Laman

  • Home

Jumat, 18 November 2016

Model Bisnis Untuk Para Start-Up

Model bisnis merupakan inti dari setiap startup yang sukses, karena tidak peduli seberapa keren ide atau sebagaimana unik sesuatu yang mungkin tampak, startup harus memiliki cara layak untuk membuat uang yang cukup menarik untuk investasi di masa depan dan untuk menopang dirinya sendiri. Banyak pendiri startup baru mengabaikan istilah "model bisnis" ketika membahas strategi perencanaan untuk usaha mereka. Pertanyaan seperti "Apa model bisnis yang terbaik dengan ide saya?" atau "Bagaimana saya tahu jika startup saya menggunakan model yang tepat?" adalah beberapa pertanyaan bagi pemula yang  perlu dipertimbangkan yang pada akhirnya akan berdampak pada keberhasilan keseluruhan ri usaha mereka dalam jangka panjang.
Related image

Model bisnis yang Anda pilih adalah kebutuhan untuk mengikat "rasa sakit" (kebutuhan) konsumen dengan kinerja "penyembuhan" (pemenuhan kebutuhan) dari bisnis tersebut, dan hal ini akan bekerja lebih baik daripada kompetisi. 

Ada berbagai jenis model bisnis, dan sangat penting untuk memilih satu yang paling cocok untuk bisnis Anda. Salah satu kesalahan terburuk para pemula (startup) adalah sedang mencoba membuat atau  menemukan kembali model bisnis, atau menciptakan cara baru untuk menghasilkan cash flow dengan cara "belum pernah dilakukan sebelumnya". Untuk investor, yang terdengar adalah: "Saya akan menggunakan cara yang terbukti menghasilkan uang untuk usaha saya, dan kemungkinan besar tidak memberikan laba atas investasi Anda." ... Ups !

Ada banyak pilihan untuk menghasilkan pendapatan yang telah terbukti, dan sebagai pemula usaha itu adalah tugas Anda untuk mencari tahu mana yang terbaik untuk bisnis Anda. Jika Anda tidak tahu di mana untuk memulai, berikut adalah beberapa model bisnis yang perlu dipertimbangkan oleh startup yang telah terbukti berhasil bagi banyak startup lainnya dan bisnis di seluruh dunia.

Freemium

Model bisnis ini terdiri dari dua rangkaian kata yang digabung menjadi satu, yaitu “free” dan “premium.” Freemium telah menjadi model bisnis yang banyak digunakan oleh startup dalam beberapa tahun belakangan.

Cara kerja dari model bisnis ini adalah dengan cara memberikan layanan dasar ke pada konsumen secara cuma-cuma, lalu mengenakan tarif untuk layanan premium untuk fitur yang lebih lengkap kepada anggota berbayar.

Beberapa startup lokal yang menerapkan model bisnis freemium adalah Urbanhire dan Jojonomic. Keduanya memungkinkan pengguna untuk mengakses layanan dasar, kemudian mengenakan biaya yang bervariasi untuk menikmati fitur tambahan dalam layanan tersebut.

Model bisnis seperti ini punya kekurangan. Apabila pengguna sudah cukup puas dengan layanan dasar, mereka akan kurang tertarik untuk menikmati layanan premium dengan fitur yang lebih lengkap.
Subscription 

Subscription atau berlangganan merupakan model bisnis yang biasanya diterapkan oleh perusahaan-perusahaan dengan banyak konten, atau produk yang akan digunakan secara terus menerus oleh konsumen. Seperti layanan buku digital, streaming musik, atau film.

Cara kerja dari model bisnis berlangganan adalah dengan cara mengenakan tarif ke pengguna setiap bulan atau per tahun, sebelum mereka bisa menikmati layanan yang kamu sediakan.

Sebagai contoh, Scoop merupakan startup lokal yang menyediakan berbagai jenis buku dan majalah. Dengan model bisnis berlangganan, Scoop memungkinkan pengguna untuk menikmati semua buku dan majalah dengan biaya berlangganan Rp59.000 per bulan.

Tantangan dari model bisnis seperti ini adalah persaingan yang ketat. Startup harus bisa bersaing dengan menyediakan konten yang lebih lengkap. Seperti apa yang terjadi dengan persaingan layanan streaming musik antara Spotify dengan Apple Music.

Marketplace

Marketplace bisa dibilang sebagai model bisnis yang bekerja layaknya seorang perantara mempertemukan penjual dengan pembeli. Si penjual mendapatkan keuntungan dari akses ke sebuah marketplace, sebuah tempat yang memungkinkan para pembeli mencari berbagai barang yang mereka inginkan.

Terdapat beberapa jenis marketplace, sesuai dengan sumber dan target pasarnya. Contohnya adalah marketplace B2B seperti Indotrading, yang menyediakan berbagai produk dari dan untuk bisnis besar. Lalu ada marketplace C2C seperti Tokopedia dan Bukalapak, yang memungkinkan pengguna untuk membuka toko online dan berhubungan dengan konsumen sebagai pembeli.

Layanan on-demand

Layanan dan model bisnis on-demand bisa dibilang mulai ramai di Indonesia. Khususnya di kota-kota besar yang penduduknya cenderung sibuk, seperti Jakarta, Bandung, dan Denpasar. Sehingga mereka memanfaatkan layanan instan untuk membantu aktivitas mereka sehari-hari.
Sebagai contoh, layanan transportasi on-demand seperti UBER, GO-JEK, dan Grab bisa dipesan kapanpun—langsung dari smartphone kamu. Ada juga layanan on-demand untuk keperluan rumah tangga, seperti Ahlijasa, Beres, Seekmi, dan lainnya.

Model bisnis ini bisa berjalan karena adanya kebutuhan yang terus meningkat. Biaya juga lebih efisien karena infrastruktur yang telah tersedia. Sebagai contoh, layanan transportasi sudah tersedia dari dulu, sehingga startup hanya perlu mengembangkan produknya.

Mediator

Model bisnis ini merupakan model bisnis yang paling mudah dilakukan oleh para startup, karena startup akan menghubungkan kebutuhan konsumen dengan para produsen produk yang dibutuhkan tersebut. Dalam hal ini startup hanya butuh modal untuk mempelajari produk-produk unik (khusus) yang dibutuhkan oleh konsumen dan melakukan sourching produsen atau distributor dari produk tersebut.

Kemampuan startup dalam memahami produk knowledge dan kualitas produk sangat dibutuhkan agar penjualan yang dilakukan bisa terus berlanjut dan menjadi usaha jangka panjang.

Di atas adalah beberapa model bisnis yang bisa diikuti oleh para startup, sebenarnya masih ada beberapa model bisnis di dunia ini tetapi model tersebut belum lazim di Indonesia.