Laman

  • Home

Rabu, 17 Juni 2020

There is Nothing Fit for All.

There is Nothing for All.

Ada hal yang paling sulit dijawab ketika ada pihak yang menanyakan kepada kami: "Adakah ratio keberhasilan dari pembinaan UMKM yang selama ini dilakukan? Berapa yang ikut program dan berapa yang berhasil?" 

Mengapa sulit menjawabnya? Karena banyak bagian-bagian di dalam pertanyaan itu sendiri yang sulit untuk dijawab, antara lain:
  1. Pihak-pihak fasilitator tidak terkoordinasi dalam memberikan pembinaan kepada UMKM. Banyak sekali pembinan UMKM yang hadir di masyarakat, bukannya membuat sebuah edukasi menjadi cerah, tetapi justru menjadi membingungkan. Ada yang berteori begini ada yang berteori begitu, belum lagi masing-masing fasilitator tidak hadir dalam sebuah paket edukasi melainkan hanya menawarkan pembinaan secara parsial, tidak ada yang berani membina dari awal sampai akhir, sampai terbukti bahwa konten dan metode pembinaannya terbukti benar. Atau bisa dikatakan semua bekerja sendiri-sendiri, dan semua melakukan klaim bahwa cara mereka adalah yang paling benar, meskipun belum terbukti.
  2. Kriteria berhasil atau naik kelas harus ditentukan secara jelas dan terukur. Tidak harus berupa omzet, karena justru skill dan mind-set dari SDM adalah yang terpenting. Nah, bagaimana mengukur kompetensi SDM untuk bidang entrepreneurship ini yang memang masih agak sulit, ada ada unsur kreativitas yang justru berada di luar alat ukur.
  3. Tidak ada assessment sebelumnya untuk mengetahui saat ini kondisi UMKM tersebut seperti apa, dan selanjutnya pencapaiannya sudah sampai dimana?
  4. Jika hanya ratio jumlah UMKM terdaftar dan UMKM yang sudah terbina, pasti ada datanya. Namum UMKM yang sudah terbina dan evaluasi tingkat keberhasilannya ini yang belaum ada.
Oke-lah, ini adalah PR kita bersama bagi yang memiliki panggilan moral untuk mengangkat perekonomian nasional dari tingkat terbawah. Dari banyak uneg-uneg saya terharap pembinaan UMKM di negara ini, saya ingin mengemukakan sebuah opini yang terkati dalam pembinaan UMKM, sebuah dunia yang telah saya geluti selama 8 tahun terakhir ini, yaitu tidak ada satu solusi-pun yang cocok untuk semua.

There is nothing fit for all.

Sebenarnya saya ingin mengatakan tidak ada satu solusi yang bisa benar-benar cocok untuk semua orang. Semua manusia diciptakan unik dan beda satu dengan yang lain. Satu input yang sama bisa berbeda output satu dengan lainnya, dan semua bisa sukses. Saya sering berdebat dengan rekan-rekan pembina UMKM terkait hal ini, bukan untuk mencari mana yang benar atau mana yang salah, namun sebagai pengayaan wawasan dan pemahaman yang paling mendasar.

Sebagai mitra konsultasi UMKM, kita tidak harus memaksakan berbagai jurus ampuh kepada UMKM karena mereka nantinya akan punya jurus sendiri dengan pengalaman mereke berkecimpung dalam bisnisnya, sebuah formuasi yang paling tepat (bukan paling benar) dengan karakter dan konten bisnisnya. Posisi kita ada sebagai konsultan UMKM cukup memahamkan berbagai arti dan definisi yang mungkin sulit dipahami oleh para pelaku UMKM yang datang dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, menajamkan tujuan mereka berwirausaha, memahamkan secara esensial permasalahan yang mereka hadapi dan memberikan referensi dan cara-cara yang dulu pernah berhasil untuk kasus-kasus permasalahan yang sejenis.

Perlu diingat, kadang sebuah solusi berkorelasi dengan waktu, mungkin saat itu solusi tersebut dianggap sukses (tepat) namun di lain waktu bisa jadi dianggap solusi tersebut sudah tidak relevan lagi (bahkan salah). Para pelaku UMKM adalah manusia bukan robot, mereka memiliki mesin logika dan cara pandang sendiri, sehingga penafsiran dan tindakan mereka pun akan berbeda satu dengan yang lain. 

Artinya apa, kita hanya hanya bisa sharing bukan menggurui atau mendikte. Biarlah mesin-mesin logika dan cara pandang mereka para mitra binaan yang bekerja, tugas kita adalah mengamati dan mencermati selayaknya seorang peneliti sehingga ketika pada suatu saat nanti mereka kembali ke berkonsultasi kepada kita, kita sudah siap menjawabnya. Mereka sebagai pelaku usaha berkembang dengan learning by doing-nya, sementara kita sebagai konsultan pun adalah ikut berkembang dengan kekayaan kasus masalah yang pernah kita amati, dan pecahkan. 

Semoga sharing ini bermanfaat, merdeka!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar