Laman

  • Home

Minggu, 06 Agustus 2017

Pasar Papringan, Sebuah Brand Sosial Yang Akan Terus Mencuat Naik.


Pasar Papringan, Pasar Kuliner Tradisional
Jika minggu-minggu lalu saya belajar mengenai Co-Working Space, minggu ini saya benar-benar ingin belajar mengenai Sociopreneurship. Dan dari semua referensi yang ada saya lebih cenderung memilih "Pasar Papringan" di Ngadiprono, Temanggung. Mengapa? Karena saya kenal dengan creatornya dan sudah sejak lama beliau meminta saya mengunjungi karya luar biasanya ini.

Saya mengatakan hal ini luar biasa karena dalam sociopreunership ini mencakup banyak hal, antara lain: pemberdayaan masyarakat, pengembangan potensi produk, solusi pemasaran dan komunal brand. Jika selama ini apa yang kami kerjakan hanya bersifat parsial maka sociopreneurship bisa melakukan seluruhnya secara terpadu. Dan dari semua konsep yang ada dan saya tahu, hanya konsep Pasar Papringan (PasPring) sajalah yang saat ini membuat saya ingin mempelajarinya secara langsung.

Sebelumnya, Mas Singgih Susilo Kartono (creator PasPring) telah memberikan informasi mengenai bagaimana menjual sebuah "gerakan" bukan sekedar produk dan juga konsep pasar papringan ini kepada saya, tetapi dengan datang langsung dan membaur, tentunya banyak pelajaran yang akan saya dapatkan.

Yuk Ke Pasar Papringan di Ngadiprono, Kedu - Temanggung.
Pasar Papringan adalah pasar aneka kuliner tradisional yang sehat dan aman (tanpa penyedap buatan, pengawet dan pewarna buatan) yang buka setiap Minggu Pon dan Minggu Wage jam 6 sd 12. Biasanya belum sampai jam 10, dagangan sudah ludes diserbu pengunjung, yang saat ini sudah berasal dari berbagai daerah dan kota besar karena hembusan promosi di dunia maya.

Semua pedagang adalah penduduk kampung Ngadiprono yang telah diajari bagaimana membuat anekan makanan yang enak dan sehat, disamping diajarkan bagaimana menampilkan kearifan lokal.  Ada ratusan jenis makanan dari makanan besar maupun snack yang memang benar-benar tradisional dan merupakan warisan.


Persiapan menjelang buka pasar.
Semua tradisional dan sehat.
Satu hal yang menarik, di sini uang tidak berlaku melainkan uang PRING atau yang bambu, semua harga diharga dengan berapa pring. Benar-benar sebuah konsep transaksi yang menyatu dengan suasana pasar papringan ini.

Money changer, uang ditukar dengan uang pring.
Bagi saya ini adalah pameran kuliner tradisional terbaik di dunia, dibandingkan dengan pameran UMKM pangan yang selama ini saya kunjungi baik di Jawa Tengah maupun di kota-kota lain. Sebuah kekuatan konsep yang mampu menjadikan PasPring menjadi magnet yang kuat untuk menyedot pengunjung dari kota besar seperti Semarang, Jakarta, Bandung, Surabaya dan bahkan orang asing pun sudah mulai datang ke pasar ini.

Nganti di Kopi Papringan, di Smoking Area.
Makanan khas Temanggung, Lemeng Ubi, hanya ada di sini.
SPEDAGI (Sepeda Bambu) yang sudah tersohor itu pasti akan selalu ada di PasPring
Di PasPring ini suasana benar-benar dibawa ke arah "Balik Ndeso" dengan sajian kuliner yang Ndeso dan keramahan orang-orang Ndeso. Inilah nilai yang diangkat dalam konsep ini, sebuah konsep yang justru sering ditinggalkan para konseptor yang lain yang lebih cenderung bangga dengan konsep yang berasal dari negeri lain. 

Mas SInggih benar-benar paham apa yang dibutuhkan oleh pasar, terutama pasar orang asing, apa yang dimiliki kampung Ndeso adalah apa yang dibutuhkan oleh orang-orangn di kota besar dan orang-orang asing untuk dilihat dan dikunjungi. 

Foto bareng Mas SInggih dan 2 relawan dari komunitas bambu dari Jakarta.
Semoga sharing konsep ini mampu menggugah pemerintah untuk "kembali" diingatkan dengan konsep Ndeso yang sudah mulai kita lupakan. Dan semoga sharing ini bermanfaat.