Laman

  • Home

Jumat, 17 Februari 2017

Mengapa Pemasaran Batik Masih Berkutat Di Produk ? Mengapa Bukan Kulturnya ?


Image result for Bule Membatik
Mengajarkan Kultur Batik Kepada Tamu Asing

UKMM Batik di Jawa Tengah tidak terhitung banyak jumlahnya, karena hampir setiap kota dan kabupaten ada produsen batiknya. Setiap kota dan kabupaten memilki corak dan teknis yang khas, kata produsennya, tetapi kenyataannya banyak orang tidak hanya tahu bahwa apa yang mereka beli dan kenakan adalah batik, tidak lebih.

Yang konsumen perhatikan hanyalah kualitas bahan, desain, cutting dan stitching dari apa yang mereka beli. Hanya sebagian kecil saja orang saja yang  membeli batik karena mereka benar-benar paham tentang batik.


Batik adalah sebuah brand kebanggaan nasional, dan kenyataan di atas tidak menyiratkan bahwa pemasaran dan promosi batik adalah menjual "brand" melainkan masih sekedar menjual produk batik. Apa yang membentuk sebuah brand batik tidak benar-benar dipahami oleh konsumen, bahkan oleh produsen sendiri.

Batik dihasilkan dari sebuah budaya lokal yang kental dengan latar belakang budaya yang bermacam-macam dari berbagai daerah, bahkan setiap desain batik mengandung makna dan tujuannya sendiri sebagaimana batik Solo yang boleh dibilang masih pada "pakem" (aturannya). Sayangnya pada perkembangan kreativitas batik, banyak hal-hal yang dilupakan dan ditinggalkan sehingga semua pakem yang ada mulai mengabur.

Jika konsumen dalam negeri saja tidak banyak yang tahu mengenai sebuah kultur yang terkandung dalam produk batik, lantas bagaimana dengan konsumen luar negeri. Batik menarik karena ada "cerita"-nya, ada sejarah dan latar belakangnya. Inilah yang akan menjadi edukasi kultur Indonesia kepada masyarakat dunia bahwa kita memiliki sebuah kerajinan yang luar biasa arif.

Sudah seharusnya produk batik itu berharga mahal, karena menjual budaya dan kebanggaan, bukan dijual kiloan yang menyebabkan nasib para pengrajin batik banyak yang dibawah standard kesejahteaan. Seorang pemasar batik seharusnya adalah seorang budayawan, yang paham filosofi batik dan budayanya, agar pesan yang disampaikan kepada konsumen asing bisa tersampaikan dengan benar.

Bangga terhadap produk batik tidak hanya sebatas pada mengenakan batik, tetapi paham bahwa mereka mengangkat budaya asli dengan filosofi yang tinggi. 

Masih banyak lagi uneg-uneg saya terhadap produk batik ini, apalagi ketika begitu banyak UMKM Batik datang ke Rumah UMKM dengan berbagai keluhan pemasaran. Sementara saya masih melihat bahwa unsur "unik" dan filosofinya belum mereka pahami. Bagi saya seolah produk batik dari teman-teman UMKM sama, bahkan apa bedanya beli dari UMKM yang ini dan yang itu karena semuanya hampir sama.

Bahkan upaya pemasarannya pun hampir sama, mereka tawarkan bahan dan baju dengan harga sebagai acuan daya tariknya. Waduh, saya sekali ketika kebanggaan akan batik terbentur dengan banting-bantingan harga. Lantas apa apa yang mereka jual ? Sekedar pakaian ?

Bukan pekerjaan mudah memahamkan "nilai" yang hampir kabur ini kepada semua pihak, butuh kesepakatan bersama bahwa batik adalah produk budaya bukan produk manufaktur biasa. Membeli produk batik Indonesia beserta dengan cerita dan filosofinya adalah sebuah pengakuan tersirat dari budaya Indonesia yang luhur.