Laman

  • Home

Sabtu, 17 Oktober 2015

Bukan MEA Yang Ditakuti, Justru Ekonomi Berbiaya Tinggi Di Negara Ini Yang Mulai Mencemaskan.



MEA sudah pasti kita hadapi bersama dengan kondisi sudah ada yang siap bersaing dan ada yang belum siap bersaing, tetapi tidaklah terlalu menakutkan dibanding dengan kondisi ekonomi di negara ini yang mulai menerapkan ekonomi berbiaya tinggi. Di satu sisi, UMKM dituntut untuk memproduksi produk yang memiliki daya saing tinggi tetapi di sisi lain justru pemerintah kebijakannya tidak terintegrasi dengan baik satu dengan yang lain, BBM dan listrik mahal, Upah mahal, Ijin dan sertifikasi mahal dan lama prosesnya dan sederet daftar "mahal" bagi pelaku UMKM.

Belum lagi ketakutan UMKM atas tarif pajak yang dibebankan kepada mereka yang belum mampu mereka perhitungkan. Di satu sisi, pemerintah ingin menggenjot kewirausahaan di sisi lain kebijakannya justru anti kewirausahaan dan justru berpikir tentang kesejahteraan pegawai dan buruh yang selalu menjadi prioritas. Tanpa disadari, dengan kenaikan gaji pegawai negeri dan buruh maka kebutuhan pokok pun mengikutinya. Ekonomi di Indonesia tidak bisa dibilang murah lagi sekarang, sementara produktivitas masih saja selalu menjadi PR yang tidak terselesaikan. 

Krisis di Indonesia menjadi mengkawatirkan ketika kebijakan-kebijakan pemerintah diputuskan dengan tiba-tiba tanpa pertimbangan yang komprehensif, seolah kebijakan-kebijakan pemerintah diambil dengan cara "coba-coba" dan menunggu reaksi dari masyarakat. Seolah pengambil keputusannya tidak memahami benar permasalahan yang ada di lapangan.

Pada awalnya UMKM memiliki kepercayaan diri bahwa mereka mampu bertahan dalam krisis seperti ini sebagaimana pengalaman krisis pada masa lalu, tetapi mereka lupa bahwa krisis saat ini berbeda dengan krisis yang terjadi di masa lalu. Krisis saat ini adalah krisis dunia dan kebijakan-kebijakan penanggulangan krisis saat ini justru cenderung memicu krisis yang lebih buruk lagi karena tidak pro kepada pelaku wirausaha.

UMKM Harus Tetap Bertahan Dengan Mengoptimalisasi Potensi Lokal

Tingginya nilai tukar mata uang USD terhadap rupiah memaksa perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan produk impor terpaksa harus melakukan rasionalisasi perusahaannya, dan bahkan beberapa di antaranya tidak mampu bertahan. Gelombang PHK mulai terjadi di sana-sini, belum lagi tuntutan "gila" di saat yang tidak tepat, yaitu kenaikan UMK oleh para buruh dan kebijakan pemerintah yang terlalu "memanjakan" permintaan buruh tersebut. 

Bahkan di skala UMKM, produsen tahu dan tempe mendapatkan tamparan keras saat harga kedelei yang masih diimpor melonjak tinggi. Terpaksa mereka harus mengurangi pegawainya untuk bertahan.

Peluang UMKM untuk bertahan terhadap krisis memang lebih besar daripada perusahaan dengan skala yang lebih besar, karena kebanyakan mereka memang menggunakan konten lokal, sistem manajemennya yang masih memiliki fleksibilitas yang tinggi dan beban-beban usaha tetap yang tidak besar. UMKM harus tetap kreatif dan inovatif dalam mengeksplorasi potensi lokal dan melakukan efisiensi produksi dalam mempertahankan harga jual yang bersaing karena peluang ini juga akan menjadi tantangan ketika daya beli pasar menurun drastis, dan produk mereka tidak terserap oleh pasar. 

UMKM Agro dan Pangan Akan Yang Paling Bisa Bertahan

Lantas produk apa yang paling bisa bertahan ? Tentunya adalah produk primer, produk yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat yaitu pangan. Produk Agro dan pangan merupakan produk dasar yang akan tetap bertahan dalam krisis.

Tidak salah ketika program swadaya pangan pernah didengungkan dalam sebuah kampanye oleh salah satu kandidat presiden, karena memang pangan merupakan kebutuhan dasar manusia dan menjadi fundamental dalam pertahanan negara baik dalam ekonomi maupun politik. Perut kenyang maka hatipun senang, merupakan slogan sederhana tapi sudah terbukti kebenarannya.

Produk-produk agro bisnis perlu dikembangkan, dan produk-produk pangan harus mempu menjangkau produk alternatif pangan yang lebih baik dan lebih murah. Jangan menggantungkan nasib perut bangsa ini dengan beras impor, daging impor dan kedelei impor. Semua harus mampu diproduksi dan dibudidayakan di Indonesia. 

Sesorean tadi kami mencoba melakukan survey santai dengan berkeliling makan pada warung-warung makan di Semarang dan ngobrol dengan beberapa pemilik warung yang sebagian besar mengatakan "sedikit" ada penurunan omzet meskipun secara umum tidak begitu mempengaruhi bisnis mereka. Mereka merasakan penurunan ini dalam bulan-bulan terakhir dan berharap mereka masih mampu bertahan. Kami juga melakukan survey pada pemilik toko online binaan-binaan kami, untuk produk fashion memang terjadi penurunan yang cukup signifikan tetapi untuk produk bahan makanan masih terlihat stabil permintaannya. 

Ya kita berharap bahwa kondisi ini tidak berlangsung lama, dan pemerintah bisa segera melakukan suatu tindakan yang tepat dalam mengendalikan gejolak dolar yang menjadi salah satu pemicu permasalahan yang terjadi.