Laman

  • Home

Rabu, 14 Desember 2016

UMKM Bukan "Lahan Percobaan" Theory Kita.

Image result for Consultant
UMKM Bukan Lahan Percobaan Theory Kita

Tahap UMKM adalah tahapan para pelaku usaha untuk berkembang dan belajar menjadi besar. Belajar bagaimana usaha rumahan bisa menjadi perusahaan raksasa seperti SAMPOERNA, DJARUM dan lainnya, terlebih belajar untuk tetap bisa bertahan dalam ketatnya persaingan dan hadangan berbagai masalah internal dan eksternal.

Bagaimanapun juga belajar akan lebih mudah dari literatur (theory) dan referensi (contoh) dan yang paling sulit adalah mengalaminya sendiri. Cara belajar yang paling akhir inilah yang kami sebut sebagai ujian yang sebenarnya, yang memaksa orang untuk mampu mengeluarkan segala kemampuan dan pengalamannya untuk menghasilkan pengalaman yang lain yang jangkauannya lebih luas dan penerapannya lebih mendalam.

Kehadiran seorang konsultan UMKM menurut kami tidak hanya harus bisa menghadirkan theory dan memberikan referensi dari apa yang dia baca atau siapa yang bisa mereka hadirkan. Mereka pun harus dituntut untuk bisa menghadirkan "pengalaman"-nya sendiri sebagai referensi kepada para pelaku UMKM. Untuk menghindari cakupan yang terlalu luas, konsultan pun sebaiknya mengambil sebuah spesialisasi agar kemampuannya selalu lebih "maju" dan "update" dari para pelaku UMKM. 

Jika "tidak memungkinkan" untuk menghadirkan seorang konsultan seorang praktisi, yang bisa menghadirkan pengalaman-pengalaman praktis, maka penyelenggara pembinaan harus mengusahakan agar para konsultan diberikan kesempatan untuk "magang" pada perusahaan yang relevan agar mereka sedikitnya mengalami hal-hal yang seharusnya mereka alami. Atau yang lebih ekstrrem lagi, mereka diberikan tantangan untuk "larut" dalam usaha yang mereka dampingi dan membuktikan bahwa usaha yang mereka dampingi bisa berkembang secara manajerial dan secara finansial. Dalam hal ini, perlu diingat bahwa setiap pendampingan harus bertujuan kemandirian dan peningkatan daya saing UMKM secara global, bukan bertujuan untuk bisa mendapatkan fasiltasi dari pemerintah. Bukankah pendampingan ini sudah merupakan fasilitasi dari pemerintah yang luar biasa ?

Bisa kami katakan bahwa, sebelum pemerintah memberikan "konsultan" atau pendamping kepada para pelaku UMKM, akan lebih bijaksana jika ada pelatihan-pelatihan dan seleksi yang ketat kepada para kandidat. Kami yakin, walaupun melalui seleksi ketat, pemerintah tetap akan mendapatkan konsultan yang diinginkannya karena sebenarnya banyak potensi di luar sana yang belum tergarap. Perlunya spesialisasi juga akan sangat membantu peningkatan hasil pendampingan ini.

Dengan persiapan-persiapan dan pembekalan yang baik dan rapi, maka setidaknya anggapan bahwa UMKM akan menjadi lahan percobaan para konsultan muda akan tertepis. Hal ini tidak jauh berbeda dengan bagaimana "mendapatkan" kepercayaan pasien terhadap dokter muda. Dokter muda harus melalui "praktek kerja" beberapa tahun untuk bisa mendapatkan praktek dokternya.

Memang short cut yang paling mudah adalah cara lama masih dipertahankan, tetapi para konsultan ini juga "didampingi" oleh konsultan praktisi yang akan bertindak sebagai supervisor. Sehingga bisa dikatakan bahwa para konsultan baru bisa bekerja sambil belajar dari para praktisi ini.