Laman

  • Home

Selasa, 06 Maret 2018

Trend Wisata Kuliner Saat Ini

Lumpia Gang Lombok, bukan sekedar lumpia melainkan nilai sejarah sebuah lumpia.
Potensi Lokal yang menarik dan bisa di kembangkan untuk menjadi salah satu daya tarik pariwisata di masing-masing daerah, adalah Wisata Kuliner. Berbagai negara sudah banyak yang berhasil mengembangkan Wisata Kuliner sebagai tujuan wisata, misalnya Malaysia, jepang, Korea, Thailand, dll sehingga menu-menu tradisonal khas Negara-Negara tersebut bisa di kenal luas di seluruh dunia. Alangkah di sayangkan jika Negara kita yang sangat kaya akan keragaman kuliner, jika tidak di kenal luas. Peranan terpenting dalam mengembangkan potensi kuliner lokal sebagai penggiat pariwisata, sangat tergantung dari dukungan masing-masing pemerintah daerah, dan juga kreatifitas dari pelaku usaha di bidang kuliner itu sendiri.

Pada awalnya, makanan hanya di jadikan salah satu pelengkap untuk kegiatan berwisata, namun sekarang ini sudah menjadi suatu trend dan menjadi salah satu daya tarik wisata di suatu daerah. Kegiatan berwisata dan mencicipi suatu makanan khas daerah, di kenal dengan istilah Wisata Kuliner. Karena makanan juga merupakan ekpresif identitas dan budaya.

Ada beberapa jenis Wisata Kuliner :


Urban Tourism : Wisatawan hanya sekedar berkunjung ke restoran atau tempat makan karena kebutuhan untuk makan dan minum selama berwisata, belum ada minat khusus untuk mengetahui lebih lanjut tentang makanan tradisional khas daerah tersebut.

Culinary Tourim: Wisatawan mengunjungi restoran, tempat makan, festival makanan khas suatu daerah, dengan ketertarikan sedang saja, karena menikmati menu lokal sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka, tapi belum ada minat khusus untuk belajar atau mengetahui lebih jauh tentang makanan tersebut.

Gastronomy Tourism / Cuisine Tourism: bepergian ke destinasi wisata khusus untuk menikmati makanan lokal, ke festival makanan, menikmati / mempelajari makanan lokal secara serius sebagai daya tarik utama dalam perjalanan wisata.

Dengan perkembangan jaman, dan banyaknya media yang mengulas tentang menu-menu khas tradisional di masing-masing daerah di Indonesia, kecendurungan trend wisata kuliner saat ini adalah ke arah Gastronomy Tourism / Cuisine Tourism. Di mana wisatawan selalu tertarik untuk mencoba dan mengenal lebih jauh tentang kuliner khas suatu daerah, kemudian pengalaman setelah menikmati makanan khas suatu daerah tersebut, banyak di share melalui berbagai media cetak, media online, media sosial, dll, sehingga menimbulkan minat orang yang melihat / membacanya untuk mencoba dan menikmati sendiri, sehingga timbul keinginan untuk datang ke suatu daerah dengan menu khas tersebut, untuk berwisata dan juga untuk mencoba aneka kuliner khasnya.

Contoh nyata untuk trend Gastronomy Tourism, misal pasar Papringan Temanggung yang sekarang ini sedang naik daun. Walau akses menuju lokasi cukup jauh, dan masuk ke sebuah desa di Temanggung dan harus datang pagi-pagi, terbukti banyak sekali wisatawan yang datang khusus ke Temanggung untuk menikmati kuliner tradisional khas sana.

Nah potensi lokal seperti ini yang harus di kembangkan di setiap daerah, agar bisa menjadi daya tarik khusus, sehingga bisa menyerap banyak lapangan kerja, dan memajukan pariwisata lokal, serta menunjang pertmbuhan ekonomi di bidang Pariwisita, misal dengan tingkat hunian hotel yang bagus, ramainya toko oleh-oleh, dll.

Potensi wisata kuliner lokal ada dua macam, yaitu kuliner yang benar-benar tradisional dan memiliki sejarah dan filosofi serta merupakan menu khas turun temurun suatu daerah, atau bisa juga menu modern atau kreasi baru yang menjadi trend atau icon kuliner khas yang banyak di minati wisatawan.

Di Semarang sendiri, banyak menu tradisional yang unik dan banyak ragamnya. Atraksi wisata Kota Semarang memang kurang, namun jika kita melihat potensi wisata kulinernya, nggak akan selesai di coba semua dalam tiga hari kunjungan ke kota Semarang. Banyak potensi kuliner unik dan enak khas Semarang. Baik yang otentik kuliner lokal Jawa atau yang perpaduan dengan kuliner Chinese, yang sudah menyatu secara harmonis di Semarang.

Contoh menu tradisonal khas Semarang, yang merupakan perpaduan kuliner Jawa dan Chinese, bisa di jadikan daya tarik wisata khusus, salah satunya Lumpia. Lumpia khas Semarang ini unik, karena merupakan akulturasi budaya chinese dan pribumi yang akhirnya menghasilkan suatu kuliner khas yang terkenal di Semarang yang bisa di nikmati oleh semua kalangan.

Pengenalan tentang Lumpia Semarang, tentang cara pembuatannya, tentang sejarahnya, tentang asal usulnya, tentu jika di kembangkan dan di buat paket wisata yang menarik, tentu akan lebih menjadi daya tarik bagi wisatawan, daripada hanya sekadar mencoba rasa Lumpia Semarang itu sendiri.

Apalagi jika dalam Paket wisata kuliner khas Semarang juga di kenalkan tentang sejarah Lumpia, proses pembuatannya, hingga mencicipi langsung Lumpia Semarang yang otentik, yang merupakan generasi penerus dari penciptanya, tentu akan menjadi salah satu daya tarik khusus, untuk memajukan Pariwisata di kota Semarang.

Berikut kutipan sejarah tentang Lumpia Semarang, yang jika di kemas bisa menjadi daya tarik khusus bagi wisatawan :

Pada abad ke 19 – seorang pendatang dari Fukien, Tjoa Thay Joe mulai berjualan Lumpia di Semarang, Dengan keahliannya ia meracik dadar gulung dengan isi daging babi dan rebung yang disebut dengan lumpia sekarang ini.

Tjoa Thay Joe rajin berdagang, setiap ada pasar malam di Olimpia park, Semarang yang diadakan oleh Pemerintah Hindia Belanda di tahun 1917.

ternyata ia tak sendiri, saat ia berdagang, ternyata ada seorang gadis yang bernama Mbok Wasi yang menjadi saingannya
Mbok Wasi, seorang wanita Semarang asli, yang berjualan lumpia dengan cita rasa Jawa yang manis, dengan isi telur, udang, rebung, wortel, dan sayuran lain.

Persaingan ini sangat keras, sehingga mereka saling meningkatkan mutu menu dagangan mereka

Pokoknya kalau Engkoh Tjoa jual 10 Lumpia , Mbok Wasi mesti jual 20 Lumpia setiap malam
Lantaran sering bersaing, mulai timbul cinta di hati Engkoh Tjoa, karena setiap hari pikirannya hanya ada pada mbok Wasi

Tidak disangka, pada suatu ketika Engkoh Tjoa datang ke tempat Mbok Wasi, dan kemudian melamarnya
Bermula dari saling bersaing, kedua orang itu malah akhirnya menikah (inilah “cinta lantaran bersaing”)

Mereka menikah dan membuat resep baru lunpia perpaduan dua resep asli Hokkian dengan resep lokal Semarang.

Resep baru itu meninggalkan daging babi, kol dan wortel. Yang dipakai tinggal rebung, telur, udang ditambah ikan kering (pihi), resep ini dibuat supaya kaum Bumiputera Semarang saat itu bisa menikmati Lumpia Tjoa -Wasi

Cinta mengawali kisah sukses Lunpia Semarang, perpaduan Limpia Hokkien dan Semarang yakni . “Loenpia Tjoa-Wasih”
Lumpia yang dijajakan dengan gerobak dorong selalu dinanti oleh penggemarnya saat itu.

Sampai pada akhirnya pada tahun 1930 Tjoa Thay Joe tutup usia.
Dia mewariskan resep cintanya kepada putri tunggal Tjoa Po Nio dan menantunya Siem Gwan Sing.

Mbok Wasi mengawasi anak dan menantunya mejalankan bisnis lumpia.

Hingga tahun 1956, Mbok Wasi menyusul suaminya pada usianya yang ke-90 tahun

“Loenpia Tjoa-Wasih” adalah resep lunpia tertua di Semarang yang sekarang dikenal dengan Lunpia Gang Pinggir.
Sampai pada generasi kedua, resep lunpia Thay Joe-Wasih masih tetap sama. di tangan cucu-cucu Thay Joe, resep ini mengalami pengembangan.

Saat ini lunpia paling terkenal dan tertua di Semarang adalah lunpia buatan salah satu kios Jalan Gang Lombok 11.
Purnomo Usodo alias Siem Swie Kiem (70), telah mematenkan lunpianya dengan nama Lunpia Semarang Gang Lombok di tahun 1996.
 
Sama dengan Gang Lombok Lunpia Mbak Lien ditambahi irisan ayam kampung yang punya aroma khas. Pemiliknya adalah Mbak Lien alias Siem Siok Lien (45).
Jika dirunut, Lien adalah generasi keempat dari dinasti lunpia Tjoa Thay Joe-Wasi

Lien meneruskan resep yang dikembangkan ayahnya yang sedikit berbeda dengan resep asli kakek buyutnya, Thay

Ternyata, persaingan usaha yang berbuah cinta telah melahirkan resep canggih Lumpia Semarang
Kalau kita bisa hidup bersama dalam perbedaan, akan timbul kreatifitas yang melahirkan ciri khas sebuah bangsa. ( Sumber : forum penggiat Wisata Semarang )


Dari proses pembuatan kulit Lumpianya yang unik, yang di besetkan di wajan, bukan di dadar, sebenarnya juga bisa menjadi daya tarik khusus untuk Gastronomy kuliner, belum tentang keberagaman isi dari Lumpia Semarang itu sendiri. Walau sama-sama rebung, namun Lumpia ada berbagai versi isian.

Sayangnya, kendala utama adalah dukungan pemerintah yang kurang tentang promosi Pariwisata khusus seperti ini. Di daerah Kranggan Semarang, sebenarnya ada satu sentra usaha pembuatan kulit Lumpia yang tentu akan menjadi daya tarik khusus, jika di kembangkan menjadi salah satu kampung Tematik, seperti yang baru-baru ini jadi trend. Sayangnya sentra tempat pembuatan kulit Lumpia di daerah tersebut terkesan kumuh, karena menyatu dengan pemukiman warga, jadi kurang menarik juga jika di kunjungi oleh wisatawan. Padahal apabila di tata dengan baik dan di bina oleh Pemerintah, tempat tersebut bisa menjadi daya tarik wisata khusus di Semarang.

Selain makanan atau kuliner tradisional yang sudah manjadi aset budaya, trend kuliner saat ini juga mengalami berbagai macam kemajuan, dan itupun bisa menajadi potensi lokal yang menarik. Misal, kuliner khusus khas Ungaran, tahu Bakso, walau terkesan kuliner modern, namun sudah terbukti bahwa oleh-oleh khas Ungaran ini banyak di buru pecinta kuliner.

Contoh lain di Yogya, jika dahulu gaplek, Tiwul, gathot adalah makanan kelas bawah yang harganya murah, dan hanya di nikmati di pedesaan, sekarang ini justru menjadi makanan mewah yang banyak di buru oleh wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Wisatawan rela menempuh perjalan jauh hingga ke Gunung Kidul atau daerah selatan Yogyakarta, hanya untuk berburu kuliner tradisional khas Yogya ini.

Ada lagi wisata kuliner olahan Singkong di Salatiga. Berawal dari salah satu pengusaha Gethuk tradisional yang legendaris, dan banyak di buru pecinta kuliner, sekarang ini di sekitar daerah produksi Gethuk tersebut juga banyak restoran atau toko oleh-oleh dengan beragam olahan dari singkong. Dan sudah terbukti banyak di kunjungi wisatawan dari luar kota. Jadi walau tidak ada tujuan wisata khusus ke Salatiga, namun kuliner khas aneka olahan khas suatu daerah, baik tradisional atau modern, bisa daya tarik potensi kuliner lokal pun bisa mengundang wisatawan untuk datang dan berkunjung ke suatu daerah.

Tentunya daerah lainpun juga punya banyak potensi lokal khas daerah, terutama kulinernya yang bisa di kembangkan dan di jual menjadi daya tarik wisata khusus. Hanya perlu tangan-tangan kreatif yang bisa menyulapnya menjadi lebih terkenal atau mengembangkan menjadi suatu trend kuliner khusus yang menarik banyak wisatawan.

Jadi kesimpulannya, kita yang ingin berkecimpung di bidang kuliner, hendaknya bisa menciptakan trend kuliner baru, atau bisa juga mengusung kuliner tradisional yang masih asli, dalam bentuk yang lebih menarik, sehingga bisa ikut berpatisipasi dalam mengolah potensi lokal untuk mendukung perkembangan pariwisata.

Contoh nyata dari usaha penggiat kuliner tradisional yang berhasil, di Yogya. Di Yogya ada sentra kuliner Ingkung di daerah Bantul. Ayam Ingkung adalah menu tradisional yang penuh filosofi dan biasa di sajikan di upacara tradisional Jawa Tengah, khususnya di Yogya. Karena biasa di sajikan di acara khusus, sebelumnya tidak banyak wisatawan mengetahui tentang kuliner Ingkung ini. Namun dengan adanya satu pelopor yang membuka restoran khusus dengan menu Ingkung ini, di ikuti oleh restoran atau rumah makan lain yang juga menyajikan menu Ingkung ini, saat ini di Yogya di daerah Bantul sudah berhasil menjadi sentra destinasi wisata kuliner khusus, yaitu olahan Ingkung, yang sudah di kenal luas secara nasional, apalagi di dukung oleh berbagai liputan media nasional, internet, blogger yang banyak mengulas tentang kuliner ini, dll.

Jadi, sebagai pelaku di bidang kuliner, hendaknya kita bisa jeli mengambil peluang, potensi apa yang bisa di kembangkan dari daerah kita masing-masing, kita bisa mengangkat unsur tradisonal yang masih asli, atau memberikan sentuhan kreatifitas baru menggunakan bahan-bahan lokal, unik dan khas daerah, tentu akan menjadi daya tarik wisata minat khusus dalam mengembangkan pariwisata daerah.

Jadi kesimpulannya, Potensi lokal yang berupa makanan tradisional suatu daerah, dapat berdampak positif dalam perkembangan Kepariwisataan. Kekayaan sumber bahan makanan lokal / tradisional juga perlu di manfaatkan, di lestarikan dan juga dikembangkan agar lebih menarik. Pelaku usaha di bidang kuliner tradisional juga harus di berikan bimbingan dan pengarahan tentang masalah tehnik pengolahan yang benar, higienis, tehnik pengemasan, penyajian yang artistik, dan lain-lain yang menjadi kewajiban dari Dinas-Dinas terkait.