Laman

  • Home

Senin, 06 Juni 2016

Berita dari Oslo : Batik Jumputan Mewarnai Pendopo ASEAN di Hamar, Norwegia

Berita dari KBRI Oslo, Norwegia

Sekali lagi, KBRI Oslo beserta empat Kedutaan Besar negara anggota ASEAN di Oslo, yaitu Filipina, Myanmar, Thailand dan Vietnam mengadakan promosi seni dan budaya bersama sebagai satu kesatuan ASEAN di Norwegia. Kali ini, Pendopo ASEAN didirikan untuk meramaikan festival anak terbesar di Norwegia, Stoppested Verden pada tanggal 4-5 Juni 2016 di Museum KeretaApikotaHamar, sekitar120 km di sebelahutara Oslo.

Pendopo ASEAN di Hamar, Norwegia

Stoppested Verden merupakan festival tahunan yang diselenggarakan sejak tahun 2008 dan menjadi tempat bagi anak-anak di Norwegia untuk mengenal keaneka ragaman budaya di dunia. Dalam festival ini, anak-anak diajak untuk aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang ditawarkan kepada peserta dari berbagai budaya dan bangsa.
Pendopo ASEAN pada festival tahun ini menampilkan beberapa workshop, di antaranya workshop batik jumputan Indonesia, workshop baju tradisional dan tari dari Thailand. Para pengunjung, terutama anak-anak terlihat antusias dalam mengikuti berbagai kegiatan tersebut. Pendopo ASEAN juga menampilkan ASEAN Corner yang dihias dengan berbagai benda-benda khas Myanmar, Vietnam dan Indonesia, serta diisi dengan kegiatan quiz dan games untuk mengenalkan ASEAN kepada pengunjung yang hadir. Selain itu, pengunjung juga dimanjakan dengan penganan kecil seperti dried mango dari Filipina dan permen kopi dari Indonesia. Untuk lebih memeriahkan pendopo ASEAN, pengunjung juga ditawarkan berbagai kegiatan atraktif berupa permainan tradisional Indonesia yang tidak hanya menarik perhatian dan keingintahuan anak-anak, tetapi juga para orang tuanya, seperti dakon, gasing, egrang, lompat karet dan lempar gelang.
Di panggung utama Stoppested Verden, ASEAN diwakili oleh penampilan dari kelompok tari dari Indonesia- Anak Indonesia, dan kelompok taridari Thailand. Kelompok tari Anak Indonesia mendapatkan kehorma tan khusus untuk tampil sebagai opening act pada acara pembukaan Stoppested Verden padahari Sabtu, 4 Juni 2016 dengan tarian Kembang Tanjung dan Bajidor Kahot. Lenggang lincah dan gemulai para penari Anak Indonesia mendapatkan sambutan meriah dan diminta untuk tampil kedua kalinya pada kesempatan tersebut.
Duta Besar RI untuk Norwegia, Yuwono A. Putranto, yang juga adalah chairman dari ASEAN Committee in Oslo (ACO) pada periode pertama tahun 2016, pada kesempatan lain menyampaikan bahwa ACO ingin menunjukkan sisi ASEAN yang multikultur kepada kepada publik Norwegia dan kepada komunitas asing yang berada di Norwegia, sesuai dengan visi ASEAN ‘one caring and sharing community’.
“Sedarikecil, anak-anak perlu diperkenalkan kepada keanekaragaman budaya dunia, salah satunya adalah budaya negara-negara ASEAN, agar mereka tumbuh dewasa menjadi generasi muda dengan kesadaran multikultur dan rasa toleransi yang tinggi, yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi yang besarterhadap perdamaian dunia. Melalui festival ini kita berharap harapan itu akan terwujud,” ucap Dubes Yuwono.
Pada festival ini anak-anak diajak mengelilingi dunia dengan konsep transportasi mendekatkan budaya dan bangsa. Selain ASEAN, para pengunjung diajak untuk mengenal berbagai kebudayaan lainnya diantaranya Afghanistan, Amerika Serikat, Brazil, India, Jepang, Kazakhstan, Kenya, Mozambik, Norwegia, Palestina, Perancis, Peru, Polandia, RRT, Spanyol, Sierra Leone, Sri Lanka, Timur Tengah, dan Ukraina. Dalam dua haripelaksanaan festival Stoppested Verdentahun2016, jumlah total pengunjungadalahsebanyak 10,600 orang.
Oslo, 6 Juni 2016
Dikirimkan oleh: 
Dilla Trianti
Second Secretary
Information, Social and Cultural Affairs
Embassy of the Republic of Indonesia
Fritznersgt 12, 0244 Oslo

Indonesia Bukan Sekedar Batik 

Sebelumnya kami sangat berterimakasih kepada teman-teman dari KBRI yang berada di luar negeri yang selalu memberikan update informasi kepada kami atas event pameran dan peluang-peluang pasar yang ada di negara-negara tempat tugas mereka. 

Keragaman Indonesia harus "masuk" kedalam jiwa dan raga target pasar, promosi benda kerajinan hanya akan sampai pada "dikenakan" bukan "masuk" ke dalam jiwa raga target pasar. Terbukti bahwa keragaman kuliner Indonesia bisa menjadi "magnet" yang luar biasa di negara-negara lain, terutama karena keragaman bumbu masaknya. 

Indonesia sejak dulu telah dikenal sebagai negara penghasil rempah-rempah yang menyebabkannya "mengundang" negara-negara di Eropa untuk menjajahnya. Potensi ini jangan pernah dilupakan bahwa bumbu-bumbu Indonesia yang telah berbaur dengan kuliner Indonesia adalah daya tarik yang tidak pernah pudar sampai dengan sekarang sebagaimana yang pernah kami diskusikand dengan Bu Wieke (Dubes RI untuk Spanyol) dan Pak Darmono (Dubes RI untuk Brasil).

Semoga nanti di acara lain, teman-teman dari KBRI tidak hanya cukup mengenalkan BATIK, tetapi bisa mengangkat kuliner Indonesia sebagai daya tarik utama, sebelum kita memperkenalkan keragaman kerajinan asli Indonesia.

Produk UMKM Indonesia untuk bumbu racik kemasan sudah sangat  banyak yang bisa dipamerkan di luar negeri, makanan olahan asli Indonesia pun layak mendapatkan tempat di stand-stand teman-teman KBRI di luar negeri. Mari kita buat mereka (target pasar) mengeksplorasi pengalaman mereka dengan produk kuliner Indonesia, agar mereka selalu "ada" keinginan datang ke Indonesia.

Rumah UMKM siap mendukung promosi parawisata dan seni budaya Indonesia di luar negeri sebagai pemicu perdagangan produk-produk lokal Indonesia.