Laman

  • Home

Selasa, 18 September 2018

UKM Go Global.

Obrolan UKM Go Global.
Selasa ini benar-benar full aktivitas, setelah memberikan pembekalan "Teknik Marketing di Era Digital" di Grand Wahid Salatiga, saya pun harus balik ke Semarang secepat mungkin karena ada janji dengan Mas Elvan dari UNSIQ Wonosobo yang saat ini sedang mempersiapkan disertasinya tentang internasionalisasi UMKM.

Ada beberapa daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan oleh Mas Elvan kepada saya, baik pertanyaan untuk disertasinya maupun titipan pertanyaan dari rekan-rekan S3-nya yang juga sedang membutuhkan informasi seputar UMKM. Saya harus acungkan jempol kepada generasi muda yang penuh semangat untuk membangun daerahnya (Wonosobo) untuk lebih maju dan go internasional. 

2 topik yang kami bicarakan sore ini, yaitu internasionalisasi UMKM atau UMKM Go Global dan market prrefence yang saya pahami sebagai market brief. Memang sebelum ngobrol kita harus pastikan dulu kita harus benar-benar membicarakan hal yang sama. 

UKM Go Global atau UKM Go Export adalah arah pembinaan yang kami coba lakukan pada beberapa UMKM binaan kami, tujuannya adalah agar produk UMKM di Jawa Tengah ini setara dengan produk-produk kelas industri ataupun produk-produk impor. Apakah ini mungkin? Mungkin, selama pembinaan yang dilakukan berjenjang dan dengan prinsip kemandirian. 

Seringkali pembinaan yang dilakuan pada UMKM lebih mengarah kepada produk dan bisnisnya, dan kadang melupakan pelaku UMKM-nya. Dari pengalaman kami, faktor SDM (pelaku usaha) justru memegang peranan penting dalam pengembangan usaha UMKM itu sendiri. Fasiltias promosi dan pemasaran, serta pembiayaan adalah alat bantu untuk pelaku UMKM tersebut mencapai tujuan jangka pendek dan jangka panjangnya. Masalah pola pikir dan sikap mental memang menjadi handicap pertama dalam pembinaan UMKM, sebelum masalah pemasaran dan pembiayaan. 

Sebenarnya apa yang mesti dipersiapkan saat ini ketika kita ingin UMKM Go Global? Terlepas dari banyaknya pekerjaan rumah dalam menempa pola pikir UMKM untuk Go Global, masalah kualitas produk dan legalitas produk yang dibutuhkan untuk ekspor adalah target yang harus kita penuhi terlebih dahulu. Ketika berbicara kualitas pada skala UMKM kita akan dihadapkan pada permasalahan sistem manajemen dan SOP dalam produksi, hal ini harus kita pahamkan kepada UMKM agar kualtias bukanlah kebetulan melainkan sebagai kinerja yang konsisten. 

Legalitas menjadi sangat penting karena produk UMKM dituntut untuk bersertifikat halal, selain permintaan-permintaan legalitas tertentu dari tujuan ekspor seperti HACCP dan FDA untuk produk makanan yang dipersyaratkan oleh USA dan Canada. Untuk produk mebel dan kerajinan dari kayu pun ada persyaratan tertentu, seperti SVLK.

Hal tersebut di atas adalah dari sisi penjual (eksportir), sementara dari sisi pasar kendala yang sering kita hadapi adalah informasi pasar mengenai market preferences atau market brief. Setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan hal ini harus terinformasikan secara detail kepada penjual agar produk yang ditawarkan atau dipamerkan lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Jaringan ITPC Indonesia di berbagai negara bisa diarahkan untuk memberikan informasi market brief kepada para eksportir di Indonesia, daripada mereka terlalu jauh masuk dalam ranah perdagangan yang tentunya lebih dikuasai oleh para pelaku usaha daripada team ITPC. Salam, Sukses.