Laman

  • Home

Senin, 20 Juni 2016

8 Hal Seru yang Terjadi di E-Commerce Indonesia Sekarang

8 Hal Seru yang Terjadi di E-Commerce Indonesia Sekarang










Dimana-mana e-commerce. Ya, itulah wajah baru Indonesia sekarang.  Hal ini terlihat dari Report E-Commerce yang dikeluarkan 8Commerce awal tahun ini, yang menyebutkan pertumbuhan pembeli online cukup signifikan, dari 15 juta tahun 2016 meningkat menjadi 75 juta tahun 2020.  Yang menarik, presentase ketertarikan pembeli atas kategori produk yang mau dibeli di e-commerce, sejauh ini masih dikuasai fashion yang menduduki market share 51%, diikuti gadget dan entertainment electronics 16%, dan beauty care 7%.

Untuk lebih jauh menilik wajah e-commerce Indonesia, mari kita bahas 8 hal seru yang terjadi di E-Commerce Indonesia sekarang:

1) Mobile is the king. Traffic mobile naik dari hanya 15% tahun 2014 lalu menjadi 50% tahun ini.  Ini berarti semua channel online jika ingin berniat jualan harus benar-benar mobile-friendly, baik dari sisi interface design dan kecepatan.  Menurut wearesocial research yang dikeluarkan awal tahun 2016, tercatat tahun 2015 ada 20% pengguna mobile yang membeli produk online via handphone.  Dipredisi tahun 2017 jumlah akan meningkat 3X lipat seiring dengan semakin murahnya handphone 4G yang kisaran harganya berada di Rp 1-3 juta.
  

2) Review product dan toko online masih diminati. Booming e-commerce tidak semerta-merta membuat usaha e-commerce gampang dan menguntungkan.  Hal ini karena pembeli Indonesia sekarang banyak melakukan riset kecil-kecilan sebelum akhirnya membeli suatu produk di online.  Mulai dari toko online –nya, sistem pembayarannya, social media-nya, produk review oleh customer yang sudah pernah membeli, dan referensi dari teman-nya.   Ada 80% pembeli Indonesia yang seperti ini.  Oleh karena itu, membangun kepercayaan selain awareness sangat penting di tahun-tahun pertama saat bisnis baru e-commerce dimulai.  Sementara product quality menempati potensi 73% untuk membuat si customer benar-benar membeli produk Anda.

 

3) Indonesia memiliki customer behavior yang bisa disebut manja. Jadi ketika ada servis online yang menyediakan antar order online langsung menjadi booming, dan banyak copy-paste nya di bisnis yang serupa.  Gojek dengan Gofood salah satunya.  Menurut data untuk armada Gojek sendiri sudah menambah 200ribu untuk melayani customer-nya di seluruh Indonesia.  Sebaliknya, untuk servis yang menyediakan order online dapat diambil di drop-point yang telah ditentukan, tidak menjadi terlalu diminati.


 

4) Pembayaran credit card masih menjadi opsi terakhir di Indonesia. Soal pembayaran, Indonesia masih sedikit konvensional. Lagi-lagi isu trust dan keberadaan memiliki rekening tabungan masih menjadi ‘challenge’ buat pelaku e-commerce.  Orang Indonesia lebih suka cash.  Cash ini bisa dalam jumalah yang kecil sampai besar.  Cash on Delivery masih menjadi pilihan utama di beberapa kota-kota besar bahkan Jakarta.  Di luar Jakarta dan pulau Jawa, seperti Makasar, Medan, Palembang, Banjarmasin, dan kota lainnya, menyalakan fitur COD pada opsi pembayaran Anda akan sangat-sangat mempengaruhi sales conversion toko online Anda. 

Sementara selain COD, presentase opsi pembayaran menurut Report E-Commerce yang dikeluarkan 8Commerce tahun 2015, masih dikuasai pembayaran  via ATM atau transfer via teller Bank dengan 5.422 transaksi, internet 1.996 transaksi, dan mobile banking 1.064 transaksi.


 

5)  Profil customer online masih dikuasai umur 25 sampai 34 tahun dan 75% nya adalah wanita. Ingin jualan sukses di online?  Buatlah produk yang dikonsumsi oleh customer yang disebutkan data di atas.  Umur 25 sampai dengan 34 tahun mendominasi di angka 66%. Sementara untuk  umur 20 sampai dengan 24 tahun masih diangka 13%.

Walaupun demikian, kategori umur 20-24 tahun ini perlu dibina karena 2 sampai 5 tahun kedepan akan masuk menjadi profil customer yang mendominasi, yakni kategori umur 25 sampai dengan 34 tahun.  Maka dari itu, tidak mengherankan jika ini dapat menjadi opportunity buat brand besar mendiferensiasi produknya berdasarkan kategori umur dan semuanya tersedia e-commerce nya.  Setidaknya inilah yang sudah terjadi di negara-negara maju di sana. 





Memahami retained customer lebih mudah challenge nya daripada mendapatkan new customer, brand besar biasanya mengeluarkan merek-merek yang beda sesuai dengan kategori umur customernya. Jadi jika pada saatnya customer tersebut beranjak dewasa atau migrasi ke segmen umur yang lebih mature, brand tersebut dapat menawarkan merek lainnya  yang sesuai.  Dengan database yang sama, setidaknya pekerjaann mengakusisi database customer baru bisa berkurang.


6)  Setiap brand ada online store sendiri. Walau marketplace ada banyak di Indonesia, dan banyak dipartisipasi juga oleh brand-brand ternama yang ada di Indonesia, pertumbuhan online store yang dimiliki sendiri oleh si brand meningkat tahun ini.  Apalagi jika menyasar brand dengan produk fashion.  Hampir semua berlomba harus punya toko online, selain ada di pasar offline.  Berbagai jenis framework e-commerce ditawarkan, yang setiapnya memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri.  Tapi perlu diketahui, biasanya semakin instan e-commerce dibangun, semakin minim kualitas interface design-nya dan user experience-nya.  Yang ujung-ujungnya menyebabkan sales conversion yang rendah.  Itulah mengapa, pentingnya mengenal brand dan consumer behavior yang sudah ada sehingga konsep dasar sebelum membangun e-commerce.


7)  Social media dan chatting platform bukan cuma awareness, tapi juga dagang. Di Indonesia keberadaan social media hype sekali. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Path, Linkedin, banyak lagi.  Tidak seperti diluar yang penggunaannya lebih sekedar maintenance the relationship dan awareness, Indonesia lebih banyak menggunakan media social sebagai media jualan.   Hal serupa terjadi pada chatting platform LINE dan WHATSAPP. Jualan online via social media dan chatting platform dianggap paling mudah karena kebanyakan gratis dan mudah. Setidaknya untuk di tahap awal.  Pembelinya pun banyak. Hal ini karena mungkin tingkat sosialisme di Indonesia lebih tinggi ketimbang di negara lain. 

Menurut data wearesocial 2016, total jumlah pengguna social media di Indonesia adalah 79 juta orang. Yang mana 30% adalah pengguna aktif, dan 25% sering mengakses social media via mobile phone.





8)   Kebutuhan multi channel management Seiring dengan banyaknya  kanal online baik toko online atau marketplace dan kanal offline yang lebih dulu tersedia seperti kios-kios toko yang ada di mall, maka pengaturan inventory barang dan delivery akan lebih rumit. Biasanya pada tahap ini ada kebutuhan memiliki sistem inventory yang bisa mengatur stok secara terintegrasi dan terotomatisasi, atau sebutan kerennya multi channel management.  Multi channel management ini nanti terhubung dengan manajemen order, manajemen inventory, customer order dan semua kanal jualan Anda (online/offline).  Untuk suatu brand yang sudah lama eksis dan memiliki reputasi baik dengan customer-nya, kebutuhan multi channel management ini sangat penting. Biasanya platform ini ditawarkan oleh perusahaan yang bergerak di servis teknologi e-commerce dan pendaya e-commerce, salah satunya adalah 8commerce.