Laman

  • Home

Sabtu, 18 Mei 2019

Seoul Palace Resto, Bertahan 31 Tahun Karena Konsistensi Kualitas.

Seoul Palace Resto, Bertahan 31 Tahun Karena Konsistensi Kualitas.
Bisa dikatakan bahwa Korean restauran Korea adalah restauran yang membidik pasar segmentasi sempit, menengah ke atas dan selera Korea. Untuk bertahan pasti bukan saja karena keberhasilan menjaga hubungan baik dengan pelanggan namun juga karena kemampuannya dalam menjaga konsistensi kualitas, hal mana yang perlu saya tulis untuk memberikan contoh kepada para pelaku UMKM akan arti pentingnya konsistensi dan loyalitas terhadap bisnis.

Seoul Palace berdiri tahun 1988 atau sudah bertahan selama 31 tahun, bukan hal yang mudah untuk mencapai angka tersebut. Meskipun masih dalam pengelolaan 1 generasi namun usia 31 tahun telah membawa Seoul Palace mengarungi berbagai persaingan dan perubahan jaman, dan masih bertahan. Mari kita coba intip satu per satu kiat dari Bu Benita Eka Arijani, pemilik restauran ini, bagaimana cara bertahan dari gempuran persaingan dan perubahan jaman apalagi bertahan dengan konsep tersebut di sebuah kota yang bernama Semarang.

Kebetulan saya mengenal Bu Benita, karena dalam satu kepengurusan di Kamar Dagang dan Industri Propinsi Jawa Tengah dan selalu bersama dalam setiap penjurian Krenova Jawa Tengah selama 5 tahun terakhir, sehingga tidak sulit untuk mengatur jadwal bertemu dengan beliau. Buka bersama keluarga adalah momen yang ingin saya manfaatkan untuk bertemu dengan Bu Benita dan sekaligus bersantap buka puasa di Seoul Palace. 

Kami harus reservasi sejak awal, bahkan langsung kepada Bu Benita, karena kami tahu bahwa setiap ramadhan restauran ini selalu ramai untuk berbuka puasa. Mengapa? Karena sejak awal berdiri, konsep restauran tidak menyediakan olahan babi atau alkohol dan dipegang teguh sampai dengan sekarang. Inilah salah satu keberanian dari pemilik usaha yang patut dicatat. Bu Benita menyadari bahwa restauran ini dipasarkan di kota yang sebagian besar masyarakatnya beragama islam. 

Saya mengenal restauran ini sejak masih bujangan, atau sejak saya masih bekerja di PT Wijaya Karya, sebuah perusahaan BUMN. Karena sering dapat tamu dari Korea serta direksi kami waktu itu juga penggemar masakan Korea maka kami sering berkunjung ke restauran ini. Saya belum mengenal Bu Benita saat itu. Yang menjadi catatan saya, restauran ini sejak dulu sampai sekarang masih konsisten menjaga rasa dan kualitas masakannya. Dan sekarang saya baru tahun bahwa ternyata Bu Benita masih selalu aktif melakukan kontrol kualitas di dapur, hal ini sudah sering dilupakan oleh para pemilik restauran yang sudah besar. 

Seoul Palace Restoran Korea, Jl Pandanaran 109 Semarang.
BiBimbag, Nasi Campur Korea.

Galbi Jjim, Iga Bakar Gurih.

JJamppong, Seafood Noodle.

Kimchi

Pajeon
Beberapa kali bersama istri yang seorang food blogger (DiahDidi.Com) ngobrol bersama Bu Benita, kami tahu Bu Benita memahami benar bisnis ini mulai dari asal muasal masakan, bahan-bahan dan manfaatnya untuk kesehatan sampai dengan bagaimana bisnis ini akan bertahan. Makanan sehat! Inilah salah satu kiat yang perlu dicatat oleh para pelaku UMKM. Bagaimana ke depan orang akan memilih makanan yang sehat dan dengan pengolahan yang benar, bukan seperti makanan yang banyak beredar sekarang. Semua akan sepadan dengan apa yang mereka keluarkan untuk menikmati makanan sehat ini.

Kemampuan Bu Benita dalam menjaga kualtias sekaligus beradaptasi dengan lidah masyarakat sekitar perlu dicontoh. Ternyata hal ini diasah melalui pengalaman-pengalaman mencoba kuliner di berbagai tempat baik lokal maupun internasional, atau dengan kata lain selalu belajar. Mau belajar dan menerima masukan adalah ciri khas seorang entrepreneur sejati.

Siapa sangka Bu Benita ini juga akrab dengan gadget, jadi bukan type orang yang seusianya yang mungkin agak malas masuk dalam dunia maya. Beliau menikmati perubahan era digital ini dengan mengikuti arus perubahan, sehingga mampu update dengan informasi-informasi terkini. 

Salut dengan Bu Benita dengan semua kiat-kiatnya untuk bertahan dalam gempuran perubahan jaman serta persaingan yang semakin ketat. Semoga pengalaman beliau bisa menginspirasi para pelaku UMKM di Jawa Tengah, maupun di Indonesia. Sukses!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar