Laman

  • Home

Jumat, 26 Oktober 2018

Pembina UMKM, Berakhir Sebagai Pembina atau UMKM?

Pembina UMKM, Berakhir Sebagai Pembina atau UMKM?
Apakah pembina UMKM itu sebuah profesi? Pastinya bukan, karena banyak diantara pembina UMKM adalah relawan, baik dari akademisi, pelaku usaha maupun dari asosiasi atau organisasi non profit. Teman-teman pembina UMKM pun pada akhirnya ingin menjadi seorang entrepreneur murni, yaitu pelaku UMKM itu sendiri atau bahkan mereka memang sudah menjadi seorang pelaku usaha.

Entrepreneurship was born from the entrepreneurial process - atau dalam bahasa Indonesianya "kewirausahaan lahir dari proses kewirausahaan" bisa memicu perubahan sistem pembinaan saat ini yang masih bersifat "volunteer" menjadi sebuah peluang usaha edukasi yang komersial dalam pengembangan UMKM di Indonesia. Untuk menjadi sebuah peluang usaha yang komersial, maka konsep-konsep dan tahapan pembinaan UMKM ini harus jelas dan terukur sehingga memungkinkan dalam pengelolaan manajemennya.

Tugas pemerintah dalam membina UMKM seharusnya bisa menjadi lebih ringan ketika muncul pengusaha-pengusaha edukasi bisnis yang mampu menyediakan wadah dan fasilitas dalam pembinaan UMKM yang lebih profesional dan komersial. Persaingan akan terbuka baik dari pengusaha individu sampai dengan perguruan tinggi yang saat ini dituntut untuk menyediakan SDM yang siap berwirausaha setelah lulus kuliah.

Ketika pembinaan UMKM masih ditangani oleh pemerintah karena ada anggaran yang dialokasikan untuk program tersebut, konsep "kewirausahaan lahir dari proses kewirausahaan" tidak berjalan dengan benar. Mindset "gratis" yang sering kami hadapi dalam pembinaan UMKM justru menghambat lahirnya bisnis baru. Para pelaku UMKM pasti lebih memilih dibina oleh pemerintah daripada institusi swasta, karena mereka tidak perlu bayar tetapi justru mendapatkan uang saku dan juga fasilitas lain. Peluang institusi swasta untuk membuka usaha dalam pelatihan UMKM menjadi semakin sempit karena harus bersaing dengan pemerintah yang bisa memberikan fasilitas gratis. Sehingga akhirnya institusi swasta terpaksa harus mencari "donasi" atau "sponsorship" untuk membiayai kegiatan pembinaan UMKM tersebut agar pelaku UMKM bisa juga mendapatkan fasilitas yang "gratis". Namun justru hal ini yang semakin melenceng, karena pada akhirnya pembinaan UMKM menghasilkan UMKM yang bermental gratis, bukan menghasilkan seorang entrepreneur sejati.

Pelatihan-pelatihan gratis yang digelar oleh pemerintah memicu keraguan dari beberapa event organizer untuk menggelar pelatihan-pelatihan serupa kepada UMKM, mereka ragu apakah UMKM mau membayar untuk pelatihan-pelatihan yang akan mereka adakan. Hal inilah yang menurut kami "mengganggu" tumbuhnya entrepreneurship tersebut. Tetapi kami sendiri masih melihat peluang usaha edukasi UMKM masih sangat terbuka, karena sudah banyak UMKM yang mampu mandiri dalam mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya setelah perjalanan proses yang panjang. 

Pembinaan UMKM adalah konsep bisnis edukasi yang bisa dikelola dengan cara komersial, agar para pembina UMKM yang saat ini masih menjadi relawan pembina UMKM pun bisa memulai bisnis dari bidang ini. Relawan pembina UMKM harus bisa menjadi seorang pengusaha (para pendamping UMKM - red) sebagaimana UMKM yang mereka bina selama ini. Mereka tidak harus "ngamen" pelatihan dari instansi pemerintah yang satu ke instansi yang lainnya, karena mereka punya wadah sendiri yang bisa mereka kelola sebagai sebuah bisnis mereka. Sukses!