Laman

  • Home

Minggu, 14 Agustus 2016

7 Alasan Mengapa Karyawan Terbaik Keluar, Meskipun Mereka Menyukai Pekerjaan Mereka


"Untuk menang sebagai perusahaan terbaik, Anda harus terlebih dahulu memenangkan karyawan terbaik Anda."


Kami menyajikan tulisan ini yang bukan saja hal ini sering terjadi dalam perusahaan besar tetapi juga menjadi kendala utama dalam usaha skala kecil. Permasalahan usaha skala kecil untuk berkembang selain modal dan pemasaran justru adalah masalah SDM, dan dalam kesempatan ini kami ingin menuliskannya di bawah ini.

Kehilangan karyawan terbaik adalah salah satu hal yang menakutkan dalam bisnis. Ada pengorbanan dalam pencarian, orientasi dan pelatihan untuk penggantinya. Ada ketidakpastian tentang bagaimana karyawan baru akan bekerja. Ada berbagai kesulitan yang terjadi pada seluruh staf sampai posisi yang lowong dapat diisi.

Kadang-kadang ada alasan yang kuat - orang itu buruk bagi tim, atau pindah karena alasan pribadi, atau ditawari kesempatan yang lebih baik untuk dilewatkan. Dalam kasus tersebut, meskipun hal itu adalah transisi yang sulit, tetapi merupakan alasan yang benar-benar fundamental. Cukup sulit menahan karyawan keluar dari perusahaan dengan alasan serupa.

Lantas bagaimana selanjutnya
?



 Menjaga karyawan terbaik anda dimulai dengan memahami mengapa orang meninggalkan peruahaan. Berikut adalah 7 (tujuh) alasan utama:

1. Stagnasi



 Orang tidak ingin berpikir mereka terkunci dalam alur dan akan datang ke tempat yang sama dan melakukan hal yang sama setiap hari selama 20 atau 40 tahun ke depan. Orang ingin merasa bahwa mereka masih bergerak maju dan berkembang dalam kehidupan profesional mereka. Mereka ingin memiliki sesuatu sebagaimana cita-cita mereka. Jika tidak ada jenjang karir atau struktur untuk kemajuan, mereka tahu bahwa mereka harus mencari tempat lain. Sementara itu, mereka jauh lebih mungkin untuk menjadi bosan, tidak bahagia, dan benci - hal in yang akan mempengaruhi kinerja dan semangat seluruh tim.

2. Terlalu banyak pekerjaan



Beberapa periode stres dan perasaan kewalahan datang bersama sebagian besar pekerjaan, tapi tidak ada motivasi besar bagi karyawan untuk lebih cepat melainkan seperti kerja paksa. Dan seringkali hal itu terjadi pada karyawan terbaik - yang paling mampu dan berkomitmen kepada perusahaan anda. Jika mereka mengalami hal ini terus-menerus, diberikan tugas lebih dan lebih, terutama dengan tidak adanya pengakuan seperti promosi dan kenaikan gaji, mereka akan merasa bahwa mereka sedang dimanfaatkan. Dan siapa yang bisa menyalahkan mereka? Karena anda pun akan merasakan hal yang sama.

3. Visi yang Samar



Tidak ada yang lebih frustrasi daripada tempat kerja yang penuh dengan visi dan impian besar, tapi tidak ada terjemahan dari aspirasi mereka ke dalam tujuan strategis yang membuat mereka dapat mencapainya. Tanpa korelasi itu, semua hanyalah omong kosong belaka. Apakah orang yang berbakat ingin menghabiskan waktu dan energinya hanya untuk mendukung sesuatu yang tidak terdefinisi? Orang ingin tahu bahwa mereka sedang bekerja untuk menciptakan sesuatu, bukan hanya terus-menerus bertanya tentang sesuatu hal di depan mereka.

4. Mengambil keuntungan atas orang-orang tidak terampil



 Ketika sebuah organisasi terlalu menghargai orang-orang dari level bawah (tidak terampil), orang-orang terbaik pergi ke tempat lain, meninggalkan mereka yang terlalu biasa-biasa saja atau apatis untuk menemukan posisi yang lebih baik. Hasilnya adalah budaya kinerja yang kurang, moral rendah, dan bahkan masalah disiplin. Tentu saja, hal-hal seperti keuntungan, output, menyenangkan stakeholder, dan produktivitas tidak akan tercapai karena perusahaan selalu mencari orang-orang baru agar biaya murah, sementara orang yang merasa mereka sudah pengalaman dan terampil akan merasa bosan karena kinerja yang biasa-biasa tanpa tantangan, dan mereka akan merasa terusir dengan halus untuk mencari pekerjaan di tempat lain.

5. Kurangnya pengakuan



 Bahkan orang yang paling tanpa pamrih sekalipun ingin diakui dan dihargai atas pekerjaan yang dilakukannya. Karena hal Ini adalah bagian dari kita sebagai manusia. Ketika anda gagal untuk mengenali karyawan, maka anda tidak hanya gagal untuk memotivasi mereka, tetapi juga kehilangan cara yang paling efektif untuk memperkuat kinerja yang hebat. Bahkan ketika anda tidak memiliki anggaran untuk kenaikan gaji atau bonus, ada banyak carayang murah untuk memberikan pengakuan - dengan kata-kata penghargaan yang gratis (pujian dari atasan). Orang akan peduli jika mereka merasa diperhatikan.

6. Kurangnya kepercayaan 


Karyawan Anda memiliki sudut pandang untuk melihat perilaku anda dan mempertimbangkannya sebagai komitmen Anda. Jika mereka melihat anda berperilaku  tidak etis dengan vendor, berbohong kepada decision maker, curang kepada klien, atau gagal untuk menepati janji-janji anda, maka karyawan yang terbaik dan paling berprinsip akan meninggalkan anda. Sisanya, bahkan yang lebih buruk, akan tinggal di belakang dan mengikuti langkah Anda.

7. Hierarki berlebihan



 Setiap tempat kerja membutuhkan struktur dan kepemimpinan, tetapi organisasi top-down yang kaku tidak akan membuat karyawan bahagia. Jika karyawan terbaik tahu bahwa mereka diharapkan untuk menghasilkan uang tanpa memberikan kontribusi ide-ide mereka, maka mereka tahu bahwa mereka tidak diberdayakan untuk membuat keputusan, dan jika mereka terus-menerus harus tunduk kepada orang lain atas dasar jabatan mereka daripada keahlian mereka, mereka tidak memiliki banyak hal untuk menjadi bahagia.

Pada akhirnya, banyak orang yang meninggalkan pekerjaan mereka karena alasan karena bos, suasana kerja atau kondisi organisasi. Coba tanyakan pada diri anda sendiri apa yang telah dilakukan yang telah mendorong orang-orang terbaik anda pergi, dan mulai membuat perubahan yang diperlukan untuk menjaga karyawan terbaik.