Laman

  • Home

Kamis, 28 Desember 2017

Haruskah Produk UMKM Masuk Ke Jaringan Retail Modern?

Image result for supermarket
Produk UMKM tidak harus selalu dipasarkan ke jaringan retail modern.

Kasak-kusuk tentang beberapa permasalahan supply produk UMKM di jaringan retail modern sudah sering kami dengar, mulai dari masalah tempo pembayaran dan proses penagihannya, barang retur, pajak bagi supplier PKP dan sebagainya. Ada sementara UMKM yang mengiyakan permasalahan ini namun ada juga yang menyangkal permasalahn tersebut, namun harus diakui banyak yang mengiyakan permasalahan di atas.

Beberapa UMKM binaan kami sebelum masuk jaringan retail modern selalu kami tanyakan apakah memang harus ke retail modern? Apakah tidak ada alternatif pasar yang lain? Pada beberapa klien yang terakhir kami jusru mengajak mereka mengembangkan konsep membangun pasar mereka sendiri dengan konsep yang kretif.

Biasanya ada beberaoa daftar pertanyaan yang sering saya ajukan kepada para UMKM ketika memiliki keinginan masuk ke pasar modern, antara lain:
  1. Apakah produk mereka memang harus masuk retail modern? Tidakkah ada alternatif lain? Para pelaku UMKM harus benar-benar memahami karakter produk dan segmen pasar untuk produknya sebelum memutuskan untuk memilih pasar modern untuk menjadi channel distribusi produknya. Pastkan produk-produk yang fast moving saja yang diarahkan ke pasar modern, seperti produk-produk kebutuhan pokok yang pasti dibeli customer.
  2. Apakah mereka sudah mencermati siapa pengunjung dan pembeli retail modern tersebut sebelum memilih retail sebagai channel distribusinya? Karena setiap retail modern memiliki segmen pasar masing-masing. Mengenali pasar retail modern tersebut merupakan hal yang paling mendasar bagi para pelaku UMKM yang ingin memasok retail modern.
  3. Setelah dua hal tersebut di atas, maka yang perlu diperhatikan oleh pelaku UMKM adalah mengenai kualitas produk dan daya tahan produk selama dalam distribusi dan penyimpanan. Produk yang fast moving dan tahan lama memberikan peluang yang minimum terhadap rugi akibat adanya sistem retur dari retail modern, jika diperlukan tarik barang sendiri sebelum mendekati kedaluwarsa sehingga masih sempat dipasarkan di pasar tradisional sebelum masa kedaluwarsa mendekati batas.
  4. Apakah sudah diperhatikan kemasan produknya? Apakah kemasan tersebut akan mampu memberikan dampak ketertarikan kepada customer? Desain kemasan produk di retail modern harus benar-benar bagus karena kesempatan menarik perhatian customer adalah pada kemasan produknya.
  5. Apakah HPP dan Harga Jual sudah diperhitungkan dengan benar? Apakah profitnya cukup aman untuk pembayaran mundur dan beban biasa distribusi ke gudang dan penagihan?
  6. Apakah sudah memperhitungkan modal usaha dengan proyeksi cash flow sebagai dampak dari pembayaran tempo dari retail modern. Banyak sekali pelaku UMKM "terbenam" dalam permasalahan ini karena kehabisan modal dalam perjalanan, sebelum tagihan dari retail modern cair.
  7. Jika pelaku UMKM adalah PKP maka beban pajak 10% akan menjadi hal yang serius bagi cash flow UMKM, karena beban pajak tersebut adalah sepenuhnya 10%, karena untuk UMKM yang adalah adalah PPN out sementara PPN in tidak ada sehingga selisihnya adalah tetap 10%. Kadang masih lebih menguntungkan jika memasok retail modern sebagai perusahan non PKP.
  8. Apakah pelaku UMKM sudah memiliki kemampuan administrasi yang baik, terkait dalam penerimaan PO, produksi, supply dan pengiriman barang serta penagihannya? Banyak kejadian pembayaran bermasalah karena pelaku UMKM tidak memiliki sistem administrasi yang baik.
  9. Apakah pelaku UMKM mampu membaca kontrak dengan baik?Apakah produk dan usahanya telah memiliki legalitas yang lengkap dan semua legalitas dalam kondisi valid?
  10. Apakah pelaku UMKM sudah mantap dengan plihannya? Apakah tidak ada alternatif lain untuk memasok vendor yang sudah ada saja?
Beberapa pertanyaan mendasar tersebut akan kami tanyakan kepada para binaan kami sebelumnya, agar pada akhirnya mereka memiliki persiapan yang "sangat" matang sebelum mereka menjadi vendor retail modern. Tugas kami adalah agar mereka terbiasa mempersiapkan dan merencanakan bisnisnya dengan matang sehingga akibat-akibat yang negatif bisa lebih minimum.

Haruskah ke Retail Modern?


Banyak yang beranggapan bahwa retail modern atau pasar modern memiliki dampak pengembangan brand yang lebih baik dari pasar tradisional namun bagi kami untuk sementara waktu adalah melihat dampak ini dari volume penjualan mereka di pasar modern. Jika penjualan mereka di pasar modern volumenya kecil, maka dampak pengembangan brand di pasar modern tidaklah signifikan. Apalagi ketika produk UMKM sudah masuk di pasar modern, si pemilik brand tidak melakukan usaha apa-apa dalam mempromosikan produknya.

Sebenarnya ada alternatif lain, sama-sama menggarap pasar modern, yaitu eCommerce atau pasar online. Pasar ini relatif lebih menguntungkan produsen (penjual) karena disamping pembayaran cash juga menawarkan jangkauan yang luas. Memang tidak semua produk bisa di-online-kan namun dengan kreativitas teknologi maka hampir semua produk bisa ditawarkan secara digital.
Sebagai produsen, pelaku UMKM perlu memiliki kemampuan untuk melakukan positioning yang tepat, bahwa mereka tidak mencari end user melainkan mencari reseller, agen atau disributor. Di pasar online pun mereka seharusnya memilih penjualan partai besar agar rantai perdagangan bisa lebih panjang dan kesempatan orang untuk terlibat dalam bisnisnya bisa lebih besar. Seringkali para produsen justru berkutat dengan penjualan retail ke end user yang memakan waktu dan tenaga mereka dalam pemasaran, hal ini perlu dibenahi. Ecommerce sangat cocok untuk pedagang atau reseller/agen/distributor bukan untuk produsen langsung. 

Masih ada peluang lain lagi dalam sebgai alternatif, yaitu mengincar pasar khusus atau membangun market sendiri berdasarkan kemampuan kita membangun peluang kebutuhan dari customer. Konsep ini memang cukup "berat" bagi para pelaku UMKM namun hal ini yang saat sekarang kami kembangkan untuk UMKM-UMKM yang sudah siap berkembang dan sekaligus membangun brand-nya.

Terakhir, jangan lupa menggarap pasar tradisional karena pasar ini justru semakin ditinggalkan oleh para pelaku UMKM padahal prospeknya bagus dan pembayarannya bisa cash. Dengan konsep yang menarik pelaku UMKM bisa menjadi "bintang" di pasar tradisonal dan bahkan bisa menjadi besar dari pasar tradisional.