Laman

  • Home

Kamis, 21 Juni 2018

UMKM Center Bukan Pusat Oleh-Oleh.

UMKM Center Seharusnya Bukan Sekedar Pusat Oleh-Oleh.
Apakah UMKM Center harus selalu dikemas sebagai pusat oleh-oleh? Adakah yang berhasil?

Konsep UMKM Center yang kita temui seringkali "diarahkan" menjadi sebuah pusat oleh-oleh, padahal jika mau sendikit mendalami arti dari UMKM Center tentunya UMKM Center memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada hanya sekedar pusat oleh-oleh.

Permasalahan utama dari para pelaku UMKM tidak hanya pada pemasaran produknya, melainkan hal-hal lainnya sebelum masuk ke tahap pemasaran. Misalnya masalah perbaikan manajemen usaha, kualitas produk, teknologi produksi, legalitas usaha dan produk, kemasan produk dan sebagainya. Permalahahan pemasaran merupakan akumulasi akhir dari permasalahan-permasalah tersebut di atas.

Jadi UMKM Center bukanlah sekedar pusat oleh-oleh, melainkan pusat solusi dari permasalahan-permalahan UMKM tersebut.  Pusat oleh-oleh hanyalah bagian dari UMKM Center, sebagai bukti bahwa hasil pembinaan UMKM telah menghasilkan produk-produk yang berkualitas dan berdaya jual tinggi.

Komponen-komponen penting yang harus ada di dalam UMKM Center antara lain:
  1. Pelatihan.
  2. Konsultasi Bisnis.
  3. Outlet pendukung, adalah outlet-outlet yang akan diisi oleh perusahaan-perusahaan yang memberikan layanan jasa kepada UMKM seperti: desain grafis (kemasan, logo), percetakan, toko bahan kemasan, konsultan manajemen, konsultan pajak, konsultan pembiayaan, eCommerce, agen perdagangan, dsb.
  4. Display produk yang telah terseleksi.
  5. Temu bisnis.
  6. Outlet fasiltias: Cafe, Resto, dsb.
Dengan outlet-outlet tersebut di atas terlihat bahwa target pasar dari UMKM Center adalah para pelaku UMKM, bukan pengunjung non UMKM. UMKM Center merupakan solusi dari permasalahan UMKM yang ada sehingga akan menjadi tujuan utama dari para pelaku UMKM ketika mereka mengalami permasalahan dalam perjalanan usahanya.
 
Pada prakteknya, banyak UMKM Center yang ingin hasil instan dengan menjadikannya sebagai pusat oleh-oleh sehingga UMKM Center ini justru melayani pengunjung UMKM Center non UMKM daripada para pelaku UMKM itu sendiri. Dan dari hasil pengamatan kami, banyak sekali UMKM Center yang tidak berhasil menjalankan fungsinya sebagai pusat solusi permasalahan UMKM. Kalaupun ada yang masih bertahan, maka program UMKM Center tersebut didukung dengan anggaran yang luar biasa dari instansi terkait.

Selain itu, UMKM Center perlu dikelola dengan pola profit oriented sehingga mampu membiayai operasionalnya sendiri tanpa subsidi anggaran dari instansi terkait. Semoga masukan dan saran kami ini bisa memberikan wacana bagi daerah-daerah yang ingin membangun UMKM Center di masa mendatang. Sukses!