Laman

  • Home

Jumat, 10 November 2017

Mencoba Menyamakan Persepsi Industrialisasi UMKM

Produksi massal tidak harus oleh satu perusahaan
Jumat sore ini kami terlibat diskusi asyik mengenai konsep industrialisasi UMKM di Roemah Watu Lawang, di daerah Papandayan Semarang bersama tenant-tenant inkubator bisnis AKSI (Asosiasi Klaster Indonesia). Dalam acara ini sebenarnya saya diundang untuk memberikan sharing perkembangan pemasaran saat ini terkait dengan perkembangan teknologi digital yang sangat luar biasa dalam mempengaruhi aspek-aspek kehidupan.

Diskusi Jumat sore di Roemah Watu Lawang di Roemah Watu Lawang, bersama Inkubator Bisnis AKSI.
Mengapa kita terlibat dalam diskusi konsep industrialisasi ini? Ternyata para tenant ini diharapkan bisa dikembangkan ke arah industri. Nah, masalahnya adalah industri yang seperti apa dan bagaimana mencapaiknya itulah yang belum ada gambaran bagi para tenant inkubator bisnis ini. Kita harus menyepakati sebuah konsep industrialisasi terlebih dahulu sebelum membuat sebuah program ke arah sana.

Jika kita cermati saat ini, sudah mulai ada "ketidakpedulian" konsumen apakah itu produk industri atau produk UMKM selama kualitas yang mereka harapkan terpenuhi. Industri otomotif pun sudah sejak lama memberdayakan outsourcing komponen kepada UMKM. Beberapa industri saat ini mengeluhkan daya saing produk mereka terkait dengan masalah efisiensi dan produktivitas, tingginya beban usaha mereka mulai dari listrik, BBM, gas, UMR, jaminan sosial dan pajak membuat mereka sulit mencapai tingkat efisiensi dan produktivitas yang diharapkan.

Kecenderungan perkembangan bisnis saat ini pun tidak mengarah kepada konsep industrialisasi yang konvensional melainkan ke arah konsep jaringan, misalnya lihat saja: Gojek, Grab, Uber, AirBnB, BukaLapak, Tokopedia, Investrree dan sebagainya. BukaLapak dan TokoPedia sebenarnya telah membuat jaringan basis produksi meskipun belum sepenuhnya menerapkan konsep sentra jaringan produksi dimana ada standaridasi produksi dan produk karena memang fokus mereka adalah di pemasaran produk.

Apakah kita masih mau mengarahkan UMKM menuju konsep industri yang konvensional? Pasti akan semakin jauh perjalananan para pelaku UMKM ini, belum lagi gempuran biaya usaha seperti kami sebutkan di atas akan semakin berat ke depan. Konsep efisiensi dan produktivitas harus menjadi landasan dalam membangun konsep industrialiasi yang modern. Sebenarnya konsep sentra produksi sudah muncul sejak lama, namun perlu "di-digitaliasi" menajemannya. Sentra inipun harus berpola klaster sehingga setiap komponen industri sudah masuk di dalamnya, mulain dari supply bahan baku, penyedia teknologi, fasilitas produksi, failitas pemasaran, fasilitas pembiayaan, fasilitas distribusi dan sebagainya.

Terlebih lagi standarisasi kualitas akan menjadi tuntutan pasar dan harus mendapatkan perhatian yang sangat mendasar. Mulai dari bahan baku, proses maupun hasil akhir. Jika memang tujuan industri adalah untuk produksi massal dan penyerapan SDM maka dengan sistem sentra berpola klaster ini semua tujuan tersebut telah terpenuhi.

Jangan memaksa UMKM melompati "gap" yang lebar untuk menjadi industri, sistem sentra berpola klaster adalah cara yang bijak untuk membuat industrialisasi UMKM. Digitalisasi manajemen jaringan bisa segera dipercepat sehingga bisa segera muncul sistem sentra berpola klaster ini.

Demikian diskusi kami sore ini, dan semoga diskusi ini bisa menjadi sumbang ide dan saran kepada para pemangku kebijakan. Semoga sukses pembangungan industrialisasi UMKM yang dicita-citakan.