Laman

  • Home

Sabtu, 10 September 2016

Yang Berhasil Membangun Brand, Yang Masih Mampu Bertahan dalam Situasi Krisis

Image result for less money
Krisis Global Belum Berakhir





Akhir-akhir ini saya mulai banyak bertanya-tanya ke beberapa UMKM, Kurir dan beberapa teman di Luar Negeri mengenai situasi ekonomi saat ini. Banyak dari UMKM yang mengatakan bahwa saat ini penjualan mereka mengalami penurunan sejak lebaran lalu, tetapi ada juga UMKM yang mengatakan bahwa penjualannya tidak mengalami pernurunan. Saya pun mulai bertanya-tanya kepada UMKM yang juga pelaku online, mereka pun mengatakan hal yang sama bahwa banyak di antara mereka mengalami penurunan penjualan. 

Informasi dari para kurir pun mengarah kepada penurunan transaksi pengiriman, dibanding waktu-waktu sebelumnya. Ada apa nih ? Kita perlu tahu apakah ini akibat dari dampak krisis global yang mulai dirasakan di Indonesia. Atau karena perubahan kebijakan ekonomi yang sering terjadi saat ini yang bersifat "gebrakan" (sesaat) dan selanjutnya berubah lagi ? Atau ada faktor lain lagi ?

Terakhir kami berdialog dengan teman-teman di Singapore yang mengatakan bahwa di negaranya pun mengalami penurunan penjualan dan mereka mengatakan bahwa bisnis di negaranya pun mengalami penurunan.

Mengapa saya mencari informasi ini adalah karena banyak UMKM mengeluh kepada kami bahwa saat ini penjualan mereka menurun, terutama sejak lebaran tahun ini. Penurunan penjualan ini tentunya berdampak banyak dengan kelemahan finansial mereka, baik untuk menopang ekonomi keluarga ataupun mengembangkan usahanya.

Belajar dari UMKM yang Bertahan

Tetapi dalam kondisi seperti ini ada juga UMKM yang tidak terpengaruh penjualannya dan bahkan ada peningkatan. Mengapa bisa demikian ? Yuk mari kita coba cermati apa yang mereka lakukan dalam menyikapi kondisi ini.

Pastinya pengaruh ekonomi global tidak mungkin bisa dielakkan oleh pelaku usaha di negara ini, bahkan pada skala UMKM sekalipun. Masih adanya ketergantungan produk dari impor juga memberikan andil dalam permasalahan ekonomi, terutama ketika nilai tukar rupiah merosot. Sementara produk yang mampu memanfaatkan kekayaan lokal pun terpengaruh ketika biaya proses perolehan dan pengolahannya pun mulai menjadi mahal. 

Dalam hal ini upaya inovasi untuk selalu bisa mengeksplorasi bahan baku lokal harus semakin digalakkan, disampin upaya-upaya pengembangan teknologi yang tepat guna dan pemahaman proses untuk selalu menemukan efisiensi proses. Kreativitas harus selalu berpedoman pada inovasi bahan baku dan optimalisasi fungsi dan benefit dari produk yang diciptakan. Dan harus selalu diingat bahwa kreativitas dan invonasi harus berorientasi pada kebutuhan pasar agar kita tidak kesulitan dalam penjualan ketika produk sudah jadi dan siap dipasarkan.

Disamping itu, dari UMKM yang bertahan, kami melihat ternyata mereka secara konsisten membangun kepercayaan pelanggan dengan kualitas produk dan layanannya. Dan tanpa disadari bahwa mereka telah membangun brand melalui cara yang essential.

Dalam situasi persaingan yang semakin ketat, dan kemungkinan penurunan demand maka brand yang paling melekat pada benak pelanggan adalah produk yang paling lama bertahan dibanding dengan produk-produk yang belum memiliki brand atau dengan kata lain (untuk skala UMKM) belum memiliki konsistensi kualitas (mutu) dan layanannya.

Memang semuanya pasti berproses ke arah sana, tetapi banyak UMKM yang masih harus kami ingatkan terus menerus untuk mempertahankan konsistensi kualitas dan juga terus menerus memperkenalkan produknya kepada masyarakat umum, baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Tambahan, dari beberapa pengamantan kami, UMKM yang masih mampu bertahan adalah UMKM yang telah memiliki tingkat kemandirian tinggi dimana dia menjadi lebih fokus pada kemampuan diri sendiri untuk berkembang. UMKM yang masih bertahan ini tidak banyak berharap bantuan dari pihak manapun untuk pengembangan usahanya. Menurut mereka, sedikit berpaling dengan mengharapkan bantuan dari pihak tertentu membuat semangat juang mereka kendur dan menghabiskan waktu yang seharusnya bermanfaat hanya untuk menunggu bantuan dari pemerintah.

Bagi mereka bantuan dari pemerintah seolah dianggap "sebagai" bonus manakala mereka bisa mendapatkannya, tetapi fokus mereka adalah swadaya dan kemandirian.