Laman

  • Home
 photo 1_zpsjvwdvmx6.jpg photo 2_zpsd7drnjzh.jpg photo 3_zpsa9clyu0v.jpg photo 4_zpsdyg669mv.jpg photo 5_zpsbaxqx3fg.jpg photo 6_zpsbo9kq866.jpg

Senin, 19 Juli 2021

Menyiasati PANDEMI agar Bisnis Tetap BERLARI.


Menyiasati PANDEMI agar Bisnis Tetap BERLARI.

Kita santai saja berdiskusi tentang masalah siasat dan strategi bertahan di masa pandemi bagi para pelaku usaha. Mengapa? Karena "there is nothing fit for all" yang artinya setiap pelaku memiliki bisnis dengan latar belakang, tujuan dan karakter yang berbeda satu sama lain, misalnya; beda produk, beda konsep dan beda market. Tidak ada sesuatu yang cocok untuk semua. Selain itu setiap teori yang dikemukakan oleh pakar belum benar-benar teruji diterapakan untuk orang lain, selain pada bisnis sendiri dari pakar yang sharing kiat keberhasilannya kepada para pelaku usaha yang lain. Nah, repotnya lagi jika yang sharing strategi adalah orang yang tidak memiliki bisnis sama sekali (berarti belum teruji sama sekali!)

Ada beberapa pelaku usaha sharing di sosial media yang mengatakan bahwa bisnis mereka sangat terdampak dengan situasi pandemi saat ini, dan saya pikir prosentasenya lebih besar dibandingkan dengan yang sharing di sosial media bahwa bisnis mereka masih OK dan bahkan ada yang justru berlipat ganda omzet-nya. Untuk yang masih OK dan bisa tetap bertumbuh, bisa jadi karena bisnis mereka juga diuntungkan dalam kondisi pandemi saat ini atau mungkin karena mereka telah memiliki pondasi pengelolaan bisnis yang kuat dan terstruktur sehingga mampu melakukan semua hal secara efisien dan produktif atau karena mereka mampu mengembangkan strategi marketing yang luar biasa dengan memanfaatkan teknologi yang relevan saat ini, yaitu DIGITAL.

PANDEMI, Saatnya Kita Mereview Operasional Kita.

Terlepas dari apa yang saya kemukan di atas, secara umum dalam masa pandemi ini kita diarahkan untuk mereview kembali bisnis kita, apakah visi atau goal kita masih bisa bertahan dengan kondisi bisnis saat ini atau perlu direvisi? Apakah market kita ada perubahan atau pergeseran sehingga kita perlu mereview STP kita? Apakah operasional kita sudah sangat efisien dan produktif dilihat dari jumlah SDM, teknolgi dibandingkan dengan output yang kita dapatkan?

Sedikit saya share apa yang saya dapatkan dari hikmah ajaran shalat dalam islam, jika kita perhatikan sikap dan gerakan shalat secara cermat, dalam kondisi paling kritis adalah kondisi saat hanya ada kita dengan Allah (Tuhan) kita. Di situlah fokus atau niat kita adalah hanya kepada tujuan (Allah), sikap menunduk memberikan simbolisasi kita untuk selalu aware dengan apa yang kita yakini dan bisa kita lakukan selangkah di depan kita. Kita tidak perlu melihat apa yang ada di atas kita atau apa yang jauh di depan kita, cukup apa yang akan kita lakukan selangkah di depan kita. Kita mulai melihat diri kita, apa yang kita miliki yang bisa kita kembangkan untuk mencapai tujuan kita, karena seringkali kita melupakan potensi dan asset yang telah kita perjuangkan sebelumnya. 

Saya masih ingat saat salah satu senior saya mengatakan bahwa "The power is you, and Allah makes you stronger" dimana dia memotivasi saya untuk terus membangun kepercayaan diri yang kuat dengan tidak boleh lepas dari keyakinan dan tujuan kita. Optimisme adalah hal yang harus dibangun pertama kali saat kondisi diri kita mengalami krisis.

Kembali kepada mereview bisnis kita, sebenarnya tidak ada sesuatu yang hadir langsung sempurna melainkan melalui proses dan ujian. Hal ini sama dengan bisnis yang kita bangun, meskipun bisa berjalan dan berprogress belum tentu sistem pengelolaan bisnis kita telah pada level yang sangat efisien dan produktif, bahkan seringkali kita mengabaikan hal tersebut karena disamarkan oleh keberhasilan sesaat dari bisnis kita. Kita lupa bahwa perjalanan kita masih sangat jauh, dan keberhasilan yang seolah telah kita capai hanyalah "cobaan" untuk kita lalai dengan tujuan bisnis kita.

Mengapa kita harus memiliki biz plan? Salah satunya adalah untuk mereview pemikiran kita di saat awal dengan di saat setelah bisnis berjalan, dan hal ini harus secara periodik dilakukan karena tidak ada biz plan yang sempurna pada awal dan akhirnya. Selain itu bagaimana management plant kita? Apakah kita telah mengelola bisnis kita dengan cara-cara yang efisien dan produktif? Di sinilah kita akan dihadapkan pada pertimbangan dan perhitungan ulang antara jumlah SDM, perlengkapan produksi yang berteknologi dan SOP yang optimal dalam mencapai hasil yang diinginkan. Proses pengadaan bahan baku dan penunjang, proses dan alur kerja, sistem distribusi dan sistem pemasaran akan mendapatkan porsi review yang sangat besar, karena porsi biaya terletak pada poin-poin tersebut. 

Jika tidak ada ujian biasanya orang sulit untuk melihat kemampuan yang terdalam dan paling esensial, dan ujian tersebut adalah situasi dan kondisi selama pandemi Covid-19 dari tahun 2020 sampai dengan tahun 2021 ini.

Mereview Produk Kita.

Pernahkan secara berkala kita mereview produk kita dibandingkan dengan pesaing? Apa kelebihan pesaing yang harus kita siasati dan apa kekurang produk kita agar masih bisa bersaing? 

Secara ideal produk kita dituntut untuk selalu baru, unik, beda dan lebih baik dari pesaing. Disinilah kita selalu diingatkan terus berinovasi menghadirkan produk-produk yang dibutuhkan oleh customer tetapi beda dan lebih baik dari produk-produk pesaing. Untuk membuat produk yang baru dan unik memang dibutuhkan energi dan pemikiran yang tidak biasanya, karena butuh mindset dan kultur riset yang kuat dari para pelaku usaha.  Tetapi kedua hal tersebut jika bisa dipenuhi oleh para pelaku usaha, maka dia telah mencuri start dalam persaingan 50% lebih awal.

Bagi saya unik adalah "sesuatu yang kita bisa buat, namun orang lain sulit atau bahkan tidak bisa membuatnya", jadi untuk membuat produk yang unik bisa dimulai dari bahan baku yang unik, proses pengolahan yang unik, finishing produk yang unik, packaging yang unik dan sebagainya. Produk yang unik, namun fokus pada solusi kebutuhan customer adalah strategi produk yang terbaik saat ini.

Jika produk kita telah kita upgrade secara optimal dengan memenuhi poin-poin di atas maka perjuangan pemasaran produk bisa terus dilanjutkan.

Mereview Market Kita.

Selesai dengan produk kita, mulai dengan mereview market kita. Apakah ada perubahan dan pergeseran market saat pandemi ini? Mulaikan identifikasi market anda, ajak mereka berdiskusi tentang apa yang mereka hadapi dalam situasi bisnis saat ini, cobalah analisa dan berikan alternatif solusinya. 

Banyak perubahan dan pergeseran yang terjadi saat situasi dan kondisi pandemi saat ini, dan ha ini merupakan informasi yang sangat penting untuk melakukan perubahan strategi pemasaran yang telah dijalankan. Misalnya; dulunya customer membeli produk kita secara offline sekarang banyak diantara mereka sudah bergeser ke online, maka kita harus mengikuti pergeseran tersebut dengan memanfaatkan teknologi digital dalam pemasaran. 

Sebagai contoh dari bisnis saya sendiri, yaitu gula cair GULANAS yang pasarnya adalah Cafe, maka ketika diberlakukan PPKM banyak Cafe yang tutup ataupun yang bertahan hanya melakukan pesanan kurang dari 50%, dan tentunya hal ini akan mengurangi omzet penjualan yang sangat signifikan. Kita tidak mungkin bertahan jika omzet kurang dari 50% sehingga sejak 2020 lalu kami melakukan shifting market kepada industri minuman, dan berhasil. Sehingga omzet bisa kembali tertolong, sambil menunggu marketi utama kami kembali dan bisa berarti kenaikan omzet saat kondisi normal.

Mengapa hal ini terjadi? Karena kami saat membuat STP pada biz plan awal pandangan dan pemikiran kami hanya terbatas pada Cafe karena kondisi kapasitas produk yang kami miliki. Namun ternyata tanpa terasa kapasitas kami telah meningkat seiring peningkatan customer yang bertahap dan telah bisa menyuplay industri minuman. Pastinya banyak pelaku usaha yang juga kurang update dengan STP mereka, cobalah mereviewnya kembali, jangan-jangan ada potensial market yang belum tergarap.

Hal yang terjelek yang bisa kita lakukan adalah menjadikan existing customer kita tidak berhenti membeli dari kita, baik dalam kondisi bisnis mereka yang sulit saat ini atau bahkan ketika mulai membangdingkan kita dengan supplier lain. Yang kami lakukan adalah selalu ikut membantu promosi Cafe-Cafe yang menjadi customer kami, agar mereka juga bisa berkembang. Anggap cafe mereka adalah milik kita, sehingga kita harus ikut membantu perkembangan bisnis mereka.

Tetap Lakukan Branding.

Ketika kondisi ekonomi ini sulit, pertanyaan yang typikal muncul dari cusomer adalah tentang eksistensi bisnis kita. Oleh sebab itu kita harus tetap melakukan promosi dan branding agar informasi eksistensi kita tetap terjaga, namun jangannya membuat promosi yang over promise karena bisa jadi akan menjadi bumerang secara emosional. Misalnya : ketika hampir semua kondisi bisnis sedang sulit, kita berpromosi bahwa bisnis kita tidak masalah bahkan naik tajam progressnya. Apakah perlu hal yang semacam ini? Secara emosional justru hal ini akan kontra produktif, buatlah promosi yang wajar dan halus.

Menujukkan empati kita kepada bisnis teman-teman pelaku usaha yang sedang mengalami kesulitan adalah konten yang sangat penting di social media kita. Kita adalah bagian dari ekosistem bisnis yang besar, sehingga kita perlu menjadi bagian dari mereka. Ketika kita justru ingin tampil "beda" dengan hal-hal yang sebaliknya, dikawatirkan justru akan menuai kontroversial.

Terus Lakukan Optimasi Penjualan.

Penjualan adalah nadi dari bisnis kita. Perusahaan yang sudah tidak bisa melakukan penjualan atau melakukan penjualan namun dibawah total biaya yang dikeluarkan perusahaan maka memiliki peluang untuk bertahan yang sangat kecil.

Penjualan ibarat nyawa bagi bisnis kita, sehingga segala upaya kreatif harus dikerahkan untuk mempertahankan penjualan kita setidaknya di titik yang tidak merugi. Setiap detail poin dalam penjualan harus kita cermati untuk strategi optimasi, misalnya: bagaimana kita mencoba menaikkan penjualan dari setiap customer kita meskipun cuma 1 - 2%. 

Di sisi lain kita pun harus terus melakukan efisiensi dalam biaya produksi dan operasional, agar margin profit kita bisa lebih baik.

Upaya untuk terus mengembangkan customer harus tetap dilakukan sebagai upaya optimasi penjualan meskipun sulit untuk kondisi saat ini, namun bisa disiasati dengan kerjasama penjualan/pemasaran dengan pihak-pihak yang eksper dibidangnya. Atau kita bisa juga melakukan sub contracting atau sub vendor kepada perusahaan besar yang sejenis dengan kita.

Optimasi promosi melalui social media juga harus terus dilakukan, karena hal ini tidak terlalu sulit dibandingkan dengan upaya-upaya di atas, maka upaya ini harus ditarget dengan kenaikan viewer, follower, friend dan semacamnya. Genjot terus!

Demikian apa yang bisa saya share hari ini, semoga bermanfaat untuk yang membutuhkan informasi ini. Sukses!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar