Laman

  • Home

Selasa, 20 Desember 2016

Sentra Keramik Bayat Harus Bangkit Lagi !

Sentra keramik Bayat, Klaten, harus bangkit lagi.

Di Jawa Tengah ada 2 sentra gerabah dan keramik yang seharusnya bisa menjadi kebanggaan Jawa Tengah. Tetapi justru eksistensi sentra tersebut menjadikan keprihatinan kami, karena sentra gerabah dan keramik ini belum mampu mengangkat kesejahteraan para pengrajin di sentra tersebut. 

Sentra-sentra tersebut harus bangkit lagi, sebelum muncul sentra baru dan mengalami nasib serupa. Apalagi sentra memiliki nilai historis yang cukup memadai untuk menjadi tujuan wisata produksi di Jawa Tengah. Mereka memiliki histori, sumber daya bahan baku dan sumber daya manusianya yang menjadikan sentra ini merupakan potensi yang harus dikembangkan jauh lagi.

Menyikapi hal ini, Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah menggandeng Kadin Jawa Tengah untuk ikut memikirkan nasib kedua sentra tersebut, sementara saat ini kami telah memiliki mitra yang telah melakukan penelitian dan melihat potensi kedua sentra tersebut dengan jelas. Di samping itu, mitra kami tersebut, yaitu Nuanza Porselen, siap untuk berkiprah memberikan pelatihan dan workshop bersama Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah dan Kadin Jawa Tengah dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para pengrajin di sentra tersebut, dan juga pemasaran hasil produksinya.

Pada hari Selasa 20 Desember 2016 ini kami bersama team dari Balatkop yang diwakili oleh Kepala Balatkop Jawa Tengah (Bapak Sugeng), Dinas Koperasi dan UKM yang diwakili oleh KaBid Pemberdayaan UMKM (Bapak Sondhy Purwoko), Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Klaten (Bapak Yunanta) dan Nuanza Porcelen (Bapak Roy Wibisono) melakukan survey ke lapangan untuk melihat potensi kerajinan gerabah Bayat dari dekat.

Mengenal Potensi Gerabah Bayat, Klaten

Potensi SDM pegrajin gerabah Bayat (Melikan) cukup besar yaitu sekitar 180 KK dari Melikan dan sekitar 50 KK di luar Melikan. Dengan menghadirkan sekitar 5 pengrajin yang merupakan perwakilan dari sejumlah pengrajin, kami ingin mendengar potensi dan permasalahan mereka secara langsung, untuk dapat kami analisa permasalahannya. 

Potensi bahan baku masih cukup untuk membuat membuat sentra ini bertahan selama puluhan tahun, dengan adanya rencana pembukaan sumber bahan baku di area perhutani setempat yang saat ini masih diupayakan untuk mendapat ijin legal dari instansi terkait. Yang unik dari bahan baku gerabah di sini adalah adanya 3 jenis tanah, yuitu hitam, coklat dan kuning yang menyebabkan keramik Bayat memiliki ciri khas berwarna hitam kecoklatan.

Potensi SDM merupakan hal kedua yang sangat mendasar, di daerah Melikan ini masih ada 180 KK yang mengandalkan hidupnya dari usaha gerabah ini, belum lagi 50 KK di luar desa ini. Sebagian besar taraf kehidupan mereka masih di bawah taraf sejahtera  Tetapi keberadaan SDM yang lebih dari cukup itu membuat sentra ini memiliki alasan yang kuat untuk dikembangkan.

Mendengar informasi potensi dan masalah secara langsung dari pegrajin.
Selanjutnya adalah potensi teknologi, desa Melikan ini mengenal teknologi tepat guna yang sangat sederhana dalam memproduksi gerabah dengan kecepatan tinggi, yuitu teknologi putaran miring. Teknologi yang sangat sederhana ini hanya terdiri dari meja bulat dengan sumbu pemutar yang digerakkan oleh gerakan tali, yang dipasang dengan posisi miring. Dengan teknologi ini, para pengrajin dapat menghasilkan produk gerabah dengan kapasitas yang lebih besar dan lebih cepat.
 
Teknolgi sederhana putaran miring merupakan andalan pengrajin gerabah melikan.


Produk gerabah Melikan yang sudah siap kirim.
Hanya saja, pembakaran gerabah di desa Melikan mini masih dilakukan dengan bahan bakar kayu dan teknologi yang sederhana, dengan suhu pembakaran yang beada di kisaran 600-800 derajat Celcius. Sementara untuk menghasilakan gerabah dengan kualitas tinggi (keramik), dibutuhkan suhu di atas 1.100 derajat Celcius. Pemanfaatan pembakaran suhu rendah ini adalah karena kemampuan bahan baku lokal yang "bermasalah" ketika dibakar di dengan suhu tinggi tersebut.

Fasilitas oven di laboratiorium keramik Melikan yang "nganggur".

Meninjau laboratiorum keramik Melikan yang "nganggur".
Sebenarnya, di desa Melikan memiliki potensi teknologi yang belum termanfaatkan, yaitu fasilitas oven pembakaran eks kerjasama Indonesia dan Jepang yang cukup modern. Tetapi karena untuk mengoperasikan fasilitas ini cukup mahal, maka para pengrajin memilih membuat tungku pembakaran sendiri yang sederhana, sehingga fasilitas ini dibiarkan nganggur dan rusak. Tetapi fasiltias ini masih bisa diperbaiki dan bisa dikembalikan ke fungsi yang seharusnya.

Produk para pengajin gerabah desa Melikan.

Pasar yang terlayani dengan kondisi saat ini adalah pasar tradisional dari berbagai daerah lain, misalnya untuk produk kendil gudeg, poci dan gelas untuk teh, berbagai vas bunga dan lain sebagainya. Beberapa pesanan dari hotel dan restoran juga masih berjalan dengan baik. Hanya saja, dengan pesanan yang ada saat ini margin laba dari para pengrajin ini sangat tipis sehingga belum mampu mengangkat taraf hidupnya, yaitu kurang dari Rp 50 ribu per hari. Terlebih lagi, mereka terancam dengan ketersediaan SDM di masa mendatang, karena generasi muda saat ini sudah tidak tertarik bekerja di sektor produksi gerabah karena hasilnya yang tidak menjanjikan.

Solusi kebangkitan gerabah Bayat, Klaten

Dari informasi di atas, kami dan team menyimpulkan sementara beberapa hal sebagai berikut:
  1. Untuk kondisi eksisting, kami akan membantu masyarakat mengingat kembali produk gerabah Bayat yang telah akrab dengan masyarakat Jawa Tengah selama bertahun-tahun, setidaknya masyarakat menjadi ingat  dimana mereka bisa memesan kendil (kuali) untuk gudeg dan poci untuk teh.
  2. Untuk peningkatan kualitas dan harga jual, Nuanza Porcelen akan melakukan uji bahan baku dari tanah lokal untuk kemudian dikembangkan menjadi bahan baku keramik yang mampu untuk dibakar dengan suhu yang lebih tinggi. Dengan bahan baku yang lebih baik ini, maka kualitas gerabah Bayat akan naik kelas menjadi keramik dan bisa dilakukan pewarnaan dengan glasur sehingga mampu menjawab banyak permintaan desain dan tahan lama (tidak mudah pecah). Peningkatan kualitas bisa dimulai dari peningkatan kualitas bahan baku.
  3. Selanjutnya untuk peningkatan teknologi, pemanfaatan teknologi putara miring akan tetap menjadi daya tarik dari "keramik" Bayat. Dan pemanfaatan oven yang lebih modern, yang ada di laboratiorium keramik Melikan, sudah merupakan keharusan ketika bahan baku tanah telah dilakukan "re-engineering".
  4. Desain selalu menjadi kekurangan "daya jual" dan "daya saing" produk keramik di Jawa Tengah. Dibutuhkan mitra pendamping yang sudah berpengalaman dalam desain keramik yang internasional untuk memoles desain tradisional keramik Bayat. Denga desain yang lebih modern, kualtias yang lebih baik serta harga jual dari keramik Bayat yang relatif sangat kompetitf, kami yakin kermik Bayat bisa bangkit lagi untuk bersaing bahkan dengan saingan terdekat kita, yaitu Vietnam.
  5. Pelatihan SDM juga akan digarap oleh BALATKOP Jawa Tengah dan juga oleh EDU KADIN yang akan berkerjasama dengan pemerintah daerah Kabupaten Klaten untuk peningkatan capacity building. 
Tentunya solusi ini akan melibatkan banyak pihak, terutama pemerintah daerah Kabupaten Klaten dan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah beserta Kadin Jawa Tengah. Pembukaan lahan untuk bahan baku yang terkait dengan perhutani setempat harus bisa segera mendapatkan ijin atau payung hukumnya dan pelatihan-pelatihan untuk peningkatan capacity building harus segera diformulasikan.
 
Mari selamatkan Sentra Gerabah Bayat dengan kecintaan anda pada produk dalam negeri ~
 
Di sepanjang jalan ini anda bisa belanja gerabah Bayat.


Berbagai produk gerabah yang khas dari Bayat.

Produk poci gerabah dari Bayat.

Poci dari Bayat, untuk teh.

Kuali dari Bayat, untuk gudeg.