Laman

  • Home

Kamis, 03 November 2016

Kandungan Lokal, Kekuatan UMKM yang Harus Dipertahankan.

Image result for Komponen Lokal Produk UMKM
Kandungan lokal, kekuatan UMKM dalam bertahan di tengah krisis






Dalam pemilihan nominasi UKM Pangan Award di Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu, kami menekankan pada produk-produk pangan dari UMKM yang  mampu mengoptimalkan kandungan lokal tetapi dengan sentuhan yang lebih modern.

Masih ingat betapa UMKM kita terbukti mampu bertahan dalam situasi krisis ekonomi ? Mengapa mereka mampu bertahan ?

Ada beberapa hal yang membuat mereka mampu bertahan, yaitu:
  1. Kandungan lokal dari produk UMKM - yang menyebabkan produk mereka tidak terpengaruh oleh gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar.
  2. Fleksibilitas sistem produksi dari UMKM - Sistem manajemen yang sederhana dari sebuah badan usaha skala UMKM kadang justru membuat keputusan yang dibuat bisa sedemikian cepatnya dan juga fleksibilitas terhadap perubahan produksi juga sangat memungkinkan, dan hal ini dibutuhkan dalam kondisi yang sedang krisis.
  3. Produk UMKM didesain dengan tujuan yang sederhana, memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga bisa dikatakan produk UMKM dengan dengan kebutuhan masyarakat. Terbukti UMKM yang memproduksi barang konsumsi lebih mampu bertahan dibandingkan UMKM lainnya.
  4.  Ketidaktergantungan pelaku UMKM dengan pinjaman modal dari perbankan. Pengelolaan finansial dari para pelaku UMKM yang masih konvensional di sisi lain justru menguntugnkannya untuk memiliki daya tahan yang kuat terhadap krisis.
Jika ke-4 hal tersebut di atas dicermati dan dijadikan landasan pertimbangan dalam pembinaan UMKM di Jawa Tengah, tentunya akan menjadi sebuah "fokus" yang luar biasa dalam menghasilkan kekuatan ekonomi dari sektor UMKM. Sebuah daya tahan ekonomi yang berakar dari kekuatan lokal da kekuatan rakyat. Sudahkan pembinaan kita ke arah fokus tersebut ?
Mengajarkan teknologi yang tepat guna dan efisien dalam mengelola kandungan lokal yang bisa menjadi pengganti produk-produk impor merupakan konsentrasi kami saat ini. Misalnya ketika kami memberikan pelatihan pemasaran dan kemasan di Kabupaten Wonogiri beberapa bulan yang lalu. Kami melihat potensi tepung gaplek yang belum termanfaatkan secara maksimal untuk produk cake and bakery, karena penguasaan pengetahuan dan teknologi dari pelaku UMKM yang belum memadai.
Padahal jika hal ini ditekuni dan dikembangkan bisa menjadi kekuatan produk lokal yang luar biasa, tentunya dengan konsep-konsep pemasaran yang telah disesuaikan dan difasilitasi oleh pemerintah dan asosiasi terkait.
Bagaimana ketikan kami "blusukan" ke pasar tradisional di berbagai kota dan kabupaten di Jawa Tengah, kami menemukan banyak makanan tradisional yang unik dan kandungan lokalnya 100% (non terigu) tetapi kemasannya dan pengolahannya yang masih sederhana sehingga tidak mampu bertahan lama dalam distribusi. Mengapa hal ini tidak dikembangkan dengan teknologi yang lebih modern ? Bukankah saat ini masyarakat sudah mulai melirik produk-produk khas dan tradisional ?

Semua akan menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, terutama bagi para pihak yang terkait dengan pembinaan UMKM di Jawa Tengah. Tetapi perlu diingat, bagi masyarakat yang menjadi pasar dari produk UMKM, semangat mencintai produk lokal harus terus dipupuk agar para pelaku UMKM bisa bertahan dan semakin kuat.