Laman

  • Home

Rabu, 26 Juni 2019

Bank Indonesia - Kurasi Manajemen Klaster Gerabah Melikan, Klaten.

Kurasi Manajemen Klaster Gerabah Melikan, Klaten.
Bank Indonesia Solo bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Klaten untuk memberikan pendampingan dan pembinaan klaster gerabah Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Pembinaan ini meliputi pembinaan manajemen kelembagaan, pembinaan teknis dan ketrampilan pengrajin gerabah serta pembinaan akses pembiayaan. 

Ketika dihubungi pihak Bank Indonesia Solo untuk berperan serta dalam pembinaan manajemen (Capacity Building) kami sembat bernegosiasi materi apa yang cocok untuk klaster gerabah tersebut mengingat sudah beberapa kali klaster gerabah Melikan ini mendapatkan pelatihan dan pembinaan dari pemerintah daerah setempat atau dari pihak-pihak di luar pemerintah daerah. Tantangan dari pihak Bank Indonesia Solo adalah setelah pelatihan ini harus ada "sesuatu" yang bisa terwujud dan bisa ditindaklanjuti setelahnya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sudah lebih dari satu dasawarsa ini sentra gerabah Melikan mengalami stagnasi dalam inovasi maupun stagnasi pemasaran. Dan hal ini sangat berpengaruh dalam perekonomian masyarakat setempat yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari kerajinan gerabah ini.

Kurasi Manajemen.

Mungkin materi pelatihan saya terkesan berbeda dengan pelatihan-pelatihan manajemen pada umumnya, karena saya memadukan intrograsi, konfirmasi, edukasi serta konsultasi. Materi yang lebih banyak dibangun dengan kumpulan pertanyaan yang terstruktur ini justru lebih bisa dinikmati oleh para pengrajin gerabah di Desa Melikan.

Secara prinsip para pengrajin harus dipahamkan terhadap permasalahan mereka, harus dari mereka sendiri yang menyatakan bahwa "mereka memang bermasalah". Selanjutnya harus dikonfirmasi juga kepada mereka bahwa "mereka benar-benar ingin berubah lebih baik". 

Setelah hal-hal yang mendasar ini kami sepakati, maka selanjutnya saya memulai dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai permasalahan design & wormanship dan SDM & Teknologi. Yang semua itu ingin mengarahkan mereka mencerna apa masalah yang sesungguhnya mereka rasakan sebagai stagnasi inovasi dan stagnasi pemasaran.

Dengan rangkaian pertanyaan design & workmanship saya berusaha menyadarkan para pengrajin bahwa dalam bisnis gerabah ini desain dan kualitas pegerjaan adalah hal yang sangat vital. Sudah berapa lama mereka tidur dengan konsep lama, dan teknologi yang usang, serta bagaimana mereka benar-benar terlempar dari perubahan jaman yang demikian pesatnya. Perkembangan teknologi informasi seolah-olah benar-benar telah mereka abaikan, sehingga tanpa sadar mereka telah tertinggal cukup jauh di belakang. Hal serupa juga terjadi di sentra-sentra gerabah dan keramik yang lain.

Permasalah SDM dan teknologi memang hampir menjadi permasalahan umum dalam usaha skala kecil. Dari sisi SDM, terkait dengan keterbatasan pengetahuan, wawasan, pola pikir dan ketrampilan karena keterbatasan informasi, referensi serta pengalaman, masih bisa dikejar dengan berbagai pelatihan, magang kerja, studi banding serta pameran-pameran. Namun yang paling penting adalah bagaimana mereka mampu mencermati segala kekurangan dan kelemahan produksi mereka saat ini mulai dari inovasi bahan baku yang saat ini hanya mampu sampai bakaran 850 derajat celcius maksimum, yang seharusnya untuk kualitas yang bagus harus bisa di atas 120 derajat celcius (sekelas porselen). Teknologi benar-benar tidak diikuti oleh para pengrajin yang sampai saat ini masih bangga dengan alat putaran miring yang sebenarnya telah usang dan hal-hal yang baru.

Setelah mengupas permasalahan design & workmanship dan SDM & Teknologi, saya mencoba mengarahkan kesadaran para pengrajin untuk membangun wadah, apakah berupa BUMDES ataupun koperasi sebagai payung dan motor penggerak kebangkitan gerabah Melikan di masa mendatang. Check list keberhasilan pelatihan ini adalah hadirnya sebuah wadah komersial yang siap menjadi kendaraan untuk membangkitkan kembali produk gerabah Melikan.







Setelah ada kesadaran membangun wadah, maka selanjutnya rangkaian pertanyaan-pertanyaan terstruktur saya mulai membedah bagaimana membangun kinerja pengelolaan SDM (manajemen SDM), membangun kinerja pengelolaan keuangan (manajemen keuangan), membangun kiinerja pengelolaan produksi (manajemen produksi) dan membangun kinerja pengelolaan pemasaran (manajemen pemasaran) untuk wadah tersebut agar mampu mencapai tujuan yang diharapkan secara bersama.

Wadah harus profit oriented, sebagaimana juga dengan pengelolaan SDM yang mengurus wadah tersebut harus diperlakukan secara profesional. Inilah "sesuatu" yang bisa diwujudkan dan ditindaklanjuti setelahnya, BUMDES atau Koperasi Gerabah Melikan yang dengan target kami harus bisa terwujud  dalam beberapa bulan mendapat, baik dari sisi legalitas maupun struktur organisasinya.

Dan setelah wadah ini terwujud, check list saya adalah: company profile perusahaan, biz plan, sistem manajemen, catalog dan price list. Semua dengan adanya marketing tool ini kami bisa membantu pemasaran produk gerabah Melikan. 

Perlu saya sampaikan pula bahwa dalam rangkaian pelatihan ini, para peserta juga mendapatkan bimbingan teknis dari Mas Roy Wibisono dari Nuanza Porselen memberikan scale up pengetahuan produksi gerabah yang berkualitas dan mampu menembus pasar ekspor. Sukses.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar