Laman

  • Home

Rabu, 15 November 2017

Retail Memasuki Awal Masa Sulit

Bisnis retail sedang memasuki masa-masa sulit.
Ini adalah saat-saat yang dilematis untuk kami, di satu sisi kami harus bisa membukakan akses pasar untuk produk-produk UMKM di pasar moder (retail) tetapi di sisi lain kami menghadapi fakta bahwa saat ini adalah masa-masa sulit bagi bisnis retail. Mulai ada keraguan di pihak kami untuk melanjutkan program ini, karena dampak pembayaran dari pihak buyer kepada UMKM bisa terpengaruh bahkan terburuknya tidak terbayar.

Tidak mudah untuk menyampaikan hal ini kepada para pelaku UMKM, meskipun ketika nanti mereka ada masalah degnan pihak pasar modern, mereka pasti akan datang kepada kami untuk membombardir kami dengan rangkaian pertanyaan dengan bumbu keluhan. Kami harus bisa menjelaskan kepada mereka dengan cara yang lebih sederhana karena mereka tidak tahu benar situasi perubahan yang terjadi saat ini.

Pasar saat ini telah didominasi oleh generasi milenial, sehingga perilaku konvensional telah berubah dengan perilaku pasar milenial. Inilah yang membuat perubahan-perubahan yang terjadi dipasar begitu cepat, terlebih saat ini kita memang telah memasuki masa transformasi digital. Hal inilah yang memicu banyak perubahan di berbagai aspek kehidupan dan gaya hidup.

Awalnya menurunnya penjualan di bidang retail adalah dikarenakan penurunan daya beli masyarakat. Mungkin benar, tetapi mungkin juga hal ini bukan penyebab yang dominan karena berdasarkan penelitian pendapatan perkapita tidak mengalami penurunan, justru ada kenaikan meskipun tipis. Namun jika kenaikan ini dicermati, bukan terjadi pada pasar menengah ke bawah yang mendominasi pasar melainkan pasar menengah ke atas.

Ada dugaan bahwa pembeli offline sudah beralih ke online, tetapi ketika dilihat dari data statistik justru penjualan online pun mengalami penurunan sehingga teori ini perlu ditinjau kembali. Teori ini justru berkorelasi dengan dengan menurunnya daya beli masyarakat, meskipun ternyata bukan masalah yang mendominasi.

Ternyata ada fakta lain yang tumbuh pesat di luar dugaan, yaitu bisnis pariwisata. Hal ini yang menjawab pertanyaan saya sebelumnya, mengapa pertumbuhan hotel sedemikian pesat? Ternyata memang demand di bisnis pariwisata ini sangat luar biasa sehingga banyak investor berani berspekulasi dengan kondisi ini. Ya, dan hal ini dibenarkan oleh tulisan Bapak Yuswohady bahwa kebutuhan pasar telah bergeser, bukan lagi kepada kebutuhan pokok melainkan kepada wisata dan gaya hidup. Inilah fakta yang harus kita sikapi dengan benar, karena jika ditarik benang merah memang efek "kemudahan" belanja online di bidang pariiwisata saat ini benar-benar memicu dan memacu laju pertumbuhan bisnis pariwisata. Cepat, mudah dan murah merupakan alasan mengapa orang memilih layanan travel online. 

Alokasi dana untuk pergeseran kebutuhan inilah yang ternyata menjadi lebih dominan daripada penurunan daya beli yang secara tidak langsung mempengaruhi belanja mereka ke pasar retail. Inlah yang harus disikapi oleh para pelaku usaha terutama para pelaku UMKM, terutama dalam menerapkan strategi pemasarannya di masa mendatang.

Orang sudah tidak melulu butuh barang, melainkan pengalaman dan hal ini bisa menjadi input dalam menyusun strategi marketing. Bundling, edukasi, pertambahan value dan histori bisa menjadi pertimbangan dalam berstrategi. Saat ini pasar sudah naik setahap, mereka sudah belajar mengenai "nilai" dan "benefit" apa yang mereka dapatkan dari sebuah produk.

Banyak retail modern mulai tutup.

Kenali pasar retail anda, sebelum anda memasoknya.

Demikian apa yang bisa saya share hari ini, semoga bermanfaat bagi teman-teman UMKM baik di Jawa Tengah maupun di Indonesia. Tetap semangat, anda bisa !