Laman

  • Home

Jumat, 08 Juli 2016

Perusahaan Sakit dan Cara Mengatasinya

Perusahaan Sakit dan Cara Mengatasinya.


Ibarat tubuh manusia yang karena beradaptasi dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah, tubuh manusia bisa sakit sebagaimana dengan sebuah perusahaan yang karena perubahan-perubahan lingkungan bisnis baik makro maupun mikro yang menyebabkannya perusahaan tersebut sakit. 

Yang terpenting bukan sakitnya, melainkan upaya untuk menyembuhkannya agar perusahaan tersebut dapat beroperasi normal kembali atau bahkan memiliki imunisasi dari beberapa perubahan iklim bisnis yang terjadi.

Kejadian ini pasti tidak bisa dielakkan oleh beberapa pelaku usaha, karena pasti akan ada masa perusahaan tersebut sakit terlebih ketikan usaha tersebut masih sangat awal (pemula) yang belum memiliki "imunisasi" terhadap iklim bisnis yang ada. Oleh sebab itu wacana mengenai kondisi perusahaan yang sakit dan bagaimana cara mengatasinya sangat penting untuk dikemukakan kepada para pelaku UMKM yang kebanyakan masih pemula, atau usia bisnisnya masih di bawah 3 tahun.

Berikut salah satu tulisan dari saudara Achmad Rizal yang bisa kami bagikan kepada teman-teman UMKM sebagai wacana ketika kondisi usahanya mengalami gangguan. 

Perusahaan Sakit dan Cara Mengatasinya
 
Penulis: Achmad Rizal
 
Bagaimana seandainya perusahaan Anda termasuk yang bermasalah? Atau Anda ketiban pulung untuk memperbaiki perusahaan bermasalah? Apa yang seyogyanya dilakukan? Secara empiris historis perusahaan mengalami masalah tentunya disebabkan oleh banyak faktor. Ibarat orang sakit, pasti ada penyebabnya. Tetapi, yang menjadi problem kerap kali adalah tidak adanya diagnostik tuntas terhadap permasalahan yang dialami perusahaan.

Bisa saja yang mengemuka sebenarnya hanya semacam symptom, bukan akar masalah, sehingga terapi yang diberika menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, langkah pertama yang layak dilakukan jika ingin membenahi perusahaan bermasalah adalah mencari tahu semua masalah yang ada sampai ke akar-akarnya, tanpa ada sedikitpun yang disembunyikan.

Memang, langkah semacam itu kadang menimbulkan implikasi, misalnya terbongkarnya tindak korupsi oleh pihak yang menyebabkan kinerja perusahaan menurun, atau mengemukanya ketidakmampuan pengelola sebelumnya dan banyak lagi kemungkinan yang mungkin tidak mengenakkan. Tapi, kalau memang perusahaan hendak dibenahi, maka segala yang tidak mengenakkan itu tetap saja mesti diungkap. Setelah itu baru dicarikan solusinya.

Eksternal-internal


Pada dasarnya perusahaan dapat bermasalah bisa disebabkan oleh faktor eksternal, bisa juga karena faktor internal. Mengenai faktor eksternal tidak perlu dibicarakan di sini, karena dalam praktiknya menjadikan faktor eks-ternal sebagai pe-nyebab se-ringkali hanya sebagai kambing hitam. Misalnya, masalah nilai tukar, kondisi makro, politik dan sebagainya. Namun, jauh lebih relevan kalau yang kita telaah hanya faktor internal atau menyangkut pola pengelolaan perusahaan itu sendiri.

Perusahaan dianggap bermasalah utamanya adalah karena kinerja keuangannya tidak baik. Misalnya mengalami kerugian terus-menerus, modal tergerus, omzet turun, market share mengecil, biaya operasional melonjak dan lain sebagainya. Tapi, semua itu hanyalah indikator permukaan.

Akar masalahnya masih ada di balik kondisi tersebut. Sebut saja mengenai kerugian. Ini bisa terjadi karena pendapatan lebih rendah dibanding biaya. Kenapa pendapatan rendah? Bisa karena omzet rendah. Tetapi, bisa saja sebaliknya, omzet tinggi, namun biaya membengkak.

Kalau setting-nya seperti itu, tentu saja salah satu upaya keras yang bisa dilakukan adalah dengan memangkas biaya. Termasuk di sini mengkaji kembali apakah organisasi perusahaan terlalu gemuk, kebanyakan karyawan, produktivitas rendah, atau memang ada pemborosan dalam hal biaya. Lepas dari itu kuncinya adalah melakukan saving cost. Strateginya tentu macam-macam. Bergantung pada kondisi dan kedalaman masalah pada masing-masing perusahaan.

Itu satu hal dan yang lain serta kerap membuat banyak perusahaan bermasalah adalah karena utang yang terlalu besar. Benar, utang pada dasarnya bisa menjadi semacam amunisi untuk meningkatkan bisnis perusahaan, tapi itu dengan catatan bahwa utang tersebut digunakan secara efektif dan dialokasikan untuk kegiatan yang sudah terencana.

Namun, dalam praktiknya banyak perusahaan menggunakan utang untuk keperluan yang lain, atau dikenal dengan istilah side streaming. Kalau ini yang terjadi, maka jangan pernah berharap perusahaan akan membaik secara natural kecuali dilakukan corporate action untuk menurunkan beban utang yang terlalu besar tersebut.

Termasuk corporate action di sini adalah menjual asset-asset yang tidak produktif, sehingga ada cash inflow untuk membayar sebahagian utang perusahaan. Dengan cara seperti itu, maka beban bunga utang juga menjadi lebih rendah.

Pendeknya, kalau persoalan yang muncul adalah karena utang yang terlalu besar, maka pengurangan aset tidak produktif dengan cara menjualnya, mungkin bisa menjadi salah satu solusi. Cara yang lain, pemilik menambah modal. Tapi cara seperti ini amat jarang ditempuh, karena pemilik biasanya sudah kadung pelit atau tidak punya duit. Kecuali mencari investor baru untuk menambah modal.

Cara yang lain, adalah dengan memperbaiki struktur utang itu sendiri, misalnya yang bersifat jangka pendek di-reschedule menjadi jangka panjang dengan grace period yang cukup lama, sehingga perusahaan memiliki room untuk menggunakan dana yang seharusnya membayar utang sebagai modal kerja tambahan.

Ini akan mendongkrak omzet perusahaan, laba meningkat dan kemampuan membayar utang juga meningkat. Tetapi di sisi lain, upaya penghematan tentu juga mesti dilakukan. Perbaikan tidak mungkin hanya dilakukan pada satu sisi, namun mesti komprehensif dan saling mendukung. Sebab, percuma saja ada room untuk modal kerja, kalau di sisi lain, biaya tidak mengalami penurunan.

Begitupun, apa yang diuraikan di atas sebenarnya baru analisis permukaan dalam menangani perusahaan bermasalah. Dengan kata lain, solusi seperti itu hanyalah pendekatan "pemadam kebakaran". Jadi, belum final. Langkah berikutnya dan yang jauh lebih fundamental, sebenarnya adalah me-review kembali sistem operasional perusahaan termasuk budaya kerja selama ini.

Lemahnya sistem


Perusahaan yang bermasalah, tidak bisa tidak, sangat terkait dengan lemahnya sistem di perusahaan dan lemahnya penerapan budaya kerja. Dus, kalau mau mengatasi masalah, maka ke dua hal tersebut tidak bisa tidak mesti ditinjau dan diperbaiki.

Perbaikan sistem dan budaya kerja memang membutuhkan waktu. Tetapi, kalau itu tidak dilakukan, kecil kemungkinan perusahaan bisa pulih. Salah satu jalan pintas memperbaiki sisdur itu bisa dengan mengundang konsultan untuk melakukannya.

Langkah perbaikan sistem dan budaya kerja tersebut, tentu saja baru pantas dilakukan kalau perusahaan yang bermasalah itu memang masih memiliki prospek untuk tetap bisa hidup mandiri. Artinya, masalah yang dialami diyakini bisa diselesaikan melalui perbaikan internal.

Namun, kalau berdasarkan diagnostik yang jujur, hal semacam itu sulit dilakukan dan sebenarnya perlu dipertimbangkan langkah yang lebih complicated, seperti merger atau bergabung dengan perusahaan sejenis. Merger pada dasarnya bukan sekadar untuk memperbesar size usaha secara cepat, tetapi juga sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan masalah yang dialami perusahaan. Memang konsekuensi dari merger itu yang paling jelas adalah berkurangnya jumlah kepemilikan. Namun itu wajar karena itulah ongkos yang mesti ditanggung akibat pengelolaan perusahaan yang tidak benar.

Ringkasnya, perusahaan bermasalah tidak selalu mesti mengalami kematian. Ada banyak cara untuk menyelamatkannya. Tapi, satu kuncinya adalah, semua persoalan perusahaan mesti diangkat ke permukaan secara apa adanya, dan dari situ baru dicarikan solusi, baik yang bersifat "memadamkan kebakaran", dan yang lebih penting adalah untuk kelangsungan hidup perusahaan bersangkutan.

Jadi, apabila perusahaan Anda saat ini tengah mengalami goncangan, maka jangan langsung putus asa. Masih ada kesempatan untuk mem-perbaikinya.

Demikan sharing dari kami, semoga bermanfaat !