Laman

  • Home

Minggu, 21 Agustus 2016

Membangun Jaringan Kemitraan


Image result for business network
Membangun Jaringan Kemitraan
Kemitraan secara umum akan terjalin bilamana terdapat pihak yang merasakan adanya kelemahan implementasi bila sebuah pembangunan hanya menjadi focus of interest satu pihak saja. Dengan kata lain bahwa kemitraan sejatinya merupakan solusi yang tepat bagi pihak yang mencita-citakan adanya percepatan progress pembangunan. 


Kemitraan merupakan model pengelolaan sumber daya yang tepat bila terkait dengan barang publik (public goods) misalnya dalam hal pemeliharaan dan pelestarian lingkungan seperti program menabung pohon  dimana baik masyarakat maupun pemerintah memiliki kepentingan dengan keberadaannya. Masyarakat sekitar lahan yang ditanami pohon baik secara ekonomi maupun sosial sangat berharap banyak terhadap pohon yang ditanam. Sementara, disisi yang lain pemerintah memiliki kepentingan yang lebih besar terhadap penanaman kembali lahan kritis, tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga dari sisi ekologi.

Dalam kemitraan, seluruh elemen mendapatkan apa yang menjadi kebutuhannya. Sinergi antar elemen menjadi kunci dalam memainkan perannya masing-masing. Bangunan kemitraan harus didasarkan padahal-hal berikut: kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan, adanya sikap saling mempercayai dan saling menghormati, tujuan yang jelas dan terukur, dan kesediaan untukberkorban baik, waktu, tenaga, maupun sumber daya yang lain. Secara umum, prinsip-prinsip kemitraan adalah persamaan atau equality, keterbukaan atau transparancy dan saling menguntungkan atau mutual benefit.


Sejatinya membangun kemitraan sangatlah penting untuk membuka akses menuju kemandirian masyarakat terutama dalam memasarkan hasil produksinya atau bermitra dalam program menabung pohon . Disamping itu, membangun kemitraan merupakan salah satu mata tugas dari seorang Fasilitator program menabung pohon selain komunikasi dialogis dan mengorganisasikan masyarakat.

Hal-hal yang harus difahami oleh Fasilitator tentang Membangun Jaringan Kemitraan

  1. Memahami hakikat jaringan kemitraan
  2. Memiliki kesadaran akan pentingnya membangun jaringan kemitraan.
  3. Mengidentifikasi/memetakan posisi jaringan kemitraan
  4. Memahami tujuan membangun jaringan kemitraan.
  5. Memahani prinsip dalam membangun jaringan kemitraan.
  6. Menerapkan Strategi dalam membangun jaringan kemitraan.
  7. Menguasai pola-pola jaringan kemitraan.
MEMAHAMI  JARINGAN KEMITRAAN


Pengertian


Jejaring kerja dan kemitraan pada lazimnya juga dikenal dengan istilah “partnership”. Secara etimologis, istilah “partnership” berasal dari kata “partner” yang berarti pasangan, jodoh, sekutu atau kompanyon. 


Sedangkan “partnership” diterjemahkan sebagai persekutuan atau perkongsian. 


Dengan demikian, kemitraan dapat dimaknai sebagai suatu bentuk persekutuan antar dua pihak atau lebih yang membentuk satu ikatan kerjasama di suatu bidang usaha tertentu atau tujuan tertentu sehingga dapat memperoleh manfaat hasil yang lebih baik. Jaringan atau Networking adalah proses kebersamaan. Selain itu, networking juga diartikan sebagai jalinan hubungan yang bermanfaat dan saling menguntungkan. Dalam arti kata lain, membangun networking haruslah berlandaskan prinsip saling menguntungkan dan komunikasi dua arah (dialogis). 

Pada kenyataannya di lapangan, jejaring kerja dan kemitraan dapat dimaknai menjadi dua: pertama, bahwa walaupun pada tataran konseptual terdapat sentuhan kesamaan, namun pada praktiknya antara membangun jejaring kerja dengan kemitraan terdapat perbedaan. Jejaring kerja merupakan bentuk kerja sama yang masih belum konkret wujudnya karena peran para pihak belum bisa dimainkan. Sementara di sisi yang lain, kemitraan merupakan wujud yang lebih konkret dari jalinan kerjasama karena semua pihak yang terlibat dalam kemitraan mengetahui dan mampu memainkan perannya masing-masing sesuai dengan aturan ataupun batasan yang telah disepakati bersama. Kedua, bahwa jaringan kemitraan merupakan awal dari jalinan kemitraan atau dengan kata lain bahwa tindak lanjut dari jaringan kemitraan. 

Pada titik ini, antara Fasilitator dan Jaringan kemitraan dapat diibaratkan sebagai sebuah mata uang dimana masing-masing sisinya tidak dapat dipisahkan satu sama lain.


Hakikat Membangun Jaringan Kemitraan


Dalam era modern saat ini dimana segala sesuatunya dapat dikendalikan dengan teknologi mutakhir, kesuksesan lembaga atau organisasi masih tetaplah sangat tergantung pada keberhasilan menciptakan kemitraan. Secara garis besar, kita sangat membutuhkan kemitraan untuk menjadikan kehidupan kita lebih sukses. Demikianpula bagi fasilitator, jika mau dikatakan profesional dan kompeten di bidangnya maka sudah barang tentu dalam melaksanakan kegiatan fasilitasi dan pendampingan semua program seharusnya sudah terkoneksi dengan berbagai sumber dalam suatu kemitraan. Harus disadari bahwa menjalin hubungan sosial dengan siapapunmerupakan bagian penting dalam menjalankan segala aktivitas kehidupan. 

Bagi seorang fasilitator membangun kemitraan merupakan hal yang esensial mengingat peran yang harus dimainkan sebagai garda terdepan pihak yang melakukan pendampingan program menabung pohon. Sementara aktivitas program menabung pohon  itu sendiri memiliki misi jangka panjang sebagai pemantik agar masyarakat tahu dan mau serta mampu menolong dirinya sendiri dalam menyelesaikan setiap permasalahan lingkungan serta ekonomi yang dihadapi. Semua itu ditempuh agar masyarakat mampu bertransformasi menjadi komunitas peduli lingkungan  yang berbasis usaha di bidang lingkungan.


Membangun jaringan kemitraan pada hakikatnya adalah sebuah proses membangun komunikasi atau hubungan, berbagi ide, informasi dan sumber daya atas dasar saling percaya (trust) dan saling menguntungkan di antara pihak-pihak yang bermitra, yang dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman atau perjanjian kontrak tertentu guna mencapai kesuksesan bersama yang lebih besar. Dari definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa membangun jejaring kerja dan kemitraan pada dasarnya dapat dilakukan jika pihak-pihak yang bermitra memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  • Ada dua pihak atau lebih organisasi;
  • Memiliki kesamaan visi dalam mencapai tujuan organisasi;
  • Ada kesepahaman atau kesepakatan;
  • Saling percaya dan membutuhkan;
  • Komitmen bersama untuk mencapai tujuan yang lebih besar.


MEMBANGUN JARINGAN KEMITRAAN


Pentingnya Membangun Jaringan Kemitraan


Membangun jaringan kemitraan dalam pelaksanaan program menabung pohon menjadi sangat penting baik secara individu atau organisasi. Kemitraan tersebut digalang dengan maksud untuk memfasilitasi atau membuka akses masyarakat kepada sumberinformasi, teknologi dan sumber daya lainnya yang dibutuhkan.


Tujuan Membangun Jaringan Kemitraan


Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai membangun jaringan kemitraan, yaitu sebagai berikut:


  • Meningkatkan Partisipasi Masyarakat Pemanfaat


  • Mensinergikan Program


Prinsip Membangun Jaringan Kemitraan


Dalam membangun jaringan kemitraan diperlukan adaya prinsip-prinsip yang harus disepakati bersama agar terjalin kuat dan berkelanjutan. Prinsip-prinsip tersebut di antaranya adalah:


  • Kesamaan Visi-Misi

Kemitraan hendaknya dibangun atas dasar kesamaan visi dan misi, serta tujuan organisasi. Kesamaan visi dan misi menjadi motivasi dan perekat pola kemitraan tersebut.


  • Kepercayaan (trust)

Setelah adanya kesamaan visi dan misi maka prinsip berikutnya yang tidak kalah penting adalah adanya rasa saling percaya antar pihak yang bermitra. Kepercayaan adalah modal dasar dalam membangun kemitraan yang sinergis dan mutualis. Untuk dapat dipercaya, maka komunikasi yang dibangun harus dilandasi oleh itikad (niat) yang baik dan menjunjung tinggi kejujuran.


  • Saling Menguntungkan

Asas saling menguntungkan merupakan pondasi yang kuat dalam membangun kemitraan. Jika dalam bermitra ada salah satu pihak yang merasa dirugikan ataupun merasa tidak mendapat manfaat lebih, maka akan mengganggu keharmonisan dalam bekerja sama. Antara pihak yang bermitra harus saling memberi kontribusi sesuai peran masing-masing dan harus saling merasa diuntungkan dengan adanya jalinan kemitraan.


  • Efisiensi dan Efektifitas

Dengan mensinergikan beberapa sumber untuk mencapai tujuan yang sama diharapkan mampu meningkatkan efisiensi waktu, biaya dan tenaga. Efisiensi tersebut tentu saja tidak mengurangi kualitas proses dan hasil, justru sebaliknya malah dapat meningkatkan kualitas proses dan poduk yang dicapai. Tingkat efektifitas pencapaian tujuan menjadi lebih tinggi jika proses kerja kita melibatkan mitra kerja. Dengan kemitraaan dapat dicapai kesepakatan-kesepakatan dari pihak yang bermitra tentang siapa melakukan apa sehingga pencapaian tujuan diharapkan akan menjadi lebih efektif.


  • Komunikasi Dialogis

Komunikasi timbal balik dilaksanakan secara dialogis atas dasar saling menghargai satu sama lainnya. Komunikasi dialogis merupakan pondasi dalam membangun kerjasama. Tanpa komunikasi dialogis akan terjadi dominasi pihak yang satu terhadap pihak yang lainnya yang pada akhirnya dapat merusak hubungan yang sudah dibangun.


  • Komitmen yang Kuat

Kemitraan akan terbangun dengan kuat dan permanen jika ada komitmen satu sama lain terhadap kesepakatan-kesepakatan yang dibuat bersama.



Strategi Membangun Jejaring Kerja dan Kemitraan


Strategi membangun jejaring kerja dan kemitraan merupakan upaya untuk mengantisipasi agar kemitraan tersebut tidak menemui kebuntuan atau kegagalan karena hal-hal yang tidak prinsip atau kesalah- pahaman bisa terjadi. Dalam membangun strategi kemitraan dapat dilakukan dengan panduan berikut :


  • Membangun kemitraan bukan sekedar bertukar kartu nama dan berkenalan

Jika sebagian besar orang merasa kurang berhasil membangun jejaring kerja (networking) karena mereka hanya berkenalan atau bertukar kartu nama. Setelah tiba di rumah kartu nama itu hanya disimpan dalam laci, maka akan sulit bisa mengingat siapa mereka. Sedangkan untuk membangun kekuatan networking hanya bisa dikerjakan dengan cara yang terorganisasi dengan baik.


  • Jadilah pendengar yang baik

Pada umumnya, para penyuluh kehutanan senang membicarakan tentang diri mereka sendiri. Mereka akan selalu berpikir: ”apa yang bisa saya peroleh?” atau “apa keuntungan percakapan ini untuk fasilitator sendiri?” Berikut adalah keuntungan menjadi pendengar yang baik:

  • Kita akan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dalam kesempatan pertemuan singkat tersebut Misalnya mendapatkan informasi tentang keluarga, kelompok mereka, masalah usaha dan kemajuannya serta pribadi mereka jalankan saat ini. Hal ini sangat penting guna memberikan perlakuan yang paling tepat dan di sisi lain mereka juga terkesan pada diri kita sebagai penyuluh. 
  • Fokus pada tujuan

Dengan menjadi pendengar yang baik kita akan mampu memvisualisasikan siapa saja yang harus kita dekati. Sehingga tidak perlu membuang waktu dengan mengikuti perkumpulan yang tidak berhubungan dengan target yang ingin kita capai. Karena kekuatan networking terletak pada kualitas dibandingkan dengan kuantitas atau jumlahnya. Upayakan dalam 3 hari atau 72 jam kita harus berusaha terus menjalin komunikasi dengan mereka agar mereka tidak melupakan kita begitu saja Langkah yang bisa kita lakukan adalah mengirimkan sms, telepon, e-mail, kartu pos, ataupun surat.


  • Bersikap sabar tetapi aktif dan proaktif dalam anggota

Memberi bisa dilakukan dalam berbagai cara entah dalam bentuk pelayanan atau kontribusi kepada perorangan maupun group. Milikilah nilai tersendiri bagi orang lain dengan menciptakan kerjasama yang memberikan kemudahan dan berbagai nilai yang menguntungkan mereka.


  • Bersikap lebih cerdas dan selalu menyampaiakan informasi yang akurat dan apa adanya



Caranya adalah dengan terus belajar banyak hal setiap ada kesempatan (banyak membaca, mengikuti seminar, workshop, kompetisi, expo dan lain-lain) sehingga kita akan lebih dikenal dibandingkan orang lain karena kelebihan ilmu pengetahuan yang kita miliki.


  • Kesinambungan komunikasi

Fasilitator harus selalu meluangkan waktu melakukan komunikasi guna mengembangkan dan mempertahankan hubungan yang sudah terbangun. Hanya melalui komunikasi, fasilitator dapat menjalin hubungan dengan para pelaku utama


  • Peduli lingkungan

Fasilitator harus memiliki rasa kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat disekitarnya. Banyak cara untuk mewujudkannya seperti ikut berpartisipasi dalam kegiatan – kegiatan di masyarakat


  • Membangun citra diri sebagai wirausaha

Membangun citra sebagai wirausaha dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kemampuan berkomunikasi, komitmen atas prinsip dan janji, professional, peduli terhadap pelaku utama dan pelaku dan yang tidak kalah penting adalah menjaga penampilan sebagai fasilitator



LANGKAH-LANGKAH DALAM MEMBANGUN JARINGAN KEMITRAAN


Identifikasi atau Pemetaan Objek Mitra


Fasilitator perlu melakukan identifikasi atau memetakan pelaku utama dan pelaku usaha serta lembaga atau organisasi yang sekiranya bisa diajak bermitra baik di wilayah kerjanya maupun wilayah yang lebih luas. Identifikasi didasarkan pada karakteristik dan kebutuhan bermitra. Pemetaan dilakukan secara berhadap mulai dariscope yang lebih kecil kepada scope yang lebih besar. Berikut adalah contoh identifikasi atau pemetaan mitra / kelompok untuk program menabung pohon yang berpotensi dijadikan mitra kerja: Kelompok Mayarakat yang sudah maju; Tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh; Dunia Usaha dan Industri; Koperasi/KUD; Lembaga Pemerintah (Dinas-dinas terkait, UPT, dsb)


Menggali Informasi


Langkah selanjutnya setelah melakukan identifikasi dan pemetaan kebutuhan adalah menggali informasi tentang tujuan organisasi, ruang lingkup pekerjaan atau bidang garapan, visi misi dan sebagainya. Informasi-informasi tersebut berguna untuk menjajagi kemungkinan membangun jaringan kemitraan. Pengumpulan informasi dapat dilakukan dengan pendekatan personal, informal dan formal. Pendekatan personal lebih menekankan pada pendekatan secara pribadi/intim tanpa memperhatikan sisi-sisi kelembagaan formal. Pendekatan personal dapat dilakukan dengan mendatangi rumahnya dengan tujuan untuk ngobrol tentang informasi yang ingin didapatkan. Pendekatan informal dilakukan dengan memanfaatkan hubungan baik yang sudah terjalin. Pendekatan formal dilakukan dengan memanfaatkan posisi atau peran seseorang dalam sebuah lembaga. Dalam beberapa kasus, pendekatan personal dan informal akan lebih efektif bila dibandingkan dengan pendekatan formal.


Menganalisis Informasi


Berdasarkan data dan informasi yang terkumpul selanjutnya dianalisis dan menetapkan mana pihak-pihak yang relevan dengan permasalahan dan kebutuhan yang diperlukan utuk dihadapi.


Penjajagan Kerjasama


Dari hasil analisi data dan informasi, perlu dilakukan penjajagan lebih mendalam dan intensif dengan pihak-pihak yang memungkinkan diajak kerjasama. Penjajagan dapat dilakukan dengan cara melakukan audensi atau presentasi tentang program yang akan dijalankan.


Penyusunan Rencana Kerja


Apabila beberapa pihak telah sepakat untuk bekerja sama, maka langkah selanjutnya adalah penyusunan rencana kerja sama. Dalam perencanaannya harus melibatkan pihak-pihak yang akan bermitra sehingga semua aspirasi dan kepentingan setiap pihak dapat terwakili.


Membuat Kesepakatan


Para pihak yang ingin bermitra perlu untuk merumuskan peran dan tanggung jawab masing-masing pihak pada kegiatan yang akan dilakukan bersama yang dituangkan dalam Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).


Penandatanganan Akad Kerjasama (MoU)


Nota Kesepakatan yang sudah dirumuskan selanjutnya ditandatangani oleh pihak-pihak yang bermitra.



Pelaksanaan Kegiatan


Pelaksanaan kegiatan merupakan tahapan implementasi dari rencana kerjasama yang sudah disusun bersama dalam rangka mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan tanggungjawab dan peran masing-masing pihak yang bermitra.


Monitoring dan Evaluasi


Selama pelaksanaan program kerjasama perlu dilakukan monitoring dan evaluasi. Tujuan monitoring adalah memantau perkembangan pelaksanaan kegiatan sehingga dapat dicegah terjadinya penyimpangan (deviasi) dari tujuan yang ingin dicapai. Selain itu juga segala permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan kegiatan dapat dicarikan solusinya. Hasil monitoring dapat dijadikan dasar untuk melakukan evaluasi. Perlu dilakukan evaluasi bersama antar pihak yang bermitra untuk mengetahui kegiatan yang belum berjalan sesuairencana dan mana yang sudah, tujuan mana yang sudah tercapai dan mana yang belum, masalah atau kelemahan apa yang menghambat pencapaian tujuan dan penyebabnya.


Perbaikan


Hasil evaluasi oleh pihak-pihak yang bermitra akan dipakai sebagai dasar dalam melakukan perbaikan dan pengambilan keputusanselanjutnya apakah kerjasama akan dilanjutkan pada tahun berikutnya atau tidak.


Rencana Tindak Lanjut


Apabila pihak-pihak yang bermitra memandang penting untuk melanjutkan kerjasama, maka mereka perlu merencanakan kembali kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun berikutnya. Dalam Perencanaan selanjutnya perlu mempertimbangkan hasil evaluasi dan refleksi sebelumya. Disamping itu, mungkin dipandang perlu untuk memperpanjang akad kerjasama dengan atau tanpa perubahan nota kesepakatan.


Pola Kemitraan


Pihak mana saja yang berpotensi menjadi mitra fasilitator menabung pohon dan bagaimana pola kemitraan serta pesan masing-masing mitra dapat dituangkan dalam perjanjian kerja. Pola kemitraan yang sudah berjalan perlu disempurnakan dengan melibatkan pihak – pihak yang bermitra. Tujuannya adalah untuk menemukan pola kemitraan yang lebih tepat dimana pihak-pihak yang bermitra dapatmemainkan perannya masing-masing dengan lebih baik.