Laman

  • Home

Rabu, 15 Juni 2016

Kiat Mengelola Hutang

Artikel ini kami temukan dari blog Sandara Chez, bertajuk kiatmengelolahutang.blogspot.com saat mencari referensi solusi atas pertanyaan dari teman-teman UMKM tentang mengelola hutang. Dan saya berpikir bahwa materi ini bisa bermanfaat bagi teman-teman UMKM semua.

Kiat Mengelola Hutang

Hutang Baik vs Hutang Jahat


Memang sulit untuk 100% terbebas dari utang. Tapi bila Anda terpaksa berutang, pilihlah utang yang baik agar hidup Anda tak merana.

Menurut Eric Gelb, CEO Gateway Financial Advisors dan penulis buku Getting Started in Asset Allocation, utang terbagi dalam dua jenis yaitu utang baik dan utang buruk. Lalu, apa yang membedakan keduanya?

HUTANG BURUK

Yang masuk ke dalam jenis ini adalah berbagai utang yang sifatnya konsumtif. Misalnya:

Utang kartu kredit

Utang ini dianggap paling buruk karena mudah sekali didapat, tapi juga sarat 'jebakan Batman'. Tinggal gesek, barang yang kita inginkan langsung terbeli. Namun, bunga tinggi yang diterapkan dan sistem pembayaran kita yang biasanya hanya  minimum payment akan membuat utang membengkak sehingga memberatkan keuangan.


Pinjaman tanpa Agunan

Zaman yang kian modern telah melahirkan rentenir-rentenir gaya baru. Spanduk atau brosur bertuliskan bank atau suatu lembaga keuangan yang bisa memberikan pinjaman tanpa agunan dengan proses cepat dan mudah, mungkin sudah sering kali Anda lihat di jalan-jalan.

Jangan mudah tertipu, karena yang jenis ini pun termasuk utang buruk. Selain bunga yang ditawarkan sangat mencekik, ada syarat lain yang biasanya akan memberatkan di kemudian hari.


Simpan Pinjam

Anda tentu memiliki simpanan uang di tabungan berjangka atau asuransi untuk keperluan masa depan. Namun karena sedang butuh uang, dana tersebut Anda cairkan dengan niat akan dikembalikan segera.

Ini pun termasuk utang yang buruk. Mengapa, karena dana tersebut bukan diperuntukkan untuk kebutuhan jangka pendek, sehingga tidak disarankan untuk diutak-atik sebelum waktunya. Belum Anda pun bakal terkena penalti atas pencairan itu. Jika Anda butuh uang mendadak dan berniat mengembalikannya dengan cepat, lebih baik pinjam pada keluarga atau teman saja.


UTANG BAIK

Sedangkan yang masuk ke dalam jenis utang baik adalah pinjaman 'investasi' yang memberikan nilai tambah pada uang Anda. Misalnya :


KPR

Kependekan dari Kedit Pemilikan Rumah. Utang ini termasuk baik. Pasalnya harga rumah mahal dan cenderung naik terus. Dan untuk membeli rumah yang harganya luar biasa mahal itu, mau tak mau Anda memang harus meminjam uang ke bank dan membayar kembali dengan mencicil. Jangka waktu cicilan utang yang panjang pun (bisa mencapai 20 tahun) takkan membuat Anda rugi, karena harga rumah Anda akan terus bertambah dari tahun ke tahun.


Pinjaman Sekolah

Mengapa pinjaman ini dianggap utang baik? Karena pendidikan merupakan investasi. Dengan menambah ilmu dan keterampilan, Anda pasti berharap mendapatkan kenaikan pendapatan yang bisa menutup utang tersebut. Namun, pinjaman sekolah ini juga bisa menjadi utang buruk, jika ijazah baru Anda tidak dihargai oleh tempat Anda bekerja.


Pinjaman Usaha

Pinjaman ini menjadi utang yang sangat baik. Apalagi, jika usaha yang dikelola dengan pinjaman tersebut memberikan keuntungan besar yang tak hanya bisa membayar utang tapi juga bisa memperkaya diri Anda. Namun jika usaha merugi, pinjaman baik ini pun bisa berubah menjadi utang buruk. Di sinilah diperlukan kepiawaian Anda dalam memutar roda usaha.

Cara Canggih Mengelola Hutang


Kata inflasi, inilah momok menakutkan yang 'merampok' uang kita secara diam-diam. Merampok? Tidak, ini bukan istilah hiperbola. Karena faktanya inflasi memang menggerogoti uang kita secara perlahan. Jangan mengira uang tabungan kita di bank bakal aman-aman saja. Gara-gara inflasi, nilai uang kita akan terus tergerus.Semakin tinggi angka inflasi, maka semakin kecil nilai tukar uang kita terhadap suatu harga barang.

Karenanya, untuk mengantisipasi tergerusnya nilai tukar uang tersebut perlu dilakukan investasi. Menyisihkan uang dalam investasi dinilai sebagai jalan yang tepat untuk melampaui angka inflasi. Selain menjaga uang dari inflasi, berinvestasi juga membuat pemilik uang mendapatkan keuntungan.

Konsultan Investasi dari PT Mitra Rencana Edukasi (MRE), Mike Rini Sutikno, mengatakan selain menghindari inflasi, dengan berinvestasi pemilik uang juga dapat mencapai tujuannya, yaitu melipatgandakan kepemilikan uang dari keuntungan investasinya. Berinvestasi seharusnya dilakukan oleh semua orang. “Karena ini adalah pilihan masuk akal dalam merencanakan keuangan di masa yang akan datang,” ujarnya kepada Republika.

Berinvestasi bukanlah pilihan yang tidak mungkin dilakukan. Semua orang bisa melakukan investasi dengan kemampuan keuangan masing-masing. Mike memaparkan, kebutuhan atau keinginan ekonomi yang terus berkembang memang sulit ditampik, apalagi pemenuhan hasrat ekonomi itu hanya mengandalkan gaji semata. “Maka investasi adalah jalannya. Karena itu saat yang paling tepat berinvestasi adalah ketika memiliki kelebihan uang,” imbuhnya.

Lalu bagaimana bila kita memiliki keterbatasan dana? Mike mengingatkan, tidak selamanya berinvestasi harus menunggu kelebihan uang. Berapapun keuang an yang kita miliki seharusnya dapat digunakan untuk investasi. Karena kunci dalam berinvestasi bukan saja pada jumlah uang, namun pada kedisiplinan, sama seperti menabung.

Namun, apabila uang yang dimiliki ternyata belum cukup untuk melakukan investasi, maka ada baiknya ditabung terlebih dahulu hingga jumlah tersebut cukup untuk diinvestasikan. �gTetapi penting untuk diingat, produk investasi tidak sama dengan tabungan. Sebab menabung bukan untuk mencari keuntungan. Sedangkan investasi bertujuan mencari keuntungan, papar Mike.

Selain kepemilikan uang, keputusan berinvestasi juga harus melihat kondisi ekonomi secara makro. Hal ini karena akan sangat berpengaruh terhadap perubahan tingkat inflasi. Kondisi makro ekonomi yang tidak stabil akan membuat tingkat inflasi tinggi dan meningkatkan tingkat suku bunga. Jika hal itu terjadi maka akan menyulitkan keputusan berinvestasi, tutur Mike.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Menurut pakar perencana keuangan, Safir Senduk, sebelum memutuskan berinvestasi, ada baiknya melihat kemampuan keuangan kita terlebih dahulu. Setelah itu baru melihat seberapa beranikah kita mengambil risiko yang ada.

Menurutnya, terdapat tiga profil utama investor menghadapi risiko investasi, yaitu konservatif, moderat dan agresif. Mengukur kemampuan keuangan dan karakter investor ini penting, untuk menyesuaikan instrumen atau produk investasi yang akan dipilih,'' ujarnya.

Begini Cara Mengelola Hutang Menggunung


Tentunya dalam melunasi utang produktif ini harus enjoy. Sebaliknya, walau Anda masih muda, namun mudah sekali stres maka tetap porsi utang produktif berbanding dengan kekayaan harus dibawah 50%
Kita pasti sangat tidak mau memiliki utang. Apalagi sampai harus dikejar debt collector. Perbandingan antara utang dengan aset/kekayaan yang kita miliki idealnya kurang dari 50%, itupun kita lihat lagi, apakah utang tersebut lebih banyak utang produktif atau kebanyakan malah hutang konsumtif.

Sebelum membahas lebih lanjut, terlebih dahulu kita harus bisa membedakan utang tersebut jenis utang produktif atau utang konsumtif. Gampangnya, jika kita membeli suatu barang/jasa yang nilai dan manfaatnya terasa sangat besar dan nilai dari barang/jasa tersebut bisa bertambah atau menciptakan nilai tambah dikemudian hari maka itu adalah utang produktif. Contoh:membeli rumah dengan KPR. 

Namun jika kita membeli sesuatu hanya untuk memenuhi keinginan dan bukan kebutuhan, apalagi demi menunjang gaya hidup, dan dengan utang tersebut tidak ada nilai tambahnya sama sekali bahkan cenderung membebani keuangan kita dimasa depan, maka dapat dipastikan itu adalah jenis utang konsumtif yang harus dihindari.

Jika yang Anda miliki adalah utang produktif dengan porsi perbandingan utang dengan kekayaan sedikit diatas 50%, jika Anda masih muda dan usia masih produktif  untuk bekerja tidak masalah menurut  saya, bahkan memacu Anda untuk lebih semangat dalam bekerja. 
Tentunya dalam melunasi utang produktif ini harus enjoy. Sebaliknya, walau Anda masih muda, namun mudah sekali stress maka tetap porsi utang produktif berbanding dengan kekayaan harus dibawah 50%

Nah, jika yang Anda miliki ternyata utang konsumtif ini yang harus diwaspadai. Saya menyarankan untuk Anda segera dalam melunasi utang konsumtif ini. Berikut adalah tips untuk melunasi hutang konsumtif yang nilainya besar:
  1. Tanamkan dalam hati bahwa Anda bertekad untuk melunasi semua utang tersebut, dan terus berpikir positif bisa melunasi hutang tersebut
  2. List daftar utang dan bagilah utang tersebut dalam beberapa kelas bunga/denda yaitu utang dengan bunga tinggi, sedang, rendah dan tanpa bunga.
  3. Tingkat kenyaman seseorang untuk membayar utang sebenarnya adalah tidak melebihi 35% dari pendapatan perbulan, namun pada kasus khusus seperti ini, semakin besar bisa mengangsur untuk membayar utang akan semakin baik. Dayagunakan semua aset lancar yang ada untuk membayar utang konsumtif, terutama yang bunganya paling tinggi terlebih dahulu.
  4. Untuk sementara hiduplah dengan gaya hidup paling minimal yang Anda bisa. Memang ini sebuah pilihan sulit, namun ibarat minum obat, walau pahit tetap harus diminum. Begitupun dengan penanganan utang konsumtif ini. cara ini harus ditempuh, sehingga sisa uangnya bisa digunakan untuk membayar utang
  5. Cobalah minta keringanan dengan pihak kartu kredit, sertakan bukti bahwa memang tidak sanggup membayar pokok+bunganya saat ini, namun tetap beritikad baik untuk membayar pokoknya. banyak orang yang menempuh jalan ini dan ternyata berhasil hanya membayar pokoknya saja plus diberikan keringanan untuk mengangsur
  6. Jalankan komitmen pembayaran hutang point no 3, yaitu  membayar utang dengan bunga tinggi terlebih dahulu sampai lunas atau porsi yang lebih besar. ini untuk menghindari utang yang menggulung yang akan membebani arus kas Anda tiap bulannya. Utang dengan tingkat bunga sedang dan kecil tetap harus dibayar sejumlah minimalnya. Ini untuk menghindari dikejar-kejar debt collector. Tentu Anda tidak ingin berurusan dengan para debt collector bukan?
  7. Setelah utang dengan tingkat bunga paling tinggi lunas, maka lunasi utang dengan tingkat bunga sedang lalu rendah kemudian utang tanpa bunga.
  8. Sejalan dengan semua upaya yang dilakukan maka carilah pekerjaan sampingan atau penghasilan tambahan yang dikuasai, jika nominal hutang sangat besar, ini untuk mempercepat pelunasan utang. pekerjaan sampingan/penghasilan tambahan ini bisa bermula dari hobi atau keahlian lain yang Anda miliki
  9. Jika memang jumlah utang sangat besar,  lihat lagi daftar aset yang dimiliki apakah ada yang bisa dicairkan atau dijual untuk membayar utang dengan bunga. Biasanya orang-orang merasa sayang akan asetnya jika harus dipergunakan untuk membayar utang namun mari kita hitung-hitungan. Seandainya Anda punya deposito dengan tingkat bunga atau bagi hasil hanya 4%/tahun (net setelah potong pajak) sedangkan bunga kartu kredit bisa 36% pertahun bahkan lebih karna bunga berbunga, maka sudah jelas RUGI jika tetap menahan deposito dengan bunga hanya 4%/tahun. Untuk menjual barang berharga lainnya memang harus TEGA untuk masa depan dan kenyamanan Anda sendiri
  10. Jika telah lunas, berjanjilah pada diri sendiri  untuk tidak terjebak dalam utang konsumtif lagi. jujur lah pada diri sendiri mengenai kesanggupan gaya hidup yang saat ini dimiliki. dan jika meggunakan kartu kredit, bayarlah sampai lunas sebelum jatuh tempo. Buat anggaran terpisah untuk belanja dan bersenang-senang/shopping account.

Langkah selanjutnya adalah mulailah membuat perencanaan keuangan untuk pribadi dan keluarga (jika sudah berkeluarga), untuk kehidupan yang lebih nyaman dan tentram. bisa dengan membuat perencanaan sendiri atau menggunakan jasa perencana keuangan.