Laman

  • Home

Minggu, 26 Maret 2017

Berita Dari Belanda : Film ‘Jalan Dakwah Pesantren’ Didiskusikan di Belanda

NU Belanda Mengusung Pesan Kebhinekaan bersama PPI Amsterdam dan PPI Leiden 

Peran sosial pesantren di Indonesia sangatlah besar dan tidak terbantahkan. Bukan saja dalam menjalankan fungsi pendidikan keagamaan, namun juga dalam menyokong persatuan dan kesatuan Indonesia sebagai bangsa yang sangat majemuk secara etnis, agama, budaya, dan sosial-ekonomi. Hal ini karena pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, tidak hanya menjadi pusat pembelajaran (learning center) bagi kaum santri tentang berbagai bidang keilmuan Islam. Tetapi tidak kalah penting, juga menjadi wahana memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam yang menekankan pentingnya penerapan budi pekerti yang adiluhung (akhlak al-karimah) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Flyer Bedah Film

Tidak heran jika sepanjang sejarahnya, pesantren telah menjadi salah satu pilar dalam upaya bangsa Indonesia merawat dan menyuburkan persatuan Indonesia yang ber-bhinneka tunggal ika (berbeda-beda tetapi tetap satu jua). Melalui kepemimpinan para ulama/kyai yang alim dan sangat cinta tanah airnya, sejumlah pesantren yang tersebar di banyak pelosok desa hingga pusat kota telah berperan besar dalam merebut dan menjaga keutuhan dan integritas bangsa Indonesia. Sejak masa penjajahan, pesantren sudah berkiprah dalam upaya melawan pecah-belah yang dilakukan rezim kolonial, bahkan mengerahkan para santri untuk berjihad melawan penjajah sebagai bentuk perwujudan dari cinta tanah air dan manifestasi iman pada agama, sebagaimana yang pernah digelorakan oleh K.H Hasyim Asy’ari dalam rangka hubbul wathon minal iman (cinta negara merupakan manifestasi iman). Pada tahap pembentukan identitas bangsa, para ulama pemimpin pesantren juga berperan kunci dalam mewujudkan konsensus kebangsaan yang menghargai semangat ketuhanan, kemanusiaan, keberagaman, demokrasi dan kerakyatan — yakni apa yang dikenal dengan Pancasila.


“Peran pesantren dalam menjaga semangat ber-bhinneka tunggal ika terus terjaga dan tidak pernah lekang hingga saat ini,” kata Dito Alif Pratama, alumni pesantren yang saat ini sedang menempuh studi master tentang perdamaian dan rekonsiliasi berbasis agama di Vrije Universiteit, Amsterdam. “Kurikulum pendidikan dan internalisasi nilai di pesantren sangat menekankan pada nilai-nilai perdamaian dan solidaritas serta pentingnya menjaga kehidupan yang damai dan harmonis di antara semua komponen bangsa Indonesia,” tambah aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Belanda ini.


Dalam rangka mengkaji dan mengusung pesan kebangsaan yang diperankan pesantren ini, pada Selasa 28 Maret 2017 mendatang Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Belanda akan melakukan kegiatan bedah film Jalan Dakwah Pesantren yang disutradarai oleh Yuda Kurniawan yang dilanjutkan dengan dialog interaktif dengan tema:  ‘The Role of Pesantren in Maintaining the ‘unity and diversity’ in Indonesia’. Acara yang diselenggarakan melalui kerja sama dengan Perhimpunan pelajar Indonesia (PPI) Amsterdam dilaksanakan di kampus Vrije University Amsterdam pada pukul 16.00-19.00 CET. 


Menurut Dito Alif Pratama selaku koordinator acara, dalam acara ini akan hadir sebagai pembedah film Hamzah Sahal yang merupakan produser film ini dan sekaligus aktivis di NUtizen. Sedangkan sebagai pembahas dalam sesi dialog interaktif adalah Johannes Linandi (Pengamat Pendidikan, Pendeta di Gereja Kristen Indonesia Belanda, Amsterdam), Chris Caplin (Peneliti di Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribean Studies atau KITLV, Leiden) dan Irfan L. Sarhindi (penulis buku best seller Kun Fayakun, Kun La Takun dan The Lost Story of Ka'bah, sekaligus peneliti pendidikan dari University College London). “Beberapa persoalan penting akan diangkat dalam dialog interaktif ini, antara lain bagaimana sistem dan model pendidikan yang diterapkan di banyak Pesantren di Indonesia, bagaimana peran pesantren dalam merawat dan meruwat persatuan dan kesatuan Indonesia yang ber-bhinneka tunggal ika, dan bagaimana aktualisasinya di tengah gejala maraknya ancaman terhadap semangat kebhinekaan belakangan ini,” jelas Dito Alif Pratama. 


Syahril Siddik, pengurus Tanfidziyah NU Belanda, dalam kesempatan terpisah menjelaskan bahwa kegiatan bedah film dan dialog interaktif ini merupakan salah satu acara dalam rangkaian kegiatan pendukung Konferensi Cabang Istimewa kedua NU Belanda yang berlangsung dari 27 hingga 30 Maret 2017 dengan mengangkat tema: ‘Rethinking Indonesia’s Islam Nusantara: From Local Relevance to Global Significance’. Menurut Syahril Siddik, berbicara tentang Islam Nusantara tidak akan terlepas dari pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam khas Indonesia. “Melalui kegiatan bedah film ini kami hendak mengenalkan pada khalayak Eropa bagaimana sesungguhnya Islam Indonesia yang rahmatan lil alaamin, termasuk peran pesantren di dalamnya,” kata mahasiswa PhD Leiden University ini menambahkan


Fahmi Fathurrahman, selaku ketua PPI Amsterdam, menianggapi positif dan cukup antuasias dengan penyelenggaraan kegiatan ini. Lebih jauh, Fahmi menegaskan bahwa mahasiswa Indonesia di Belanda mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Ada yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren, juga ada yang dari sekolah umum, juga banyak yang berasal dari kalangan non-Muslim. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan pemahaman kepada teman-teman mahasiswa di Belanda yang memiliki latar belakang berlainan dan juga kepada khalayak luas, bahwa tugas menjunjung tinggi semangat kebangsaan harus diusung bersama-sama dan bahwa pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki peran penting di dalamnya,” tegas mahasiswa yang sedang studi master di Vrije University Amsterdam ini.


Tidak hanya di Amsterdam, kegiatan bedah film serupa juga akan diselenggarakan di tempat yang berbeda, anatara lain di kota Leiden, Belanda. Acara ini akan diselenggarakan pada tanggal 30 Maret 2017 di Leiden University sebagai kerja sama antara PCI NU Belanda dan PPI Leiden. “Kami berharap kegiatan ini akan memberikan pemahaman yang lebih positif tentang lembaga pesantren yang khas Islam nusantara kepada khalayak Belanda di tengah maraknya Islamphobia belakangan ini,” pungkas Syahril Siddik.



Penulis:

Dito Alif Pratama, Fahmi Fathurrahman