Laman

  • Home

Sabtu, 02 September 2017

Kadang Bukan Sekedar Produk, Melainkan Ritualnya.

Image result for kopi aceh
Kopi Aceh, yang menarik adalah ritual pembuatan kopinya.

Produk makanan dan minuman harus tetap menyajikan cita rasa yang terbaik, namun dalam bisnis kadang hal itu belum cukup karena pesaing pun bisa melakukan hal yang sama.

Seringkali para pelaku UMKM luput mencermati sebuah strategi persaingan dengan cara menciptakan ritual yang demonstratif yang mampu memikat perhatian dari para pelanggannya. Memang kadang tampak sederhana, namun disitulah para pelaku usaha menunjukkan bahwa produk mereka adalah asli dan mereka trampil di bidangnya. Contoh nyata yang bisa dilihat adalah pedagang kopi aceh, pedagang martabak telur dan lain-lain.

Ritual dibangun untuk menciptakan keterlibatan, meskipun secara emosional. Misalnya ritual kopi lelet yang mampu memberikan sugesti kepada pelanggannya untuk melakukan ritual tersebut dengan ekspektasi cita rasa yang "lain".  Produk suatu merk biskuit yang harus diputar dan dicelup sebelum dinikmati dan sebagainya. Bahkan kadang semua hanya sekedar sugesti, namun tetap saja mempu menciptakan keterlibatan produk tersebut dengan pelanggannya.

Apakah para pelaku UMKM sudah memikirkan hal demikian ? Tentunya ada yang sudah melakukannya, tetapi pasti banyak yang belum memikirkannya apalagi mereka masih disibukkan dengan penyempurnaan produk dan kemasannya.

Ritual-ritual ini pasti tidak dibangun dengan seenaknya saja, karena harus memperhatikan karakter produk dan karakter pasarnya sehingga mampu menjamin mereka rela melakukan ritual tersebut. Salah memahami karakter produk dan pasarnya bisa mengakibatkan ritual tersebut justru merupakan kendala daya tarik produk tersebut. Misalnya orang yang suka menikmati teh, maka ketika disodorkan teh dalam poci seolah mereka menemukan cita rasa tersendiri dari teh tersebut. Sehingga teh poci memiliki persepsi yang kuat untuk urusan ini. 

Lokal, tradisional dan asli masih merupakan dasar konsep yang kuat bagi pasar. Produk-produk lokal yang khas memiliki peluang membuat ritual yang khas dan mampu menjadi daya tarik, misalnya: pecel pincuk, kopi bambu yang diciptkan Mas Yuri Dulloh dari Kebumen untuk membuat kopi racikannya bercita rasa khas dan sebagainya.

Besar harapan saya bahwa para UMKM ini naik kelas lagi dengan memahami konsep ini, bahwa mereka bukan lagi sekedar menjual produk namun menjual sebuah kultur yang tentunya bisa banyak memberikan keuntungan di masa mendatang karena penguatan persepsi (brand) atas produk mereka.