Laman

  • Home

Selasa, 07 Februari 2017

Mau Jual Produk, Jual Bisnis Atau Jual Nilai Budaya?

Image result for selling culture
Mau Jual Produk, Jual Bisnis Atau Jual Nilai Budaya ?
Satu ilmu lagi saya peroleh hari kemarin ketika berbincang dengan salah satu pengusaha lokal yang memiliki visi ke depan luar biasa. Seorang pengusaha yang memiliki konsep cemerlang terhadap produk lokal, dan telah membuktikan bahwa produknya mampu mendobrak pemikiran negara asing terhadap kultur lokal Indonesia.

Harus saya akui bahwa konsep yang pernah saya pahami ini akan berhenti di konsep saja, tetapi ternyata pengusaha (yang enggan disebut namanya) ini sudah melakukannya dan berhasil. Sungguh saya harus belajar lebih lanjut dari beliau.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pelatihan pemasaran untuk UMKM masih berkutat dengan konsep yang sangat mendasar, yaitu bagaimana menjual produk, sehingga perkembangan UMKM masih berkisar pada pengembangan kemasan dan kualitas produk selama bertahun-bertahun. Meskipun pada kenyataannya pembinaan ini mencapai progress, tetapi tuntutan jaman tidak bisa terkejar dengan progress ini.

Memahamkan UMKM untuk memulai menjual bisnis merupakan tahapan berikutnya ketika pelaku UMKM sudah mulai terpahamkan mengenai konsep bisnis waralaba. Tetapi sebenarnya tidak harus dengan waralaba UMKM bisa menjual bisnisnya, masih banyak cara lain yang bisa ditempuh tanpa harus menunggu paket franchise selesai. Kami pun mulai menyadarkan UMKM untuk mulai memikirkan "menjual bisnis" bukan sekedar menjual produk. Dengan konsep ini, pelaku UMKM tanpa sadar kami ajak berpikir lebih jauh mengenai visi yang lebih besar.

Bukankah permasalahan UMKM yang mendasar adalah masalah mindset kewirausahaannya, dimana salah satunya adalah memiliki visi bisnis yang jauh ke depan. Dengan cara menawarkan mereka konsep menjual bisnis mereka dipaksa berpikir lebih komprehensif dalam menata bisnisnya.

Menjual Nilai Budaya

Sebelumnya kami berpikir bahwa dengan konsep yang kedua di atas, kami rasa cukup untuk mengajak UMKM mampu bersaing, tetapi pembicaraan kami dengan pengusaha inspiratif tersebut di atas membuat saya merasa hal tersebut belumlah cukup.

Ada satu konsep menjual nilai budaya yang belum kami garap, dan harus kami garap ketika kita ingin martabat Indonesia setara dengan negara-negara maju di Asia, Eropa dan Amerika.

Sadarkah kita bagaimana film Holywood dan flm Korea masuk Indonesia dengan edukasi budaya mereka ? Tanpa sadar kita terpengaruh cara berpikir barat (western), dan bagaimana trend mode kita terbawa ke arah KPOP Korea. Terlepas dari penilaian baik dan buruk, kita telah menjadi pasar bagi nilai budaya asing. Bagaimana pembentukan brand yang dilakukan kedua negera tersebut ? ... Luar biasa !

Nah, kita pun seharusnya berbuat demikian. Menjual nilai budaya lokal Indonesia ke negara-negara maju sebagai "pembalasan" kita sebagai target pasar negara-negara lain. Apakah kita bisa ? Bisa, karena pengusaha yang dikenal sebagai pencetus produk sepeda bambu dari Temanggung tersebut mampu membawa nilai budaya lokal Temamnggung yang guyub dan cinta alam ke negara maju seperti; Jepang, Jerman, Belanda dan Australia melalui produk sepeda bambu mereka SPEDAGI.

Sepeda Bambu Merk SPEDAGI

Mereka tidak ekspor produk sepeda bambunya, melainkan mereka tawarkan produk tersebut dibuat di negara lain bersama dengan kultur yang melekat di dalamnya. Mereka tidak jual produk melainkan menawarkan gerakan sehat bersepeda, menawarkan sebuah cerita mengenai proses melestarikan tanaman bambu, cerita mengenai proses produksi yang dilakukan secara guyub oleh warga kampung di suatu pelosok daerah, menawarkan cerita bahwa teknologi canggih pun bisa sampai di pelosok desa dan cerita-cerita lain yang menjadi latar belakang sebuah produk ini.

Lantas berapa nilai sepeda tersebut ? Dengan nilai kultur yang ditawarkan apakah layak sebuah sepeda koleksi ini dihargai sama dengan produk sepeda lainnya ? Pastilah pembeli akan memberikan penghargaan lain atas produk ini.

Inilah sekelumit penjelasan mengapa sudah saatnya kami mengedukasi kepada UMKM-UMKM yang lain tentang bagaimana menjual nilai budaya lokal Indonesia, yang akan menjadi kekuatan differensiasi produk Indonesia dalam kancah persaingan global.