Laman

  • Home

Sabtu, 12 Agustus 2017

Apa Yang Dicari Orang Kota Ada Di Desa

Image result for Life in Village
Suasana desa yang bisa dijual

Tulisan ini adalah untuk mengingatkan kepada masyarakat di desa bahwa mereka memiliki sesuatu yang sangat berharga di desanya, sehingga mereka tidak perlu lagi pergi ke kota untuk mengadu nasib yang lebih baik.

Dalam setiap perjalanan kami melakukan wisata alam, terlihat bahwa dari mereka banyak yang berasal dari kota-kota besar. Kesempatan berdialog mereka ibarat sebuah survery non formal yang bisa kami lakukan. Dan hasilnya? Hasilnya adalah sebuah jawaban yang bisa membuat masyarakat desa termotivasi untuk membangun desanya dengan konsep yang mampu mengangkat potensi asli daerah tersebut, tanpa polesan modern, sehingga mereka tampak asli tanpa riasan.

Kemampuan mengenali "nilai dan budaya" asli daerah tersebut dibutuhkan oleh para sosiopreneur di daerah tersebut agar mereka mampu mengembangkan sebuah konsep yang "original, unik dan khas" daerah tersebut. 

Mengenali Kebutuhan Pasar 

Apa yang dibutuhkan masyarakat perkotaan saat ini? Semua adalah apa yang tidak bisa mereka dapatkan di kota, misalnya: pemandangan dan suasana pedesaan, makanan dan minuman khas daerah tersebut dan edukasi memasaknya, serta budaya atau kesenian lokal yang unik dan memiliki nilai edukasi yang tinggi.

Dengan memahami kebutuhan tersebut di atas, anggap saja bahwa desa tersebut adalah sentra produksi "kearifan lokal" maka desa tersebut harus memproduksi (menciptakan):
  • Kondisi alam yang asli, yang tidak dipoles dengan modernisasi karena modernisasi tidak dibutuhkan oleh masyarakat kota.
  • Suasana pedesaan, dimana kultur pedesaan akan melekat didalamnya. Dimana tamu bisa menginap di rumah penduduk (home stay) untuk belajar apa yang dilakukan masyarakat desa mulai dari memasak, menyiapkan makanan, pergi ke sawah atau ke kebun, bagaimana mereka menikmati malam dan seterusnya.
  • Menyajikan makanan dan minuman khas daerah tersebut yang tentunya harus dikelola dengan cara yang "super" terkait dengan konsistensi cita rasa dan ke-otentikan rasa makanan dan minuman daerah tersebut. Selalu buat makanan yang sehat, tanpa penyedap, pewarna buatan dan pengawet karena masyarakat kota sudah tidak butuh itu.
  • Menyediakan pasar yang menjual produk-produk dari daerah tersebut, baik makanan dan minuman serta kerajinan yang mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Pasar yang dikemas unik akan menjadi daya tarik tersendiri.
  • Dan sebagainya.
Menggali Potensi Sumber Daya 

Tujuan dari konsep ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, sehingga potensi-potensi yang ada dimasyarakat harus dipetakan dengan sangat detail. Sebisa mungkin hindari produk yang tergantung dari daerah lain, atau dengan kata lain semaksimal mungkin memanfaatkan potensi asli dari daerah tersebut, termasuk sumber daya manusianya.

Buatlah semua pemandangan menjadi asli dan fotogenik, karena saat ini komoditas "selfie' menjadi sangat luar biasa dan bisa menjadi viral di media social. Terkait hal ini dibutuhkan orang yang mampu membuat desain estetika yang baik.

Buatlah semua tampak tradisional, tidak perlu ada modernisasi yang berlebihan. Misalnya, rumah kayu jauh lebih menjual daripada rumah tembok. Sumur dengan timba jauh lebih menarik dibandingkan dengan sumur pompa listrik.

Buatlah sesuatu yang unik. Sebagai contoh adalah apa yang kami temui di pasar papringan, dimana pemilihan pasar di kebun bambu merupakan hal yang unik bagi kami, belum lagi adanya pemakaian uang bambu (pring) untuk alat transaksi.

Meskipun harus tampil tradisional dan "Ndeso", buatlah kebiasaan yang bersih dan rapi. Bagaimana pun juga jika lingkungan dan rumah penduduk yang kotor dan berantakan, pastilah tidak akan menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Semua harus dengan konsep "sehat", karena hal ini menjadi "barang yang mahal" bagi masyarkat kota.

Mengelola Potensi dan Sumber Daya

Meskipun hal ini adalah bisnis sosial, profesionalisme pengolaan merupakan jaminan keberlangsugan usaha di masa mendatang. Perlu disadarkan kepada masyarakat desa bahwa ini adalah bisnis, bisnis social dan hospitality, sehingga mereka harus tampil alami namun profesional dan bersedia mengikuti aturan dan ketentuan yang diberlakukan oleh pengelola.

Sebuah organisasi usaha bisa dikembangkan untuk mengelola bisnis sosial ini, karena bisnis ini harus "profit" agar bisa bertahan dan berkembang.

Demikian apa yang bisa saya share kepada teman-teman di Desa, agar mereka termotivasi menjadi seorang sociopreneur. Mereka tidak perlu mencari nafkah ke kota, karena justru apa yang mereka miliki di desa akan menjadi komoditas yang dicari oleh masyarakat perkotaan.

Tetap semangat membangun desa sesuai dengan potensi dan kultur asli daerah tersebut.