Laman

  • Home

Minggu, 09 September 2018

Sekilas Mengenal Humane Entrepreneurship.


Humane Entrepreneurship, Ki-Chan Kim
Dari pertemuan dengan Cak Samsul Hadi hari ini, ada satu topik yang menarik buat saya untuk mulai mengetahui tentang konsep HUMANE ENTREPRENEURSHIP yang dibawa oleh Mr Ki-Chan Kim, Presiden ICSB (International Council for Small Business) ke Indonesia bersama dengan Mark Plus, Bapak Hermawan Kertajaya melalui beberapa simposium dan seminarnya. Sangat menarik, dan saya mulai membuka sebuah wacana singkat di marketeers.com sebagai berikut:

Presiden International Council for Small Business (ICSB) Ki-Chan Kim meyakini bahwa cara terbaik bagi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang tinggi adalah dengan menghormati karyawan dan mendorong mereka untuk menikmati pekerjaannya. Dengan begitu, ia yakin hal itu mampu membuat perusahaan menghindari pemutusan hubungan kerja karyawannya. 

Ia berpandangan, model manajemen di era kapitalisme saat ini harus mengarah pada 'entrepreneurship for humanity', yang mana perusahaan tidak harus meminta karyawan untuk bekerja keras, melainkan membantu mereka menikmati pekerjaannya, dan mewujudkan mimpi mereka dengan bekerja.

Saat menduduki jabatan tertinggi di ICSB itu, Kim menyusun Human Entrepreneurship Model, atau prinsip-prinsip yang bisa digunakan perusahaan untuk tetap menjalankan fungsi kewirausahan (entreprise), sembari tetap fokus pada gagasan kemanusiaan (human). Untuk entreprise, Kim merangkumnya ke dalam 5E, mencakup Envisioning, Enthusiasm, Enlightenment, Experimentation, dan Excellence. 

Sedangkan gagasan human dalam bisnis pun juga disederhanakan Kim ke dalam 5E yang mencakup Empowerment, Ethics, Equality, Engagement, dan Ecosystem. Kim lebih lanjut menjelaskan, “Human Entrepreneurship adalah sebuah model yang me-leverage kombinasi antara inovasi dan keberlangsungan, yang mampu menciptakan dampak terhadap pembangunan dan kesejahteraan manusia,” katanya dalam acara 2015 ICSB ASEAN Initiative: Innovation & Globalization in Asia, di Philip Kotler Theater Class, Jakarta, Kamis, (13/8/2015).

Pria asal Korea Selatan ini melanjutkan, dirinya membagi definisi kewirausahaan ke dalam tiga kategori. Pertama, Entrepreneurship 1.0, yaitu pengusaha yang bekerja untuk dirinya sendiri demi mencari nafkah pribadi. Kedua, Entrepreneurship 2.0, adalah pengusaha yang bekerja untuk sebuah organisasi. Dan Ketiga, Entrepreneurship 3.0 yang bekerja untuk masyarakat dan kemanusiaan. Secara singkat, Entrepreneurship 3.0 berarti “dari rakyat, oleh rayat, dan untuk rakyat.”

Dalam menyosialisasikan Entrepreneurship 3.0, dirinya akan membentuk panitia di ICSB dengan nama “Komite Definisi Kewirausahaan 3.0”, di mana para ahli dari berbagai organisasi internasional, seperti PBB, OECD (Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan) serta Bank Dunia berkumpul untuk mendiskusikan masalah ini bersama.

Mengapa Kami Membicarakan Ini?


Mengapa saya dan Cak Samsul Hadi membicarakan Humane Entrepreneurship? Sebenarnya pun kami tidak sengaja mengarah kesana ketika pada awalnya saya mengatakan kepada Cak Samsul Hadi bahwa saat ini kreativitas dan inovasi merupakan asset atau potensi individu yang penting salam memulai usaha, bahkan kreativitas dan inovasi ini tidak boleh berhenti karena pelaku usaha membutuhkannya dalam menghadapi persaingan dan persoalan-persoalnan bisnisnya.

Kreativiats dan inovasi ini berpangkal pada individu (human) sehingga dalam pembinaannya pun akan dimulai pada pembinaan SDMnya. Komponen empowerment (pemberdayaan), ethics (etika), equality (persamaan), engagement (keterikatan) dan ecosystem (lingkungan) adalah jenjang pembinaan SDM yang bisa menjawab permasalahan MINDSET milik RumahUMKM.Net, yaitu permasalah sikap mental dan pola pikir. 

Saya sangat setuju sekali dalam pembangunan SDM, etika juga memegang peranan penting dalam membangun kultur entrepreneurship, karena masalah ini yang selalu muncul dalam keseharian saya dalam membina UMKM. Dan siklus 5-E akan menjadi urutan dan jenjang dalam pembinaan mindset UMKM dalam era kapitalisasi saat ini.

Semetara itu di sisi lain, siklus bisnis adalah dimulai dari pemahaman visi (envisioning), memotivasi (enthusiasm), pencerahan (enligtenment), experimentation (implementasi) dan exellence (continous improvement dan penyempurnaan). Entrepreneurship ke depan adalah entrepreneuship yang mengarah kepada peningkatan kesejahteraan dari SDM.

Meskipun diskusi saya dengan Cak Samsul tidak sampai mendetail karena memang waktu saya di Surabaya tidak cukup lama, maka kami menugaskan diri kami sendiri untuk lebih mendalami Humane Entrepreneurship baik melalui materi yang dari ICSB yang berkerjasama dengan MarkPlus maupun melalui diskusi-diskusi aktif kami baik secara offline maupun online.

Sebuah diskusi yang menarik dengan Cak Samsul Hadi hari ini, yang selalu memberikan tantangan kepada saya untuk melihat kenyataan-kenyataan baru dalam pembinaan UMKM di tanah air. Sampai ketemu lagi Cak, sukses!