk lokal dengan alasan untuk melindungi ekonomi dalam negeri.
  6. Kembangkan produk-produk yang berorientasi ekspor karena sebaik-baiknya strategi bertahan adalah menyerang.
  7. Yang harus selalu dipertahankan adalah daya saing produk terhadap produk dari luar Indonesia. Upayakan daya saing produk tetap tinggi dengan melakukan efisiensi di segala bidang. Pemerintah juga harus mendukung kondisi ini, karena daya saing produk Indonesia  justru banyak dipengaruhi oleh ekonomi yang berbiaya tinggi. Misalnya: Jika perlu lakukan pengampunan atau pajak untuk sektor-sektor yang mampu mengeksplorasi potensi lokal dan sebagainya.
  8. Beban biaya SDM akan menjadi prioritas utama para pelaku UMKM, ketika kondisi tidak memungkinkan maka rasionalisasi yang paling mungkin adalah di sektor SDM. Oleh sebab itu, penetapan UMR/UMK pada saat krisis ini perlu ditinjau ulang. Pemerintah juga perlu memberikan sosialisasi kepada buruh bahwa dalam kondisi krisis ini, beban pelaku usaha sangat berat dan mereka harus paham bahwa untuk memenuhi standard upah mereka adalah sulit.
  9. Sistem outsourcing dan kerjasama produksi bisa menjadi pilihan dalam hal efisiensi untuk usaha dengan skala yang lebih besar.
  10. Saat krisis terjadi, hal ini merupakan kesempatan "pembelajaran" dan evaluasi terhadap semua aspek bisnis yang telah dilakukan. Ketika pelaku usaha mampu melakukan evaluasi dan perbaikan saat krisis maka pasca krisis mereka akan memiliki bekal untuk bisa berkembang lebih baik.
  11. Komunikasi antar sektor industri kecil harus dipersiapkan dengan lebih baik lagi, karena pada saat krisis terjadi industri kecil ini akan menjadi "harapan" bagi industri lebih besar untuk melakukan outsourcing dan pemenuhan bahan baku produksi.
  12. Selektif dan mampu membuat skala prioritas kegiatan yang mampu mempertahankan cash flow perusahaan akan menjadi fokus para pelaku UMKM. Penjualan dengan pembayaran tempo sebisa mungkin dihindari agar cash flow tidak timpang. Usahakan semua penjualan menghasilkan uang cash.
  13. Kembangkan jaringan supply dan jaringan pemasaran, karena pada saat krisis nanti dunia serasa "disempitkan" dengan adanya "booming" persaingan. Siapa yang memiliki jaringan supply dan jaringan pemasaran yang baik, dialah yang akan memenangkan persaingan.
  14. Jika daya saing anda rendah, bekerjasamalah dengan industri sejenis untuk berkolaborasi dan membangun kelompok produksi yang lebih besar. 
  15. Jangan kendorkan upaya promosi dan pemasaran anda meskipun kondisi krisis, karena promosi adalah investasi anda untuk masa depan.
Demikian beberapa strategi yang bisa dipertimbangkan oleh pelaku UMKM dalam menghadapi kondisi krisis yang akan terjadi. Persiapan yang lebih baik akan menghasilkan ketahanan yang prima. Jangan terlena dengan "hiburan" bahwa UMKM pasti bisa bertahan dalam kondisi krisis sebagaimana pengalaman krisis sebelumnya.


Baca juga: 
http://www.rumahumkm.net/2015/08/10-langkah-untuk-bertahan-dalam-situasi.html?utm_campaign=shareaholic&utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork