Laman

  • Home

Senin, 12 Desember 2016

Dakar International Trade Expo: RI Belum Garap Maksimal Pasar Afrika Barat

Dubes RI untuk Senegal, Mansyur Pangeran, bersama kepada BKKBN, Surya Candra Surapaty.
Pergelaran Pameran Dagang Internasional Dakar/ Foire Internationale de Dakar (FIDAK) ke-25 yang dibuka secara resmi sejak tanggal 24 November ditutup pada tanggal 12 Desember 2016. Jumlah pengunjung yang hadir pada pameran dagang terbesar di Senegal ini diperkirakan mencapai sekitar 330.000 orang.

Tema FIDAK kali ini adalah “Promosi Kerja Sama Pemerintah-Swasta untuk Pembangunan Berkelanjutan di Afrika Barat”. Sebagaimana disampaikan oleh Menteri Perdagangan Senegal, Alioune Sarr, peran dan keterlibatan sektor swasta sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan, terutama terkait dengan supply chain barang dan jasa. Disamping itu, sektor swasta juga sangat dibutuhkan dalam hal pembiayaan, konstruksi dan pengoperasian pembangunan infrastruktur strategis

Pameran FIDAK 2016 diikuti oleh berbagai negara, antara lain, Senegal, Ethiopia, RRT, Mesir, Maroko, Syria, Pakistan, Madagaskar, Mali, Iran, Pantai Gading, Mauritania dan Aljazair. Umumnya, negara-negara tersebut memamerkan berbagai produk unggulan masing-masing seperti produk makanan/minuman, peralatan rumah tangga, elektronik, furniture, kayu, bambu, kendaraan, alat-alat pertanian, rempah-rempah, sabun/deterjen, tekstil, dan sebagainya.

RRT memanfaatkan ajang FIDAK untuk memamerkan berbagai produk unggulannya, antara lain, truk, mobil, motor, energi solar, alat/mesin pertanian, mesin air dan genset dengan menghadirkan 150 perusahaannya. Keseriusan RRT dalam mempromosikan produk unggulannya ditunjukkan dengan menyewa area khusus seluas 3.200 m².

Sementara itu, KBRI Dakar berpartisipasi dengan mendisplay berbagai sampel produk dan brosur yang dikirimkan oleh beberapa perusahaan Indonesia. Produk-produk Indonesia tersebut pada umumnya telah familiar dan dikenal para pengunjung, karena selain memiliki kualitas baik, juga banyak diminati masyarakat Senegal, seperti PT. Gunung Subur (Produk Teh dan Kopi); PT. Multistrada (Produk Ban Achilles), PT. Sritex, PT. INKA, PT. Olympic Furniture, PT. Karya Hidup Sentosa (produk alat pertanian dan traktor tangan), PT. Sinar Antjol dan PT. Sayap Mas Utama (produk sabun/deterjen/lotion anti nyamuk), PT. Mayora Indah dan PT. TPS Food (produk makanan), PT. Bina Karya Prima dan PT. Sungai Budi (produk minyak kelapa goreng dan kelapa sawit), PT. Mikatasa Agung (produk lem dan cat), PT. Dragon (produk minyak/salep gosok anti nyeri, balsam) dan kain-kain batik.

Sebagian besar pengunjung yang menghampiri stand Indonesia sangat tertarik untuk membeli secara retail produk-produk Indonesia yang dipamerkan tersebut, terutama minyak kelapa sawit, ban, lotion anti nyamuk, sabun, kain batik, biskuit dan mie instan. Beberapa pengusaha Senegal juga menyatakan ketertarikannya untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan unggulan Indonesia.

Besarnya minat masyarakat Senegal terhadap produk-produk unggulan hendaknya dapat dijadikan peluang oleh para pengusaha Indonesia yang selama ini belum secara maksimal menggarap pasar Senegal dan wilayah Afrika Barat lainnya.

FIDAK merupakan kegiatan pameran dagang internasional tahunan yang pertama kalinya diselenggarakan tahun 1974 dengan tujuan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi dan perdagangan di wilayah Afrika dengan mempromosikan berbagai jenis produk barang dan jasa.