Laman

  • Home

Minggu, 11 September 2016

Mengapa Harus di Kota Besar ? Di Pedesaan pun Kita Bisa Membangun Sesuatu yang Luar Biasa

Ilustrasi: Resort di Pedesaan
Berkaca dari sebuah resort yang dibangun oleh teman lama saya di daerah Sleman, Yogyakarta, saya jadi ingat beberapa pertanyaan dari teman-teman UMKM yang berasal dari pedesaan mengenai bagaimana membangun desa mereka agar menjadi menarik dan pada akhirnya produk-produk mereka pun bisa terjual di daerahnya sendiri.

Teman saya yang berkewarganegaraan Australia ini membangun sebuah resort di pedesaan yang lingkungannya masih persawahan dan sungai. Konsep ini telah dia ceritakan kepada saya sejak tahun 2000an yang lalu, dan baru terealisir beberapa tahun yang lalu karena butuh investasi yang cukup besar.

Bukan masalah resort-nya, melainkan mengenai konsep bagaimana membangun magnet untuk daerah pedesaan agar  menjadi menarik untuk wisata. Dan tidak harus sebuah resort, melainkan sebuah konsep wisata yang ramah lingkungan dan mampu mengangkat nilai lokal daerah tersebut.

Memang sebuah resort selalu diawali dengan sebuah konsep yang kuat, dan saya selalu tertarik berdiskusi dengan pemilik resort yang kebanyakan adalah warga negara asing. Karena biasanya mereka membangun resort itu berdasarkan nilai lokal daerah tersebut. Sebuah kemampuan yang mungkin jarang dimiliki oleh para pengusaha lokal dalam memadukan alam dan konsep bangunan di resort tersebut. Dari diskusi inilah saya belajar, belajar mendalami sebuah konsep yang kuat berdasarkan kearifan lokal.

Desa pun bisa bersinar jika dibangun dengan konsep yang kuat




Kehidupan di kota yang hingar-bingar pastilah memicu kebosanan dan kepenatan yang luar biasa. Jika mall dan pusat perbelanjaan di kota besar ramai sebagai pelarian untuk membunuh rasa bosan, maka sebenarnya peluang membangun "sesuatu" di desa adalah hal yang menjanjikan secara bisnis.

Sebenarnya sudah banyak konsep mengenai desa wisata yang menonjolkan sebuah nilai lokal baik berupa edukasi maupun sebagai sentra produksi. Tetapi seringkali konsep ini tidak konsisten dan kurang kuat sehingga tidak mampu bertahan lama.

Kadang kita perlu belajar dari konsep sederhana dan alamiah dari orang asing, seperti orang Italia yang memang jago dalam konsep resort maupun konsep orang Australia yang lekat dengan konsep pertanian, perkebunan dan agrowisata. Tidak ada salahnya untuk belajar dari mereka, bagaimana mereka mampu memahami kebutuhan pasar, dan potensi kearifan lokal yang bisa dijual.

Beberapa hal yang saya pelajari dari diskusi saya dengan teman-teman pemilik resort adalah sebagai berikut:

1. Menonjolkan potensi asli dan alami.

Menemukan potensi asli dari daerah tersebut merupakan kunci dari awal membangun konsep. Terkati dari tujuan membangun wisata di daerah tersebut dan potensi yang ada di daerah tersebut dan apa yang mesti "dilakukan" untuk mencapi tujuan tersebut dari potensi yang ada.

Masih sering saya melihat konsep yang saling tabrak di beberapa obyek wisata dan desa wisata, misalnya: konsepnya pedesaan, tetapi bangunannya modern dan bergaya minimalis. Misalnya lagi, mengedepankan konsep peternakan, tetapi konsep penataan lokasinya terlalu modern dan sebagainya.




2. Tetap mengedepankan kebutuhan pasar.

Yang sering terlupakan dalam membangun sebuah konsep desa wisata atau resort adalah penentuan segmen dan target pasar. Seringkali konsep yang dibuat tidak fokus pasar segmen pasar tertentu hanya karena ingin menjangkau pasar yang luas.

Para pemilik resort yang menjadi referensi saya pun mengatakan bahwa memang mereka membidik pasar yang sempit, pasar yang sesuai dengan konsep yang mereka buat. Semakin sempit pasar yang dibidik, semakin mudah kita dalam menganalisa kebutuhan pasar segmen tersebut sehingga strategi layanannya pun sesuai dengan pasar di segmen tersebut.


3. Faktor estetika tetap menjadi hal yang wajib.

Estetika atau keindahan adalah komoditas yang kita perjual belikan dalam bisnis wisata, mulai dari keindahan lokasi dan penataannya maupun keindahan dalam pelayanan dan pemberian kesan. Orang bilang, yang indah itu adalah yang asli bukan polesan karena yang asli akan memberikan kesan yang lama sementara yang polesan hanya akan bertahan dalam kurun waktu tertentu.

Kemampuan dan pengalaman dari seorang ahli sangat dibutuhkan dalam bidang ini, karena hal ini merupakan hal yang sangat penting dalam industri pariwisata.

4. Manajemen pengelolaan yang baik

Semua hal tersebut di atas selanjutnya memerlukan manajemen pengelolaan yang baik agar mampu secara konsisten "on the track" dari konsep yang telah dibangun dan mampu memberikan kontribusi penghasilan yang diharapkan.

Meskipun masih banyak faktor lain yang sangat mempengaruhi, tetapi 4 faktor inilah yang saya ingat ketika harus masuk ke dalam konsep wisata.


Apa kaitannya dengan pemasaran produk UMKM ?

Kebanyakan produk-produk dari teman-teman UMKM adalah produk yang sangat lokal dan spesifik, dan produk jenis ini akan lebih menarik jika dijual di "kandang" sendiri sebagai nilai sebuah pariwisata, atau lebih mudahnya sebagai oleh-oleh yang khas.

Bukankah jika oleh-oleh sudah bisa didapatkan di semua mini market sudah tidak khas lagi ? Sudah hilang "nilai" khas-nya.

Untuk mengusung produk teman-teman UMKM menjadi produk oleh-oleh, maka di daerah tersebut harus dibangun sebuah magnet yang mampu menarik kunjungan dari masyarakat luar. Salah satu konsep yang bisa dikembangkan oleh pedesaan adalah konsep resort atau dewa wisata, jika daerah tersebut tidak ada obyek wisata.

Hal yang paling sulit adalah membangun magnet, tetapi jika masyarakat di daerah tersebut jeli melihat peluang, sebenarnya keragaman yang ada di Indonesia adalah sebuah daya tarik nyata bagi wisata. Semua daerah memiliki nilai dan keunikan tersendiri yang bisa dikemas ke dalam sebuah konsep wisata yang asli dan profesional.

Semoga tulisan ini bisa memberikan semangat kepada teman-teman di pedesaan untuk mulai memikirkan konsep apa yang cocok dan sesuai untuk desanya. Mereka tidak harus ke kota, mereka bisa besar di desanya.