Laman

  • Home

Jumat, 07 Juli 2017

Perjalanan Membangun Brand Produk UMKM

Image result for in front of the mirror
Membangun brand ? Citra apa yang sedang anda bangun untuk produk anda ?


Jangan salah jika saat ini banyak UMKM, bahkan skala mikro pun, ngotot bahwa pembeli harus beli produk mereka dengan brand mereka. Informasi yang kurang tepat dari para pembinanya sering mengakibatkan para pelaku UMKM menilai brand hanya sekedar simbol yang selalu muncul dalam label produk mereka.

Memang benar bahwa brand harus dibangun sejak awal, namun bukan sekedar simbol saja yang perlu diperkenalkan kepada customer melainkan nilai, persepsi dan pengalaman atas produk yang dihasilkan oleh pelaku UMKM tersebutlah yang paling mendasar. Nah ketiga hal penting tersebut justru sering terlupakan oleh para pelaku UMKM, yang mereka ingat hanyalah simbol yang memberikan tanda bahwa produk tersebut adalah produk mereka.
Image result for holding a product
Brand bukan hanya sekedar simbol
Saya masih teringat ketika Mas Bi (Subiakto Priosudarsono), salah seorang pakar branding, memberikan pembekalan brand di Semarang. Bahwa perbedaan antara branding dan pencitraan adalah pada masalah kompetensinya. Brand dibangun berdasarkan kompetensi dan kenyaataan apa yang bisa dicapai oleh produk tersebut, sementara pencitraan dibangun bukan berdasarkan kompetensi melainkan untuk sekedar membangun opini.

Oleh sebab itu kepada teman-teman UMKM kami selalu mengingatkan beberapa hal seperti: Apa yang unik dari produk anda ? Apa kelebihan produk anda dibandingkan pesaing? Apa nilai yang sedang anda bangun untuk produk anda? Pesepsi apa yang sedang anda bangun dari customer?

Pertanyaan-pertanyaan saya di atas merupakan arahan kepada para pelaku UMKM untuk sejak awal sudah memikirkan hal-hal tersebut sebelum mereka "ngotot" bahwa mereka sudah punya brand (yang mereka maksudkan adalah simbol). 

Sebuah definisi yang mudah untuk brand adalah "differensiasi", atau bisa dikatakan apa yang membedakan produk anda dari produk pesaing, yang tentunya bukan hanya sekedar simbol atau logonya.Semakin berbeda maka customer akan semakin mengingat "brand" anda. Nah, untuk memberikan tanda atas perbedaan itu maka simbol dan logo baru berperan.

Differensiasi ini adalah nllai yang dibangun oleh produsen, tentunya dengan konteks "berbeda dari yang lain" dan "lebih baik dari yang lain". Differensiasi ini yang akan membawa produk pelaku UMKM keluar dari persaingan, karena memiliki keunikan, ciri khas tertentu yang sesuai dengan kebutuhan dari target pasar.  Ingat bahwa membangun brand tidak bisa lepas dari perencanaan segmentation, targeting dan positioning. 

Jika tujuan brand adalah untuk membangun persepsi tertentu terhadap produk, maka persepsi ini harus dibangun sesuai dengan nilai yang telah dibangun tersebut. Persepsi customer dibangun melalui perencanaan pesan dan komunikasi baik melalui produk maupun melalui upaya promosi. 

Persepsi yang kuat bisa diperoleh dari pengalaman (experience) pelanggan terhadap produk yang dihasilkan. Oleh sebab itu para pelaku UMKM sejak awal memang sudah harus merencanakan sebuah "sistem pengendalian mutu" yang baik atas produknya, baik dalam pengendalian mutu bahan baku, mutu proses produksi maupun mutu produk yang dihasilkannya.

Harus diingat pula bahwa membangun brand memiliki konsekwensi waktu, dan tentunya biaya yang tidak murah dan caranya tidaklah mudah. Semua melalui proses interaksi yang cukup lama dengan customer, dan tentunya akan banyak menuntut continous improvement dari sisi produsen.

Semoga dengan penjelasan ini, teman-teman UMKM bisa mulai sedikit terbuka mengenai membangun brand dan persepsi apa yang ingin dibangun atas produknya.

Baca juga: