Laman

  • Home

Sabtu, 01 Oktober 2016

Masalah Teknologi Produksi, Kemasan dan Promosi Harus Segera Diatasi.

Image result for SME global competition
Kompetisi produk yang semakin ketat, UMKM harus berpikir industrialisasi

Kami selalu menghadapi pertanyaan dari beberapa UMKM dan rekan-rekan penggiat UMKM, apa masalah yang perlu segera kita pecahkan dalam menghadapi persaingan dalam MEA ini. Sebenarnya pertanyaan ini pastilah bukan untuk kami, melainkan merupakan permasalahan untuk semua stake holder yang terkait dengan pembinaan UMKM di Indonesia.

Selain masalah mindset dan sikap mental kewirausahaan, serta masalah kemampuan manajerial pemilik usaha, masih ada beberapa permasalahan di lapangan yang harus segera kita pecahkan dalam menggenjot promosi dan pemasaran produk UMKM di Indonesia dan khususnya di Jawa Tengah. 

Kami menengarai masalah teknologi produksi, kemasan dan promosi merupakan permasalahan yang sering kami hadapi di lapangan. Teknologi produksi merupakan hal penting dalam menjaga dan meningkatkan mutu produk serta kapasitas produksi, masalah kemasan merupakan masalah penting dalam menciptakan daya tarik produk itu sendiri, sedangkan masalah promosi merupakan masalah bagaimana produk yang telah siap dipasarkan itu dikenal dan diketahui oleh pasar.

Teknologi Produksi

Memahamkan pelaku UMKM (produsen) dengan teknologi terkini yang tepat guna merupakan sebuah keharusan bagi para penggiat UMKM. Teknologi bagaimana mengolah produk dengan benar dan efisien akan sangat berpengaruh dalam kualitas dan efisiensi produksi.

Banyak pelaku UMKM yang mampu menciptakan varian pangan yang khas, tetapi seringkali mereka terkendala masalah kemampuan makanan tersebut bertahan sampai jangka waktu tertentu. Edukasi mengenai teknologi pangan dan produksi pangan sangat diperlukan oleh para pelaku UMKM pangan.

Teknologi membuat olahan pangan menjadi serbuk pun juga masih merupakan kendala di kalangan UMKM, ketika olahan pangan dalam bentuk cair seringkali mengalami kendala dalam transportasi, atau olahan pangan dalam bentuk basah seringkali mengalami kendala dalam waktu ketahanannya.

Teknologi pengawetan pangan memang merupakan masalah penting bagi banyak UMKM pangan di Jawa Tengah. Sementara pesaing kita di negara tetangga sudah menyadari benar akan hal ini.

Misalnya lagi, ketikan USA membutuhkan dry fruit dengan sistem freeze dry kita belum mampu memenuhinya karena kita belum memiliki teknologi itu, bahkan teknologi vacuum drying (tanpa minyak). Sementara ini teman-teman UMKM baru memiliki teknologi vacuum frying. 

Ketika seorang buyer minuman herbal dari USA datang kepada kami untuk minta supply herbal drink dengan sistem powderisasi tanpa gula rafinasi, beberapa teman UMKM belum bisa memenuhinya karena powderisasi mereka justru menggunakan gula rafinasi. Dan masih ada banyak contoh lagi.

Kemasan

Betapa krusialnya masalah ini, sehingga kami bersama dengan DInas KUMKM dan Disperindag Jawa Tengah, secara rutin melakukan pelatihan kemasan kepada para pelaku UMKM baik di Semarang maupun di daerah-daerah. 

Harus kita sadari benar bahwa kemasan produk kita secara umum masih tertinggal jauh dengan teman-teman UMKM dari Malaysia, Thailang dan VIetnam. Oleh sebab itu upaya meningkatkan kualitas desain dan pembuatan kemasan harus segera digenjot. 

Sebenarnya hal ini merupakan peluang bagi para pengusaha kemasan yang ada di Jawa Tengah, dengan catatan mereka juga harus memperkuat kemampuan desain kemasannya. Pelatihan-pelatihan kemasan justru lebih penting ditargetkan kepada para produsen kemasan, bukan kepada pelaku UMKM.

Asosiasi perusahaan percetakan dan kemasan harus digandeng untuk ikut dalam mengatasi masalah ini. Mereka harus terlibat dalam memberikan solusi kepada para pelaku UMKM. 

Promosi

Orang tidak beli produk UMKM kebanyakan karena mereka tidak tahu jika produk itu ada, itulah yang sementara ini kami masih yakini dan seringkali terbukti. Kelemahan produk UMKM adalah karena kurang promosi, sehingga tidak banyak orang yang tahu.

Banyak pelaku UMKM hanya melakukan promosi melalui pameran yang difasilitasi pemerintah, sehingga produknya kurang dikenal padahal seharusnya produknya potensial untuk dipasarkan. Banyak UMKM belum melek promosi, belum melek iklan, belum melek media sosial dan bahkan belum melek internet. Hal inilah yang membuat kami, para penggiat UMKM, prihatin dan "gregetan" ketika fasilitas-fasilitas eCommerce yang telah ada dan dibangun saat ini tidak banyak membantu pemasaran produk mereka.

Bahkan secara riil, kami juga mengalami kesulitan serupa ketika meminta para pelaku UMKM mengirimkan profil usaha dan foto-foto produknya untuk kami promosikan. Dari seringkali kami menghimbau mereka, paling hanya beberapa gelintir saja yang bersedia mengirimkannya. Tetapi mengapa mereka selalu menuntut kepada kami untuk bisa membantu promosi dan pemasaran mereka ? 

Dinamika permasalahan UMKM akan selalu berkembang, tetapi pada dasarnya tidak banyak bergeming dari masalah-masalah tersebut di atas. Oleh sebab itu kami bersama mitra-mitra kami sedang mencoba membuat rumusan pelatihan-pelatihan yang mampu menjawab permasalahan tersebut di atas.