Laman

  • Home

Rabu, 26 Desember 2018

Karimunjawa, Tambang Wisata Jawa Tengah di Masa Mendatang.


Karimunjawa, Tambang Wisata Jawa Tengah di Masa Mendatang.

Tulisan RumahUMKM.Net kali ini akan berbeda karena selama musim liburan ini pasti tulisan yang seperti biasa menjadi tidak menarik. Kami pun libur dengan rutinitas dan ingin menikmati suasana yang berbeda, yaitu "exploring keindahan Karimunjawa". Tetapi bukan sekedar jalan-jalan, kami juga akan survey pelaku-pelaku usaha di sana, mulai dari agen travel lokal, pedagang pasar, pedagang kaki lima dan pemilik cafe.

Berangkat dari Tanjung Mas Semarang dengan kapal cepat Express Bahari pada hari Minggu 23 Desember 2019 jam 14.30, kami merapat di Dermaga Karimunjawa setelah 3 jam perjalanan yang menerjang gelombang pasang yang cukup mengguncang kapal. Sebagian penumpang tumbang, karena mabok diguncang oleh gelombang pasang ini. Namun inilah serunya berpetualang di Karimunjawa. 

Memang saat ini waktunya angin barat sehingga gangguan gelombang sering terjadi, namun sejauh ini tidak ada masalah. Karena tiga perempat perjalanan kami lalui dengan tenang, hanya ketika mau mendekati kepulauan Karimunjawa saja kami harus terguncang-guncang. Di kapal kami ngobrol dengan beberapa wisatawan lokal dan juga 2 wisatawati dari Jerman, yaitu Natalie dan Rose. Ada hal yang menarik dari cerita mereka, bahwa mereka baru saja keluar dari pekerjaan mereka dan mengatakan bahwa pekerjaan bukan salah satu hal yang paling penting dalam hidup mereka, melainkan pengalaman hidup lah yang terpenting.

Sampai di Dermaga Karimunjawa jam 17.30 dan oleh Harmoni Karimunjawa Travel kami diantar ke hotel D'Season yang tidak jauh dari dermaga. Kami memang memilih hotel yang dekat dengan kota dan dermaga, agar semua jadwal kami terkendali. 

Hari pertama di Karimunjawa kami awali dengan berjalan-jalan di Alun-Alun yang letaknya di belakang dermaga. Selain untuk melihat aneka kuliner asli yang didominasi oleh sea food, kami juga ingin melihat kerajinan-kerajinan dari warga setempat. Di Alun-Alun inilah semua warga lokal dan wisatawan berinteraksi dan berbaur. Hanya ada bebeberap cafe, salah satunya dalah Karimunjawa Coffee Shop di depan ATM BRI yang merupakan satu-satunya ATM di Karimunjawa. Ingat, operator telekomunikasi yang ada di Karimunjawa pun hanya Telkomsel, Excel dan Indosat, jika anda menggunakan selain dari ketiga operator tersebut terpaksa anda harus menggantinya.

Mas Brian, Pemilik Karimunjawa Coffee Shop di Karimunjawa.
Ngopi bersama teman-teman asing dan dari komunitas travel Karimunjawa benar-benar asyik karena bisa banyak menyerap kabar mengenai informasi sosial budaya di Karimunjawa maupun peluang-peluang investasi yang memungkinkan di Karimunjawa seperti: bengkel motor, sebagaimana diketahui di Karimunjawa rata-rata memiliki motor untuk bisa disewakan. Saat ini yang ada hanya bengkel kecil, jika ada kerusakan besar maka harus dipesan di Jepara. Dealer motor pun tidak ada di Karimunjawa, apalagi dealer mobil. Bengkel mobil pun tidak ada di Karimunjawa, ketika para pemilik mobil travel dan tour harus servis mobil mereka harus naik kapal ferry ke Jepara sehingga biaya transportasi lebih mahal daripada biaya servis mobilnya.

Ketika pagi setelah sarapan dari hotel kami sempatkan jalan kaki ke Pasar Karimunjawa yang merupakan satu-satunya pasar di Karimunjawa, maka harus kita pahami bahwa pasar kecil itulah yang menyuplai kebutuhan sehari-hari untuk kebutuhan masyarakat di Karimunjawa. Para pedagang di pasar ini mendatangkan bahan-bahan pokok seperti beras, gula, garam dan lain sebagainya dari luar Karimunjawa seperti Semarang dan Jepara. Puskemas yang berada di depan Pasar Karimunjawa adalah satu-satunya unit pelayanan kesehatan yang ada di Karimunjawa.

Setelah puas berbelanja oleh-oleh di Pasar Karimunjawa, kami memulai petualangan menarik menjelajah pantai-pantai di wilayah timur Karimunjawa karena di wilayah barat sedang musim angin barat yang mengakibatkan gelombang yang tinggi dan sangat berbahaya bagi perahu kecil. Kami mulai dengan Pulau Cilik, Pantai Anora, Pantai Nyamplung Ragas dan Pulau Menjangan Kecil untuk melihat penangkaran hiu.

Pulau Cilik adalah destinasi snorkeling pertama yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Pulau ini sesuai dengan namannya, hanya seluas kurang dari 1 Ha namun memiliki pantai yang indah saat air surut.





Selepas dari Pulau Cilik kami melanjutkan kembali ke Pantai Anora untuk makan siang berupa barbeque ikan cumi yang sedang musim saat ini. Cumi-nya besar, dan sangat murah karena dari nelayan harganya cuma Rp. 10 - 15 ribu per kg. 

Pantai Anora ini hampir seperti pantai-pantai yang lain di Karimunjawa yang dikuasai oleh pemilik pribadi, yang kebetulan berasal dari Semarang sebagaimana informasi dari pengelola pantari yang merupakan penduduk sekitar, Mas Muslikin. Pantai Anora ini berbatasan langsung dengan Pantai Alona yang merupakan pantai sandar perahu nelayan yang mencari cumi di perairan Karimunjawa.









Cukup lama kami bersandar di Pantai Anora sambil menikmati pijatan tradisional dari penduduk lokal yang paham benar cara-cara refleksi. Setelah agak sore kami melanjutkan perjalanan lewat laut menuju Pantai Nyamplung Ragas. Pantai Anora dan Pantai Nyamplung Ragas terletas di daratan Karimunjawa, sehingga bisa ditempuh dengan jalan darat maupun laut.

Di Pantai Nyamplung Ragas inilah kami mendapatkan cerita penyebaran islam dari Sunan Nyamplungan atau Amir Hasan yang merupakan murid dari Sunan Muria Kudus. Ada cerita menarik dari teman-teman komunitas travel bahwa di pantai ini ada sejenis ikan lele yang tanpa "patil" dan juga kepiting yang tanpa capit. Menurut cerita mereka ikan-ikan ini berasal dari bekal Sang Sunan yang tumpah ke lautan. Sementara ada segunduk karang seperti pulau yang diyakini adalah sampan dari Sang Sunan yang terbalik, begitulah legendanya. Sayang kami belum sempat berziarah ke makan Sunan Nyamplungan, mungkin perjalanan berikutnya harus kami sempatkan ke makam tersebut.



Perjalanan menuju ke Pantai Nyamplung Ragas ini cukup seru karena gelombang pasang sudah mulai meninggi sekitar 1m sd 1.5 m dan menjadi tantangan tersendiri bagi kami karena selama setengah jam kami kami bisa menikmati goyangan perahu menghantam ombak tersebut. Hal serupa juga kami alami ketika meninggalkan Pantai Nyamplung Ragas menuju Pulau Menjangan Kecil untuk melihat penangkaran hiu, karena Pulau Menjangan Besar ditutup untuk umum. Sebenarnya kami juga ingin ke Pulau Legon Jaten tempat penangkaran penyu yang langka, namun saat itu tempat tersebut tutup.

Gambar-gambar di bawah ini adalah suasana di Pulau Menjangan Kecil dengan penangkaran ikan hiu. Pulau ini berada tidak jauh dari Dermaga Karimunjawa dan bersebelahan dengan Pulau Menjangan Besar.





Kami menikmati sunset di Pulau Menjangan Kecil sebelum kembali ke Dermaga untuk kembali ke hotel dan selanjutnya menikmati malam di Alun-Alun Karimunjawa bersama teman-teman wisatawan yang lain.


Pagi hari di hari ketiga, kami lanjutkan melihat Karimunjawa dari ketinggian yaitu di Bukit Cinta  sebelum ke Pantai Tanjung Gelam dan kembali ke Semarang. 




 Pantai Tanjung Gelam selalu ramai untuk acara-acara masyarakat ketika Hari Raya Idul Fitri dan Syawalan, selain itu pantai ini terlihat asri bagi milik pribadi dengan pemandangan luas ke arah pulau Cemara Besar dan Cemara Kecil. Pantai berbatu dengan hampara pasir putih yang luas sangat nyaman untuk bersantai dan menikmati pemandangan alam yang indah.




Demikian apa yang bisa saya share kepada teman-teman di musim liburan panjang ini. Apa yang bisa ditangkap dari berkembangnya wisata di Karimunjawa ini bagi teman-teman UMKM adalah peluang memasok produk-produk uniknya untuk para wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing.

Produk-produk yang berpeluang masuk ke Karimunjawa adalah gift seperti T-Shirt Karimunjawa, Topi Karimunjawa dan hal-hal lain dengan icon Karimunjawa. Produk bahan baku makanan juga menjadi menarik di sana mulai dari beras, garam, kecap, gula, bumbu instan dan sebagainya.

Penambahan pelayaran laut menuju ke Karimunjawa dari Kota Semarang sangat diharapkan oleh rekan-rekan komunitas travel dan masyarakat Karimunjawa karena akan menambah peluang perdagangan di Karimunjawa atau dengan kata lain memberikan penghidupan yang lebih baik kepada mereka. Investasi pariwisata yang diharapkan di Karimunjawa adalah investasi yang bisa memberdayakan masyarakat setempat. Masyarakat yang telah memahami bagaimana merawat kepulauan ini menjadi tetap asri dan bersih patut mendapatkan perhatian dari perusahaan-perusahaan yang memiliki kegiatan CSR.

Berkembangnya pariwisata di Karimunjawa terindikasi dari mulai bertumbuhnya hotel-hotel baru di Karimunjawa. 

Kelengkapan infrastruktur seperti mini market, resto dan cafe, bengkel, ATM, internet dan sebagainya akan menjadi pekerjaan rumah bagi Pemda Kabupaten Jepara. Jika melihat prospek Karimunjawa ke depannya, infrastruktur tersebut harus segera ditambah, selain penambahan jalan raya dan listrik ke daerah-daerah. Jadwal pelayaran ke Karimunjawa yang lebih banyak akan banyak membantu percepatan tumbuhnya Karimunjawa. Sukses Karimunjawa!