Laman

  • Home

Sabtu, 20 Januari 2018

Antara Online dan Offline

Antara Offline dan Online

Hampir semua produk bisa dipasarkan secara online, namun tidak semua UMKM bisa mengikuti perkembangan jaman tersebut. Memaksanya? Tentu bukan hal yang bijaksana ketika memang latar belakang dan usianya tidak memungkinkan ke arah sana belum lagi mungkin produk dan jangkauan produknya masih lebih cocok dipasarkan secara offline.

Pendapat saya sekilas akan terlihat bahwa saya memungkiri perkembangan teknologi digital saat ini, namun ternyata masih banyak ruang yang belum terpengaruh pemasaran digital. Dan harus saya akui bahwa hal ini terjadi belum lama ini dalam aktivitas pemasaran produk UMKM kami. Mengapa demikian?

Sementara orang bilang bahwa memasarkan produk (dalam hal ini adalah produk furniture dan handicraft) akan lebih efisien dan efektif dengan digital marketing, tetapi ternyata teknologi digital tidak menjangkau customer-customer lama kami yang usianya di atas 50 tahun. Mereka datang ke Jawa Tengah untuk mencari supplier bukan karena mereka melihat search engine dan social media melainkan mengandalkan "referensi" dari orang-orang yang mereka kenal bekerja di bidang bisnis mereka. Bahkan handphone mereka pun masih menggunakan versi lama yang tidak menggunakan android, dan percayalah bahwa ini benar-benar masih ada.

Beberapa buying agent dan buyer yang kami kenal masih bertahan dengan bisnis mereka masih seperti ini, dan terpaksa kami harus tangani mereka dengan cara-cara yang konvensional pula. Ternyata ketika kami tanya mengapa mereka lebih percaya referensi dari seorang teman daripada search engine dan social media, jawab mereka adalah mereka masih lebih percaya pada hal yang "riil" (menurut mereka). Inilah beberapa kondisi yang harus kita terima bahwa pemasaran offline pun masih perlu kita kuasai dari selain pasar online.

Apalagi yang membuat mereka lebih memilih offline? Adalah karena desain mereka akan tetap terjaga kerahasiaannya sehingga terhindar dari kegiatan duplikasi dari pihak lain. Bisnis furniture dan handicraft terkait erat dengan desain produk, dan hal ini sering menjadi strength point mereka dalam pemasaran. Para buyer akan berusaha semaksimal mungkin agar desain mereka tidak menyebar dengan liar, apalagi jika sudah terunggah di internet.

Pasar khusus (niche) yang dilayaninya juga menjadikan pertimbangan bahwa mereka tidak perlu mempublikasikan bisnis mereka melalui internet. Beberapa bisnis yang memiliki pasar khusus memang tidak perlu menjaring pasar mereka melalui internet, karena mereka paham benar siapa pasar mereka dan berupaya menjaga "ketertutupan" informasi ini dengan sebaik-baiknya.

Kenyataan-kenyataan di atas adalah yang memberikan kesadaran kepada saya bahwa masih ada bisnis yang masih dijaga tetap offline karena kondisi-kondisi diatas. Sehingga ketika menentukan strategi pemasaran dalam hal kanal distribusi kita dituntut memahami benar apa produk kita dan siapa pasar kita sehingga kita akan dengan lebih tepat memilih kanal distribusi yang sesuai.