Laman

  • Home

Sabtu, 09 Desember 2017

Berburu Tenun Lurik di Klaten dan Yogyakarta

Workshop LURIK PRASOJO di Pedan, Klaten
Butuh keseimbangan dalam pembinaan UMKM yang kami lakukan, karena selama ini kami banyak sibuk dengan produk pangan maka dalam jadwal akhir tahun yang agak longgar ini kami ingin melihat produk non food yang saat ini banyak ditanyakan oleh pasar. Produk apakah tersebut? Tenun lurik, dan beberapa nama produsen memang sudah kami kenal yang selanjutnya akan kami jadikan target kunjungan kami di akhir minggu ini.

Lurik Prasojo adalah target pertama kami, karena kami ingin melihat dari dekat produksi tenun lurik yang saat ini mulai berkurang di sentra tenun Pedan, Klaten. Fasilitas produksi yang juga dilengkapi dengan outlet penjualan ini merupakan tempat yang ideal untuk kami kunjungi, apalagi kami memang telah mengenal produsen ini sejak lama. Lurik Prasojo sendiri telah mengawali bisnis sejak tahun 1950 dan masih bisa bertahan sampai sekarang karena mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar.

Kemampuan mereka dalam melakukan kombinasi bahan tenun, lurik dan batik menjadi salah satu kiat dalam bertahan dalam bisnis ini. Tenun lurik saat ini tidak sekasar jaman dahulu, bahkan motifnya pun sangat beragam. 

Kombinasi tenun lurik yang menawan.

Bertahan sejak tahun 1950
Sama seperti batik, tenun lurik juga merupakan warisan dari generasi sebelum-sebelumnya dan Pedan merupakan sentra tenun yang kita kenal. Namun jika dibandingkan dengan 10 - 15 tahun lalu, saat kami masih sering datang ke Pedan untuk membeli kain tenun ATBM maka kami melihat banyak banyak pemain yang sudah tutup dan hanya tinggal beberapa pengrajin yang mampu bertahan.

Perlu upaya promosi dan mengangkat tenun lurik kembali bangkit seperti dulu. Bahan baku, desain dan cara pemasarannya pun harus banyak beradaptasi dengan perubahan pasar yang terjadi sekarang. 

Untuk desain, dalam hari yang sama kami juga akan melihat salah satu desainer tenun lurik yang cukup dikenal di Yogyakarta, yaitu Lulu Lutfi Labibi di daerah Pekaten, Kota Gede - Yogyakarta. Kami akan melihat bagaimana trend fashion dengan bahan baku tenun lurik saat ini di studio Lulu Lutfi Labibi yang sering megikuti pameran fashion di kiblatnya fashion dunia di Paris.

Stuio unik Lulu Lutfi Labibi

Koleksi Lulu Lutfi Labibi
Studio berkonsep vintage ini seakan menyatu dengan koleksi busana tenun lurik
Setiap bisnis memiliki konsep yang berkarakter kuat, yang mampu menjadi magnet bagi pengunjung.
Di studio Lulu Lutfi Labibi ini, harus kami akui desain-desainnya sangat berbeda jauh dengan apa yang sering saya lihat pada karya-karya pelaku UMKM yang sering mengikuti pameran di Jawa Tengah. Sudah saatnya para pelaku UMKM berkolaborasi dengan para desainer yang memiliki pemahaman bahan, trend dan fashion yang lebih baik dari pelaku UMKM yang berbasis pada produksi.

Kami sering melihat bahwa para produsen batik dan tenun menjadi fashion desainer dadakan dengan latar belakang pengentahun mengenai fashion yang masih sangat kurang. Serahkan pada ahlinya, mungkin adalah istilah yang tepat untuk mengomentari masalah ini. Bagaimana kami melihat produk hasil dari desainer ini benar-benar memiliki kelasnya meskipun bahan yang dipakai untuk membuat produk tersebut adalah sama. 

Studio kecil Lulu Lutfi Labibi ini benar-benar telah menjadi daya tarik sendiri untuk dikunjungi para penggemar fashion berbahan tenun lurik, karena memang berbeda dari kebanyakan yang ada di pameran lokal. Kami terkesan dengan produk-produknya, terutama saat membeli produk tersebut yang dikemas dengan sangat menarik dan menghargai pelanggannya.