Laman

  • Home

Sabtu, 27 Mei 2017

Batik, Bukan Untuk Dijual Murahan

Image result for making batik
Produk batik adalah kebanggan Jawa Tengah, jangan diju
Bagaimana upaya pemerintah dan stake holder lainnya dalam mempromosikan batik sudah tidak perlu kita perdebatkan lagi. Sudah banyak, sudah menghabiskan anggaran yang luar biasa. Lantas apa tujuannya ? Agar batik Jawa Tengah dikenal lebih luas sebagai sebuah brand kerajinan yang luas dan global.

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri juga bahwa banyak produk batik dijual dengan harga murah di pasar-pasar tradisional dan pusat wisata yang tentunya kualitasnya tidak perlu dikomplain lagi, hanya sekali pakai. Pada kenyataannya banyak produk batik yang masih dijual murah, dengan dalih bahwa produk batik ini adalah batik cap dan bahkan lebih parah lagi, itu adalah batik printing.

Dua kenyataan di atas benar-benar ironis, karena memakai batik harusnya menjadi sebuah kebanggaan bukan sekedar hal yang biasa. Untung saja masih banyak produsen batik yang memahami esensi membangun brand batik di Jawa Tengah, adalah agar mereka memilki ruang yang luas untuk menghargai karya seni luhur ini.

Tujuan saya menulis ini adalah untuk mengingatkan bahwa batik bukan produk yang seharusnya "sakral" dan tidak diobral di pasaran, karena konsekwensi membangun brand yang mahal. Coba silahkan tengok, berapa dana yang harus keluar ketika kita harus menngelar pameran batik, gelaran peragaan busana dan sebagainya. Lantas apa artinya juga ketika pada akhirnya batik akan "terjual murah" di pasaran.

Brand batik diangkat adalah agar para konsumen "bangga" memakai produk batik, jadi di sinilah tujuan utamanya. 

Kami prihatin banyak pelaku UMKM yang "rela" menggelar batik di pinggiran jalan dan dasaran pasar tradisional. Kami prihatin karena "benang merah" promosi yang gencar dan luar biasa itu belum bisa mengangkat produk batik dari dasaran.d

Untuk menempatkan batik pada posisi yang semestinya, maka pelaku usaha batik harus benar-benar dipahamkan akan standard bahan baku, standard proses dan standard hasil yang harus mereka capai agar brand batik bisa terbangun. Terlebih ketika harus menjadi produk fashion, maka desain, cutting (pola dan potongan) serta stitching (jahitan) harus berkelas butiik bukan konveksi. Produk ini sudah ditempatkan sebagai citra Jawa Tengah, tidak boleh hanya sekedar slogan melainkan harus ada sistem yang mampu memantaunya.

Upaya sertifikasi kompetensi mungkin merupakan salah satu upaya dalam standarisasi SDM yang merupakan hal paling mendasar dalam membangun brand batik di Jawa Tengah. Sertifkasi ini harus selalu termonitoring setiap kurun waktu melalui audit, dan sertifikasi inipun harus muncul dalam label produk sebagai jaminan kualitas atas ketrampilan dari orang yang mendapatkan sertifikasi tersebut.

Standarisasi bahan baku pun harus mendapatkan perhatian, dengan input yang standard dan dikerjakan oleh SDM yang standard maka output produk akan terukur. Hal lain yang harus diperhatikan adalah desain, perbaikan proses dan kemasan yang menarik.

Sebuah tantangan yang akan menjadi tanggung jawab bersama dalam mengangkat brand batik di level tertinggi sebagai produk unggulan Jawa Tengah. Dengan begini kami tidak akan kesulitan lagi dalam mempromosikan batik dan membantu jaringan pemasarannya.

Baca juga:
 
1. Sebuah Tulisan Mengenai Batik : Industri Batik dan Permasalahan
2. Sertifikasi Batik Dari Pihak Ketiga ? Apakah Perlu ?
3. Apa Yang Kami Inginkan Adalah Mereka Kreatif Dan Spesialis.
4. Menengok Kampung Batik Laweyan Lebih Dekat. 
5. Mengapa Pemasaran Batik Masih Berkutat Di Produk ? Mengapa Bukan Kulturnya ?