Laman

  • Home

Senin, 07 Agustus 2017

Nilai "Guyub" Itu Masih Ada di Ngadiprono - Temanggung di Pasar Papringan

Pasar Papringan, Ngadiprono - Temanggung
Pasar Papringan menyediakan ruang belajar yang sangat luas kepada siapa saja yang ingin belajar sociopreneurship, secara praktis tentunya. Kami sudah sangat jenuh mendapati konsep-konsep pemberdayaan masyarakat bertajuk kampung wisata, desa wisata dan sebagainya yang ujung-ujungny adalah "instruksi" atau program dari pemerintah, atau setidaknya usulan dari sekelompok tertentu bukannya tumbuh dari keinginan masyarakat itu sendiri secara totalitas dalam meningkatkan kesejahteraan bersama.

Banyak cerita gagal yang kami dengar program-program desa wisata, kampung wisata, kampung batik dan apalah namanya, yang tentunya kami tidak ingin hal ini terjadi lagi. Pembelajaran kami di Pasar Papringan memberikan banyak pencerahan konsep pada sociotpreneurship yang selama ini kami tahu.

Seorang konseptor yang visioner seperti Mas Singgih Susilo Kartono merupakan kunci dari munculnya ramuan ide terintegrasi mengenai konsep pemberdayaan masyarakat, mulai dari pengembangan potensi lokal, solusi pemasaran dan membangun brand sosial dengan tajuk Pasar Papringan. Ternyata dari penuturan Mas SInggih sendiri, justru yang paling penting adalah "gerakan" yang tumbuh dari kampung tersebut (Ngadiprono) dalam membangun kebersamaan (guyub) dengan wujud sebuah pasar makanan dan jajanan tradisional yang kita kenal dengan Pasar Papringan.

Dibantu oleh Mas Imam yang merupakan penggerak masyarakat di Desa Ngadiprono yang tentunya juga didukung oleh lurah dan masyarakat setempat, pembinaan masyarakat dalam rangka mengangkat potensi lokal bisa dilaksanakan dengan sukses tanpa meninggalkan kearifan lokal berupa tradisi "Ndeso" dan "Guyub".

Tanpa berada di Desa Ngadiprono dan merasakan kearifan lokal setempat, mungkin kami hanya akan mendapatkan sebuah wacana saja. Kami benar-benar merasakan keramahan Wong Ndeso, ketulusannya dan gotong royong (guyub), dimana hal-hal tersebut semakin langka didapati.

Karena kunci utama sosiapreneurship bertajuk "Pasar Papringan" ini adalah guyub, maka kami pun mulai mencari apa sebenarnya membuat orang Desa Ngadiprono ini guyub dan padar akhirnya kami mendapatkan kesimpulan jawaban dari orang-orang kampung yang sempat kami ajak ngobrol.

Hal-hal yang membuat mereka guyub adalah:
  1. Sama tujuan, atau sama visi, yaitu ingin membangun kesejahteraan Desa Ngadiprono secara bersama.
  2. Menyadari kesamaan tugas, fungsi dan kewajiban mereka selaku anggota masyarakat.
  3. Menyadai bahwa apa yang mereka lakukan saat ini adalah untuk kepentingan bersama, bukan untuk masing-masing pribadi.
  4. Menyadari bahwa apa yang mereka bisa kembangkan dari potensi yang ada adalah apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat di luar Desa tersebut.
Sementara itu kami juga melihat bahwa persamaan yang terbangun di sana adalah karena mereka memiliki taraf hidup yang relatif setara dan mata pencaharian yang tidak jauh berbeda.
Ternyata nilai "guyub" yang semakin langka itu mampu menciptakan produk sosial berupa pasar yang menjual potensi-potensi lokal, dan mampu menjadi magnet yang luar biasa bagi masyarakat di luar daerah. Sudah pasti semua itu karena bantuan promosi melalui social media, tetapi jika kenyataan tersebut sesuai tentunya penyebaran melalui social media akan menjadi hal yang kontra produktif.
Kami berharap di Indonesia akan muncul orang-orang yang beride cemerlang seperti Mas Singgih, sehingga pemberdayaan masyarakat dalam artian yang sebenarnya bisa tercapai. Bukan karena instruksi dan program yang bersifat pencitraan, melainkan karena atas kemauan masyarakat itu sendiri.