Laman

  • Home

Minggu, 12 Februari 2017

Membangun Magnet Sebuah UMKM Center


Related image
Membangun Magnet Sebuah UMKM Center

UMKM Center di kebanyakan negara adalah fokus dalam edukasi, sehingga magnet yang bisa dibangun di UMKM Center adalah daya tarik dari materi pelatihan dan pembicaranya. Namun di Indonesia UMKM Center merupakan kombinasi antara edukasi, ekshibisi dan komersialisasi. 

Dengan 3 fokus ini pastilah akan lebih sulit dalam membangun daya tariknya, terutama dalam hal komersialisasinya. Di sinilah pemahaman pemilik atau pengelola UMKM Center tentang visi dan fokus merupakan hal yang paling mendasar.

Edukasi dan ekshibisi ditujukan kepada pelaku UMKM, sementara komersialisasi ditujukan kepada pengunjung atau market. Sehingga ketika 3 tujuan di atas digabungkan, harus benar-benar ada keberanian dalam memilih fokus.

Jika UMKM Center yang merupakan fasilitas pemerintah dibebani dengan PAD (Pendapatan Asli Daerah) maka bisa dikategorikan bahwa UMKM adalah pusat komersialisasi, bukan sekedar fasiltas edukasi dan ekshibisi. Oleh sebab itu fokus yang harus dipilih adalah fokus komersial, sementara edukasi dan ekhibisi harus menyesuaikan fokus utama tersebut sebagaimana keterbatasan space yang bisa digarap dalam sebuah UMKM Center.

Pemahaman atas arti edukasi dan ekshibisi praktis juga harus dimiliki oleh pengelola UMKM Center. Bahwa edukasi tidak harus selalu berupa pelatihan dan workshop, tidak harus selalu berupa konsultasi bisnis melainkan edukasi juga bisa berupa "contoh" sukses UMKM kepada UMKM lainnya. Sementara ekshibisi pun bisa dipahami dengan membuat perwakilan display dari semua daerah yang masuk dalam lingkup binaan UMKM Center.

Membangun magnet atau daya tarik sebuah UMKM Center merupakan permasalahan umum yang terjadi dengan UMKM Center yang ada Indonesia, terutama Jawa Tengah. Dan hal ini harus benar-benar mendapatkan porsi terbesar dalam membuat sebuah konsep pengelolaan UMKM Center, sebelum perencanaan strategi manajemen pengelolaan yang akan memastikan bahwa konsep ini akan terimplementasikan dengan baik.

Permasalahan yang "mungkin" tidak disadari dalam pengelolaan UMKM Center adalah bahwa produk UMKM yang dijadikan unggulan dalam UMKM Center "belum mampu menjadi magnet" untuk menarik pengunjung. Mengapa demikian ? Bisa jadi karena memang produk ini belum dikenal, belum memberikan experience yang cukup kepada konsumen untuk membangkitkan "rekomendasi" atau dengan kata lain belum cukup brand untuk itu semua. Beberapa produk yang meskipun sudah dikenal masyarakat, tetapi belum cukup bukti untuk membuat "keramaian", misalnya produk batik. Produk batik jelas sudah dikenal luas, tetapi kekuatan daya tariknya untuk membuat "crowd" jarang sekali terjadi. 

Belum lagi, para pelaku UMKM masih takut dengan membuat gebrakan promosi untuk produknya sendiri, misalnya: obral dan pesta discount. Semua dijual normal sementara produknya tidak memberikan "nilai unik" untuk masuk dalam penjualan normal. Dan masih banyak lagi permasalah yang menjadi potensi masalah dalam produk UMKM.

Pemenuhan kebutuhan merupakan kunci dasar dalam mencari sebuah magnet yang tepat untuk sebuah UMKM Center. Ada beberapa kebutuhan yang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan UMKM Center, yaitu:
  1. Keingintahuan; Adalah alasan kuat yang perlu diperjelas atas keberadaan UMKM Center tersebut. Hal ini akan lebih banyak dipengaruhi oleh "penampakan" atau "perwajahan" UMKM tersebut. Penataan luar UMKM Center harus menampilkan wajah bahwa mereka "welcome" atas kehadiran pengunjung. Wajah dan penampilan UMKM Center haruslah sesuai dengan apa yang akan ditawarkan didalamnya, kecuali pengunjung akan dibuat kecewa.
  2. Kenyamanan, Adalah bagaimana UMKM Center mampu "mengikat" pengunjung lebih lama berada di lokasi karena interaksi pengunjung dengan produk dan pelaku UMKM yang merupakan tenant di dalamnya. Tenant UMKM Center harus diedukasi sedemikian rupa bagaimana membuat pengunjung betah berlama-lama di UMKM Center. Apakah kenyamanan ini karena merekan mendapatkan produk yang mereka cari atau karena interaksi kondusif yang terbangun di dalamnya, baik antara pengunjung dengan penjual maupun pengunjung dengan pengunjung lainnya.
  3. Pemenuhan kebutuhan, Adalah alasan kuat bagi pengunjung untuk datang dan berbelanja di UMKM Center. Bahwa apa yang dijual di UMKM Center harus benar-benar didesain untuk memenuhi kebutuhan target pasar yang akan ditarik ke UMKM Center.
  4. Pengalaman baik, Adalah alasan kuat bagi pengunjung untuk membangun cerita dan rekomendasi kepada prospek customer lain. Hal ini adalah bagian terpentingnya dalam membuat sebuah UMKM Center akan sukses berkesinambungan.
Ke-4 kebutuhan di atas harus bisa dipenuhi dalam konsep membangun magnet untuk sebuah UMKM Center. Tetapi harus diingat bahwa magnet yang ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk terbentuk.
 
Untuk tindakan "penyelamatan" UMKM Center yang telah ada, dibutuhkan sebuah upaya menempatkan "magnet" jadi ke dalam UMKM Center. Misalnya menawarkan space di UMKM Center kepada brand UMKM yang telah jadi. Cara ini dirasakan bisa diaplikasikan dengan lebih cepat daripada cara tersebut di atas.
 
Hadirnya brand-brand besar juga jangan menjadi "pantangan" di UMKM Center. Apa yang dilakukan oleh brand besar bisa menjadi "materi edukasi" bagi para UMKM untuk menelaah dan mempelajari perilaku dan strategi mereka menjadi besar.
 
Sebenarnya edukasi di sebuah UMKM Center juga merupakan potensi daya tarik yang bisa dikembangkan. Ada 2 pilihan sistem pembiayaan edukasi yang bisa dilakukan oleh pengelola, yaitu edukasi berbayar atau edukasi yang gratis dengan sponsorship. Karena bagaimana pun pengelolaan UMKM Center haruslah dikelola secara komersial agar keberadaannya bisa tetap dipertahankan.
 
Menyikapi UMKM Center sebagai sebuah investasi harus benar-benar dipahami dengan tepat, bukan hanya sekadar sebagai fasilitas. Konsep fasilitas yang ada adalah sebatas memberikan "keringanan" bukan "meniadakan" biaya yang seharusnya menjadi beban para pelaku usaha. Pelaku UMKM harus dibina sebagai pelaku usaha yang mandiri dan mampu berdaya saing, bukan sebagai beban pembinaan turun temurun.