Laman

  • Home

Selasa, 19 September 2017

Benarkah Masalahnya Di Pemasaran ?

Image result for it is not about marketing
Pemasaran menemui jalan buntu jika produknya tidak mendukung.
Pada awalnya kami mencoba memahami keluhan para pelaku UMKM bahwa masalah utama mereka adalah pemasaran, namun dalam perjalanan pembinaan UMKM kami melihat bahwa ternyata bukan masalah pemasaran yang menjadi penyebabnya melainkan produk UMKM itu sendiri. Mengapa?

Upaya pemasaran berangkat dari produk yang dihasilkan oleh UMKM dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Jika produk yang dihasilkan oleh UMKM tidak sesuai dengan kebutuhan pelanggan, maka bisa dikatakan bahwa masalahnya masih belum beranjak dari produk UMKM tersebut.

Jangankan membahas kemasan, kita masih selangkah sebelum kemasan yaitu masalah produk, baik masalah legalitas produknya, kualitas, kapasitas dan kontinuitas supplynya. Ternyata justru kondisi ini lebih dominan daripada apa yang kami pikirkan sebelumnya, yaitu masalah pasar dan cara memasarkannya.

Tentu saja upaya pemasaran akan mengalami banyak hambatan jika produk yang dihasilkan oleh UMKM memang belum "layak dipasarkan', dan jika bisa dipasarkan pun kita akan menuai potensi komplain di kemudian hari.

Lantas apa yang mesti kita lakukan ?

Harus diakui bahwa kita sering salah dalam mengambil keputusan, jika permasalahannya masih berkisar di produk maka seharusnya bukan pelatihan pemasaran yang kita gencarkan kepada pelaku UMKM melainkan pelatihan produksi, baik pemahaman proses maupun teknologi produksi.

Banyaknya kasus komplain dari buyer harus kami sikapi dengan bijaksana bahwa kami terlalu cepat memperkenalkan "produk yang belum siap" kepada pasar. Belum lagi masalah perilaku UMKM yang belum profesional ketika melakukan perdagangan.

Sikap selektif dalam menyaring UMKM yang akan dipertemukan dengan buyer sudah menjadi prosedur mutlak yang harus dilakukan, agar kepercayaan buyer kepada produk UMKM secara keseluruhan tetap terjaga. Jangan hanya karena ingin mengejar target semu sesaat (solusi instan UMKM dapat buyer) tetapi justru mengakitbatkan kepercayaan buyer kepada produk UMKM  secara keseluruhan menjadi terganggu.

Kita pun harus pahamkan kepada UMKM produsen bahwa pemasaran bagi seorang produsen harus bertumpu pada "kekuatan produk" seperti pada keunikan, kualitas dan kemasan yang menarik. Mantapkan posisi ini terlebih dahulu, baru kemudian memahami pemasaran praktis bisa dilakukan.

Masalah penerapan teknologi produksi terbaru juga perlu dikemukakan, karena banyak UMKM masih menggunakan cara-cara yang konvensional sehingga bisa menjadi handicap saat mendapatkan pesanan dalam jumlah besar dan kontinyu. 

Kehebatan upaya pemasaran dan promosi bisa menjadi kontra produktif jika produk yang dipasarkan belum siap, dan UMKM harus benar-benar memahami hal ini. Pemikiran pada pengembangan bisnis jangka panjang harus menjadi acuan dalam pembinaan UMKM

Produk UMKM bukan alasan untuk berkelit dari masalah kualitas, dan kami yakin UMKM bisa beranjak ke level ini. Sukses !