Laman

  • Home

Sabtu, 14 Januari 2017

3 Upaya Meningkatkan Retensi Karyawan

Image result for happy employee
Happy Customer = Happy Customer


Jangankan usaha skala UMKM, usaha besar pun mengalami masalah yang sama dengan retensi karyawan. Tingkat turn over karyawan yang tinggi bisa menjadi indikator keberhasilan sistem manajemen dalam suatu perusahaan, sehingga banyak perusahaan besar berupaya keras dalam mempertahankan karyawannya, terutama ketika mereka telah melakukan investasi pelatihan dan peningkatan kemampuan SDM sebelumnya.

Tidak sedikit perusahaan mengeluarkan investasi agar SDM yang dimilikinya memiliki kompetensi yang diharapkan, akan tetapi di satu sisi mereka juga kawatir ketikan mereka telah berinvestasi ternyata mereka tidak bisa mempertahankan karyawan tersebut.

Awalnya saya ragu untuk menulis hal ini dengan target pembaca adalah pelaku UMKM, tetapi ternyata banyak keluhan dari teman-teman pelaku UMKM tentang sulitnya mencari karyawan dan mempertahankannya. Maka pada kesempatan ini, saya ingin sharing 3 hal yang bisa membantu para pelaku UMKM mempertahankan karyawannya. Tidak mudah, tetapi bagaimanapun juga tugas kita adalah mencoba hal yang telah banyak dilakukan oleh orang lain dan berhasil.

Retensi karyawan adalah prioritas utama bagi departemen HRD, tetapi banyak yang tidak tahu dimana untuk memulai. Dengan sedikit pemahaman dan beberapa ide-ide segar,  Anda dapat menjaga karyawan tidak meninggalkan perusahaan Anda.

Apakah 3 upaya tersebut ? Berikut adalah tipsnya:

1) Tempatkan mereka pada job yang menjadi minat mereka.

Ternyata saya pahami bahwa memperlakukan karyawan adalah seperti memperlakukan customer. Bagian HRD harus tahu benar apa yang menjadi minat dan kebutuhan karyawan tersebut ketika melamar pekerjaan pada perusahaan Anda. Inilah hal yang paling mendasar dalam penempatan kerja mereka. 

Bagian HRD harus paham benar apa yang menjadi "kebutuhan perusahaan" dan apa yang menjadi "minat dan kebutuhan" karyawan, mereka harus melakukan match kebutuhan dan harus menghindari kondisi "terpaksa" dari seorang karyawan dalam melakukan job yang diberikan kepadanya. Hal ini ibarat menanamkan "bom waktu" yang setiap saat akan meledak.


2) Lengkapi pengalaman kerja mereka sesuai bakat yang mereka miliki.

Memantau minat dan bakat karyawan merupakan hal yang sering diabaikan oleh bagian HRD yang sementara ini sibuk dengan hal-hal yang normatif dan terukur, seperti absensi, tingkat kompetensi, pelatihan dan workshop, penggajian dan sebagainya. Mereka bahkan lupa bahwa banyak di antara karyawan mereka memiliki "sesuatu" yang sebenarnya bermanfaat bagi perusahaan.

Pengakuan terhadap kemampuan dan bakat mereka sudah merupakan "hal yang luar biasa" bagi karyawan, apalagi ketika kita mampu mengoptimalkan bakat dan pengalaman kerja mereka yang sesuai dengan bakat mereka.

3) Buat mereka puas, tanpa melewati batas anggaran Anda

Sebagaimana tujuan pemasaran yaitu memuaskan keinginan customer, karyawan juga akan puas jika keinginan mereka bisa terakomodasi oleh perusahaan. Tentunya dalam hal ini perusahaan juga akan memikirkan anggaran yang terkati dengan hal tersebut.

Bahwa memuaskan keinginan pelanggan tidak harus dengan memberikan gaji yang "lebih" atau fasilitas yang "lebih" melainkan bisa dengan sistem insentif yang terkait dengan kinerja dan produktivitasnya. 

Pemberian gaji dan fasilitas yang "lebih" pada saatnya nanti justru akan menjadi bumerang bagi perusahaan saat kondisi bisnis tidak menguntungkan karena beban overhead perusahaan akan semakin tinggi.


Selain itu, bonus diupayakan sebagai budaya menciptakan inspirasi bagi karyawan. Perusahaan juga selalu butuh hal-hal yang inovatif dan baru dalam menyikapi persaingan yang semakin ketat, oleh sebab itu prestasi karyawan yang mampu membuat inovasi dan kreativitas harus diapresiasi dengan bonus.

Dengan cara ini karyawan akan dikondisikan untuk selalu berpacu dalam meningkatkan kinerja, karena ada imbalan bonus di belakangnya.

Demikian yang bisa saya share hari ini, semoga bermanfaat.