Laman

  • Home

Sabtu, 07 Juli 2018

SKTM? Inilah Pengalaman Lucu Saya di Tahun 2006.

Surat Keterangan Tidak Mampu untuk Buyer.
Jika melihat berita betapa maraknya SKTM untuk mengakali masuk sekolah, maka saya jadi teringat pengalaman saya tahun 2006 lalu saat masih bergelut di bisnis furniture. Pengalaman ini cukup lama memang karena lebih dari 12 tahun, saat kondisi bisnis furniture masih terhitung cukup bagus sebelum tahun 2008 yang mulai menurun.

Menanggapi permintaan buyer adalah salah satu rutinitas kerja saya, baik buyer yang sudah kerjasama dengan saya lebih dari 7 tahun maupun buyer-buyer yang baru. Untuk buyer-buyer yang sudah berjalan, tentunya tidak banyak masalah yang sering muncul karena kami telah mengenali produk apa yang mereka butuhkan dan di level harga berapa mereka bisa membeli.

Namun untuk buyer-buyer baru banyak sekali ragamnya, dari yang bonafide dan tidak bonafide. Dan pengalaman saya waktu itu adalah saat saya bertemu dengan buyer dari Australia yang berkantor di Yogyakarta. Setelah berkali-kali komunikasi via telepon dan email serta memenuhi permintaan pengiriman sample oleh mereka, saya diundang untuk bertemu dengan buyer tersebut yang berkantor di sekitaran Condong Catur.

Meeting hari ini cukup lama, karena banyak item yang harus kami tawarkan dan dinegosiasikan harganya dengan buyer tersebut, termasuk item-item yang sudah kami kirimkan sample-samplenya. Biasa, karena ternyata mereka juga adalah perusahaan buying agent maka harga dari kami pun dinego habis-habisan sampai mendekati HPP.

Staff saya sudah sedari awal saat buyer menawar harga kami, memberi isyarat saya dengan nendang-nendang pelan kaki saya namun saya terus berusaha menyakinkan bahwa harga yang kami berikan adalah harga yang terbaik karena kami adalah produsen bukan trader. Buyer tetap alot dengan pendiriannya (biasa, jika bertemu dengan buying agent memang mereka sering menekan harga kita.), dan saya pun ketika masih melihat ada margin maka mempertanyakan sebenarnya berapa sih quantity yang dibutuhkan karena pabrik kami menggunakan mesin sehingga semakin banyak order kami bisa menekan harga produksi sebagai besar.

Awalnya Buyer mengatakan bahwa di awal order mungkin hanya sekitar 1 container, dan saya selanjutnya bagaimana? Apakah bisa 5 - 10 container per bulan? Dan buyer mengatakan bahwa harga kita mahal, sehingga mungkin hanya beli 1 container saja. OK, sudah mulai terbaca kemampuan buyingnya, cuma 1 container dan itupun tidak per bulan.

Masih belum selesai, si buyer mengatakan bahwa untuk kerjasama dengan perusahaannya maka kita harus mau membuatkan mereka sample 1 item 1 sample. Saya tanyakan, biaya sample ikut beban siapa? Sample itu untuk apa? Jika untuk sekedar mengetahui level workmanship kami, 1 atau 2 sample sudah cukup. Tetapi jika setiap item harus ada 1 item dan biaya itu dibebankan kepada kita, maka kami harus bicarakan sebelumnya.

Sebagaimana kita ketahui, biaya membuat sample untuk perusahaan full machine made cukup mahal. Biasaya kami mendapatkan order dari buyer yang memberikan sample atau as built drawing dari buyer untuk kami kerjakan dan selama itu tidak ada masalah. 

Ternyata buying agent tersebut meminta semua biasa sample ada FREE untuk dia. Coba bayangkan? Quantity order cuma 1 container dengan harga yang hanya tipis di atas HPP dan kam membiayai pengembangan produk mereka dengan biaya kami. Ha-Ha, buying agent ini jelas miskin (pikir saya), dan selanjutnya saya pun mengatakan kepada buyer tersebut: "Mister, jangan kuatir semua sample yang sudah saya kirimkan (sekitar 3 item) dan sample lain akan kita buatkan GRATIS, cuma tolong berikan saya 1 surat keterangan saja dari kelurahan setempat bahwa anda adalah BUYER yang TIDAK MAMPU!"

Dan buyer yang sudah fasih berbahasa Indonesia tersebut merah padam mukanya karena tidak pernah membayangkan prospek suppliernya menyindirnya dengan SKTM tersebut di atas. Saya pamit untuk memberikan waktu si buyer berpikir jernih, dan selama perjalanan pulan Yogya - Semarang, staff saya tidak bisa menahan tawa denga apa yang saya sampaikan ke buyer tersebut.

Sekedar sharing, dan saya yakin banyak teman-teman ketemu dengan type buyer yang semacam ini. Tapi perlu diingat, bahwa sejak saya perlakukan seperti itu justru buyer tersebut selanjutnya menjadi teman baiknya, meskipun tidak berbisnis di bdang furniture lagi. Sukses!