Laman

  • Home

Kamis, 17 September 2015

Krisis ?! Bukankah UMKM Sudah Biasa Krisis ? Jadi Apa Bedanya ?

Krisis Begini ? UMKM Sudah Biasa
Seperti pada saat krisis di tahun 1998, krisis saat inipun belum begitu banyak dirasakan pelaku usaha kecil kecuali mungkin oleh produsen barang yang bahannya diimpor dari luar negeri. Krisis ini memang menghantam industri kelas menengah dan besar, tetapi seperti pengalaman krisis sebelumnya krisis hanya menjangkau sebagian kecil usaha kecil di Indonesia.

Mengapa hal ini bisa terjadi ?

Sudah seharusnya usaha kecil merupakan soko guru ekonomi Indonesia karena dengan keterbatasan-keterbatasannya mereka justru berkreasi dan berinovasi dari sumber daya lokal, tidak tergantung kepada bahan-bahan impor. Hal inilah yang membuat pelaku UMKM yang demikian bisa bertahan dari melejitnya nilai dolar dibandingkan rupiah.

Usaha-usaha kecil yang masih menganut "konvensional financing" alias hanya berusaha dengan modal dari kantong sendiri, bukan kredit dari perbankan, mampu fokus dalam pengembangan assetnya sendiri sehingga selalu bisa menjadi keberlansungan usahanya.

Proses perolehan bahan dan proses produksi yang sederhana yang membuat beban biaya bisa diefisiensikan serendah mungkin, jika tanpa beban-beban biaya "tidak jelas" lain maka produk UMKM seharusnya memiliki daya saing yang tinggi.

Flesikbilitas UMKM sangat tinggi, karena skala jumlah SDM yang sedikit dan ukuran perusahaan yang lebih kecil. Dalam kondisi krisis dan ketidakstabilan ekonomi, fleksibilas sangat dibutuhkan oleh perusahaan untuk bermanuver dengan kebutuhan pasar yang juga selalu berubah-ubah.

Pengambilan keputusan yang lebih cepat, karena masih ditangani sendiri oleh pemilik usaha. 

Guyonan kami dengan teman-teman UMKM

Saat bertemu dengan UMKM-UMKM di Kabupaten Semarang kemarin, beberapa UMKM sangat 'tertekan" dengan berita krisis ekonomi yang ada di Indonesia saat. Beberapa dari mereka bertanya mengenai bagaimana kiat-kiat kami menyikapi situasi dan kondisi seperti ini.

Sebelum menjawab, kami pun melemparkan pertanyaan kepada teman-teman pelaku UMKM mengenai apakah kondisi mereka jauh lebih bagus saat sebelum krisis ? Apakah terjadi perubahan drastis dalam perekonomian mereka ? 

Nah, jika jawaban teman-teman UMKM adalah "tidak" maka apa bedanya krisis yang  terjadi sekarang ini dengan kehidupan kita sebelumnya ?

Pada kenyataannya keseharian pelaku  UMKM (Kecil dan Mikro) adalah krisis itu sendiri, atau mungkn jika sudah berlebih mereka tidak mau bekerja lagi kepada orang lain. Tujuan awal pelaku UMKM berbisnis adalah untuk mencukupi kebutuhan primer, baru sandang dan selanjutnya papan.

Jika harga bahan-bahan naik ketika BBM naik dan dolar naik, maka hal inipun sudah biasa terjadi di negara ini, dan UMKM masih tetap aman-aman saja. Yang mereka belum siap adalah ketika mereka banyak mendengarkan berita-berita sedih dari para pelanggan di televisi atau media lain.

Jadi krisis atau tidak krisis, apa bedanya untuk UMKM ? HeHe