Laman

  • Home

Minggu, 02 April 2017

Lagi, Masalah Kualitas & Workmanship


Lagi, Masalah Kualitas & Workmanship
Belum lama ini kami menerima kabar kurang bagus dari buyer kami (Jerman) tentang kualitas produk handicraft dari UMKM. Antara kualitas sample dan produk yang dikirimkan sangat jauh bedanya, dan disinyalir kegiatan quality controlnya kurang. Akhirnya buyer memutuskan untuk mengembalikan produk "reject" tersebut kepada produsen dan meminta pengembalian down payment kepada supplier.

Terlebih lagi, masalah ini yang melaporkannya adalah buyer bukan supplier tersebut yang merupakan salah satu binaan kami. Sebuah pelajaran berharga untuk kami agar selalu selektif dalam merekomendasikan supplier kepada buyer agar permasalahan ini tidak muncul lagi. Untunglah supplier pengganti yang kami rekomendasikan setelahnya bisa memenuhi kriteria yang diminta oleh buyer.

Kami tidak akan menyebutkan nama dan perusahaan yang terlibat dalam kasus ini, tetapi dari ilustrasi di atas jelas bahwa hubungan kami dengan buyer sangat baik sehingga kami bisa selesaikan ini dengan komunikasi yang baik. Tentang supplier yang tidak update informasi, kami anggap adalah masalah mindset dan sikap mental yang belum profesional.

Workmanship, Kualtias dan Detail
Workmanship

Kualitas selalu menjadi issue utama atas produk UMKM yang belum menerapkan menajemen mutu dengan baik. Hal mana menyebabkan kami kesulitan untuk selalu "bisa" merekomendasikan UMKM yang datang kepada kami kepada buyer. 

Filter utama kami adalah mindset dan sikap mental mereka terlebih dahulu, soal workmanship kami bisa bantu mereka sambil berjalan. Dari pengalaman kami, produsen "yang merasa selalu bisa" adalah potensi atas masalah sebagaimana kami ilustrasikan di atas. Sinyal tersebut adalah sinyal mengenai orang yang sudah tidak mau menerima masukan dan saran dan pada akhirnya sikap mereka ini menyebabkan mereka akan menghadapi masalah besar setelahnya.

Kami juga belajar dengan mengamati hal-hal yang selalu terjadi, dan kami mencatat. Oleh sebab itu dalam kesempatan ini kami ingin sedikit menyinggung masalah workmanship dan kualitas.

Kualitas adalah suatu kesepakan teknis mengenai apa yang diinginkan oleh buyer atas produk dan jasa yang diminta kepada supplier. Kemampuan menjabarkan detail atas kualitas ini kepada buyer merupakan sebuah tanggung jawab dari supplier agar permasalahan komplain di masa mendatang bisa dihindari karena adanya komunikasi kesepakan teknis yang dimaksudkan. 

Sementara workmanship pada umumnya mengacu pada kualitas pekerjaan yang jelas pada objek tertentu atau proyek kerajinan yang dibuat oleh pengrajin. Ada banyak dimensi, tergantung pada tujuan obyek, yang berkontribusi terhadap gagasan umum dari "kualitas kerja" dari suatu obyek. Dalam banyak kasus, utilitas praktis dari sebuah obyek adalah pentingnya detail dan pengerjaan yang dinilai hampir seluruhnya didasarkan pada seberapa baik obyek itu memiliki fungsi yang dimaksudkan. Dalam kasus lain, kesenian setidaknya sama pentingnya dengan utilitas praktis. Workmanship, tidak dapat dianggap sebagai ukuran benar-benar obyektif, karena sangat bergantung pada kebutuhan individu yang menggunakan obyek yang dibuat.
Tingkat workmanship tinggi tidak selalu menjadi tujuan dari proses perakitan, sebagai pekerjaan yang berkualitas tinggi cenderung berbiaya lebih daripada pekerjaan biasa. Dalam banyak kasus, kualitas dan harga secara langsung berkorelasi., dan pertimbangan biaya kerja yang lebih murah yang menguntungkan. Hal ini juga cenderung untuk lebih mudah mempertahankan tingkat kapasitas produksi yang tinggi jika standar kualitas tidak terlalu tinggi. Berbagai proses industri otomatis dapat digunakan untuk produksi massal dengan kualitas yang wajar, tetapi standar tertinggi workmanship umumnya diproduksi dengan tangan selama jangka waktu yang lebih lama.

Klasik, istilah workmanship diterapkan untuk benda-benda yang dihasilkan oleh pengrajin, seperti furnitur dan kerajinan. Ini bisa, bagaimanapun, akan diterapkan untuk produk lainnya, bahkan mereka diproduksi secara massal melalui proses perakitan industri. Ini termasuk elektronik konsumen, seperti ponsel, pemutar musik, dan komputer. Banyak perusahaan menetapkan standar minimum untuk semua produk yang mereka harus penuhi agar dapat ditempatkan di pasar.
Kadang-kadang, pengrajin individu dapat menjadi terkenal dan dihormati karena keahlian mereka dan karena workmanship yang jelas dalam benda-benda yang mereka hasilkan. Hal ini biasa terjadi dalam kerajinan seperti kayu, logam, keramik, glass blowing, dan bidang lainnya yang memungkinkan pengrajin banyak melibatkan kreativitas pribadi. Sama seperti dalam bentuk seni seperti lukisan atau patung, pengrajin dapat mengembangkan gaya pribadi yang mereka yakini dan akrabi di lapangan yang dapat dengan mudah dikenali produknyai. Berkembang seperti reputasi pribadi dapat meningkatkan kemampuan pengrajin untuk menjual karyanya dan bahkan mungkin mendapatkan pujian artistik abadi. Secara umum, bagaimanapun, pengrajin tidak akan mampu mencapai tingkat tinggi seperti pujian tanpa bisa menunjukkan tingkat yang sangat tinggi dalam workmanship.

Referensi di atas menyimpulkan bahwa untuk pekerjaan yang butuh skill tinggi sebagai karya tangan, misalnya kerajinan kayu, keramik, logam dan kaca, pengrajin dituntut untuk memiliki kualitas workmanship (pengerjaan) yang tinggi atau sesuai dengan standard yantg diminta oleh buyer. Dan hal kualitas dan detail, para pelaku UMKM harus punya kemampuan untuk menuangkannya dalam sebuah kesepakatan tertulis tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dalam hal terkait kualitas barang.

Kesepatakan inilah yang akan menjadi pedoman kerja bagi produsen dalam memenuhi keinginan dari buyer, agar tidak menuai komplain pada akhirnya. Sudahkah anda memiliki kemampuan workmanship yang terukur, misalnya kualitas finishing amplas di minimum grade 400, kulitas penyambungan yang tidak menampakkan glue line, kualitas edging yang round 1-2 mm dan sebagainya.

Inilah yang dituntut oleh buyer atas kualitas kerja para produsen, bukan sekedar kualitas bahan baku saja. Bahkan dengan bahan baku yang kurang bagus, dengan workmaship yang bagus bisa diperoleh kualtias produk yang prima.

Baca juga: