Laman

  • Home

Sabtu, 18 November 2017

Ketika Pasar Bergeser ke Pariwisata, Justru Peluang Pasar di Daerah Semakin Terbuka

Pasar produk UMKM di daerah semakin terbuka
Ketika pasar retail menurun, maka beberapa pihak berasumsi bahwa daya beli masyarakat menurun dan pasar bergeser ke online, ternyata asumsi itu tidak sepenuhnya benar. Daya beli masyarakat masih belum pada posisi yang memprihatinkan dan pasar online pun mengalami penurunan sebagaimana pasar offline. Ternyata yang tumbuh pesat adalah pasar pariwisata! (Baca: Benarkah Daya Beli Masyarakat Turun?)

DI sini kami melihat ada sebuah kecenderungan pergeseran pasar dari kota besar menuju kota kecil, selama kota kecil tersebut mampu menggarap pasar wisatanya dengan konsep-konsep yang menarik. Hal ini terbukti dengan konsep Pasar Papringan di Desa Ngadiprono, Temanggung. Ketika arus pengunjung wisata sudah mulai memasuki kota-kota kecil, maka peluang pemasaran produk UMKM dari daerah tersebut akan semakin besar. Jika selama ini pelaku UMKM harus mempromosikan dan memasarkan produk lokal ke kota besar maka sekarang ini saatnya mereka bisa berjaya di daerahnya sendiri.

Pentingnya Sebuah Konsep Pariwisata yang Menarik.

Apa sebenarnya yang dicari para penduduk kota di daerah? Pastinya adalah sesuatu yang tidak bisa mereka jumpai dalam keseharian mereka, bukan sekedar produk melainkan juga sebuah pengalaman. Seperti apa contohnya: makanan khas daerah yang hanya ada di suatu daerah, suasana khas daerah, lingkungan yang asli dan asri, kesenian dan kebudayaan daerah yang memungkinkan mereka bisa berbaur di dalamnya, edukasi atas sesuatu hal yang bisa mereka ikuti dan sebagainya.

Dibutuhkan seorang konseptor hebat yang mampu menangkap nilai-nilai kearifan lokal dan mampu mengembangkannya menjadi daya tarik wisata tanpa harus menjadi modern, karena "modernisasi" bukan sesuatu yang dicari oleh wisatawan yang notabene sudah jenuh dengan modernisasi. Konsep sustainable, local, original (organic) & wholesome (healthy) akan berlaku untuk konsep-konsep ini.

Belum banyak konseptor yang bisa hadir di daerah, sehingga diperlukan upaya pemerintah untuk merekrut para konseptor untuk membantu konsep-konsep wisata di daerahnya. Kami justru sering pemerintah daerah membuat konsep wisata yang bersifat instruksi, bukan pemberdayaan masyarakat, sehingga hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Akan hadir nanti, konseptor dan ahli pemberdayaan masyarakat selain dukungan dan fasilitasi dari pemerintah daerah.

Banyak potensi yang bisa digarap, misalnya: bagaimana menjual "kehidupan" nelayan kepada wisatawan dimana wisatawan bisa ikut merasakan kehidupan menjadi seorang nelayan dengan cara tinggal di kampung nelayan (yang tentunya sudah ditata sesuai kebutuhan pariwisata), ikut melaut bersama nelayan (tentunya dengan pertimbangan safety bagi wisatawan), ikut melelang ikan di pasar ikan yang nantinya akan dikelola juga sebagai pusat kuliner laut yang menjadi daya tarik wisatawan.

Harus ada yang melakukannya, karena kita melihat Indonesia kaya akan potensi seperti ini. Setelah konsep ini mampu diterapkan dengan sistem pemberdayaan masyarakat, maka upaya promosi pun perlu mendapatkan porsinya. Saat ini teknologi digital sudah banyak perannya dalam promosi sehingga teknologi digital bisa dimanfaatkan. 

Peluang Pemasaran Produk UMKM Terbuka.

Kendala pemasaran produk UMKM adalah pada "produk"-nya, "pasar"-nya dan juga "branding"-nya. Masalah di produk adalah pada legalitas dan kualitasnya, baik produk maupun kemasannya. Masalah pasar adalah masalah mereka tidak bisa melakukan segmentasi, targeting dan positioning produknya, dan selebihnya lagi masalah distribusi. Masalah branding tentunya lebih kepada bagaimana pelaku UMKM mampu melakukan komunikasi dengan pasar.

Masalah distribusi akan banyak terselesaikan ketika pasar justru datang ke sentra produksi dengan daya tarik wisata ini, termasuk juga masalah branding juga sedikit banyak terpecahkan di sini. Peluang pemasaran produk UMKM di daerah aslinya akan terbuka dengan cara seperti ini. Kesempatan berbisnis bagi pihak pedagang di daerah juga terbuka, mereka bisa membuka toko oleh-oleh di daerahnya sendiri.

Jadi sebenarnya pergeseran pasar yang terjadi saat ini, jika disikapi secara positif juga bisa membangun peluang yang ada di daerah. Sudah saatnya terjadi pemerataan kemakmuran dari kota besar ke kota kecil.